
Saat ini Vannesa berada di apartemen milik Key,karena juga tidak mungkin baginya untuk kembali ke apartemen miliknya sendiri. Dan untuk Hans? Dialah saat ini yang menghuni apartemen Vannesa,dengan alasan juga ada proyek yang saat ini memang dekat dengan apartemen itu makanya Hans juga mau tinggal disana.
"Belum tidur?" Tanya Key yang tiba-tiba datang dari balik pintu kamarnya.
Vannesa berbalik dan menatap Key "Tidak bisa tidur." Jawab Vannesa sekenanya.
Key duduk di pinggir ranjang Vannesa dan menatap punggung Vannesa yang saat ini berdiri membelakanginya menghadap ke jendela.
Drtt
Drtt
Vannesa meraih ponselnya yang ada di nakas samping tempat tidurnya tanpa mengalihkan pandangannya dari objek yang ia amati saat ini.
"Halo?" Tanya Vannesa tanpa melihat siapa yang menelfon dirinya.
"Vannesa,kalau kamu mau tau tentang keluargamu segeralah ke markas saat ini juga,aku tunggu di ruang informasi."
Tut...Tut..Tut
"Halo?"
Vannesa menjauhkan telfonnya melihat siapa yang baru saja menghubunginya 'siapa? Kenapa langsung dimatikan?.' Gumamnya pelan.
Key yang sedari tadi memperhatikan gerak-gerik Vannesa ia menjadi penasaran dengan gadis yang membelakanginya saat ini.
"Ada apa Vann?"
"Key antar aku ke markas sekarang juga." Vannesa berbalik menghadap Key dan berjalan mendekat. Key yang melihat gelagat Vannesa merasa ada sesuatu yang tidak beres.
"Ada apa? Kenapa tiba-tiba? Siapa yang telfon?" Pertanyaan beruntun yang diajukan Key membuat Vannesa frustasi dibuatnya.
"Bisakah kita pergi sekarang? Aku sudah tidak ada waktu lagi." Ucapnya dengan tatapan tajam yang membuat Key merinding.
"Okey okey,aku ganti baju dulu ya."
Ketika Key baru melangkah satu jengkal ponselnya berdering,dan dia segera menjawab telfon itu.
"Ada apa?.... Apa? Bagaimana bisa?... Apa tidak bisa yang lainnya?.... Ck,ok aku kesana."
"Sial!"
__ADS_1
Vannesa yang mendengar Key mengumpat segera mendekat kesamping Key.
"Ada masalah apa Key?"
"Vann,aku benar-benar minta maaf denganmu. Aku tidak bisa mengantarmu ke markas karena ada pasien yang kritis dan tidak ada yang bisa mengurusnya. Jadi terpaksa aku yang handle."
Vannesa tersenyum samar mendengar Key,ia memegang lengan Key yang saat ini pikirannya dipenuhi oleh Vannesa dan juga amarah karena panggilan mendadak itu.
"Its okay Key, aku baik-baik saja. Aku akan pergi sendiri." Suara Vannesa terdengar sangat halus,ia mencoba menenangkan Key.
"Kay yakin?" Vannesa menanggapi dengan anggukan dan senyumannya. Key menghela nafas.
"Oke,aku akan telfon Hans untuk mengantarmu. Jaga dirimu,aku harus segera pergi."
"Tentu."
Vannesa menatap punggung key yang semakin menjauh darinya, sebenarnya ia merasakan perubahan sifat Key akhir-akhir ini entah karena Key berubah ataupun karena faktor ia bergabung dengan threenity ia tidak tau.
Vannesa menatap ponselnya, terdapat pesan singkat dari Hans 'Aku akan bersiap,tunggu aku ratu es.' Vannesa tersenyum melihat itu, pikirannya kembali memikirkan tentang masa lalunya.
*Flashback on
Vannesa kecil duduk di kursi anyaman bambu yang terletak di depan rumah kecilnya,ia menerawang ke jalanan kecil di depan rumahnya yang masih berupa batu-batu yang tertata rapi. Sesekali ada orang yang lewat dan saling bertegur sapa.
"Vann,ayo ikut kami."
Vannesa menelisik penampilan orang tuanya yang mengenakan pakaian yang bagus dan membawa tas ransel lumayan besar.
"Mau kemana yah?"
"Udah jangan banyak tanya,cepet ayo."
Vannesa menurut saja mendapat perintah dari ayahnya,ia turun dari kursinya dan berisi disisi kiri sang ayah. Setelah ibunya mengunci rumah mereka berjalan kaki menuju jalanan utama yang agak jauh dari rumah mereka.
Vannesa tidak banyak bertanya ataupun bicara,orang tuanya juga saling diam tidak ada niatan untuk mengajak bicara ataupun membahas suatu hal.
Mereka naik ke atas kendaraan umum yang melintas, sedangkan Vannesa duduk diantara ayah dan ibunya. Perasaannya merasa tidak nyaman,ia menatap wajah ayah dan ibunya dan ditatapnya lama,entah apa yang dipikirkan oleh Vannesa saat ini.
Setelah kurang lebih satu jam akhirnya mereka bertiga turun dari angkutan umum, mereka berhenti di depan sebuah bangunan yang lumayan besar dan banyak anak-anak yang berlarian disana. Vannesa yang tidak bisa membaca ia tidak tau tulisan dirumah itu berarti apa.
"Ayo masuk."
__ADS_1
Mendengar titah ayahnya Vannesa segera mengangguk dan mengekor dibelakang mereka berdua.
Kedatangan mereka rupanya sudah ditunggu oleh pengelola yang ada disana,seorang perempuan paruh baya dan juga wanita yang terlihat masih muda menyalami orang tua Vannesa.
"Wah sudah datang? Bagaimana perjalanan kalian?"
"Baik kok,oh iya ini anaknya."
Ibu Vannesa mendorong pelan punggung Vannesa kehadapan ibu itu.
"Oh ini,yasudah silahkan tinggalkan dia disini. Kalian silahkan pergi atau mau mampir dulu?"
"Oh tidak,ini pakaiannya,tolong jaga dia ya."
"Baik tenang saja."
Vannesa yang mendengar itu kurang mengerti apa maksud orang tuanya meninggalkan dia disana,dia hanya menatap kepergian orang tuanya dengan mata berkaca-kaca.
"Nak kamu kenapa? Mereka akan menjengukmu,mereka ada keperluan makanya menitipkan kamu disini." Ucap ibu tadi yang entah dari kapan mulai jongkok dihadapan Vannesa.
"Pergi kemana?" Tanya Vannesa yang masih setia menatap kepergian mereka.
"Emm kami tidak tau,oiya nama kamu siapa?"
"Aku Vannesa, Vannesa Elvia." Vannesa mengelap air matanya.
"Vannesa anak cantik,ayo ibu tunjukan kamarmu disini banyak anak-anak yang seumuran denganmu."
Mendengar itu hati Vannesa menjadi lebih tenang,ia menerima uluran tangan ibu itu untuk pergi ke kamarnya, sesekali ia menoleh kebelakang tempat kedua orang tuanya yang sekarang sudah tidak terlihat.
"Halo? Kamu anak baru? Aku Laksmi."
Vannesa mengerjap menatap seorang anak kecil yang seusia dengannya mengulurkan tangannya meminta bersalaman dengan Vannesa.
Disanalah awal petualangan Vannesa dimulai, memiliki teman dan lawan. Bertahun-tahun ia menunggu orang tuanya,bahkan sampai ia merantau di kota,ia sama sekali tidak pernah bertemu orang tuanya.
*Flashback off
Vannesa meneteskan air mata dalam kondisi mata terpejam,ia tersenyum pilu mengingat hal itu yang sudah bertahun-tahun ia kubur disana.
Drt
__ADS_1
Drt
Suara ponsel Vannesa menyadarkan lamunannya,tertera nama Hans disana. Tanpa mengganti baju ia segera melangkah pergi dari apartemen dan menuju mobil Hans.