
Pagi berkabut datang menyapa kota yang padat penduduk dan juga gedung-gedung pencakar langit. Kabut di tengah kota hanyalah kabut tipis, berbeda dengan kabut yang menyelimuti markas threenity yang berada dalam rimbunnya pepohonan hutan bambu.
Vannesa saat ini berada di bawah pohon bambu, bersandar pada batangnya yang tegak berdiri dengan gagahnya. Vannesa memejamkan mata menikmati dinginnya udara pagi berkabut itu.
"Vannesa?" Suara panggilan yang ditujukan seseorang kepadanya membuat Vannesa membuka mata perlahan dan mencari asal suara.
Netra Vannesa menangkap sekelebat bayangan seseorang yang menuju kearahnya "Apa?" Jawab Vannesa singkat.
"Tidak dingin apa disini? Dicari dari tadi kok ternyata disini cari penyakit." Mendengar itu Vannesa tertawa kecil,ia menatap lawan bicaranya yang saat ini sedang mengatur nafasnya,mungkin saja ia sebelumnya sudah lama mencari Vannesa sampai-sampai perlu mengatur nafas selama itu.
"Ada perlu apa memangnya?" Tanya Vannesa langsung pada intinya.
Lawan bicaranya mendongak menatap Vannesa yang saat ini juga sedang menatapnya, mendengar pertanyaan Vannesa membuat Rendi menggeleng. Rendi adalah anggota tim Vannesa yang notabene memang jarang berhubungan ataupun berbicara kepada Vannesa,jadi sudah jelas kedatangan Rendi kali ini pastilah untuk mengatakan sesuatu hal yang penting.
"Ada misi,tapi misi kali ini lain Vann. Kita mendapatkan 2 misi sekaligus yang memungkinkan tim kita dibagi menjadi dua. Hanya saja Hans dan Key saat ini sedang bekerja,jadi terpaksa kita harus bekerja berdua." Jelas Rendi sambil tanpa mengalihkannya pandangannya kepada Vannesa.
Vannesa terlihat berfikir "Rista setuju?"
Rendi menghela nafas dan menggeleng lemah "Tidak.. tapi kita tetap harus membagi jadi 2 kan."
Vannesa tersenyum kecut mendengar jawaban Rendi "Rista tidak pernah setuju dengan itu,lebih baik aku bekerja sendiri Ren. Akan lebih tenang jika Rista bersama denganmu dan Galang."
"Eh kenapa? Aku tau Rista memang keras kepala,tapi aku tidak mau kau harus bekerja sendiri Vann, terlalu beresiko." Bantah Rendi dengan nadanya yang naik 1 oktaf.
Vannesa mengalihkannya pandangannya kearah pepohonan bambu yang jauh darinya,kini pohon-pohon bambu itu terlihat lebih jelas karena kabut yang menutupi mereka sudah perlahan mengembun.
"Kau terlalu menyepelekan aku! Ingat siapa disini yang paling berkuasa Rendi."
"Ya ya,aku mengerti itu. Baiklah kalau itu maumu." Rendi merogoh kantong bajunya dan mengeluarkan sebuah flashdisk "Ini misimu Vann,mungkin Hans dan Key bisa bergabung ketika mereka selesai bekerja."
Vannesa menerima flashdisk itu,dan menatapnya sesaat sebelum memasukkan kedalam kantong celana pendeknya.
__ADS_1
"Baik terimakasih!" Ucap Vannesa.
Rendi mengangguk dan berlalu dari hadapan Vannesa, pandangan Vannesa mengiringi kepergian Rendi yang semakin menjauh darinya.
"Misi apa memangnya? Limited edition sekali sepertinya." Gumam Vannesa pelan,ia mengambil laptop ditasnya dan melihat seperti apa tugas itu.
Bola mata Vannesa bergerak memperhatikan setiap tulisan yang tercetak disana dengan seksama,tidak ingin dirinya melewatkan satu kata pun dari kutipan tugasnya itu. Setelah selesai dengan acaranya Vannesa mencabut flashdisk dan mematikan laptopnya.
Vannesa menatap kedepan dan lagi-lagi hanya hamparan pohon bambu yang terlihat sepanjang mata memandang, sesekali terlihat tupai dan burung yang berkelebat diantara pohon satu ke yang lainnya.
"Misi ini membunuh bandar narkoba? Kenapa dengan dia ya?" Desis Vannesa pelan.
Puk!
Vannesa tersentak ketika merasakan pundaknya ditepuk oleh seseorang, refleks ia menoleh kearah belakang.
"Ini aku. Ada masalah?" Tanya seorang gadis yang usianya hampir sama dengan Vannesa,siapa lagi kalau bukan Lisa adanya.
"Hahah maafkan aku, lagipula yang sering kesini kan hanya kau dan aku. Sedang ada tugas?" Tanya Lisa mematikan. Lisa sempat melihat flashdisk dan laptop Vannesa dan ia membuat spekulasi kalau Vannesa sedang ada tugas.
"Ya,dan hanya sendiri." Jawabnya singkat.
"Why?" Tanya Lisa sedikit kaget. Ia tau benar tim Vannesa selalu bekerja bersama dan tidak pernah bekerja sendiri-sendiri. Kalaupun memang ada 2 tugas maka akan dibagi rata,itu juga sudah diketahui oleh semua mafia disana.
"Kau tau sendiri nanti." Jawab Vannesa,ia berdiri dari tempatnya tadi duduk dan berniat untuk pergi. Tapi Lisa menghentikannya.
"Tunggu dulu!"
"Ada apa?" Tanya Vannesa sambil menoleh kebelakang,kearah Lisa yang sedang menepuk pantatnya yang sedikit kotor.
"Hati-hati dijalan,aku rasa ada sebuah jebakan disana."
__ADS_1
Vannesa tersenyum tipis ia mengangguk dan melanjutkan langkahnya lagi. Bukan hanya Vannesa yang merasa aneh dengan tugasnya tapi juga Lisa. Mungkin memang akan ada jebakan disana nanti, Vannesa bersiap-siap untuk menghadapinya.
***
Bigantara Grub
Brak!
Suara bantingan pintu itu membuat Rio menoleh cepat kerahnya,matanya memicing menatap siapa yang sudah lancang membanting pintu ruangannya itu.
"KAMU! KENAPA KAMU MELAKUKAN ITU!" Murka Rio kepada seseorang yang sudah berjalan masuk dengan santai mendekati meja Rio.
"Tidak ada! Sebaiknya Anda istirahatlah, karena akan ada pertunjukan seru malam ini." Ucapnya dengan tatapan yang mengejek.
Rio ingin membalas ucapannya namun sebelum ia membuka mulutnya,orang itu sudah lebih dulu membekap mulut Rio dengan kain yang sudah diberi bius sebelumnya.
Rio sempat melawan,namun karena efek dari bius itu membuat Rio tidak bisa bergerak,tubuhnya juga sudah lemas karenanya.
Merasa kalau korbannya sudah tidak melawan membuat sang pelaku tersenyum penuh kemenangan,ia masih menahan tubuh kekar Rio di badannya sambil tangan kirinya mencari ponselnya di kantong celananya.
"Aku sudah selesai,cepat kirim mobilnya." Ucapnya kepada seseorang melalui telepon. Setelah itu ia mematikan panggilannya dan memasukkan kembali ponselnya ke dalam kantong.
Pelaku sama sekali tidak merasa takut ataupun was-was karena saat ini kantor sedang cuti,dan yang ada disana hanya ada beberapa karyawan penting yang memang jumlahnya tidak seberapa banyak. Ia juga merupakan seorang intern dari perusahaan itu sehingga memudahkan dirinya untuk keluar masuk tanpa dicurigai siapapun saat ini.
***
Deg!
"Kenapa aku? Aneh sekali,rasanya tidak enak." Gumam Vannesa ketika ia merasa tidak nyaman dengan hatinya,ia merasa sedikit gelisah oleh entah apa.
Padahal kini Vannesa tengah menjalankan misi,ia tidak mau kalau sampai aksinya kali ini gagal,hanya karena perasaannya yang tidak enak.
__ADS_1