Vannesa Elvia

Vannesa Elvia
Dream dandelion


__ADS_3

Rumah sakit hari ke 2


"Vannesa kondisimu sudah mulai membaik,sore nanti kau sudah bisa kembali ke rumah." Ucap Key setelah memeriksa Vannesa.


"Baiklah Key, terimakasih banyak." Vannesa tersenyum manis kearah Key.


Di satu sisi Rio dan Rista sedang bertengkar dengan heboh, Vannesa tidak mau ikut campur,dia memutuskan untuk diam sedari tadi.


"Hei pak ceo,kau pikir kau itu sangat berkuasa? Tidak bertanya pendapat orang lain dulu baru bertindak. Dasar egois!" Rista memaki Rio, sedangkan Rio yang merasa harga dirinya direndahkan tentunya tidak terima.


"Memang aku berkuasa. Memindahkan Vannesa ini adalah kewajiban seorang bos untuk karyawannya sendiri."


Rista berdecih,dia merasa marah kepada perilaku Rio yang semena-mena "Benarkah? Kau terlihat seperti tirani."


"Aku tirani? Ck,itu menandakan bahwa aku adalah tirani yang sangat baik disini." Ucapnya dingin. Rista tidak bergeming, seketika ruangan itu menjadi sunyi senyap,bahkan Vannesa dan Key yang sedang melihat-lihat obat,menoleh kearah Rista dan Rio.


"Apa? Sudah selesai ya?" Key melihat Rista dan Rio secara bergantian.


"Sudahlah,aku akan pergi dari sini." Rista mengambil tasnya di nakas dekat kasur Vannesa, Rista segera keluar dari ruangan itu,tanpa berpamitan kepada Vannesa ataupun Key.


"Emm Key apakah Rista marah padaku?" Tanyanya kepada Key yang sedang melihat kearah Rio.


"Itu tidak benar. Untuk apa dia marah? Mungkin dia sedang tergesa-gesa." Sebenarnya Key juga sedikit bingung dengan sikap Rista tadi,tapi mungkin Rista memang hanya kehilangan moodnya karena perdebatan dengan Rio tadi.


10 jam sebelumnya


Rio melihat kondisi Vannesa yang tiba-tiba memburuk,dia segera merogoh ponselnya dari jas.


"Segera siapkan ruangan VIP dalam 15 menit." Setelah mengatakan itu Rio memutuskan panggilannya,dan mengelus surai rambut Vannesa.


Waktu yang Rio berikan kepada petugas rumah sakit telah mencapai batasnya. Disaat itu pula mereka masuk keruangan Vannesa dan memindahkannya keruangan yang telah dipesan oleh Rio.


"Malam ini kau harus tidur dengan nyenyak." Rio memegang tangan Vannesa,dia memilih untuk duduk menunggu Vannesa di kasurnya.


"Rio, Vannesa akan baik-baik saja. Sebaiknya kau beristirahatlah." Key yang memeriksa infus Vannesa itu,melihat Rio yang terlihat sangat lelah. Rio seharian ini fokus menjaga Vannesa,seakan tidak mau melewatkan setiap perkembangan yang terjadi pada Vannesa.


"Aku akan beristirahat nanti." Ucapnya pelan. Key menggeleng, Rio jelas sedang jatuh cinta tapi karena sifatnya yang arogan dan dingin membuat Rio tidak mau mengakuinya.


"Rio,kau juga harus menjaga kesehatanmu. Mandilah,makan,dan beristirahat dengan baik,aku akan pergi memeriksa pasien yang lain."


"Hmm" Rio mengangguk, Key segera keluar dari ruangan itu. Diluar Key menatap horor lorong rumah sakit,pasalnya ada 4 bodyguard dengan postur badan tinggi besar sudah standby di samping pintu bangsal Vannesa.


Key melirik kanan dan kiri,tatapan bodyguard itu kosong,Key berniat ingin mengerjai mereka yang ada disana.


"Hoyy,kalau kalian tegang seperti itu dan tatapan kalian kosong maka.... Kalian akan mudah dirasuki hantu lhoo."


"Hah? Benarkah? Di dimana dokter?" Salah seorang bodyguard itu panik, Key tertawa puas melihat ekspresinya.


"Ya tidak tau,aku hanya memberi saran." Jawab Key. Key memasukkan tangannya ke dalam jas dokternya,dan berlalu meninggalkan mereka.

__ADS_1


"Sepertinya kita dikerjai dokter itu." Ucap salah seorang bodyguard.


"Sepertinya iya."



Pintu ruangan Vannesa terbuka, memperlihatkan 3 sosok yang dikenalnya. Mereka adalah Zana,Rian,dan juga Cakra. Vannesa tersenyum lebar melihat kedatangan mereka.


"Hwaaa,aku sangat merindukanmu sayang." Zana berhambur kearah Vannesa dan memeluknya.


"Kau ini berlebihan sekali." Vannesa menarik tubuh Zana supaya melepaskan pelukannya.


"Hiks,aku rindu tau. Kau payah,dasar tidak peka." Zana memanyunkan bibirnya dan membuang muka,dia pura-pura marah kepada Vannesa.


"Hahaha,kau ini bisa saja." Vannesa tertawa melihat tingkah lucu Zana.


"Vannesa bagaimana kabarmu? Aku sangat mencemaskan keadaanmu." Ucap Cakra sembari mendekat kearah Vannesa.


"Cakra aku sudah membaik, nanti sore aku sudah bisa pulang."


"Benarkah? Syukurlah kalau begitu. Lihat aku bawa buah anggur untukmu,makanlah." Cakra mengulurkan buah itu kepada Vannesa.


"Wah anggur aku sukaa!"


"Vanny,itu belum dicuci. Kemarikan aku akan mencucinya dulu." Raut wajah Vannesa menjadi sedih,dia memberikan piring berisi anggur kepada Rian dengan berat hati.


"Bagaimana pekerjaan dikantor?" Rio menoleh kearah Cakra.


"Semuanya beres pak,tidak ada kendala sama sekali." Jawab Cakra dengan mantap.


"Kalian beristirahatlah,aku akan pergi dulu kalau begitu." Key mengambil stetoskopnya dan beranjak pergi.


"Key kau mau kemana?" Vannesa memegang pergelangan tangan Key.


Key tersenyum lembut "Aku masih ada banyak hal untuk dikerjakan,kau istirahatlah nanti kau bisa pulang. Aku akan menemuimu dirumah." Vannesa mengangguk, Key berpamitan kepada yang lain dan pergi.


"Kau terlihat menyayangkan kepergian Key,ada apa?" Tanya Rio penasaran.


Vannesa tersenyum "Key itu orang yang menolongku saat aku baru sampai disini,dia juga sangat baik."


Mendengar jawaban Vannesa,perasaan Rio merasa aneh,dia seperti tidak rela Vannesa dekat dengan laki-laki lain.


"Vannesa kau belum makan? Aku suapi ya?" Zana mengambil mangkuk bubur diatas nakas, dia ingin menyuapi Vannesa.


"Tidak Zana,aku tidak lapar. Lagipula bubur itu tidak enak."


"Oh iya,benar juga. Bubur rumah sakit memang tidak enak." Zana mengendikkan bahu lalu menaruh kembali mangkuk berisi bubur itu.


"Lalu kau mau apa?"

__ADS_1


"Emm tidak mau apapun." Jawab Vannesa. Rio tanpa mengatakan apapun bangkit dari duduknya dan keluar dari kamar Vannesa.


"Eh Rio aa maksudku,pak? Mau kemana?"


Rio acuh pada Vannesa,dia tetap keluar tanpa mengatakan sepatah kata apapun.


"Sudahlah,pak Rio memang seperti itu." Cakra menenangkan Vannesa yang sedikit panik.


"Vanny ini anggurmu. Makanlah." Rian memberikan anggur yang sudah dicuci kepada Vannesa,tapi Vannesa enggan memakannya.


"Loh kenapa? Kau bilang tadi mau. Dimana Rio?" Rian mengedarkan pandangannya mencari keberadaan Rio.


"Pak Rio tiba-tiba saja pergi entah kemana." Cakra menjawab pertanyaan Rian,dan Rian hanya ber oh ria.


"Makanlah Vanny." Zana menyodorkan anggur ke Vannesa,tapi Vannesa menolaknya. Rian tersenyum,jelas sekali Vannesa sedang memikirkan kemana Rio pergi.


"Sudahlah Zana,nanti juga dimakannya." Sergah Rian.


"Emm ya sudahlah. Kau cukup merepotkan." Zana akhirnya kembali duduk di dekat Vannesa.


Kediaman Adinata


Key akhirnya memutuskan untuk pulang kembali kerumahnya setelah lama tidak pulang. Ketika Key membuka pintu utama,disana sudah ada ayah,ibu dan Desta kakaknya.


"Mah,pah,kak kalian sedang berkumpul?" Key masuk dan bergabung dengan mereka di ruang tamu.


"Kurang ajar kamu! Masih berani pulang!"


"Pahh,jangan marah gitu. Key kenapa baru pulang? Apakah tidak rindu kami hmm?" Dinda mendekati Key dan mengelus bahunya.


"Aku rindu makanya aku pulang." Jawabnya santai.


Akan tetapi Rendra tidak terima dengan jawaban yang diberikan Key. "Anak tidak sopan,kemana kau selama ini? Bahkan tidak punya kemampuan apapun untuk dibanggakan!"


Desta menenangkan ayahnya,tapi itu hanya kepura-puraannya saja. Niatnya hanya untuk lebih menjatuhkan Key. "Pa,jangan marah. Key punya kehidupannya sendiri."


"Desta,kau tidak usah membelanya. Jelas-jelas dia ini tidak bisa apa-apa."


"Ck,aku menyesal kembali kerumah. Sepertinya kalian lebih nyaman tanpa aku." Key berdiri dan segera berjalan keluar rumah.


"Key,nak jangan pergi lagi." Ibu Key menitikkan air mata melihat kepergian Key, bagaimana pun Key adalah anak kandungnya. Anak kandung yang selama ini dia acuhkan.


"Ma,Key baik-baik saja. Kalianlah yang harus menjaga kesehatan." Setelah mengatakan itu Key benar-benar lenyap dari pandangan Dinda.


"Key! Anak apa dia ini. Bahkan ibunya menangis dia tidak berhenti." Murka ayah Key,dia mendekap erat Dinda yang sedang menangis,jujur sebenarnya Rendra juga merindukan kehadiran Key,tapi entah bagaimana dia tidak bisa mengakuinya. Sikapnya dan perasaannya selama ini berbanding terbalik.


Lain dengan Desta yang saat ini sedang tersenyum puas melihat secara langsung kepergian Key dari rumah.


Key berhenti di taman bunga dandelion ,dia memukul setir geram. "Apakah mereka tidak ditakdirkan menyayangiku?" Pandangan Key tertuju pada bunga dandelion yang beterbangan,mereka terbang sangat bebas,tidak tentu arah sama seperti dirinya. Entahlah Key hanya ingin dianggap ada oleh keluarganya,namun itu hanyalah mimpinya yang mungkin tidak akan menjadi kenyataan.

__ADS_1


__ADS_2