Vannesa Elvia

Vannesa Elvia
Saudara baru


__ADS_3

Vannesa diam-diam melirik Rian yang sedang fokus menyetir,dan Rian menyadarinya.


"Ada apa? Kau sedang melihat ketampanan ku ya?" Ucap Rian sambil menoleh kearah Vannesa.


"Haha tidak, aku aku hanya melihat perbedaan apa yang ada padamu dan Rio." Vannesa menjawab sekenanya.


"Perbedaan? Untuk sifat aku kira kau sudah tau,dia sangat dingin dan pendiam sedangkan aku tidak. Untuk ciri fisik hanya bisa melalui warna rambut dan mata kurasa." Rian terlihat berfikir apa perbedaan yang ada di antara dia dan kembarannya ini.


"Warna rambut dan mata?" Vannesa melihat kearah rambut Rian.


"Iya,rambutku ini berwarna hitam kornea mataku juga. Tapi kalau Rio warnanya cenderung coklat tua untuk rambut,dan coklat muda untuk kornea mata. Itu hanya bisa dilihat melalui jarak yang cukup dekat,jadi untuk orang yang awam/orang yang baru bertemu sesekali akan mudah membuat kesalahan pada saat memanggil."


Vannesa mengangguk berkali-kali,dia kembali melihat ke arah jendela. Jarak mall dengan kostnya memang sedikit jauh.


"Kau sepertinya memang bukan dari daerah sini ya? Darimana kau?" Rian menoleh ke arah Vannesa.


"Iya aku dari daerah seberang,aku kesini untuk bekerja,tapi sialnya baru seminggu kerja sudah disuruh mengundurkan diri oleh kembaranmu itu." Jawab Vannesa ketus.


"Hahaha, sebenarnya tidak salah Vanny. Maksud dia baik,kalau kau tetap di Adinata Grup maka kau akan terancam oleh pacar bosmu itu."


"Tapi ya,aku itu bisa mengatasi dia sendiri. Lagipula Bigantara Grub miliknya itu aku belum tau seperti apa." Vannesa menghela nafas.


"Tidak masalah,besok kau akan tau. Kau tau Vanny? Dia selama ini terlalu menderita, penyakit nya, seperti tidak mau hilang."


"Venustraphobia?" Vannesa dengan cepat mengatakan apa yang dia tau.


"Bagaimana kau tau?" Rian terkejut dengan kata-kata Vannesa.


"Iya,aku tau karena penderita itu tidak nyaman setiap berada di dekat wanita. Dan dia akan marah ketika dekat dengan wanita. Tapii." Vannesa enggan melanjutkan.


"Tapi? Dia sama sekali tidak merasa kau mengganggu dirinya. Atau kau itu?"


"Apa? Kau meragukan aku yang bukan seorang perempuan?!" Vannesa melotot kearah Rian,dan Rian hanya tertawa.


"Tidak tidak bukan seperti itu, sepertinya dia memang hanya cocok denganmu. Menurut yang aku lihat tadi bahkan respon Rio terhadap dirimu sangat baik Vanny,bahkan dia juga memegang tanganmu." Rian menjelaskan kepada Vannesa.


"Lalu apa?" "Tidak,aku hanya memberitahu saja." Rian sengaja menggoda Vannesa dengan bicara seperti itu. Berharap Vannesa juga punya perasaan kepada Rio.


...****************...

__ADS_1


Vannesa sudah sampai dirumah sejak 1 jam lalu,dia merebahkan dirinya dikasur kesayangannya saat ini.


Tok tok tok


Vannesa mendengar suara ketukan dan dia membuka pintu.


"Vannesa aku minta maaf atas perilaku Maya padamu tadi."


Desta yang datang kepada Vannesa,tapi kali ini Vannesa tidak mau bertemu dengan Desta lagi. Membuat dia kehilangan muka didepan orang banyak,bahkan terfitnah.


"Masalah itu sudah berlalu Desta. Lagipula kenapa kau ini mengajakku ke mall berdua saja? Kau sengaja ingin membuat pacarmu marah ketika tau aku denganmu."


"Aku tidak tau kenapa Maya seperti itu. Aku tidak suka Maya,aku tidak ingin Maya." Desta berkata seakan Desta sedang menyatakan cinta pada Vannesa.


"Itu urusanmu Desta,bukan urusanku. Hanya saja kau sudah punya pacar,tidak seharusnya mengajak aku pergi hari ini. Aku memutuskan untuk mengundurkan diri dari perusahaan."


Vannesa berfikir bahwa hal itu memang sudah benar. Dia juga tidak ingin melihat Desta lagi, apalagi Maya. Setelah kejadian itu Maya pasti akan sering datang ke kantor.


"Apa? Tidak Vannesa! Kau tidak boleh."


"Maaf Desta itu sudah keputusanku." Vannesa ingin kembali masuk tapi tangannya dipegang oleh Desta.


"Kau Hans?" Hans adalah orang yang dulu pernah Desta bully.


"Ada apa Desta? Kau terkejut denganku? Ya aku adalah Hans,orang yang dulu sering kau bully."


"Tidak menyangka kau mengenal Vannesa, jangan-jangan dia menjauh dariku karena kau." Desta maju kehadapan Hans.


"Ck,ini tidak ada hubungannya dengan Hans. Dibandingkan denganmu aku lebih memilih Hans."


Desta yang mendengar kata-kata Vannesa langsung pergi begitu saja.


"Kenapa kau tidak bilang kalau Desta adalah musuhmu?" Vannesa bertanya kepada Hans.


"Aku tidak mau membuatmu membenci dia karena masalahku Vannesa,kalau suatu saat kau suka dengan orang yang ternyata musuhku,maka aku harus terima. Karena aku tidak mungkin menjauhkanmu dari orang yang kamu suka." Hans merapikan rambut Vannesa yang ada diwajahnya.


"Tapi setidaknya kau beritahu saja kan."


"Hahaha,baiklah baiklah kalau begitu. Aku membawa seseorang denganku."

__ADS_1


"Siapa Hans?" Hans menoleh kebelakang dan Key Van mendekat.


"Apa Key? Kau membawa Key?"


"Iya Key,adik dari Desta. Dia mulai sekarang adalah saudara kita." Vannesa belum mengerti maksud dari perkataan Hans.


Vannesa akhirnya memutuskan menyuruh mereka masuk kedalam kost.


"Saudara apa maksud kalian? Dan bukannya Desta dan kau Hans tidak punya hubungan yang baik,tapi kenapa adiknya?"


"Iya memang benar,tapi sejak kecil Key selalu ada di pihakku Vann. Dia tidak dekat dengan kakaknya,karena kau tau? Mereka saudara beda ibu."


Vannesa melihat kearah Key meminta keterangan darinya.


"Iya Vann, Hans sepenuhnya benar. Aku tidak suka kepada Desta karena dirinya selalu merasa berkuasa, sebenarnya ibu Desta adalah istri ke 2 ayahku tapi dia mengandung lebih dulu dari ibuku,dan dia meninggal ketika Desta berusia 2 tahun. Sedangkan ibuku baru mengandungku ketika Desta berusia 1 tahun. Akhirnya Desta dirawat sepenuhnya oleh ibuku,dan namanya ditulis dibawah ibuku menjadi anak dari ibuku di kartu keluarga sebagai anak pertama."


Vannesa yang baru tau fakta itu merasa kasian kepada Key. Dia seharusnya memiliki orang kakak yang menyayangi dia bukannya seperti itu.


"Dan untuk masalah saudara ini,kau sudah tau tanpa aku memberi tahumu." Vannesa merasa ragu dengan itu.


"Kau bergabung ke black shadow?" Vannesa bertanya dengan hati-hati kepada Key.


"Iya, mulai sekarang aku adalah saudaramu." Key tersenyum penuh arti kepada Vannesa,begitu pula Vannesa dia merasa senang mempunyai rekan pembunuh yang lain.


"Tapi bagaimana ceritanya?" Vannesa melihat kearah Hans.


"Dia selalu berada di gang 6 sendiri,dan disana selalu ada orang-orang penindas. Galang yang waktu itu kebetulan lewat menolong dia karena kasihan melihat kondisinya,tapi kondisi Key waktu itu benar-benar sudah babak belur. Tidak ada pilihan lain selain membawa dia ke markas,jadi sampai disana dia diobati dan sadar dalam waktu 2 hari."


Vannesa terkejut,dia melihat kondisi Key. Dia memang terlihat masih lemah.


"Lalu setelah itu,dia meminta bantuan Galang untuk mencari informasi tentang orang-orang hari itu. Galang menemukan siapa pelakunya,itu adalah Desta kakak Key. Awalnya Key tidak percaya, tapi karena melihat bukti cctv yang dibawa oleh Galang Key jadi percaya. Dia akhirnya bergabung dengan kita."


Vannesa jadi tau alasan kondisi Key malam itu sangat buruk. Dan juga alasan Galang tidak ada bersama mereka ketika menolong rekan mereka.


"Karena sudah bergabung dengan kami. Kau dilarang menyembunyikan apapun dari kami." Vannesa memegang tangan Key dan Key mengangguk patuh.


"Vann,pilihanmu untuk mengundurkan diri dari perusahaan Adinata Grup sudah benar. Tinggal menentukan dimana selanjutnya kau akan tinggal dan bekerja,supaya Desta tidak mencari kamu lagi kemari."


"Hans kau tidak perlu kuatir,aku mengundurkan diri sebenarnya juga ada alasan sendiri,dan untuk masalah bekerja aku sudah ada tempat. Kau lihat saja besok."

__ADS_1


Hans tidak percaya terhadap Vannesa,dia tidak mungkin dengan cepat mendapatkan tempat kerja begitu saja kan?.


__ADS_2