Vannesa Elvia

Vannesa Elvia
Party on this night


__ADS_3

Vannesa keluar dari apartemennya,ia ingin berangkat bekerja. Pada saat yang sama sebuah mobil berwarna silver berhenti didepan Vannesa,dari dalam mobil keluar seorang perempuan dia adalah Lisa,lalu dia menghampiri Vannesa.


"Vannesa,aku ingin bicara denganmu." Ucap Lisa sambil menarik tangan Vannesa masuk kedalam mobil. Setelah Vannesa sudah berada didalam mobil, Lisa melajukan mobilnya.


"Ada masalah apa? Kenapa kau seperti ini?" Tanya Vannesa kepadanya.


"Kau tidak akan percaya Vannesa,gadis yang ada diruang karantina itu dia-"


"Aku sudah tau dia siapa Lisa." Vannesa memotong ucapan Lisa. Dan Lisa terkejut dengan apa yang didengarnya.


"Apa? Apa maksudmu Vann?" Lisa melirik kearah Vannesa, Vannesa menghela nafasnya.


"Kalau aku memberitahumu identitas dia,maka permainan ini tidak akan menarik. Ikuti alurnya Lisa, lama-lama kau akan tau siapa dirinya."


Lagi-lagi Lisa tidak faham akan maksud dari kata permainan ini, jelas-jelas semua orang seperti sudah tau siapa gadis itu tapi tidak dengan dirinya. Lisa tidak tau dia siapa, dan apa maunya.


Lisa akhirnya hanya menurut dengan apa yang dikatakan oleh Vannesa. Lisa mengantarkan Vannesa sampai di kantor tempat Vannesa bekerja,dan Lisa segera pergi dari sana.


"Hai Vann,kau diantar siapa?" Zana yang juga baru datang segera menghampiri Vannesa dan menyapanya.


"Hai Zana,aku diantarkan oleh temanku. Kebetulan kami satu arah." Jelas Vannesa kepada Zana.


"Oh begitu ya,yasudah kalau begitu. Hey nanti ada acara apakah kau sudah membeli dress atau apalah."


"Astaga Zana,iya aku lupa." Vannesa terlihat panik karena dia tidak punya dress atau setelan yang bisa dia kenakan untuk ke pesta.


"Hih kau membuatku kaget,nanti kita beli ke mall saja. Kan didekat sini ada." Ucap Zana santai.


"Emm baiklah kalau begitu."


Zana dan Vannesa sama-sama naik lift untuk menuju ke ruangan kerja masing-masing.


Vannesa bekerja dengan serius,dia sangat teliti dengan semua hal,bahkan dari hal yang terkecil sekalipun.


Pekerjaan hari ini sudah selesai, sesuai dengan apa yang disepakati sebelumnya, Zana dan Vannesa pergi ke mall untuk membeli sebuah dress.


"Vannesa ayo kau pilihlah dress yang bagus,aku sudah menemukan dan kau belum." Ucap Zana kepada Vannesa, sedangkan Vannesa dia belum memilih satu dress pun,ditambah selera fashion Vannesa sedikit buruk.


Setelah beberapa saat Vannesa akhirnya asal memilih dress,dia tidak tau dress itu cocok dengannya atau tidak,dia berpikir asalkan berwarna hitam pasti bisa dikenakan.


"Vann,kau yakin akan mengenakannya nanti?" Zana bertanya dengan ekspresi wajah bingung.


"Kenapa memangnya? Apakah tidak bisa?" Vannesa melihat paper bag yang dia jinjing.


"Bukan begitu hanya saja itu terlihat sangat panjang dan elegan,kau yakin akan cocok dengannya?"


"Tidak masalah jika tidak cocok."


Mereka berdua berjalan menuju ke lantai dasar. Dan mereka justru bertemu dengan seseorang yang tidak seharusnya ditemui.


"Yo bukankah ini adalah Vannesa?" Vannesa menoleh kearah datangnya suara,dilihatnya Maya yang membawa beberapa paper bag sambil tersenyum remeh kearahnya.


"Ada apa memangnya?" Vannesa sedikit mendekat kearah Maya.


"Aku hanya memanggil saja, hanya tidak menyangka kau juga membeli barang. Aku kira kau tidak mampu membeli barang mahal." Ejeknya sambil berjalan mengitari Vannesa.


"Jaga ya mulut lo! Siapapun berhak datang kemari,dan lo atas dasar apa bilang gitu hah!" Zana yang tidak terima dengan ejekan itu naik pitam,dia mendorong tubuh Maya sedikit keras.


"Lancang ya! Lagipula gue nggak ngatain lo kok, ngapain marah? Apa jangan-jangan temen lo ini nggak bisa ngapa-ngapain?" Maya berjalan kearah Vannesa dan dengan sengaja menyenggol bahu Zana.


Vannesa menyeringai "Ya! Aku memang tidak mampu membeli barang-barang mewah seperti kamu. Tapi setidaknya aku tidak pernah meminta uang pada orang lain demi gengsi seperti dirimu ini." Vannesa mendekati Maya "Asal kamu tau! Aku adalah orang yang berpendidikan yang tau malu,apakah urat malumu sudah putus? Memancing keributan di tempat umum kena sanksi loh." Ucapnya sembari tersenyum puas.


"Apa lo bilang hah!" Maya menampar Vannesa. Tapi Vannesa menangkap tangan Maya.


"Good looking but zero ethics" Vannesa melepaskan genggaman tangannya. Dilihatnya wajah Maya yang sudah memerah menahan amarahnya.


"Vannesa kau akan tau akibatnya karena menantangku." Pekik Maya pada Vannesa.


"Maaf nona silahkan keluar dari sini, Anda telah menyebabkan kerusuhan. Kedepannya kalau Anda melakukan hal yang sama,kami tidak segan-segan melaporkan Anda kepada pihak berwajib." Tegas security yang sudah berada disamping Maya.


"Apa-apaan ini! Jelas-jelas mereka berdua yang membuat keributan." Maya menunjuk kearah Vannesa dan Zana yang berdiri tak jauh darinya.

__ADS_1


"Enak aja kalau omong,semua pasang mata disini tu tau kalau lo yang duluan cari masalah sama kita." Bela Zana sambil berkacak pinggang.


"Maaf nona kami harus membawa Anda keluar." Security itu menarik dengan paksa Maya untuk keluar dari mall.


Maya memberontak dari pegangan security "Lepas! Gua bisa jalan sendiri,gua tau jalan." Ucapnya sambil berjalan lebih dulu.


Pengunjung mall yang sempat berkerumun akhirnya satu persatu pergi dari sana. Vannesa dan Zana juga pergi dari mall,karena dari awal niat mereka memang ingin keluar dari sana.


"Sialan sih Maya ini,pinter banget cari gara-gara." Ucap Zana kesal, sedangkan Vannesa hanya menggeleng melihat Zana yang menendangi batu kerikil dijalanan.


Mereka berdua pulang dengan naik bus,setelah beberapa saat Vannesa turun terlebih dulu, Zana melambaikan tangan kepada Vannesa. Vannesa segera masuk ke apartemennya dan mandi lalu berganti baju.


Drt drt


Vannesa memeriksa ponselnya yang bergetar "Panggilan masuk? Ini nomer siapa?" Vannesa menerima panggilan tersebut.


"Vannesa,kau harus waspada nanti malam. Air yang tenang lebih baik daripada air bergelombang."


"Halo ini siapa?" Panggilan terputus begitu saja, Vannesa mencoba menghubungi lagi tapi tidak bisa.


"Aneh,siapa dia? Gadis kecil itu lagi?" Gumamnya pelan.



Vannesa sudah berdandan dengan rapi,dia mengenakan dress yang baru dia beli sore tadi. Vannesa mematut didepan cermin kamarnya,merasa sudah puas dia pergi keruang depan dan menunggu Haris menjemputnya.



5 menit kemudian Haris menelfonnya, Vannesa segera turun dan naik kedalam mobil. Sesampainya di lokasi, Vannesa melihat banyak sekali orang yang datang. Segera Vannesa masuk,dia melihat disekitar. Mencari Zana tentunya,siapa lagi?


"Vannesa yuhuuu!" Zana berjalan kearah Vannesa.


"Kau terlihat seperti orang lain Vann." Zana terlihat memelas.


"Aku tau,kau benar aku tidak cocok dengan dress ini."


Zana melihat kebawah "Vannesa kakimu hilang." Zana menunjuk gaun Vannesa yang sangat panjang sampai kakinya tidak terlihat.


"Iya kau benar." Vannesa terkekeh,begitu pula dengan Zana.


"Rian,eh pak Rian iya aku disini." Ucap Vannesa sambil tersenyum.


"Tidak usah panggil pak, panggil Rian saja aku bukan bosmu. Zana kau terlihat sangat cantik dengan gaunmu." Zana tersenyum mendengar pujian Rian.


"Iya aku,emm terimakasih pak." Terlihat pipi Zana yang merona karena tersipu oleh sanjungan Rian.


"Baiklah kalian silahkan nikmati pestanya,aku akan menyapa para tamu." Rian tersenyum dan pergi.


"Lihatlah itu Maya,kekasih Desta pemilik Adinata Grub." Tamu-tamu yang lainnya terdengar sedang membicarakan kedatangan Maya dan Desta. Maya mengenakan dress hitam bergradasi ungu dengan panjang selutut dan dipadukan dengan hells berwarna hitam.


"Wanita licik kah? Kiw kiw terlihat payah." Zana berbicara pelan,hanya bisa didengarnya sendiri dan Vannesa.


"Kau yang terlihat payah,bicara seperti itu tidak berani keras."


Zana memanyunkan bibirnya mendengar perkataan Vannesa. Vannesa melihat Desta berbicara dengan Rian, sedangkan Maya berjalan ke arahnya.


"Wah lihat,seleramu bagus tapi salah tempat."


"Wah lihat Maya ini datang-datang malah menghina gadis itu. Tidak tau masalah apa yang telah disebabkan gadis itu."


"Ya kau benar,tidak seharusnya menyinggung perasaan Maya."


Vannesa mendengar banyak komentar-komentar netizen yang menyebabkan telinganya menjadi kotor karenanya.


"Nona Desta,kau terlihat cantik. Bagaimana mungkin bisa dibandingkan denganku." Ucapnya ramah. Tapi Maya terlihat tidak senang dengan pujian itu. Dan justru membuatnya marah.


"Kau ini kenapa? Tidak suka padaku ya!" Serunya pada Vannesa.


"Ada apa nona Maya? Apakah kau tidak suka dikatakan cantik olehnya? Apakah kau mau mengakui kalau kau jelek?" Rio muncul dan berdiri di belakang Vannesa ,semua pasang mata tertuju kearah Rio berada.


"Aku tidak bermaksud begitu,hanya saja nadanya terdengar sedang menghinaku."

__ADS_1


"Tidak usah berdalih,jelas sekali bahwa kau yang menghina Vannesa duluan." Kata-kata itu berhasil membuat Maya bungkam. Para tamu yang hadir terdengar sedang berdiskusi.


"Emm pak Rio,pasti ada kesalahpahaman disini,aku minta maaf kalau Maya tidak sopan." Desta mendekat kearah Rio dan bersalaman dengannya.


"Tidak masalah. Hanya saja dia sudah menyinggung sekretarisku,aku tidak suka." Ucapnya dingin.


"Hahaha,aku minta maaf sekali lagi untuk itu." Rio hanya mengangguk,dia segera pergi menjamu tamu lainnya.


"Hai Vann,apa kabarmu?" Sapa Hans yang baru datang.


"Hanss! Kau juga datang? Aku baik-baik saja." Vannesa terlihat antusias bertemu Hans.


"Gadis pintar. Tentu aku datang,pesta ini diadakan untuk memperbesar relasi."


"Tentu saja, bagaimana aku bisa lupa." Vannesa terkekeh dan Hans mengelus kepala Vannesa.


"Pak Hans silahkan minumnya." Zana memberikan gelas kepada Hans, diterimanya dan diminum oleh Hans.


"Terima kasih minumannya. Ngomong-ngomong kau teman Vannesa?"


"Iya aku temannya."


"Baiklah,aku akan bergabung dengan yang lainnya,kalian berdua juga jangan lupa untuk makan." Hans segera pergi dari hadapan mereka berdua.


"Hay boleh aku bergabung?" Syerly datang dengan mambawa minumannya.


Byurr


Dengan sengaja Syerly menumpahkan minumannya ke gaun milik Vannesa,dan juga karena sedikit panjang gaun itu terinjak oleh Syerly,tentunya siapapun yang melihatnya mengira Syerly tersandung sesuatu.


"Kamu! Kau mengotori gaun temanku!" Zana berjalan maju mendekati Syerly.


"Tidak perlu marah Zana,aku baik-baik saja." Sergah Vannesa.


"Aku tidak sengaja,aku tersandung tadi. Aku punya gaun lainnya,kau bisa pakai punyaku." Syerly memasang wajah menyesal,dia mendekat kearah Vannesa.


Rio datang sambil memandangi gaun Vannesa "Tidak perlu! Sekretarisku tidak memakai gaun milik orang lain."


"Apakah dia gila? Aku bahkan tidak membawa gantinya." Gumamnya dalam hati.


"Vannesa kau bisa pergi ke kamar hotel untuk ganti pakaian."


"Pak Rio, bagaimana mungkin? Vannesa tidak bawa baju ganti." Zana membela Vannesa, Rio sedikit kaget mendengar itu. Dia memikirkan bagaimana Vannesa mengatasi ini.


"Aku tidak masalah Zana,aku akan pergi ke kamar hotel sebentar." Vannesa segera meninggalkan ruang pesta,dia menuju kamar VIP untuk ganti baju.


Cakra,Hans,serta Rian merasa kasihan melihat kondisi Vannesa saat ini.


*15 menit yang lalu.


Maya masih tidak terima dirinya dipermalukan oleh Vannesa didepan para tamu. Dia memikirkan cara untuk membalas perbuatan Vannesa padanya. Ketika Maya berpikir, Syerly lewat didekatnya sambil membawa minuman. Ide seketika muncul dari otak liciknya.


"Syerly kau harus membantuku." Bisiknya pada Syerly.


Syerly mendengarkan instruksi Maya dengan serius, Syerly tersenyum dan segera melakukan tugasnya. Maya tau kalau Syerly juga tidak suka pada Vannesa,maka dari itu Maya meminjam tangan Syerly untuk



Ceklek


Vannesa menutup pintu hotel dan melihat dirinya di cermin.


"Sial! Syerly sialan itu tidak tau ada masalah apa padaku beraninya membasahi gaunku dengan minumannya." Vannesa melihat gaunnya yang basah karena minuman itu.


"Telfon itu? Apakah dia sudah mengetahui semua ini?" Vannesa mengingat kembali kejadian dia di apartemennya.


"Hmm gaun ini tidak bisa aku ganti,aku tidak ada baju lain sekarang. Bagaimana kalau?" Vannesa menyeringai lalu mengeluarkan belati yang ia simpan di pahanya. Vannesa menguraikan rambutnya dan melukiskan lagi sedikit make up ke wajahnya.


Setelah dirasa cukup,dia keluar dari kamar dan kembali ke perjamuan.


Para tamu terlihat tercengang dengan transformasi Vannesa saat ini,dia terlihat berbeda dari sebelumnya.

__ADS_1


"Apa ini? Seharusnya dia tidak kembali ke pesta lagi!" Maya marah melihat Vannesa bahkan lebih cantik dari sebelumnya.


"Vannesa kau? Apa yang kau lakukan?" Zana menghambur ke arah Vannesa dan memegang tangannya. Vannesa hanya tersenyum menanggapi Zana.


__ADS_2