Vannesa Elvia

Vannesa Elvia
Spy


__ADS_3

Disebuah ruangan yang kecil dengan pencahayaannya yang hanya temaram, beberapa orang terlihat sedang menggeliat kesana kemari berusaha melepaskan diri dari ikatan tali yang melilit tubuh,tangan dan kaki mereka dengan sangat erat.


Namun sekuat apapun mereka berusaha namun simpul tali tersebut justru semakin kuat,dan bukannya semakin longgar tapi hanya membuat anggota tubuh yang terlilit tali menjadi merah akibat gesekan tali tersebut pada kulit.


Tidak hanya itu tapi tali tersebut juga meninggalkan bekas luka gores di kulit. Yang membuat satu dua orang meringis menahan sakit.


'Gila ya mereka? Sudah tau kalau tidak bisa lepas malah dicoba terus,yang ada mereka akan kehabisan tenaga.' Gumam salah seorang pemuda yang juga diikat dengan tali sama seperti yang lainnya,hanya saja posisinya sedikit jauh, jadi ia maupun orang lain yang ada disana tidak bisa melihat wajah masing-masing. Hanya sesekali mendengar deru nafas masing-masing orang disana.


Kegiatan mereka semua terhenti tatkala mendengar suara pintu yang berderit,mereka yang menyadari akan ada seseorang yang masuk itupun serentak memalingkan wajahnya kearah pintu yang terbuka.


Dibawah penerangan lampu yang temaram itu mereka dapat melihat dengan jelas sosok tinggi dan berbadan besar sedang berdiri memandangi semua orang yang berada diruangan itu.


"Kalian sudah sadar rupanya! Hahaha bagus bagus,nikmati saja suasana disini." Setelah mengatakan itu pria sang pria berbadan besar kembali keluar dan menutup pintu dengan rapat,dapat mereka dengar ia segera berbicara beberapa patah kata kepada temannya lalu tidak terdengar suara lagi setelahnya.


Mendengar tidak ada suara atupun pergerakan lagi, mereka kembali meneruskan hal sempat terjeda, apalagi kalau bukan membuka ikatan tali di tangan mereka.

__ADS_1


Tanpa ada yang menyadari,di kerapatan pepohonan yang mengelilingi bangunan itu terdapat beberapa orang yang memang sengaja mengawasi tempat tersebut, ditambah lagi dengan gelapnya malam membuat semua orang yang ada disana tidak akan terlihat,tapi meskipun begitu mereka tetap siaga,bahkan berusaha meminimalkan gerakan tubuh mereka.


"Gimana?"


"Tunggu sebentar lagi."


"Oke!"


Setelah percakapan itu mereka kembali diam seolah-olah memang tidak ada percakapan sebelumnya.


Disisi lain, Vannesa menggeber motor sport dengan kencang membelah jalanan kota saat ini,ia menuju salah satu gedung yang menjulang tinggi.


Setelah menaiki lift, Vannesa berjalan menuju salah satu ruangan dan menekan kata sandi disana, setelah kata sandi dimasukkan Vannesa tanpa ragu membuka pintu dan berjalan masuk dan menutup pintu dengan keras.


Blam!

__ADS_1


Pemilik ruang apartemen itu tentunya terkejut dengan suara pintunya yang dibanting oleh seseorang. Key sang pemilik apartemen berjalan dari arah dapur menuju kearah ruang depan,ia mengambil pistol yang tergeletak di meja, pistol itu ia gunakan sebagai alat pertahanan.


Pistol tersebut mengacung tepat dibelakang kepala Vannesa dengan posisi membelakangi Key,sehingga membuat Key tidak mengetahui siapa yang saat ini sudah masuk kedalam apartemen miliknya.


"Ck,mau membunuh teman sendiri?" Tanya Vannesa santai tanpa melihat kearah Key dibelakangnya.


Mendengar suara yang begitu familiar Key menurunkan pistol,ia juga berjalan mendekat kearah Vannesa.


"Ternyata kau,aku fikir siapa." Ucap Key terlihat lega.


Vannesa hanya tersenyum simpul "Kau sangat pandai bersandiwara Key,tidak heran kau adalah seorang mata-mata." Ucap Vannesa kepada Key dengan nada dingin.


Key mengernyit tak faham dengan maksud kata-kata Vannesa padanya.


"Apa maksudmu Vann?"

__ADS_1


"Belajar darimana? Kau seorang mata-mata tapi tidak menutup kemungkinan kau juga seorang mata-mata yang dikirim seseorang kepada kami."


Deg!


__ADS_2