Valentain Terakhir Bahagia

Valentain Terakhir Bahagia
Episode 41 direpotin bumil


__ADS_3

Dirumah ibu Dewi,


Seperti biasa Kendy selalu memarkirkan mobilnya diteras.Ibu Dewi yang melihat anaknya baru datang langsung menyambutnya dengan pelukan hangat.


"Chaca..."Kata ibu Dewi memeluk Chaca.


"Udah besar perut mu nak."Kata ibu Dewi sambil mengusap-ngusap perut anaknya.


"Bu,"Kata Kendy sambil nyium punggung tangan ibu Dewi.


"Ayo masuk rumah dulu."Kata ibu Dewi.


Bahagia sekali,ibu Dewi bisa di tengokin anak beserta menantunya itu.


merekapun duduk diruang tamu,


"Kakak "Kata Cindy yang memeluk kakaknya dan mencium punggung tangan Kendy.


"Baru pulang dek?"Tanya Kendy yang duduk disamping istrinya.


"Iya kak,ihh... Keponakan aunty sudah besar."Jawab Cindy sambil mengusap-ngusap perut kakaknya.


"Cindy,kakak minta itu."Kata Chaca yang menunjuk pentol telur yang Cindy taruh di meja.


"Itu pentol ada telurnya nanti kakak muntah."Jelas Cindy.


"Sayang.. "Kata Kendy yang melarangnya.


"Sedikit mas,aku pingin."Jawab Chaca.


"Kakak mau?"Tanya adiknya dan Chaca menganggukkan.


Cindy pun ke dapur dan mengambil piring.Setelah dipindahkan ke piring pentolan itu di berikan ke kakaknya.


"Itu telur kak isinya pentol."Kata Cindy dan Chaca mencoba menggigit.


Sedikit demi sedikit Chaca mencoba menelannya.


"Enak."Kata Chaca sumringah.


"Buat kakak semua ya dek."Rengek Chaca.


"Kakak minta,"Kata Chaca sambil mengecap - kecap bibirnya.


"Ih.. Jangan lah,belinya disekolah malah jauh pula,"Gerutu Cindy.


"Cindy.. "Kata ibu Dewi.


"Aish.. Ibu,"Gerutu Cindy Yang tidak mau membagi pentolannya dan memilih menghabiskannya.


"Hmmm... Nyam,nyam enak.Sudah habis."Goda Cindy ke kakaknya.


"Hiks.. Hiks.. Hua... Hua..."Kata Chaca yang mulai menangis.


"Cindy...."Pekik ibu Dewi.


"Sayang,kok gitu.."Kata Kendy.


"Mas aku mau pentolan itu,"Kata Chaca yang menunjuk pentolan telur di piring yang sudah habis dan hanya tersisa bumbu kacangnya.


"Jahat banget!Adek sendiri enggak mau bagi-bagi."Kata Chaca sesenggukan.


"Haduhhh...."Kata Kendy sambil garuk-garuk kepalanya.


"Ya sudah mas belikan.!"Kata Kendy yang menghibur istri manjanya itu dan mulai berdiri.


"Mas!"Kata Chaca yang menarik tangan Kendy.


"Apa sayang.?"Tanya Kendy.

__ADS_1


"Mas belinya di sekolah Cindy ya.. Disitu kan ada bibik gado-gado,aku juga mau mas sama es dawet ayu he he he."Tambah Chaca sambil mengedip-ngedipkan matanya.


Kendypun tambah menggaruk-garukan kepalanya.


"Kak Ken,Cindy juga mau seblak ya.. "Sahut Cindy.


"Iya.. Iya... Siap,"Jawab Kendy.


"Ibu mau apa?"Tanya Kendy.


"Enggak usah nak,"Jawab Ibu Dewi.


"Ya sudah mas pergi dulu."Pamit Kendy.


"Hati-hati mas."Ucap Chaca dan melihat suaminya berlalu pergi.


Kendy melajukan mobilnya menuju sekolah Cindy untuk membeli pesanannya istrinya.


"Semoga saja pak lek pentolnya masih ada,"Kata Kendy yang berharap.


Kendypun mulai menepikan mobilnya.Dia melihat pak lek pentol yang dibilang Cindy.Dia turun dari mobil dan harus mengantri untuk membelinya.


Kebetulan antrian didepannya cowok berbaju kaos oblong hitam,bermasker,memakai kaca hitam dan rambut gondrong berewokan bertopi serta berkumis tipis.Badannya sedikit gemuk berisi.


"Hem.. Ini anak lama betul belinya.Keburu habis nih."Batin Kendy yang mencoba mengambil celah untuk meneriaki pak lek pentolnya.


"Pak lek!Saya beli 25 ribu ya..Tolong kasihan istri saya sedang ngidam nih."Teriak Kendy.


Dan cowok itu mulai melihati Kendy.


"Habis mas maaf"Jawab pak leknya.


"Sisa sedikit enggak ada kah pak lek?"Kata Kendy yang memelas.


"Enggak ada mas.Sudah dipesan sama mas ini."Kata pak lek pentolnya yang menunjuk si cowok kaos hitam itu.


"Ini untuk istri nya mas saja."Kata cowok yang berbaju hitam ,berkaca mata hitam dan memberikan pentolan telur itu.


"Oh.. Thanks buat kamu saja!"


"Enggak apa-apa mas,kasian anaknya nanti ngiler."Ucapnya dan Kendy pun mau menerima pentolan telur itu.


"Terimakasih ya broo."Ucap Kendy sambil menepuk bahu cowok itu dan berlalu pergi.


Cowok itu pun membuka kaca mata hitamnya setelah Kendy berlalu pergi dari hadapannya.


"Seperti Kendy?"Batin cowok itu.


"Istri?"Pikir cowok itu sambil mengernyitkan ujung alisnya.


"Dengan siapa dia menikah?"Batinnya.


"Hey.. Fano."Kata seorang pria paruh baya yang memanggilnya dan menepuk pundaknya.


"Paman!"Ucap Fano yang memeluk pamannya.


"Paman senang kamu sudah bebas."Kata paman Fano.


"Semua berkat paman Herman lah!"Jawab Fano.


"Ayok pulang!Sudah cukup kan mengenang masa-masa SMA disini?"Tanya paman Herman.


"Huft.. Cukup!Cukup di buatnya aku masuk penjara."Ucap Fano.


"Ya sudah yang penting kamu sudah bebas kan."Kata paman Herman.


"Kita cari tempat ngopi dulu paman."Ajak Fano.


"Gerah rasanya kurang lebih dipenjara!Semua gara-gara cowok sialan itu."

__ADS_1


"Ahkk!"Kata Fano yang meninju angin.


"Sudahlah,enggak baik mendendam begitu.Kamu juga salah,ngapain kamu mau memperkosa perempuan itu."


Fanopun hanya diam dan berjalan memasuki mobil paman Herman.


Fano keluar dari penjara berkat paman Herman.Adik dari almarhum papanya Fano.Kedua orang tua Fano sudah meninggal sejak Fano berusia 10 tahun.Mereka meninggal karena kecelakaan beruntun di tol.


Semenjak itu Fano menjadi anak pendiam.Dari kecil Fano sudah ikut tinggal bersama paman Herman.Karena kesibukannya membuat paman Herman jarang berkomunikasi dengan ponakkannya itu.


Paman Herman menghentikan mobilnya ditempat tongkrongan kopi.


"Chaca bakery and cafe."Kata Fano yang membaca plang cafe tersebut.


"Ini tempat nongkrong yang recomended Fan.Ayok turun."Kata paman Herman sambil membuka pintu mobilnya.


"Chaca?"Sejenak dia mengingat.


"Enggak mungkin kalau cafe ini punya Chaca."Batin Fano.


"Relax sejenak,setelah ini aku akan mencari kamu Chaca!"


"Ahkk."Kata Fano sambil menggebrak dasbord mobil.


Tok Tok Tok


"Cepat turun."Kata paman Herman.


Fanopun mulai memakai masker,Topi dan kaca mata hitamnya.Dia mulai membuka pintu mobil dan mengekor mengikuti pamannya.


Fano dan paman Herman duduk di table 8.Fanopun melihat kesana kemari.


"Bagaimana tempatnya?Enakkan?"Tanya paman Herman.


"So far sih okey."Jawab Fano.


Kemudian datanglah seorang waitres.


"Selamat siang pak,silahkan mau pesan apa?"Tanya waitres itu.


"Saya kopi hitam ory ya mbk."Ucap paman Herman dan waitres itu menulis pesanannya.


Fano yang masih clingak-clinguk itu pun dikejutkan dengan Mayang yang berada di dekat meja kasir.


"Mbak sorry,itu siapa?"Tanya Fano menunjuk Mayang untuk memastikannya.


"Oh,samping meja kasir itu ibu manager kami pak bu Mayang namanya."Jawab waitres itu.


"Mayang?"Ulang Fano.


"Iya pak!Beliau rekannya ibu Chaca pemilik cafe ini."Jawab Waitres itu.


"Chaca?"Ulang Fano.


"Silahkan pak dilihat dibuku menunya.Bapak bisa lihat mengenai cafe ini dan ownernya.Jadi bapak pesan apa?"Tanya waitres itu.


"Oh.. Iya samain saja sama paman saya ya mbak."Kata Fano yang bergegas membuka buku menu di mejanya.


"Hah??Jadi bener Chaca ownernya?"Batin Fano.


"Fan.Fano"Panggil paman Herman yang membuyarkan lamunannya.


"Hah?I.. Iya paman."Kata Fano gugup.


"Kenapa kamu?"Tanya paman Herman.


"Enggak apa-apa paman!"Jawab Fano sambil melihati buku menu itu.


"Cantik.. Akhirnya aku bisa menemukanmu."Batin Fano.

__ADS_1


__ADS_2