
Chaca tertidur pulas di siang hari.Sementara Kendy hanya bisa duduk menyandarkan punggungnya di sandaran ranjang sambil scroll-scroll handphonenya.
"Aduh mas.. Perut Chaca sakit."Rintih Chaca sambil mendudukan tubuhnya dan memegangi perutnya.
"Sakitnya gimana sayang?Mau melahirkan atau gimana?"Tanya Kendy panik.
"Enggak tau mas sakit pokoknya.Hiks... Hiks..."Rintihnya lagi.
"Ayo sayang kita kerumah sakit."Kata Kendy yang membantu istrinya menyibak selimut.
"Hah?Mas.. Basah,darah.."Chaca terkejut dia melihat spreinya bernoda flek darah.
"Mamah.. Mamah.. Ibu.. Ibu.."Teriak Kendy sekencang mungkin setelah melihat noda darah keluar dari ruang jalannya bayi.
"Aduh mas.. Perut aku sakit,"Rintihnya.
"Sabar sayang.. Sabar,"
Ceklek,
"Astagfirullah.. Kenapa nak,"Mama Rita dan ibu Dewi yang sama-sama panik melihat Chaca di gendong Kendy ala baby koala.
"Chaca ngeflek mah,"Jawab Kendy sambil menuju pintu keluar kamar.
"Dek Dewi ikut bersama Kendy ya,nanti saya menyusul saya mau menyiapkan perlengkapannya Chaca sekaligus minta mbok Darmi membersihkan ranjang ini."Kata mama Rita yang panik.
"I-iya mbak,"Ucap bu Dewi dan berjalan mengikuti Kendy.
Mang Dimanpun sudah siap didepan garasi,
Lalu mang Diman membukakan pintu mobil untuk Kendy dan Chaca.
Kendy yang duduk dibelakang kemudi merasa ikut ngilu,melihat Chaca terus-terusan merintih kesakitan sambil menyandarkan kepala didada bidangnya.
"Mang Diman ke klinik dokter Kristin ya,hati-hati ya mang"Perintah Kendy.
"Iya den!"Jawab mang Diman sambil menyalakan mesin mobilnya.
"Aww... Aduh.. Sakit bu,"Rintih Chaca sambil memegangi perut buncitnya.
"Iya.. Iya sabar ya nak,"Kata ibu Dewi yang menguatkan anaknya sambil mengusap perut Chaca.
"Ini belum waktunya melahirkan nak Ken?"Tanya ibu Dewi.
"Belum bu,tadi Chaca baru bangun tidur siang dan mengeluh sakit perutnya enggak lama ada flek darah."Jawab Kendy sambil membelai rambut istrinya yang kepalanya bersandar di dada bidangnya.
"Semoga baik-baik ya nak.Mungkin hanya kelelahan,"Kata ibu Dewi yang menenangkan kedua anaknya.
__ADS_1
"Iya bu,"Jawab Kendy.
30 Menit kemudian,
Sampailah di klinik dokter Kristin.Mang Diman turut membantu mengambilkan kursi roda dan instruksi perawat Chaca dibawa keruang IGD untuk pemekrisaan lebih lanjut.
Kendy dan ibu Dewi hanya di perbolehkan menunggu diluar ruangan.Mama Rita,pak Bayu dan pak Herman pun datang.
"Bagaimana keadaannya Chaca Ken?"Tanya mama Rita dengan nafas tersengal-sengal.
"Masih di dalam sedang diperiksa dokter Kristin mah,"Jawab Kendy dengan wajah lemasnya.
20 menit kemudian dokter Kristin keluar dari ruangan Igd.
"Bagaimana keadaan istri saya dok?"Tanya Kendy yang menghampiri dokter Kristin di daun pintu ruang IGD.
"Pak Kendy,ibu Chaca dan calon bayinya baik-baik saja.Perutnya mengalami kram dan ada flek diakibatkan kelelahan.Untuk beberapa hari di sarankan untuk dirawat."Jawab dokter Kristin.
"Baik dok,lakukan yang terbaik untuk istri saya."Kata Kendy.
"Iya pak Kendy,saat ini ibu Chaca sedang istirahat.Bisa dijenguk setelah siuman.Baik kalau begitu saya permisi dulu."
"Terimakasih dok."Kata keluarga Chaca dan dokter Kristinpun mengangguk berlalu pergi.
"Alhamdulillah.."Ucap bahagia di raut wajah Kendy dan keluarganya.
"Iya betul nak apa yang dibilang oleh mama Rita.Karena Chaca sendiri fisiknya gampang lelah capek."Tambah bu Dewi.
"Yang dibilang mama Rita dan ibu itu benar.Nasehati Chaca pelan-pelan ya."Tambah pak Bayu dan Kendy mengangguk.
...****************...
Setelah kejadian perut kram itu Chaca memutuskan untuk cuti sementara dari cafe miliknya.
Untuk penanggung jawab cafe diberikan kepada Mayang selaku managernya,untuk mengontrol cafe dan berkas-berkas laporan di berikan kepada suaminya.
Untuk saat ini Chaca hanya fokus kepada kandungannya yang sudah berusia 7 bulan berjalan.
Sedangkan Fano masih memantau cafe milik Chaca.Entah rencana apa yang dia lakukan selanjutnya.
"Mbak... "Panggil Fano yang melambaikan tangannya ke waitres cafe.
Waitres itu menghampiri Fano yang duduk di table 8.
"Ada yang bisa dibantu pak?"
"Hmmmm.. Saya pesan hot tea 1 sama pan cake 1."Jawab Fano.
__ADS_1
"Baik pak!Mohon ditunggu,"Jawab waitres itu seraya pergi namun langkahnta terhenti ketika Fano memaanggil.
"Mbak.. Mbak.. Mau tanya."
"Mmmmmmm... Ibu Chaca kok enggak pernah terlihat beberapa bulan ini ya?"Tanya Fano sambil membuka kaca hitamnya.
"Ibu Chaca sedang cuti melahirkan pak!"Jawab waitres itu.
"Oh..."Jawab Kendy
"Baik pak permisi."Kata waitres itu dan berlalu pergi.
Fano hanya terdiam setelah mendengar jawaban waitres itu.
Setelah menghabiskan pesanannya,Fano pun pulang kerumah.
Kamar Fano,
"Huft!"Fano sambil merebah kan badannya ke ranjang.
Ceklek,
Fanopun mengarahkan pandangannya ke arah pintu kamar yang membukanya.
Tap Tap Tap
"Paman,"Kata Fano yang mendudukan badannya.
"Fano.Mau sampai kapan kamu menganggur begini?Kuliah enggak,berkerja juga enggak."Kata paman Herman sambil duduk di pinggiran ranjang.
"Sudahlah paman,paman fokus saja sama pekerjaan paman.Jangan memaksa Fano!Nanti kalau Fano sudah siap,Fano akan kasih tau.Tapi enggak sekarang."Jelas Fano.
"Mau sampai kapan kamu membuang waktumu untuk menganggur?"Tambah paman Herman.
"Mau sampai kapan juga paman buang-buang waktu untuk menjadi perjaka tua."Elak Fano.
"Fano.!"Pekik paman Herman.
"Paman ini sebagai pengganti orang tuamu.Paman hanya ingin kamu berubah."Kata paman Herman dengan nada tinggi.
"Cukuplah paman!Fano paham,Fano hanya ingin menebus waktu Fano yang terbuang di bui!Fano hanya ingin sebentar menikmati udara kebebasan!"
"Itu karena ulah kamu sendiri!"
"Fano yang dulu dan Fano yang sekarang sudah berbeda.Paman enggak habis fikir."Tambah paman Herman.
"Ya begitulah paman.Tuhan saja mampu membolak-balikkan hati manusia."Ucap Fano.
__ADS_1
Rasa hati paman Herman ingin sekali menampar mulut anak usia 19 tahun itu.Namun paman Herman masih bisa untuk menahannya.