
Vannesa perlahan membuka matanya,dia mengerjap beberapa kali untuk menormalkan pandangannya.
Aroma obat-obatan begitu menguar,,dia merasakan tangannya digenggam oleh seseorang, Vannesa mencoba melihat siapa yang menungguinya selama tak sadarkan diri.
"Umm.. Wah kau sudah siuman Vannesa,aku akan panggilkan dokter dulu." Itu adalah Rista,dia yang telah menjaganya hingga tertidur.
Kondisi Vannesa masih lemah,dia bahkan merasa sulit bergerak. Dokter datang dan memeriksa keadaan Vannesa, beruntung Vannesa hanya syock dan terlalu lelah,tidak ada penyakit yang berbahaya.
"Rista,siapa yang membawaku kemari?" Tanya Vannesa pelan.
"Aku, Hans dan juga Key. Kau pingsan dan Key juga kebetulan datang,dia menyarankan untuk membawamu ke rumah sakit ini. Disini rumah sakit tempat Key bekerja." Jelasnya pada Vannesa.
"Terimakasih atas bantuan kalian,tapi bagaimana dengan pekerjaanku?" Rista menarik nafas panjang, sebenarnya Vannesa ini adalah orang yang kuat,tapi dibalik kuatnya dia tetap saja seorang wanita.
"Tenang saja, Key sudah mengurus surat izin untukmu, Key bilang kau harus beristirahat total selama 2 hari untuk bisa sembuh dengan cepat.
Vannesa tersenyum tipis,dia masih memikirkan Laksmi.
"Vannesa,apakah kau mengenal gadis itu?" Vannesa menoleh kearah Rista,dengan jelas Rista melihat Vannesa sangat merindukan sosok Laksmi.
"Mungkin ya,mungkin tidak. Hanya dia yang selama ini memanggilku dengan nama Elvia. Apakah kau tau gadis itu pergi kemana?"
Rista menunduk,menarik nafas dalam-dalam untuk mencoba memberitahu Vannesa.
"Aku juga tidak tau dia siapa, Lisa juga mencoba mencari tahu namun nihil. Tidak ada informasi apapun tentang dia. Dan disaat komandan memberitahu kami,sesaat kemudian kami pergi ke ruang karantina untuk melihatmu,gadis itu sudah tidak ada disana. Kemungkinan memang sudah dipindahkan."
Vannesa tersenyum pahit,dia ingin tau siapa sebenarnya gadis itu,apakah benar dia adalah Laksmi atau bukan.
"Vannesa kau mau makan? Aku suapi." Rista bangkit dari kursinya mengambil bubur di nakas di sebelah tempat tidur Vannesa.
Pintu terbuka, memperlihatkan sosok laki-laki yang familiar bagi Vannesa.
__ADS_1
"Tidak perlu,aku akan menyuapinya sendiri!" Tegas laki-laki itu.
"Apa ini kau ini siapa?" Rista menghadang jalan laki-laki itu.
"Rista,dia adalah bosku." Vannesa berusaha untuk duduk,dan Rio segera membantu memegangi punggungnya.
"Perhatikan dirimu! Sakit ya sakit saja tidak usah pura-pura kuat." Rio dalam hatinya sangat khawatir dengan kondisi Vannesa saat ini,namun dia menyangkalnya dengan kuat.
"Pak Rio,aku minta maaf padamu. Aku-"
"Makanlah dengan begitu permintaan maafmu aku terima." Titah Rio kepada Vannesa.
"Ini? Bagaimana ya?" Rista terlihat sangat kikuk,dia tidak tau harus melakukan apa saat ini.
Rio mengambil semangkuk bubur yang Rista pegang. "Kau pulanglah, Vannesa aku yang menjaga."
Vannesa dan Rista saling pandang. "Tapi aku.."
"Kau tidak perlu khawatir Rista,mari aku antar kau pulang." Ucap Key yang berada di ambang pintu.
"Oh iya iya." Rista mengambil tasnya dan berjalan kearah Key.
"Jaga dirimu baik-baik ya,aku akan menjengukmu lagi." Ucap Rista kepada Vannesa sebelum pergi.
Vannesa mengangguk dan tersenyum samar. Belum lama setelah kepergian Rista,dia kembali lagi keruangan Vannesa.
"Apa ini? Kenapa kau menaruh banyak bodyguard di depan pintu hah?" Gertaknya pada Rio.
"Rista apa yang kau lakukan?" Vannesa memegang tangan Rista.
"Mereka anak buahku,tentu saja untuk menjaga Vannesa." Ucap Rio santai. Rista mengepalkan tangannya. Menahan amarah yang sudah memuncak.
__ADS_1
"Sudahlah! Tapi kau tidak boleh macam-macam pada temanku!"
Blam! Rista pergi dan menutup pintu dengan sangat keras,membuat Vannesa menjadi pusing karena suaranya yang amat keras.
"Teman macam apa dia." Rio melirik Vannesa yang sedang merebahkan tubuhnya dan menahan sakit kepala. Perlahan kesadaran Vannesa memudar lagi, samar-samar dia melihat Rio yang terlihat seperti menelfon seseorang.
Ruang bawah tanah
Prok prok prok
Suara tepuk tangan seseorang terdengar begitu nyaring diruangan yang sangat luas,gelap,dan pengap.
"Kau ingin mendekati Vannesa? Sayang sekali,dia adalah kartu as ku. Lagipula dia tidak akan pernah menolongmu."
"Lantas,kenapa kau memindahkanku ke tempat ini? Apakah kau takut Vannesa akan memilihku daripada kau?" Ucap gadis itu dengan seringainya.
Plakk
Tamparan yang sangat keras mendarat di pipi gadis itu,sehingga meninggalkan bekas merah.
"Kau! Jaga mulutmu, Vannesa adalah orang yang sangat hebat. Aku tidak akan membiarkan dia bertemu denganmu,sebelum rencanaku berjalan dengan lancar."
"Kau tidak ada hak! Kau pikir kau bisa membuat Vannesa tunduk padamu?"
Perempuan yang menahan gadis itu berjalan mendekat,dia menjambak rambut sang gadis.
"Heh! Kau pikir kau itu siapa? Kalau kau hidup mungkin kau akan bisa mengehentikan rencanaku."
Perempuan itu menyeringai dan menghempaskan rambutnya,gadis itu mendesis kesakitan. Sejurus kemudian ruangan itu hanya tinggal ada sang gadis sendirian.
"Elvia kau harus bisa! Aku akan mencoba untuk tetap hidup." Dia tersenyum pahit,sekarang dia tidak punya apapun lagi untuk berusaha membantu Vannesa.
__ADS_1