Vannesa Elvia

Vannesa Elvia
Sinar bulan


__ADS_3

Vannesa kembali ke apartemennya dengan berjalan kaki, alasannya yang pertama karena ia tidak memiliki kendaraan sendiri dan yang kedua ia tidak mungkin naik bus. Karena dimalam hari bus tidak ada yang beroperasi.


Suara klakson memecah keheningan malam,serta bising kendaraan yang berlalu lalang menjadi teman bagi Vannesa kali ini. Vannesa melangkahkan kakinya dengan pasti melewati trotoar jalan,rambut panjangnya yang ia biarkan tergerai diterpa angin malam.


Tin tin


Ketika Vannesa akan menyebrangi zebra cross ia mendengar klakson mobil dan mobil itu memelankan lajunya,membuat Vannesa menoleh kearahnya. Terlihat pintu mobil terbuka dan memperlihatkan sosok laki-laki yang familiar bagi Vannesa.


"Vannesa? Kenapa kau malam-malam ada disini?" Ucapnya sambil berjalan kearah Vannesa.


"Emm, Bryan? Kau sendiri sedang apa kemari?"


"Aku sedang dari rumah temanku. Ayolah aku yang bertanya duluan padamu Vann."


Vannesa terkekeh "Baiklah,aku sedang jalan-jalan malam ke taman. Sampai tidak menyadari bahwa hari sudah larut malam."


Taman yang dimaksud oleh Vannesa adalah taman mayat yang tadinya sudah ia bunuh, sedangkan taman yang dipikirkan oleh Bryan adalah sebuah taman dekat dengan pinggiran kota.


"Begitu ya?Ayo aku antar pulang. Tidak baik untuk gadis cantik sepertimu sendirian disini." Ucap Bryan sambil menarik tangan Vannesa secara tiba-tiba.


"Eh?" Akhirnya Vannesa hanya menurutinya 'Ck,ini takutnya malah mereka yang akan takut denganku.' gumam Vannesa dalam hati.


Vannesa duduk disamping kursi kemudi milik Bryan,ia melirik sekilas kearah Bryan tanpa sepengetahuannya.

__ADS_1


"Bryan ini takutnya akan merepotkanmu."


"Merepotkan bapakmu itu! Menolong kekasih sahabatku adalah suatu kebaikan untukku."


Vannesa tertegun 'apakah maksudnya adalah Rio?' Pikir Vannesa.


"Eh bicara apa kamu? Maksudmu siapa?"


"Sudahlah tidak usah malu,bibi yang memberitahukan kepadaku. Lagipula waktu aku kerumah Rio disana sedang ada kamu,makanya aku tidak jadi mengganggu."


"Begitu ya." Ditatapnya Bryan yang masih fokus menyetir, akhirnya Vannesa memutuskan untuk melihat kearah jendela.


"Kau tau? Rio dari kecil memang dingin,cuek. Namun penyakitnya itu muncul ketika usia Rio beranjak remaja,ia difitnah oleh seorang wanita dan mengatakan Rio telah menghamilinya,padahal Rio sama sekali tidak dekat dengan orang itu. Dan lagi,wanita itu menyukai Rio,jadi menjebak Rio ceritanya. Tapi naas sekali Rio yang waktu itu sama sekali tidak mau dan malah disiksa habis-habisan oleh ibu wanita rubah ini,membuat ibu Rio membenci Rio dan menelantarkannya. Rio hidup sendiri beberapa tahun yang lalu,sampai akhirnya Rian bertemu dan bersikeras membawanya pulang. Jadi kalau dia memilihmu itu adalah suatu keberuntungan untukmu."


"Hey Vannesa kau melamun ya?" Ucapan Bryan membuatnya sadar dari lamunannya,ia segera memasang ekspresi datar.


"Aku tidak,hanya sedikit mengantuk." Bohongnya pada Bryan.


"Heh mengantuk? Baiklah sebentar lagi sampai apartemen. Tahanlah sedikit." Bryan menambah sedikit kecepatannya,membuat Vannesa tersenyum simpul.


Ditatapnya bayangan bulan dari kaca spion mobil, terlihat samar tapi sangat nyata keberadaannya. Bisa dilihat tapi untuk bisa menyentuhnya membutuhkan pengorbanan yang besar.


Luar Negeri

__ADS_1


"Bagaimana perkembangannya?..... Ya aku tau... Bekerja lebih cepat supaya cepat kembali,ingat untuk tetap fokus." Setelah perbincangan melalui telepon berakhir Rio mengacak rambutnya.


Ia melihat kearah jendela kamar hotel tempat ia tinggal saat ini, Rio mendekat dan tersenyum samar.


Dilihatnya pantulan dirinya dari kaca jendela yang terlihat samar dan disentuhnya. Netranya kini sibuk meniti bintang di angkasa yang jauhnya beribu-ribu mil. Terlihat pula bulan yang kini cahayanya terlihat sangat terang dari biasanya.


"Aku tidak tau apa arti sempurna yang sebenarnya,tapi mungkin jika aku bisa membagi rasa ini denganmu dibawah sinar bulan maka itu adalah arti sebuah sempurna." Rio tersenyum simpul,dibukanya kaca jendela yang membatasi interaksi dirinya dengan dunia luar. Ia kembali menatap bulan.


"Tubuhku ada disini,tapi kenapa perasaan dan jiwaku seperti tertinggal ditempat asalku?"


__


Malam ini tanpa disadari terdapat dua insan yang sedang merasakan sebuah rasa rindu. Dan bulanlah yang menjadi saksi setiap gerak-gerik dan curahan hati mereka. Di bawah sinar bulan yang sama, dan ditempat yang berbeda cahaya bulan menyinari mereka, menyampaikan salam rindu tanpa mereka ketahui.


"Bulan,mungkin kamu tau yang aku rasakan? Aku mungkin menyukai Rio,tapi aku tidak akan membuatnya menderita lagi karena berdekatan denganku. Jadi sampaikan salam untuk tidak mencariku kelak." Ucap Vannesa sembari menatap bulan di balkon apartemennya.


"Bulan,mungkin hatiku sudah ditakdirkan menjadi miliknya? Semoga saja aku bisa segera bertemu dengannya aku akan mencarinya setiba disana."


Perasaan keduanya seimbang,hanya saja permintaan dan harapan keduanya berbeda. Membuat siapapun yang mendengar doa mereka akan menertawai mereka.


Setelah asik mengobrol dengan bulan yang ia jadikan teman mengobrolnya, akhirnya Vannesa memutuskan untuk pergi tidur.


Begitu halnya dengan Rio,ia memutuskan untuk tidur lebih cepat,ia ingin segera menyelesaikan pekerjaannya disana.

__ADS_1


__ADS_2