
Vannesa berjalan dijalanan yang terlihat sudah lengang,hanya terlihat satu atau dua mobil yang melintas. Dibenaknya hanya memikirkan Rio yang terluka karena dirinya, meskipun sudah diobati oleh Key tapi tetap saja membuat dirinya tampak semakin merasa bersalah.
Vannesa tidak memperhatikan jalanan waktu itu,ia menunduk dan terus berjalan.
Bruk!
Vannesa meringis ketika merasakan kepalanya terasa sakit karena menabrak tiang listrik didepannya.
"Alahh,sengaja kan mau cari gara-gara sama aku?" Vannesa menunjuk-nunjuk tiang listrik yang tidak tau apa-apa itu,bahkan jika tiang itu bisa bicara mungkin dia akan memarahi Vannesa balik.
Vannesa tersadar,ia merutuki dirinya sendiri atas kebodohan dan kekonyolan yang ia buat. Ia mengelus tiang listrik itu dan kembali berjalan seperti sebelumnya. Dan insiden kembali terulang pada Vannesa.
Bruk!
Lagi-lagi Vannesa menabrak sesuatu,itu bukan tiang listrik ataupun pohon,itu manusia namun karena Vannesa sedang dalam masalah ia hanya asal mengutuk.
"Sial! Keparat kau ya,kau-" Vannesa menghentikan makiannya dan sekarang ia kembali merutuki dirinya yang asal bicara.
"Vannesa? Kau masih hidup? Kemana saja kau selama ini."
"Aku,iya Rian aku masih hidup."
Rian membawa tubuh Vannesa ke dalam pelukannya,namun Vannesa tidak membalas pelukan Rian saat itu.
"Kenapa? Apa yang terjadi?"
Vannesa diam tidak menjawab,ia bingung ingin menjawab apa.
"Aku akan telfon Rio ya,aku akan beritahu dia."
__ADS_1
"Eh jangan,jangan. Tolong jangan beritahu dia."
Rian menatap Vannesa "Ada apa? Apakah ada masalah dengan Rio hmm?
Tanpa sadar air mata Vannesa sudah mengalir tanpa permisi, Rian yang menyadari itu segera mengelap air mata Vannesa yang sudah membasahi pipinya yang putih.
"Vannesa,are u okay?"
"Em, i'am okay,we need to talk."
Mendengar itu Rian segera mengajak Vannesa masuk kedalam mobilnya,ia melaju di jalan raya dengan kecepatan yang lumayan tinggi. Karena kondisi jalan yang sudah sepi membuat Rian melakukan itu dengan mudah.
Setelah 15 menit Rian berhenti di depan sebuah cafe. Hanya terlihat segelintir karyawan yang ada disana,karena cafe itu sudah tutup. Ya cafe siapa lagi kalau bukan milik Rian sendiri? Ia mengajak Vannesa disana selain lebih aman juga lebih nyaman,ditambah di jam malam seperti sekarang ini tidak banyak cafe yang buka, adapun mungkin cafe itu sangat ramai.
Beberapa karyawan sempat terlihat terkejut dengan kehadiran Rian disana,namun mereka segera menormalkan kembali ekspresi wajah terkejutnya.
"Maaf pak, apa ada yang bisa kami lakukan untuk Anda?" Tanya seorang karyawan yang sudah membawa tasnya berniat akan pulang.
"Baik pak,kami permisi."
Setelah itu cafe Rian sudah tidak ada seorang pun karyawan dan hanya tersisa dirinya dan Vannesa di dalam cafe.
"Vanny,ini strawberry latte untukmu. Kau suka strawberry kan?"
"Terimakasih banyak."
Mungkin terdengar aneh nama strawberry latte ini,tapi apa salahnya kalau berinovasi? Apalagi Rian adalah orang yang suka bereksperimen dengan makanan.
Vannesa meminum latte itu dan memegang badan gelasnya,ia ingin kehangatan pada badan gelas itu menjalar padanya,pada tubuh dan hatinya yang dingin.
__ADS_1
"Katakan,apa yang ingin kau bicarakan?"
Vannesa menatap manik hitam Rian,ia menghela nafas berat, seberat beban yang saat ini ia tanggung.
"Aku dirumorkan mati oleh Desta bukan?" Vannesa melihat Rian yang mengangguk lalu melanjutkan kata-katanya "Aku tidak mati,hanya saja dia yang lari terlebih dahulu ketika aku dikroyok anak buahnya, sebenarnya ia tidak tau pasti aku sudah mati atau belum. Namun ia membuat spekulasi demikian,karena selama sebulan setelah insiden itu aku tidak muncul dikantor maupun dihadapannya."
Rian masih setia mendengarkan setiap cerita Vannesa,ia menatap paras cantik Vannesa yang terlihat sangat lelah. "Dan ketika aku mendengar rumor kematianku sendiri,aku jadi tidak mau muncul dihadapan Rio. Kau tau kenapa? Karena aku merasa tidak pantas bersanding dengannya." Vannesa mendesah tertahan,ia meminum lagi latte yang panasnya sudah berkurang itu.
"Mengapa demikian Vann? Apa kau tidak kasian dengan Rio?"
"Aku tentu saja,tapi ini demi dirinya. Aku tidak ingin dia terluka karena aku."
"Tidak Vanny,justru dia akan semakin terluka dengan semua ini. Kembalilah kesisinya."
Vannesa mulai meneteskan air matanya lagi,ia menatap wajah Rian yang kini juga menatapnya,ingin sekali Vannesa mencakar-cakar wajah Rian itu.
"Hentikan Rian,aku mohon hentikan! Kalau kau mau Rio baik-baik saja jangan pernah memberitahu dirinya kalau aku masih ada disini. Biarkan dia tau dengan sendirinya,tetap lah seperti yang semesta mau Rian. Aku mohon."
Vannesa menangkupkan kedua tangannya,air matanya kini tidak bisa tertahankan lagi,mereka sudah keluar menghujani pipinya yang mulai basah. Rian yang melihat itu menjadi kasian kepada Vannesa ia mendekat dan mendekap tubuh mungil Vannesa.
Rian mengelus rambut Vannesa "Baiklah Vanny,tapi kau harus menjaga kesehatanmu dengan baik. Kalau butuh sesuatu hubungi aku." Hanya itu yang bisa Rian katakan sekarang.
Vannesa mulai tenang,air matanya juga sudah berhenti keluar,ia menjauhkan tubuhnya dari Rian dan menatapnya dengan mata sendu khas orang yang baru saja menangis.
"Aku percaya padamu,tolong antar aku pulang." Ucap Vannesa sembari mengatur nafasnya.
"Baiklah,habiskan dulu latte mu. Setelah itu kita pulang.
Vannesa mengangguk patuh,ia mengelap air matanya dan kembali duduk menghabiskan minuman hangatnya.
__ADS_1
Rian menatap Vannesa dengan tatapan yang sulit diartikan,ia merasa kasian juga bertanya-tanya masalah apakah yang sudah dilalui oleh Vannesa sehingga dia menjadi seperti sekarang.