
Mobio Fanopun berhenti di salah satu rumah yang berdesain klasik.Samping kanan rumah itu nampak seperti tanah lapang untuk bermain dan samping kiri rumah itu nampak tanah kosong.Rumah klasik itu berjarak agak jauh dari rumah-rumah yang lainnya.
Fano memberhentikan mobilnya dan membuka pagar garasi mobil dilanjutkannya membuka pintu utama rumah klasik itu.
Kemudian dia kembali ke mobil dan membopong Chaca yang pingsan masuk ke dalam rumah itu.
Kendy dan Pak Gito akhirnya sampai juga ditempat yang sama yaitu di rumah klasik itu.Mereka berdua bak ditektif yang membuntuti Fano.Pelan-pelan dengan rapi mereka berdua mulai masuk kedalam rumah itu.Tampaknya Fano lupa menutup pintu rumah utama itu,hingga membuat Kendy dan pak Gito bisa mengakses masuk.
Sementara itu,Fano merebahkan tubuh Chaca di sofa yang panjang.Dan Fano duduk dibawah kaki Chaca.
Fanopun mulai mengusap-ngusap pipi Chaca yang lebam biru karena tadi Fano menamparnya keras.Dengan raut wajah sedih dia masih mengusap lembut wajah Chaca.
"Maafin aku sayang.Hiks.."kata Fano dan mencium tangan Chaca.
"Seandainya kamu nurut sama aku.Mungkin aku tidak akan sekasar ini"Ucapnya sedihh sambil mendekatkan tangan Chaca ke pipinya dan mencium tangan Chaca.
Chacapun sadar dari pingsan nya.
"Fano"kata Chaca kaget mengibaskan tangan Fano dan mencoba untuk bangun dari sofa.
"Aku dimana?"kata Chaca sambil memegang pundaknya yang sakit.
"Cha.. kita berdua ada dirumah peninggalan nenek aku"Jawab Fano dan senyum.
"Aku mau pulang!"kata Chaca berdiri dan tangannya ditarik oleh Fano sehingga Chaca jatuh dipelukkan Fano.
"Lepasin aku Fano"kata Chaca kesal dengan berusaha sekuat tenaga melepaskan diri dari pelukan Fano.
"Enggak.. Aku enggak akan melepaskan kamu."Kata Fano dan menidurkan Chaca dengan kasar di sofa dan badan Fano ada diatasnya dan mengungkungnya.
"Hikssss hiks... Aku mohon Fano please lepasin aku"rengek Chaca yang berusaha keras melepas kedua tangannya yang di pegang kuat oleh Fano
"Enggak"bentak Fano.
"Coba kamu enggak nyakitin aku.Aku enggak akan berbuat ini sama kamu.Kamu tau aku gila,aku gila karena kamu.Aku bisa melakukan apa saja untuk mendapatkan kamu termasuk tubuh kamu."kata Fano dengan marah sambil mengungkung Chaca.
"Aku minta maaf Fan,kalo aku nyakitin kamu.Hikss.. aku mohon lepasin aku"rengek Chaca menangis sesenggukan.
"Dengar ya Chaca aku mau nya kamu.Kamu sudah menyakiti aku dengan cara seperti ini aku bisa memilikimu"Ucap Fano dan Fano mulai membuka kancing kemejanya.
"Tolong......."teriak Chaca.
"Teriaklah sekeras mungkin.Gak ada orang"Kata Fano dengan santai.
"Aku mohon jangan Fano"Pinta Chaca dan melihat Fano yang diatas tubuhnya masih membuka kemeja dan melepaskan nya hingga telanjang dada.Chacapun menutup kedua matanya dia enggan melihat tubuh kotak-kotak itu.
"Bangsaattttt"
__ADS_1
Bughhh Bughhh Bughhh
Tubuh Fano di tarik oleh Kendy dan dihajarnya.
"Kendy"kata Chaca dengan nafas tersengal-sengal langsung meluk Kendy.
"Aku takut hikksss"Kata Chaca dan pingsann.
"Cha... Cha... Cha.."gugah Kendy.Kendy pun membopong Chaca.
"Pak Gito urus dia.Saya mau bawa Chaca kerumah sakit".Kata Kendy dan membopong Chaca keluar dan membawa masuk ke dalam mobil Fano.
"Haduhhh.. Mas Fano kok bejat sekali kamu."kata pak Gito sambil memapah berdiri.
"Mbak Chaca sampai ketakutan sepeeti itu"
Fano hanya diam mendengar ocehan-ocehan pak Gito.
...****************...
Kendy membawa Chaca kerumah sakit.
Dengan dibantu 2 perawat untuk mendorong brankan.
Diruang IGD Chaca mulai mendapatkan pertolongannya.Sedangkan Kendy diminta untuk duduk diluar ruangan.
30 menit kemudian Ibu Dewi dengan Cindy berdatangan.Tak lupa dengan Mama papanya.
"Nak.. Apa yang terjadi dengan Chaca?"tanya Ibu Dewi yang panik.
"Kak.. Keadaan kakak bagaimana?"tambah Cindy yang panik.
"Kendy tolong dijelaskan sama kami."intruksi Pak Bayu.
Kendypun menarik nafas panjang dan mengeluarkan dengan pelan.
Kendy memulai untuk menjelaskan apa yang terjadi terhadap Chaca.
"Astagfirullah hal adzim.. Nak,tega sekali nak Fano mau memperkosa Chaca"ucap Ibu Dewi yang kaget dengan mata berkaca-kaca.
"Terus bagaimana dengan keadaan Chaca Kendy"tanya mama Kendy.
"Alhamdulillah mah Kendy bisa menolong Chaca.Chaca shock banget mah makanya dia pingsan."jelas Kendy.
"Kendy bawa Chaca kesini,karena Kendy khawatir dia pingsan sudah lewat dari 30 menit lebih." kata Kendy.
"Bagaimana katanya dokter Ken?,terus bagaimana dengan Fano?"tanya papa Kendy.
__ADS_1
"Dokter masih memeriksa Chaca pah.Dan Fano sudah dibawa ke kantor polisi sama pak Gito security sekolah."jelas Kendy.
"Nak.. Terimakasih ya kamu sudah menolong Chaca.Tante hanya bisa mendoakan kamu yang terbaik."ucap Ibu Dewi dan memeluk Kendy.
Klekkk
Pintu ruang IGD terbuka.Dokter Wisnu keluar dari ruangan IGD,dokter Wisnu adalah seorang dokter keluarga Kendy.
"Dok.. Bagaimana dengan keadaan anak saya?"tanya Ibu Dewi yang panik.
Dan Dokter Wisnu pun tersenyum manis.
"Tidak ada luka yang serius dengan Chaca.Dia hanya Shock,tolong untuk beberapa minggu ini dia jangan dibikin stress ya buk tolong diperhatikan.Terus untuk luka memar yang ada dipipi nanti saya beri resep salep untuk menyembuhkan lukanya."jawab dokter Wisnu yang.
"Apa boleh kita menengok Chaca dok?"tanya ibu Retha.
"Boleh buk.Setelah Chaca diruang perawatan ya."jawab pak dokter.
"Baik dok."jawab Ibu Retha.
"Terimakasih ya dokter Wisnu."kata
pak Bayu yang mengulas senyumnya.
"Iya pak Bayu.Sama-sama semoga lekas sembuh Chaca."Jawab dokter Wisnu dan mengangguk pergi.
30 Menit kemudian Chaca dipindahkan dari ruang IGD ke ruang Tulip.Ruang rawat inap yang beberapa hari akan menjadi ruang perawatannya.
Didalam ruang inap itu sudah nampak Ibu Dewi dan Cindy.
Ibu Dewi duduk di kursi dekat ranjang pasien.
Sedangkan Cindy duduk di Sofa.
Dengan telaten Ibu Dewi memijit-mijit kaki Chaca yang tertutup selimut.
"Bangun nak..."kata Ibu Dewi mulai berkaca-kaca.
"Maafkan ibu kalau ibu enggak bisa selalu menjagamu"tambah Ibu Dewi.
Mendengar ibunya yang mulai sesenggukan Cindy pun menghampiri ibunya.Dan memeluknya.
"Bu..."kata Cindy dan melepaskan pelukannya.
"Ibu jangan sedih,Cindy juga sedih melihat kakak seperti ini"tambah Cindy yang sambil melihat sosok kakak yang kuat cantik pinter dan humble itu terbaring lemas.
"Ibu merasa enggak tega nak sama kakak kamu.Ibu mengerti dan paham betul perasaan kakak kamu.Kakak kamu begitu rapi menyimpan kesedihannya sendiri." ucap Ibu Dewi.
__ADS_1