Vannesa Elvia

Vannesa Elvia
Hari terakhir


__ADS_3

Ceklek


Pintu ruangan Vannesa dibuka oleh seseorang, memperlihatkan sosok Rio yang menenteng beberapa kantong plastik. Vannesa merasa lega melihat Rio kembali.


"Pak Anda tadi pergi kemana? Kenapa tiba-tiba pergi?" Vannesa bertanya kepada Rio, alih-alih mendapatkan jawaban justru Rio kembali bertanya padanya.


"Kemana yang lainnya?" Vannesa menghembuskan nafas kasar,dia tidak seharusnya berharap bosnya itu menjawab pertanyaannya dengan benar.


"Sudah kembali bekerja,waktu istirahat mereka sudah habis." Vannesa merebahkan tubuhnya dan berbalik membelakangi Rio.


"Kau marah? Aku membelikan nasi biryani dan dimsum untukmu."


"Aku.. Aku tidak lapar." Vannesa berbohong sebenarnya dia sangat lapar karena dari pagi hanya memakan bubur yang tidak ada rasanya. Tapi dia marah,ingat? Rio seharusnya menjawab pertanyaan Vannesa tadi.


"Ck,aku pergi untuk membeli ini untukmu,lalu ketika aku pergi apakah aku harus mengatakan kepada seluruh penduduk bumi?"


Vannesa tertawa sangat nyaring mendengar itu,dia kembali duduk dan melihat kearah Rio yang sedang menyiapkan makanan ke piring. Pandangan Vannesa bertemu dengan manik coklat Rio,mereka tenggelam dalam perasaan mereka masing-masing. Detik kemudian mereka saling membuang muka. Canggung,itulah mereka rasakan saat ini, Vannesa dan Rio mereka sama-sama memilih untuk diam.


Rio berdehem dan seketika memecah suasana hening yang mereka ciptakan.


"Apa? Eh sudah selesai?" Vannesa bertanya kepada Rio. Dan Rio mengangguk,dia memberikan piring berisi nasi biryani kepada Vannesa.


"Makanlah yang banyak." Titah Rio kepada Vannesa,dan Vannesa memakannya dengan patuh.


"Pak-"


"Kalau tidak di kantor panggil saja Rio,Rian juga tidak kau panggil pak bukan?" Rio menatap tajam kearah Vannesa.


"Oh hehehe iya pak,maksudku Rioo." Vannesa menyuapkan nasi kemulutnya.


"Kau ingin bicara apa?" Rio memakan puding strawberry yang tadi dibelinya. Vannesa melirik Rio diam-diam. "Terlihat jinak ketika makan." Gumamnya dalam hati.


"Aku, terimakasih sudah membelikan makanan untukku,dan juga sudah datang menungguiku." Ucap Vannesa tulus.


Manik coklat Rio menatap Vannesa dengan tatapan yang hangat,yang belum pernah Vannesa lihat sebelumnya.


"Ini tidak gratis." Rio menyeringai dan berjalan mendekati Vannesa,sangat dekat bahkan Vannesa bisa merasakan hembusan nafasnya saat ini.


Rio mendekatkan wajahnya ke telinga Vannesa "Kau adalah milikku,tidak ada yang boleh mendapatkanmu selain aku." Wajah Vannesa memerah,jantungnya berdegup kencang. Vannesa belum pernah merasakan perasaan seperti ini,tapi Vannesa segera menetralkan detaknya yang tidak menentu.


"Tentu saja aku adalah karyawanmu,tidak ada yang bisa merebutku,kalaupun aku mau pindah juga tidak dengan cara direbut." Sergah Vannesa kepada Rio, sedangkan Rio mengernyit. "Ck,benar-benar gadis polos." Rio kembali ke tempat duduknya.

__ADS_1


Vannesa diam-diam melirik Rio yang sedang memperhatikan ponselnya,terselip pertanyaan dibenak Vannesa. Dia memberanikan diri untuk menanyakannya.


"Rio? Rumornya kau itu tidak bisa dekat dengan wanita,tapi kau bisa dekat denganku, kenapa?" Pertanyaan yang diajukan Vannesa sontak membuat Rio terkejut. Sebenarnya dia juga tidak tau tentang itu.


"Kau tanya aku lalu aku tanya siapa?" Rio berjalan mendekat kearah jendela "Sebelumnya aku juga merasakan hal yang sama,aku pernah bertemu seseorang dimalam hari. Entah dia pembunuh atau apa,tapi aku tidak merasa takut padanya. Hanya saja dengan wanita lain tidak bisa seperti ini,hanya kau dan dia." Rio menghembuskan nafas kasar dia menoleh kearah Vannesa yang juga sedang melihat dirinya. "Apakah... Kau adalah dia?"


Bagaikan disambar petir disiang bolong, Vannesa terkejut dengan pertanyaan yang dilontarkan oleh Rio barusan. Lidah Vannesa terasa kelu,dia sudah memikirkan jawabannya tapi entah kenapa sangat sulit diucapkan.


"Aku..."


"Kau apa Vanny?" Rio mendekat secara perlahan,membuat Vannesa semakin berdebar.


"Aku mana mungkin? Apakah kau ada bukti kalau itu adalah aku?" Rio berdiri tepat didepannya melihat Vannesa yang sedang melihat kearah anggur yang belum ia sentuh sama sekali.


"Sayangnya aku berdoa kalau mereka adalah orang yang sama. Hanya orang berdarah dingin seperti dia yang cocok menjadi pendampingku." Ucapnya seraya memetik 1 buah anggur dari tangkainya. Rio menaruh anggur itu di piring Vannesa.


"Habiskan, lalu minum obat dan tidurlah. Nanti sore kita harus pulang." Vannesa menatap punggung lebar Rio yang berjalan menjauh darinya.


Vannesa mematuhi apa yang dikatakan oleh Rio. Rio memperhatikan setiap hal yang dilakukan Vannesa dari kejauhan, Rio duduk di kursi sofa yang ada di sudut ruangan yang terletak sedikit jauh dari tempat Vannesa saat ini.


Setelah cukup lama, akhirnya Vannesa tertidur,itu juga merupakan efek obat yang diminumnya tadi. Terlihat senyuman tipis terbit dari wajah dingin Rio.


***


"Oh kau sudah bangun?" Zana yang baru saja keluar dari kamar mandi,membuat Vannesa sedikit terkejut. Bagaimana bisa Zana disana saat ini?


"Hehehe,kau kaget ya? Tadi tiba-tiba ada masalah di kantor, pak Rian tidak bisa mengatasinya jadi terpaksa menjemput pak Rio kemari,dan menukarnya denganku." Jelas Zana kepada Vannesa. Vannesa jadi faham kenapa Zana yang ada di ruangannya saat ini dan bukan Rio.


"Memangnya ada masalah apa?"


"Emm,itu aku tidak tau pasti hahaha." Zana tertawa tanpa beban, Vannesa bergidik ngeri mendengar suara tawa temannya itu.


"Halo Vannesa." Dia adalah dokter Reza orang yang memeriksa keadaan Vannesa selain Key. Selain usianya yang juga masih muda,dia berkulit putih bermata biru dan memiliki lesung pipi dikedua pipinya membuat siapa saja yang melihatnya terpesona.


Vannesa tersenyum mendengar namanya disebut, Zana yang membelakangi pintu masuk pun menoleh kearah datangnya suara.


"Oh dokter ya,silahkan diperiksa." Zana mempersilahkan Reza.


"Iya tentu saja." Reza memeriksa Vannesa dengan teliti,memeriksa tekanan darah sampai detak jantungnya.


"Vannesa kondisimu sudah stabil,dan nanti kau sudah bisa kembali kerumah." Ucapnya sembari tersenyum.

__ADS_1


"Terimakasih dokter Reza, ngomong-ngomong kemana Key?"


"Key,sudah meninggalkan rumah sakit dari tadi. Mungkin dia pulang." Reza diam-diam melirik kearah Zana,ada perasaan kagum yang terbit dalam hatinya.


"Eh aku akan keluar, kau beristirahatlah Vannesa." Reza segera meninggalkan ruangan Vannesa dengan perasaan yang tidak menentu.


"Baiklah terimakasih." Entahlah apakah suara Vannesa didengarnya dari luar ruangan,yang penting Vannesa sudah berterima kasih.


Sore harinya pada pukul 5 sore Vannesa sudah diperbolehkan untuk pulang, Zana membantu Vannesa membereskan barang-barangnya. Walaupun Vannesa hanya dibawakan beberapa pakaian oleh Hans.


"Vanessa apakah Rista yang kau ceritakan itu tidak mengunjungimu lagi?" Zana bertanya pada Vannesa disela-sela kesibukan mereka.


"Tidak, sepertinya karena aku dipindah keruangan VIP oleh Rio tanpa persetujuan darinya." Vannesa menghembus nafas gusar, Rista adalah anggota timnya dan satu-satunya teman perempuannya.


"Tapi bukannya dia seharusnya senang,karena kau dipindahkan kesini? Bahkan juga lebih nyaman disini."


"Tidak tau aku,sudahlah mungkin dia sibuk." Vannesa tersenyum samar,dan pergi ke kamar mandi.


Rio masuk keruangan Vannesa, berniat mengantarkan Vannesa untuk pulang.


"Pak Rio, Anda datang? Vannesa sedang pergi ke kamar mandi." Zana tersenyum dengan ramah kepada bosnya itu. Dulu Zana sangat ingin mendekati bosnya,tapi sekarang tidak lagi. Zana lebih tertarik dengan Rian,serta respon Rian terhadapnya juga baik.


"Emm,aku akan mengantar Vannesa pulang. Kau sudah ditunggu Rian di bawah."


"Baik pak terimakasih,saya akan pulang lebih dulu,permisi." Zana segera mengambil tasnya dan keluar dari ruangan itu.


"Huaa,bos ini sangat datar seperti batu. Apakah Vannesa akan marah padaku,karena aku pergi tanpa berpamitan padanya?" Zana gelisah memikirkan Vannesa yang dia tinggalkan, kalaupun dia kembali pasti nyawanya juga tidak akan aman disana. Akhirnya dia memutuskan untuk mengirim pesan singkat kepada Vannesa.


Vannesa keluar dari kamar mandi, lagi-lagi dia terkejut dengan perubahan didalam ruangannya itu. Zana tidak ada dan berganti dengan Rio. Vannesa menyipitkan matanya membuat spekulasi jika Zana sebenarnya adalah Rio, spekulasi yang aneh.


"Kita pulang sekarang, admistrasi sudah aku bayar." Rio berdiri dari kursinya berjalan kearah pintu.


"Emm iya terimakasih banyak Rio." Vannesa mengambil tasnya dan bergegas mengejar Rio.


Vannesa berada didalam mobil bersama Rio, hening tidak ada obrolan diantara mereka.


"Rio kita salah jalan." Rio menginjak rem dengan mendadak.


"Apa katamu?" Rio terkejut dengan ucapan Vannesa.


"Iya,aku sudah pindah dari kost. Sekarang aku tinggal di apartemen,ambil lajur kiri bukan kanan ." Ucapnya kepada Rio,Rio segera putar balik menuruti kata-kata Vannesa.

__ADS_1


"Pantas saja,setiap aku kemari kostnya selalu kosong." Gumam Rio dalam hati.


__ADS_2