Vannesa Elvia

Vannesa Elvia
Cry?


__ADS_3

Threenity Headquarters


Vannesa berjalan dengan cepat melewati lorong demi lorong, tujuannya hanya satu yaitu ruang informasi. Ia hanya ingin mengetahui tentang orang tuanya saja.


Ceklek


Vannesa membuka pintu ruangan, hal pertama kali yang ia lihat adalah Silya yang tersenyum kearahnya dengan senyuman aneh.


Vannesa masuk dan segera menutup pintunya dan mendekat kearah Silya yang duduk dengan membawa sebuah flashdisk ditangannya.


"Haloo kawanku,angin apa yang membawamu kemari hm?" Tanya Silya dengan senyuman manisnya.


"Mana informasi yang kamu bilang?"


Alih-alih menjawabnya Silya tertawa dengan menyeramkan dan menatap Vannesa sembari mengelilingi dirinya. Silya berdiri dibelakang Vannesa dan mendekatkan bibirnya ke telinga Vannesa.


"Apakah kau itu bodoh! Orang yang sudah membuangmu ke panti asuhan masih kau pedulikan? Lalu bagaimana dengan orang yang mencintaimu dengan tulus? Kau justru mengabaikannya."


Vannesa mengepal erat ia mengambil belati di selongsongnya dan mendekatkan ke leher Silya "Jaga mulutmu Silya! Tau apa kau mengenai aku!" Suara Vannesa naik satu oktaf, membuat Silya menyeringai.


"Vannesa,kita ini sama,kita seorang mafia. Jangan sok suci dengan ucapanmu!" Silya menatap netra Vannesa dengan tajam "Kemampuan kita berbeda Vannesa,kalau kau mampu bertahan dalam segala kondisi dan mampu mengintimidasi lawan sehingga membuat mereka tunduk maka aku adalah seorang hacker,sangat mudah bagiku menembus pertahanan mereka."


Silya menjauh dari pisau Vannesa dan berjalan lagi kearah kursi yang sebelumnya ia duduki. "Kau mau informasi? Ini ambil saja!"


Silya melempar flashdisk ditangannya kepada Vannesa dan dengan mudah ditangkap olehnya tanpa berkata sepatah katapun.


"Ingat Vannesa,di dunia ini tidaklah gratis. Harus ada timbal balik!"


Vannesa tersenyum remeh mendengar ucapan Silya,sudah ia duga jika Silya bukanlah tipikal orang yang mau rugi. Pastilah nanti akan ada sesuatu yang dimintanya sebagai imbalan untuk ini.


"Aku tau,untuk pertama kalinya. Terimakasih!"


Vannesa menekankan suaranya diakhiri kalimat yang ia ucapkan, setelahnya ia berbalik dan keluar dari ruangan itu. Silya yang melihatnya tersenyum puas,ia mengambil ponselnya dan mengetikkan sebuah nomer disana. Selang beberapa detik terdengar suara dari seberang.


"Berjalan sesuai rencana." Ucapnya diselingi seringai.


Setelah mengatakan itu Silya mematikan ponselnya dan segera keluar dari ruangan yang sedari tadi ia tempati.


Vannesa masuk ke dalam sebuah ruangan dimana anggota timnya berada.

__ADS_1


"Hey Vann,dari mana?"


"Kenapa kau tergesa-gesa heh,kemarilah duduk."


Seakan tuli Vannesa tidak menjawab pertanyaan mereka,ia langsung masuk ke ruangan privat miliknya.


"Ada apa Hans dengan Vann?"


Hans menggeleng lemah "Tidak tau."


Mereka penuh tanya tentang apa yang terjadi kepada Vannesa saat ini. Namun juga tidak ada yang bisa menjawab ataupun menjelaskan dengan benar apa yang dialami Vannesa.



Vannesa mengeluarkan laptop miliknya dari dalam tas ia menghidupkan lalu memasukkan flashdisk itu. Cukup lama ia berkutat dengan laptopnya dan akhirnya ia menemukan beberapa informasi terkait orang tuanya.


"Mereka ada disini? Bahkan sejak lama? Apakah orang tuaku meninggalkan aku karena dia?"


Air mata Vannesa mengalir tanpa bisa dibendung,ia duduk sembari memeluk lututnya. Otaknya tidak bisa diajak berpikir lagi entah kenapa dengannya.


Vannesa adalah gadis yang sedari dulu kuat dan hampir tidak pernah menangis namun akhir-akhir ini Vannesa selalu terlihat lemah dan menangis.


"Hans.."


Melihat wajah Vannesa yang basah akibat air mata membuat Hans terkejut. Dalam hatinya bertanya-tanya apakah yang terjadi dengan Vannesa.


"Vann,ini kau kenapa? Bagaimana bisa kau menangis?"


"Tidak apa-apa." Ucap Vannesa terbata-bata,ia memeluk Hans dan mengatur nafasnya. Hans yang mendapat perlakuan dari Vannesa yang tiba-tiba membuatnya segera memeluk kembali tubuh mungil Vannesa. Di elusnya surai Vannesa yang tergerai,ia mencoba menenangkan diri Vannesa tanpa mengatakan sepatah apapun.


Hans mengangkat kepala Vannesa, terlihat jika Vannesa sudah tertidur yang sesekali sesenggukan membuat Hans tersenyum samar,ia mengangkat tubuh Vannesa dan merebahkan tubuhnya dikasur milik Vannesa.


Tangan Hans terulur menyingkirkan anak rambut dari wajah Vannesa,ia menyematkannya ditelinga Vannesa.


"Vannesa kau adalah gadis terkuat yang pernah aku temui." Dengan masih mengelus rambut Vannesa Hans mengecup kening Vannesa sekilas dan beralih menatap laptop.


Ia membaca sederet tulisan yang tercetak jelas di laptop itu, seketika tubuhnya menegang,wajahnya pias. Hans menyunggingkan senyum, ditatapnya Vannesa yang kini tidur dengan nyenyak.


"Ternyata karena mereka Vann? Sebegitukah rasa sayangmu dengan mereka? Tapi mereka memilih mengadopsi seorang anak yang saat ini sudah menghancurkan hidupmu? Dan kau menyembunyikan ini dariku?" Air mata Hans menetes dan segera diusapnya.

__ADS_1


Ia mematikan laptop Vannesa dan menyimpannya. "Vann,kau pantas hidup dengan tenang." Ucapnya lalu meninggalkan Vannesa sendiri dan menutup pintunya.


"Huhh,drama yang indah? Sepertinya akan menarik?"


Silya tersenyum puas mendengar suara Vannesa dan Hans. Dengan earphone ditelinganya ia berjalan santai melewati lorong demi lorong dan tak henti menyunggingkan senyumannya.


***


Ruang bawah tanah


"Uhuk uhuk."


Kini Laksmi terbaring sangat lemah disana,wajahnya pucat dan terlihat sangat menderita,genap satu bulan dirinya kekurangan makan dan juga merasakan sakit disekujur tubuhnya. Namun ia tetap bertahan,ia sudah berjanji kepada Vannesa untuk tetap hidup.


Krieettt


Terdengar suara pintu yang berderit pelan, menandakan ada seseorang yang masuk kesana. Namun karena cahayanya yang temaram membuat Laksmi tidak dapat melihat siapa yang masuk keruangan itu.


"Laksmi kau kenapa? Astaga maafkan aku,aku tidak bisa kemari. Dan baru saat ini aku bisa datang." Ucap seorang hadis berambut panjang yang memang selalu datang menemui Laksmi sebelumnya.


Kini Laksmi dapat melihat dengan jelas wajah orang itu,perlahan dia duduk dan menarik kedua ujung bibirnya membentuk sebuah senyuman yang hangat.


"Tidak masalah, bagaimana Elvia?" Tanya Laksmi dengan suara yang lemah dan terdengar serak.


Gadis itu meneteskan air mata mendengar Laksmi yang sangat menyayangi Vannesa daripada dirinya sendiri.


"Kau tenang saja Vannesa baik-baik saja. Aku bawa obat untukmu ini minumlah."


Laksmi tersenyum,ia meraih obat yang diberikan gadis itu dan meminumnya dengan air yang ada disampingnya.


"Bagaimana kau bisa sampai seperti ini? Apakah tidak pernah makan?"


"Aku jarang diberi makan,tapi aku baik."


Gadis ini tau Laksmi berbohong, bagaimana mungkin tubuh yang sudah lemas dan terlihat kurang nutrisi begini baik? Ia tau dengan benar jika didalam hati Laksmi sedang menjerit,dan ingin segera keluar menyaksikan maha karya Tuhan. Namun apa? Sampai saat ini ia begitu menderita.


"Sudah jangan menangis, keluarlah supaya tidak ada yang curiga."


Meskipun gadis itu ingin menolaknya namun ia tidak bisa,ia memeluk Laksmi dengan air mata yang membasahi pipinya. Ia segera beranjak dari sana meninggalkan Laksmi sendiri. Lagi!

__ADS_1


"Aku tau Elvia kau pasti datang." Gumam Laksmi dengan seulas senyum dan air mata yang bergulir.


__ADS_2