
Senja sudah menyapa.Namun belum ada titik terang untuk menemukan Chaca.Kendy dan pak Bayu mulai lelah.
Merekapun memutuskan untuk pulang kerumah
Baru sampai diteras rumah,
"Pah.. "Kata mama Rita yang datang menghampiri pak Bayu dan diikuti ibu Dewi.
"Mah.. Ibu,Kendy belum bisa menemukan Chaca!"Sahut Kendy dengan raut wajah yang sedih dan lesu.
Kendypun melangkahkan kakinya menaiki lantai 2 menuju kamarnya.
Mendengar jawaban dari Kendy,membuat mama Rita dan ibu Dewi ikut sedih.
"Mah,dek Dewi sabar ya.. "Ucap pak Bayu sambil menenangkan istrinya dan besannya.
Di kamar Kendy,
"Awas kamu Fano..."Teriak Kendy
"Aaaaaghhh"Teriaknya sambil duduk di pinggiran ranjang dan mengusap kasar wajahnya sambil mengacak-ngacak rambutnya.
Pandangan matanya tertuju kearah meja nakas yang tertampang figura foto pernikahannya.
Lalu diapun mengambil dan memeluknya dengan erat sambil menumpahkan bulir-bulir beningnya.
"Kamu dimana sayang..?Kamu dimana?"Kata Kendy sesenggukan.
Kendy merebahkan tubuhnya sambil memeluk foto pernikahannya.Tak berselang waktu matanyapun terpejam.
...****************...
Rumah pak Herman,
Pak Herman setengah harian sudah menyelidiki kamar Fano.Namun tidak ditemukan juga titik terang mengenai penculikan Chaca.Meskipun realitanya Fanolah yang menculiknya.
"Anak itu memang licin permainannya."Ungkap pak Herman yang berdiri diruang tamu sambil tangan kanan memegang secangkir kopi dan tangan kirinya dimasukan di kantong celana.
Tak berapa lama kemudian terdengarlah suara mobil yang terparkir di depan rumah pak Herman.
Ceklek
Fano membuka pintu rumah sambil bersiul-siul sambik berjalan ke arah tangga hendak menaiki anak tangga.
Fano tidak mengetahui,kalau pamannya sudah berdiri tegak diriang tamu yang terlindung hiasan guci besar.
"Dari mana Fano?"Tanya pak Herman yang berdiri diruang tamunya.
"Paman?"Kata Fano yang mengarahkan pandangannya ke guci dan membalikkan badannya.
"Maaf paman.Fano enggak melihat kalau ada paman berdiri di samping guci ini."Kata Fano menghampiri pamannya.
"Hmmmmm"Jawab pak Herman.
"Dari mana kamu?"Tanya pak Herman.
"Yah.. Biasa anak muda.Ya udah paman,Fano buru-buru."Jawab Fano membalikkan badannya dan melangkah kan kakinya menuju tangga.
__ADS_1
"Fano!"Teriak pak Herman dan Fano mengabaikannya.
"Dasar anak ini"Gerutu pak Herman.
"Permisi tuan"Kata Jojo anak buah pak Herman.
"Jo,cepat pasang gprsnya sebelum dia keluar."Perintah pak Herman.
"Baik tuan."Ucap Jojo sambil beranjak ke arah pintu keluar.
"Heh... Mau main-main sama orang tua kamu Fano.Setelah ini kamu akan saya masukin rumah sakit jiwa."Batin pak Herman.
"Bang Hendra,maafin Herman!Herman hanya ingin mendidik Fano agar menjadi lebih baik lagi."Gumam pak Herman sambil memandangi pajangan foto kakaknya di dinding.
Benar dugaan pak Herman,Fano menuruni anak tangga setelah 60 menit berada di kamarnya.
"Loh.. Paman masih di sini?"Tanya Fano yang menghampiri pamannya di ruang tamu.
"Hmmmm..."
"Mau kemana lagi kamu?Sudah rapi begini?"Tanya pak Herman yang beranjak berdiri dari sofanya.
"Ada urusan sebentar,"Jawab Fano.
"Kamu sudah makan?"Tanya pak Herman.
"Heleh... Tumben paman perhatian?Ada angin apa?"Jawab Fano ketus.
"Ya kan paman cuman tanya saja,karena kamu baru pulang terus pergi lagi."
"Fano kenyang paman,Fano pergi dulu."Sahut Fano sambil membalikkan badanya menuju pintu keluar.
"Ikutin dia"Perintah pak Herman dan memutuskan suaranya.
...****************...
45 Menit kemudian Fano sampai di di sebuah perumahan,tempat Chaca yang ia sekap.
Seperti tadi siang,Fano membawakan makanan buah-buahan dan susu untuk ibu hamil.
"Suami siaga?Hah!!!"Gerutu Fano sambil membuka ayam geprek dan dipindahkan nya dipiring.
"Sialan Kendy,"Katanya sambil mengepalkan tangannya dan membanting tangannya di meja.
"Huft!!!!!"
"Enggak ada yang bisa memiliki Chaca,"Katanya dan menyugar rambutnya sambil senyum smirk.
Fano meuju ke kamar Chaca.
Ceklek!!!!
Fanopun membuka pintu kamar Chaca.
Lalu dia melihat Chaca sedang tertidur pulas,
Fano menaruh nampan yang berisi makanan,susu serta buah-buahan di meja nakas.
__ADS_1
Diapun duduk di pinggran ranjang menghadap ke arah Chaca.
Sambil tersenyum,dia menyibak anak rambut Chaca yang menutupi sedikit raut wajahnya.
Dengan ibu jarinya,Fano membelai lembut pipinya.Dia melihat pipi kanan dan pipi kirinya memerah.Iya.. Itu karena ulah tangannya tadi pagi yang menampar Chaca dengan keras.
"Maafin aku ya Chaca sayang,"Batinnya sedih sambil mengelus pipi Chaca dengan ibu jarinya.
Fanopun berusaha memajukan kepalanya dan ingin mengecup kening Chaca,sontak membuat Chaca kaget dan mendudukkan tubuhnya.
"Mau apa kamu?"Kata Chaca panik sambil menarik selimut untuk menutupi badannya.
"Mau bangunin kamu.Waktunya kamu makan."Ucap Fano yang beralibi sambil beranjak mengambil nampannya di meja nakas.
"Ini malanlah.Waktunya kamu makan dan anak-anak kamu kasian."Kata Fano sambil menyendokan nasinya untuk Chaca.
"Aaaaaaa"Tambah Fano lagi.
Chaca yang melihat kelakuan Fano merasa keki dengan tangannya Chaca mengibas tangan Fano yang akan menyuapinya dengan sendokan.
Sendokan itu pun terjatuh dan Fano mencoba mengambil yang baru.
"Hmmmmmm...."Desah Fano.
"Ya sudah aku taruh sini ya,nanti kamu makan kalau enggak mau aku suapin."Kata Fano dan menaruh nampannya di atas meja nakas.
Chacapun melirik Fano sedang mengupas buah.
"Aku mau buah apel Fano."Seru Chaca dan Fanopun menoleh sambil memberikan buah apel.
"Aku mau ngupas sendiri mana pisaunya?"Kata Chaca yang menerima buah apel dan Fanopun memberikan pisaunya.
Setelah menerima pisau,dengan cepat Chaca menodongkan pisaunya ke Fano.
"Shitt!!"Umpatnya yang melihat Chaca menodongkan pisau ke arahnya.
"Jangan main-main Cha,"Kata Fano sambil mengangkat kedua tangannya dan kemudian mulai memundurkan kakinya karena Chaca mulai mendekat ke arahnya dengan tatapan ancaman.
"Aku capek dengan semua nya.Aku mau pulang.Fano!"Teriaknya sambil. nodong pisau.
"Buka pintunya!"Teriak Chaca lagi.
"Ok.. Ok.. Cha."Jawab Fano sambil mundur pelan dan merogoh saku kanannya sambil mengambil kunci kamarnya.
"Buka Fano!"Bentak Chaca mendengar bentakkan Chacapun,Fano membuka pintu kamar yang dikuncinya.Belum sempat membuka pintu,ternyata pintunya sudah didobrak oleh Kendy
Brakkkk...
"Mas... "Teriak Chaca yang melihat pahlawannya datang.
Fanopun langsung mengambil pisau yang dipegang Chaca yang dalam keadaan lemah.Kemudian Fanopun menodong kan pisau itu ke leher Chaca.
Sambil tangan kirinya mencekeram salah satu tangan Chaca dibelakang punggung Chaca dan tangan kanannya menodongkan pisau ke leher Chaca.
"Fano!!"Pekik Kendy.
"Kalau kalian mendekat?Aku dan kamu Kendy akan kehilangan perempuan yang sama-sama kita cintai,dan lebih dari itu si kembar pun akan mengikuti jejak ibunya pergi."Ancam Fano.
__ADS_1
"Mas..."Kata Chaca sambil mengeluarkan buliran air matanya.