Valentain Terakhir Bahagia

Valentain Terakhir Bahagia
Episode 10 Hari-hari yang kosong


__ADS_3

Beberapa hari setelah kepergian Kino,terlihat Chaca masih merenung kadang melamun.Tak hentinya juga dia melihati jemari manisnya yang melingkar cincin pemberian Kino.


Dia lebih sering menyendiri di kamar setelah pemakaman terakhir Kino.


Cindy dan ibunya pun melihat Chaca dari balik pintu kamar Chaca yang terbuka.


"Bu.. Cindy jadi khawatir dengan keadaannya kak Chaca.Akhir-akhir ini sering menyendiri.Apalagi sebentar lagi mau ujian kelulusan loh bu."Kata Cindi ke ibunya ya.


"Ibu juga khawatir nak.Terus apa yang harus kita lakukan?"tanya ibu Chaca ke Cindy.


"Bu.Bagaimana kita minta tolong sama kak Fano"Usul Cindy.


"Fano??"Pikir ibu Cindy.


"Iya.. Coba Cindy minta tolong sama kak Fano"Kata ibu nya yang menyetujui.


Tok... Tok... Tok...


Ada suara ketuk pintu dari luar,


Cindy pun membuka pintunya.


"Assalamualaikum..."Ucap Salam Fano.


"Waalaikum salam"Jawab Cindy dan Ibu nya bersamaan kemudian Fano menyium tangan ibu Cindy.


"Bagaimana keadaan Chaca bu?"tanya Fano ke ibu Chaca.


"Mari nak.. Coba kamu lihat"kata ibu Chaca dan menunjukkan kondisi Chaca yang sedang duduk termenung diranjang nya dari kejauhan.


"Mungkin nak Fano bisa menghiburnya,soalnya Mayang dan Rika sudah berulang kali mencoba menghibur tapi sia-sia". kata ibu Chaca dengan raut wajah sedih.


"Ya.. sudah bu,Fano izin ke kamar Chaca ya"kata Fano yang meminta izin.Dan ibu Chaca menganggukkannya.


Fanopun mendatangi Chaca yang duduk diatas ranjangnya.Dia terlihat melamun,merenung dan sekali-kali dia melihat cincin yang ada di jemari manisnya.


Fano mengambil kursi meja rias Chaca dan duduk menghadap Chaca.Fano sedih melihat keadaan Chaca saat ini.Kedua matanya memulai berkaca-kaca,kedua tangannya ingin memeluk Chaca tapi apalah daya Fano bukan siapa-siapa.Fano hanya bisa membelai rambutnya yang terurai panjang.


"Cha... Chaca.."kata Fano lirih dengan masih membelai rambut Chaca dan Chaca pun menoleh ke arah suara panggilan itu.Seketika Chaca langsung memeluk Fano dengan erat.


Fanopun membalas pelukan Chaca.


"Chaca.. harus sabar ya, kamu jangan seperti ini terus.Kamu harus mengikhlaskan kepergian Kino.Kalau kamu seperti ini kasian Kino disana,dia sudah tenang di surga Cha.."Nasehat Fano yang masih memeluk Chaca.


"Aku enggak bisa Fan,berat bagi aku untuk move on.Aku terbayang-bayang dia terus."kata Chaca dan melepas pelukannya Fano sambil mengusap air matanya.

__ADS_1


"Coba lihat ibu kamu dan Cindy.Mereka sedih melihat kamu terpuruk seperti ini.Kamu enggak kasihan mereka?,aku tau Cha ini berat sekali buat kamu,apalagi Kino juga sudah melamar Kamu.Kamu juga harus mengerti takdir Cha.Cha.. kamu masih muda,kamu harus bangkit dari ini.Banyak mimpi-mimpi diluar sana yang menunggumu.Ada mimpi dari seorang ibu yang ingin melihat anaknya jadi dokter,ada mimpi dari seorang adik yang ingin melihat kakaknya terus bahagia."Kata Fano.


"Dan..."


"Dan apa Fan?"sahut Chaca dan Fano diam menggelengkan kepalanya.


"Dan ada aku yang ingin terus bersama kamu"Batin Fano.


"Ehem...."Cindy yang mendehem.


Kedatangan Cindy yang tiba-tiba membuyarkan lamunan Fano dan Chaca mulai tertawa kecil.


"Yeay... Alhamdulillah kakakku cantik senyumnya mulai terlihat."ucap Cindy sambil memeluk kakaknya.


"Oh. ya.. kak Fano dan kak Chaca ayok makan sudah ditunggu ibu."Ucap Cindy seraya menggeret Chaca dari ranjangnya.


"Adek sama kak Fano saja ya.. kakak kenyang".Kata Chaca yang menolaknya.


"Cha.. ayok makan kan kasian ibu loh sama Cindy"tambah Fano yang membujuknya.


Chaca pun menganggukkan kepalanya.


Pagi pukul 05:30 Chaca sudah bangun.Seperti biasa pagi hari-harinya sebelum berangkat ke sekolah dia membantu ibunya untuk menyiapkan jualannya.


"Alhamdulillah.. Anak ibu?"kata ibu Chaca kaget yang melihat anak sulungnya itu sedang menggoreng ayam krispi.


"Maafin Chaca ya bu.Tidak seharusnya Chaca bersikap seperti ini.Chaca sadar apa yang Chaca lakukan salah.Karena Chaca,ibu libur jualan nasi.Sedangkan setiap hari kebutuhan kita bergantung dengan jualan nasi."Ucap Chaca yang menggenggam tangan ibunya.


"Enggak apa-apa nak.Alhamdulillah melihat kamu kembali ceria seperti ini saja sudah membuat ibu bahagia."kata ibu Chaca dan memeluk Chaca.


"Kok enggak ada yang bangunin Cindy"kata Cindy sambil nguap dan ngucekin matanya.


"Tumben kakak sudah bangun?,kena sindrom apa nih?."Ledeknya dan melihat Chaca hanya mengerutkan keningnya dan melepas pelukan ibunya.


"Cindy tau??,,"tambah Cindy.


"Apa?"jawab Chaca sambil membalik ayam goreng krispinya.


"Kak Fano."jawab Cindy dan Chaca hanya senyum.


"Ya.. Kan.. Nah bu,kak Chaca.. buk"Ledek Cindy lagi dan Chaca dengan gemes nyubit pipi adeknya.


"Bu..........."kata Cindy dan Chaca berlalu pergi.


Ibu nya yang melihat tingkah anak-anaknya itu hanya menggeleng-gelengkan kepalanya dan tersenyum.

__ADS_1


"Sudah nak.. Mandi sudah jam 06:00 nanti terlambat."Kata ibu Cindy.


"Siiapppp...."jawab Cindy dan berlalu pergi menuju kamarnya.


Suasana sekolah pagi hari tampak begitu cerah.Anak-anak berdatangan dengan antusiasnya untuk belajar.


Langkah Chaca terhenti ketika melewati salah satu tempat yang biasanya dipakai untuk Kino parkir motor.


Raut wajah yang tadinya ceria kini berubah menjadi raut kesedihan.


Kedua bola-bola matanya mulai berkaca-kaca.


Dia melihat dan memandangi cincin di jemari manisnya.


Seketika dia berlutut.


Dan menangis,


"Rasa inginku ikut kamu.Kamu pergi tanpa pamit dengan ku.Betapa teganya kamu Kino"Ucap Chaca sambil mengusap air matanya.


"Chaca.... ".Panggil Fano dan menghampirinya.


"Chaca.. Bangun"kata Fano menarik tangan Chaca dan memeluknya.


"Cha... Kamu kan sudah janji.Kalau kamu enggak boleh seperti ini lagi.Kamu harus bangkit Cha.."Kata Fano yang menyemangati Chaca.


"Tapi realitanya Fan,aku enggak bisa!Aku belum bisa!"kata Chaca dan melepas pelukan Fano.


"Tapi Cha...."


Tet... Tet... Tet... Tet...


Tanda jam masuk sekolah berbunyi.Chacapun bergegas meninggalkan Fano dan pergi menuju kelasnya X11-ipa,tanpa basa-basi.


"Kino... Kamu beruntung bisa memiliki dia.Kamu memang benar,hati Chaca susah untuk di taklukkan.Itu yang membuatku hingga saat ini masih mengagumi dia.Aku berharap suatu saat nanti dia bisa belajar untuk membuka hatinya"Batin Fano.


"Aku janji sama kamu,aku akan menjaganya.Seperti pesan kamu yang kamu sampaikan itu.Tepat di hari ulang tahunmu"gumamnya.


Disampai kelas X11-ipa.


Mayang dan Rika terkejut.Melihat Chaca yang duduk dibangkunya.


"Rik... Chaca"kata Mayang yang menunjuk kearah Chaca.Dan Mayangpun menoleh kearah samping.


Jarak bangku nya dengan Chaca hanya berjarak 1 meter saja.

__ADS_1


Ingin sekali Rika menyapanya namun dia melihat Chaca masih bersedih.


__ADS_2