Vannesa Elvia

Vannesa Elvia
Rumah orang tua Vannesa


__ADS_3

Di salah satu kamar villa yang lumayan besar terdapat seorang pemuda yang tengah menikmati keindahan bulan sembari menghisap sebatang rokok yang terselip diantara kedua jarinya. Sampai ketukan pintu membuat dia menyudahi kekagumannya.


Tok


Tok


Tok


"Masuk!"


Mendengar perintah,orang yang mengetuk pintu pun akhirnya masuk ia berjalan mendekat kearah meja tuannya yang saat ini tidak digunakan,karena tuannya berada di jendela.


"Ada masalah apa?" Tanyanya tanpa mengalihkan perhatian dari bulannya yang sangat indah.


"Kami mendapatkan informasi mengenai keluarganya tuan."


Seseorang yang dipanggil tuan itu menyudahi acara menghisap rokoknya,ia mematikan rokoknya diatas asbak dan memutar badan untuk melihat lawan bicaranya.


"Sudah ya? Mulai pergerakan malam ini,aku ingin keluarganya juga hancur."


"Baik tuan,saya permisi."


Sepeninggal anak buahnya,pria itu tersenyum penuh kemenangan. Ia dapat merasakan kemenangan yang sudah ada didepan matanya, menghirup banyak udara yang terasa sangat menyegarkan baginya saat ini.


"Hiduplah dengan tenang bersama keluargamu itu." Pria itu menyeringai dan berjalan mendekati almari untuk mengambil baju ganti.


****


Kini Vannesa duduk di Rooftop sebuah gedung,tangannya memegang jus strawberry yang ia beli sebelumnya. Netranya sibuk meniti langit yang bertaburan bintang yang jumlahnya tidak sedikit, perlahan ia menarik sudut bibirnya,sebuah senyuman tipis menghiasi paras cantiknya.


Drt


Drt


Suara ponselnya yang bergetar membuat Vannesa mengalihkan perhatiannya,ia memeriksa isi pesan singkat yang dikirim seseorang yang tidak ada dikontaknya. Vannesa tersentak melihat isi pesan itu.


"Bergeraklah cepat sebelum orang tuamu benar-benar pergi."


Tanpa pikir panjang Vannesa segera menghabiskan jus yang ada ditangannya dan beranjak dari atas gedung,berlarian menuruni anak tangga dengan jumlah yang banyak itu. Beberapa saat kemudian Vannesa berada diatas motornya dan segera melaju dengan kecepatan yang tinggi, membelah suasana malam itu.


'Apa yang terjadi? Kenapa perasaanku tidak enak.' Gumam Vannesa dalam hati.

__ADS_1


Vannesa tidak bisa berbohong pada dirinya sendiri, setelah ia membaca pesan itu tiba-tiba perasaannya menjadi tidak enak,ia khawatir akan terjadi masalah pada orang tuanya nanti. Vannesa menggeleng kuat,ia berusaha menepiskan pikirannya yang buruk,kembali fokus pada jalanan yang ramai.


Butuh waktu 31 menit untuk sampai dirumah orang tuanya, Vannesa mendapatkan alamat itu dari Silya sebelumnya dan ia sudah menghafal benar alamat itu dipikirannya.


Sempat ragu karena melihat rumah itu sangat besar,dengan penjagaan yang ketat membuat Vannesa memarkirkan motornya di gang sebelah rumah itu.


"Ini betul tidak sih?" Gumamnya pelan ketika melihat salah seorang penjaga menutup gerbang.


Cukup lama Vannesa bertengger di motornya sambil melihat kondisi. Dari kejauhan datang sebuah mobil warna hitam yang berhenti didepan gerbang rumah itu, Vannesa mendekat berharap ia bisa melihat siapakah yang datang.


"Eh?"


Vannesa sedikit kaget karena bodyguard tidak mau membukakan gerbangnya,bahkan sempat cekcok dengan tamu yang datang.


Dor!


Vannesa membulatkan matanya ketika melihat tamu dari mobil itu menembak bodyguard yang sempat menolak membukakan pintu untuknya.


Setelahnya bodyguard yang lain mendekat berniat melawan tamu yang kurang ajar itu,namun mereka kalah karena 4 orang lainnya turun dari dalam mobil dan menembaki bodyguard dengan brutal.


Vannesa beringsut dari posisinya ia ingin membantu para bodyguard yang diyakini adalah bodyguard milik orang tuanya itu,namun tangan Vannesa ditarik oleh seseorang. Vannesa segera memutar tubuhnya melihat siapa yang menahannya.


"Hans?" Vannesa cukup terkejut melihat kehadiran Hans yang secara tiba-tiba berada dibelakangnya.


"Aku lihat kau mengebut dijalan,makanya aku mengejarmu. Takut kalau kau ada masalah." Hans mengatakan yang sebenarnya, Vannesa dapat melihat dari manik mata milik Hans, Vannesa mengangguk dan kembali melihat kearah pertarungan sengit antara bodyguard dan tamu yang datang tadi.


"Seharusnya ini adalah rumah milik Maya kekasih Desta. Kenapa kau sampai disini?" Tanya Hans kepada Vannesa yang membelakanginya.


Vannesa memutar tubuhnya lagi untuk menatap Hans,ia mencari kepastian dari manik matanya.


"Apa katamu?"


"Ya,aku sempat melihat Maya selalu masuk kedalam rumah ini serta Desta yang berulang kali datang kemari. Jadi apa urusanmu dengan Maya Vann?"


Deg!


Vannesa kembali melihat kearah perkelahian itu,mobil hitam itu sudah berhasil masuk beserta ke 4 orang yang keluar tadi. Vannesa berjalan perlahan menuju ke rumah itu mengintip dari sela-sela pagar rumah.


"Vann!" Hans berusaha menghentikannya tapi tidak mungkin bisa, Jelas Hans tau bagaimana sifat Vannesa tapi tetap saja ia harus mendapatkan jawaban dari pertanyaannya kan?


Hans menyugar rambutnya dan mengikuti langkah Vannesa.

__ADS_1


Terdengar sayup-sayup suara mobil dan kendaraan bermotor lainnya yang menuju rumah itu membuat Vannesa dan Hans segera bersembunyi di gang tempat mereka sebelumnya.


"Sial! Ada apa sebenarnya?" Vannesa terlihat sangat kesal karena tidak bisa mendekat kearah rumah orang tuanya yang ternyata merupakan tempat tinggal Maya.


"Vannesa aku butuh penjelasan!"


Vannesa menghela nafas dan menatap wajah tampan Hans "Aku mendapatkan pesan dari sebuah nomor misterius,dia bilang kalau aku tidak segera datang maka orang tuaku sungguhan akan pergi. Aku tidak tau maksudnya,aku kira mereka akan meninggalkan kota ini. Tapi melihat pertarungan barusan sepertinya pergi yang dia maksud adalah meninggal."


"Mendengar kata-katamu kalau ini adalah rumah Maya membuat aku terkejut Hans. Fakta lainnya yang aku tidak tau,mungkin Maya adalah anak angkat orang tuaku saat ini. Selain itu mungkin orang tuaku bekerja dirumah ini. Dan penjahat itu mengincar ayah dan ibu Maya."


Hans terlihat mengangguk samar, didepan sana masih terdengar suara motor yang semakin mendekat dan berhenti di rumah itu. Hans mengelus surai Vannesa pelan,ia faham apa yang ia rasakan saat ini.


"Bukan! Dugaannya salah besar!"


Vannesa dan Hans segera mencari asal suara yang tiba-tiba muncul, Vannesa dapat melihat bayangan yang mulai mendekat kearahnya, Vannesa mengangkat pistol untuk berjaga-jaga kalau orang itu memiliki niat yang buruk.


"Tidak usah begitu,aku Silya. Yang memberitahukan informasi ini kepadamu." Ucap Silya santai sembari berjalan mendekati Vannesa dan Hans.


"Silya? Lalu apa maksudmu tadi?" Kini Hans merangsek maju,ia tidak mau Silya membuat gara-gara dengan Vannesa lagi.


"Ck, orang tua kandung Maya sudah meninggal 12 tahun yang lalu,kini orang tua angkat Maya adalah orang tuamu Vannesa."


Deg!


Mata Vannesa membola mendengar itu, jantungnya berdegup kencang. Tidak tau harus bagaimana menerima kenyataan ini,ia membisu tidak bisa berkata apapun. Hans melirik Vannesa yang syock itu segera menatap tajam Silya.


"Apa maksudmu? Kau mau berbohong kepada saudara sendiri!"


"Tidak Hans! Aku bicara kenyataannya. Ketika Vannesa dibuang ke panti asuhan,orang tuanya segera berangkat bekerja disini sebagai ART dan tukang kebun,anak mereka yang masih seumuran dengan Vannesa sangat dekat dengan ibu Vannesa daripada ART yang lain membuat ibu kandung Maya merubah posisi ibu Vannesa menjadi baby sitter untuk Maya. Dan ketika usia Maya yang sudah beranjak remaja orang tuanya mengalami kecelakaan maut yang membuat mereka sekarat. Disanalah awal mulanya Maya menjadi anak angkat orang tuamu,seluruh harta kekayaan orang tua kandung Maya diserahkan kepada orang tuamu Vannesa."


Mendengar semua itu membuat Vannesa melemah,ia luruh kejalan dan segera direngkuh oleh Hans. Vannesa tidak bisa bicara lagi,hanya air mata yang mengalir yang memberitahukan keadaannya sedang tidak baik-baik saja kali ini.


Hans mendekap tubuh Vannesa erat,ia tidak memperdulikan air mata Vannesa yang mulai membasahi bajunya,ia hanya ingin Vannesa menumpahkan semua rasa kecewanya terhadap orang tuanya saat ini. Silya menatap Vannesa dengan tatapan yang sulit diartikan. Ia menghela nafas.


"Aku tau kau kecewa dan senang dalam waktu yang bersamaan,tapi kau harus bangkit kalau mau melihat orang tuamu lagi Vannesa,dalang dibalik penyerangan malam ini ada dimobil berwarna merah. Buat dia menyerah Vann,mungkin orang tuamu masih bisa hidup."


Setelah mengatakan itu Silya berjalan pergi, Vannesa tersenyum samar dibalik tangisannya dan melihat Silya yang mulai menjauh.


"Silya! Terimakasih." Ucap Vannesa dengan suara bergetar.


Silya hanya mengangguk tanpa menghentikan langkahnya.

__ADS_1


Vannesa mengusap air matanya dan melepaskan diri dari pelukan Hans. Hans yang melihat Vannesa merasa iba kepadanya. Ia berjanji dalam hati untuk membantu Vannesa apapun jalan yang akan dia pilih nantinya.


__ADS_2