Vannesa Elvia

Vannesa Elvia
Dilema


__ADS_3

Rio dan Vannesa telah sampai di apartemen. Rio memutuskan untuk mampir ke apartemen Vannesa,lebih tepatnya dia ingin tau letak kamar Vannesa itu dimana.


"Ayo masuk,aku akan buatkan minum untukmu." Vannesa berjalan didepan Rio.


Rio melihat sekeliling, apartemen yang ditempati Vannesa terlihat modern, Rio tidak terlalu menyukai furniturenya.


"Ada masalah?" Tanya Vannesa yang sedari tadi memperhatikan gerak-gerik Rio.


Rio menggeleng "Tidak ada." Jawab Rio singkat.


Vannesa membawa nampan dengan dua gelas air putih ditangannya. Vannesa mempersilahkan Rio untuk minum,begitu pula Rio yang segera meminum airnya.


Tok tok tok


Vannesa segera membukakan pintu. "Kalian datang?" Seru Vannesa senang.


"Tentu saja kami datang,kenapa tidak."


"Baiklah ayo masuk." Vannesa mempersilahkan mereka masuk, Hans terkejut dengan kehadiran Rio disana. Tidak disangka Rio benar-benar menyukai Vannesa.


"Tuan Bigantara bagaimana kabarmu? Pasti sudah lama disini,." Ucap Hans sembari bersalaman dengan Rio.


"Aku baik,tuan Alexander sungkan sekali."


"Kalian ini seperti tidak akrab begitu,tidak baik seperti itu." Key menengahi mereka berdua. Meskipun cara bicara mereka terlihat normal tapi mereka memiliki hal yang tidak baik dibelakangnya.


"Vannesa bagaimana kesehatanmu? Sudah membaik bukan?"


"Key aku sudah baik." Vannesa tersenyum penuh arti kepada Key. Hal itu bisa dilihat oleh Rio yang saat ini sedang menahan emosinya.


"Ekhem aku pamit dulu." Rio memutuskan untuk pulang daripada melihat Vannesa terlalu dekat dengan laki-laki lain.


"Iya Rio, terimakasih sudah merawat dan mengantarkan aku." Vannesa mengantar Rio sampai di depan pintu.


Rio tersenyum dingin "Itu sudah tugasku." Rio segera melangkah menuju lift,ketika lift tertutup Vannesa segera masuk dan menutup pintunya.


"Key bagaimana Rista? Apakah dia marah?"


"Kau tidak perlu khawatir, Rista tidak marah padamu,dan saat ini dia sedang ada tugas dengan Rendi dan Galang jadi tidak bisa ikut menjengukmu." Jelas Key kepada Vannesa.


"Tapi Vann,kau harus ke markas nanti malam. Komandan menanyakan kondisimu dan ada anggota baru yang akan diperkenalkan kepada kita." Ucapan Hans membuat Vannesa mengernyit "Bagaimana mungkin hanya pengumuman anggota baru dibutuhkan seluruh orang,pasti bekingannya kuat." Gumamnya dalam hati.


"Sebenarnya aku tidak mau kau pergi Vann, mengingat kesehatanmu yang belum pulih." Tambah Hans.

__ADS_1


"Aku ini sehat, Key sudah merawatku dengan baik."


Hans tersenyum samar mendengar pernyataan Vannesa, Hans bukannya meragukan kemampuan Vannesa tapi dia hanya berfikir kalau malam ini akan terjadi masalah.


...****************...


Threenity Headquarters


Vannesa, Key dan Hans memasuki markas bersama. Banyak anggota mafia yang segan terhadap mereka karena banyak prestasi dan pertarungan yang telah mereka menangkan. Meskipun Vannesa sempat tumbang tapi tidak menurunkan image nya disini,dia tetaplah gadis mafia berdarah dingin.


Mereka berjalan menuju aula markas,disanalah tempat semua orang berkumpul. Vannesa menebak-nebak siapakah anggota baru itu.


"Welcome brother and sister! Kali ini kita mempunyai seorang anggota baru,dia berasal dari luar negeri. Merupakan gadis pembunuh yang sangat profesional,dia Sazha Silya." Komandan mempersilahkan gadis itu, Vannesa melihatnya dengan sangat serius. Gadis itu mempunyai rambut dengan panjang sebahu dengan manik mata hitam dan berkulit putih. Wajahnya terlihat sangat kharismatik, mempunyai daya pikat tersendiri dan juga mematikan jika terus dipandang.


"Aku Silya hormatku kepada rekan sekalian. Semoga kita bisa bekerjasama dengan baik kelak." Silya menundukkan kepalanya dengan hormat,dia melirik kearah Vannesa dengan smirk nya.


"Dia?" Vannesa mempunyai firasat tidak baik melihat Silya barusan.


Acara itu berjalan dengan lancar selain Silya ada beberapa anggota baru lainnya yang bergabung. Setelah acara berakhir Vannesa bersama Hans dan Key segera menuju ruangan mereka.


"Barusan aku melihat Silya melirik kearahmu Vann,apa kalian saling kenal?" Hans memulai pembicaraan.


"Aku rasa tidak. Seingatku dikantor juga tidak ada Silya ini." Vannesa mencoba mengingat dengan jelas tapi nihil Vannesa memang tidak mengenal dirinya.


"Ini aneh, Silya memiliki identitas yang tidak jelas. Seperti asal usulnya tidak ada." Key memperbesar gambar supaya bisa dilihat oleh Hans dan Vannesa.


"Eh ini? Dia pernah terlibat kasus pembunuhan berantai 10 tahun yang lalu?" Hans menunjuk salah satu informasi.


"10 tahun? Astaga Laksmi juga tertembak 10 tahun yang lalu. Apakah dia yang melakukannya?" Vannesa menutup mulutnya dengan telapak tangan karena terkejut. Berdoa supaya itu tidaklah benar.


"Vannesa kau tidak apa-apa?" Hans menahan tubuh Vannesa yang seketika lemas.


"Aku baik-baik saja." Jawab Vannesa sendu.


"Hay kaliann.." Rista datang bersama Rendi dan Galang. Mereka terlihat antusias menandakan misi mereka berhasil.


"Kalian berhasil?" Hans bertanya kepada mereka bertiga.


"Tentu saja,misi ini sedikit sulit tanpa ada kalian. Terutama tidak ada Vannesa." Rendi menggeleng,dia merebahkan tubuhnya dikursi panjang.


"Ah Vannesa kau sudah sehat? Aku minta maaf tidak menjengukmu ya. Setelah aku pergi waktu itu,kami mendapatkan misi jadi aku tidak bisa menjengukmu lagi." Rista memegang tangan Vannesa,dia merasa bersalah kepada teman baiknya itu.


"Tidak masalah,lihatlah sekarang aku sudah sembuh." Vannesa tersenyum manis, Rista yang melihat senyuman Vannesa juga ikut senang.

__ADS_1


Vannesa seorang diri berjalan di lorong markas,dia ingin pergi ke ruangan tim tiger menemui Lisa. Ditengah jalan Vannesa tidak sengaja berpapasan dengan Silya.


"Hay,aku Silya kau pasti Vannesa benar kan?" Sapa Silya dengan mengulurkan tangannya. Vannesa menerima uluran tangan Silya,dia tersenyum sekilas.


"Ternyata aku cukup terkenal."


"Tentu saja,banyak rekan yang membicarakan kemampuanmu,aku harap kita bisa segera bekerja sama." Silya melepaskan tangannya,dia mendekat kearah Vannesa.


"Tidak usah terlalu sombong,kau belum pernah tau kemampuanku."Sarkas Silya kepada Vannesa, Vannesa ingin menjawabnya tapi Silya sudah berlalu meninggalkan Vannesa begitu saja.


"Dia atau aku yang sombong?" Gumam Vannesa pelan sembari melanjutkan perjalanannya.


...****************...


Ruangan bawah tanah


Tempat gelap itu sudah seperti tempat tinggal yang nyaman bagi gadis ini,dia menghabiskan seluruh harinya disana tanpa ada orang lain yang menemaninya sampai seseorang datang kepadanya.


"Bagaimana keadaanmu?"


"Kau datang? Aku baik-baik saja. Senang bisa melihatmu." Ucap gadis dengan pakaian yang kotor itu.


"Aku bisa melihat kondisimu yang sangat buruk,aku akan melepaskanmu Laksmi." Benar sekali,orang yang ditahan diruangan itu adalah Laksmi,sahabat yang dikhawatirkan Vannesa.


"Tidak jangan,ini akan membuatmu tidak aman. Aku baik-baik saja disini."


"Lalu bagaimana caraku menolongmu?" Gadis itu memegang tangan Laksmi yang dingin.


"Berikan ini kepada Vannesa,pastikan Vannesa meminumnya." Laksmi memberikan botol berukuran kecil kepada gadis itu.


"Ini... Apa racun,kau meracuni Vannesa?" Mata gadis itu terbelalak melihat botol itu,dia tidak menyangka Laksmi akan meracuni sahabatnya sendiri.


"Benar itu racun, campurkan dengan minuman yang dikonsumsi Vannesa, sedikit saja kau berikan racun itu akan bekerja."


"Apa kau gila Laksmi?" Gadis itu menatap Laksmi dengan tatapan tidak percaya.


"Aku... Aku tidak punya cara lain lagi selain ini,ini langkah terakhir yang aku bisa lakukan sekaligus beresiko." Laksmi menghembuskan nafas gusar,dia dilema. Haruskah dia mencelakai sahabatnya atau melihat kehancuran seluruh orang,itu sama saja.


"Baiklah aku akan menurutimu, berapa persen keberhasilannya?"


"Hanya 0,2. Atau 0,0 kau akan melihatnya ketika racun itu sudah mulai habis." Laksmi melihat lantai tempatnya duduk saat ini,dia tidak berani menunjukkan pada gadis ini bahwa dia sedang hancur,menangis menahan perasaannya yang sakit. Meracuni sahabatnya adalah sesuatu yang tidak pernah dia bayangkan selama ini.


"Baiklah,aku akan pergi dari sini. Pastikan kau memiliki rencana yang bagus." Gadis itu memegang bahu Laksmi sebelum pergi. Kini Laksmi sendiri,derai air mata keluar tanpa bisa dibendung oleh Laksmi.

__ADS_1


"Vannesa maafkan aku." Hanya itulah yang bisa Laksmi katakan saat ini.


__ADS_2