
Vannesa kini duduk dikamarnya sambil mengamati tablet transparan yang ada di genggamannya sejak satu jam yang lalu. Ia berniat menelanjangi setiap masalah yang terjadi sepuluh tahun yang lalu,dan juga hal-hal yang mungkin berkaitan dengannya.
"Payah,ini apa? Mengapa tidak ada informasi penting? Informasi tentang Laksmi sangat terbatas,apalagi itu tidak ada sangkut pautnya dengan threenity."
Vannesa meletakkan tabnya di meja, sementara dia merebahkan tubuhnya dengan sedikit keras ke atas kasur. Ingatannya kembali ke kertas yang tadi diberikan oleh orang asing padanya. Ia melihatnya lagi.
"Kau ini ingin menghancurkan Vannesa? Aku bisa mengabulkannya tapi untuk menghabisi mafia,kau harus menjadi pemburu hantu terlebih dahulu." Ucapnya sembari tersenyum.
***
Pukul 7 malam,gedung tua
Vannesa berjalan mendekat kearah gedung tua itu, Vannesa dapat merasakan hawa dingin yang menembus tulang. Vannesa mengedarkan pandangannya mencari keberadaan orang-orang suruhan itu,ia menemukan beberapa orang diatas pohon dan juga di sekitar reruntuhan bangunan. Vannesa tersenyum dingin,dengan segala kemampuannya ia tentu sulit dihadapi.
"Kini saatnya bersandiwara Vann,aku akan temani kalian bermain saat ini. let's play together kids." Gumam Vannesa pelan.
"Haloo? Apa ada orang disini?" Teriak Vannesa,ia berjalan mendekat secara perlahan.
Srek srek
Vannesa mendengar suara pergerakan dari dedaunan dibelakangnya "Siapa disana?"Vannesa berbalik dan berjalan mundur demi melihat seseorang disana.
Duk
Vannesa menabrak sesuatu dibelakangnya,lebih tepatnya adalah seseorang. Vannesa dengan cepat membalikan badannya lagi untuk melihat siapa orang itu.
"Apa? Ka kau? Bagaimana mungkin bisa kau?" Vannesa tergagap melihat siapa sosok yang ia lihat saat ini.
"Bagaimana? Kau kangen denganku cantik?"
Laki-laki itu mendekati Vannesa, sedangkan Vannesa berjalan mundur.
"Kamu licik."
"Licik? kata itu seharusnya lebih cocok untukmu Vann."
"Desta,apa yang ingin kau lakukan?" Vannesa kini tidak bisa lari, ia tersudut, dibelakangnya terdapat tembok bangunan yang sudah tua namun terlihat masih kokoh.
__ADS_1
"Apa kira-kira ya? Bagaimana kalau kau membantu sedikit?" Desta mengangkat dagu Vannesa dengan kedua jari telunjuk dan jari tengahnya.
"Lepaskan aku!" Vannesa menepis tangan Desta,dia berusaha lari dari sana namun dihadang oleh beberapa orang suruhan Desta.
"Ck,aku lupa memberitahumu Vannesa. Aku memiliki beberapa orang yang patuh disini,kau tidak akan bisa kabur." Ucap Desta dengan seringainya.
"Katakan apa maumu?" Ucap Vannesa lantang.
"Mudah,jauhi Rio dan menikahlah denganku."
"Dasar gila! Apa maksud kata-katamu Desta? Apakah kau melupakan Maya?"
"Maya? Aku bisa meninggalkannya,karena dibandingkan dengan dia kau ini lebih berharga untukku. Jadi bagaimana?" Desta mengulurkan tangannya kehadapan Vannesa.
"Tidak akan pernah! Kau pikir aku barang bisa dengan mudahnya kau dapatkan?"
"Tidak juga,hanya kau sudah dicampakkan Rio. Jadi aku tidak termasuk merampas darinya bukan?"
"Cih,ini bahkan tidak ada kaitannya dengan Rio."
"Kau berkata demikian apakah tau latar belakangku Desta? Benar-benar kakak dan adik dengan karakter yang berbeda. Apakah kau sama liciknya dengan ibumu?"
Vannesa terus berjalan dengan perlahan kedepan sedangkan Desta giliran mundur mencoba menghindari Vannesa.
"Jaga ucapanmu! Apa yang kau tau hah!"
"Apa yang aku tau? Ucapan ini lebih cocok aku berikan padamu,kau tau?." Vannesa menyeringai "Apakah kau tidak merasa aneh? Aku bahkan berani datang kemari sendirian demi memenuhi surat darimu itu,apakah kau yakin sudah mengerti siapa aku?"
Nyali Desta menciut,ia berpikir bahwa ia sendirilah yang masuk dalam jebakan Vannesa kali ini.
"Kau bukan Vannesa! Vannesa tidak mungkin seperti ini,benar kan?"
Netra Vannesa melirik seseorang yang akan menebak dirinya dari sebelah kiri,ia segera melemparkan sebuah jarum kecil kearahnya.
"Akhh"
"Tepat sasaran!" Vannesa menyeringai.
__ADS_1
"Tunggu apa! Habisi dia saja!"
Vannesa melirik tajam desta yang sudah melangkah pergi dari sana.
"Nikmatilah Vannesa hadiah dariku. Kalau kau tidak mau bersamaku maka kau juga akan mati hari ini." Key segera berlari,dan terlihat sorot mobil yang segera menjauh dari lokasi.
"Ck laki-laki payah! Kalian majulah! Aku akan menikmati hadiah yang Desta berikan padaku."
Semua yang mendengar itu segera menampakkan diri mereka masing-masing. Cahaya lampu yang temaram membuat pandangannya tidak terlalu jelas, namun indranya lebih sensitif,ia melihat kekanan dan kirinya secara bergantian.
"Satu,dua, tiga.. tujuh? Wahh hadiah malam ini sangat banyak,ternyata Desta sangat baik padaku.! Vannesa tertawa dengan menyeramkan,bahkan lawannya terlihat gemetar saking takutnya.
"Tunggu apa? Hajar saja! Dia hanya wanita yang lemah,hanya bersandiwara untuk menakuti kita." Ucap salah seorang diantara mereka.
"Ck,kalian salah sangka kepadaku. Sandiwara adalah ketika aku berbohong telah kalah dari kalian. Ayo maju." Vannesa menyeringai,ia bahkan memegang 2 pisau di kedua tangannya entah sejak kapan ia sudah memegangnya.
Semua kawanan pembunuh itu maju, mengeroyok Vannesa dengan brutal namun Vannesa menganggap enteng mereka,bahkan dalam waktu 40 menit Vannesa bisa membunuh mereka semua.
"Siapa kamu sebenarnya? Bagaimana mungkin sangat menakutkan?"
"Kau seharusnya adalah pemimpin mereka ya? Jangan gemetar begitu,kita ini sama-sama seorang pembunuh untuk apa takut?" Vannesa tersenyum manis,namun bukannya terlihat cantik malah terlihat sangat menakutkan bagi laki-laki itu.
"Tidak mohon ampuni aku." Ucapnya sembari berlutut.
"No! Mengampunimu adalah tugas Tuhan,sedangkan tugasku.... Adalah mengirimmu kehadapannya. Katakan! Mau dibunuh dengan cara apa?"
Laki-laki itu menelan ludah dengan susah payah,ia merasakan aura membunuh yang sangat kuat dari Vannesa.
"Aku aku,siapa kau?"
"Wah kau tidak mau mati penasaran ya? Memangnya pantas untukmu mengetahui siapa aku?" Vannesa tertawa melihat gelagatnya yang terlihat ketakutan.
"Baiklah akan aku beri tau. Aku adalah Vannesa Elvia seorang mafia dari threenity dan merupakan anggota tim black shadow. Dan siapapun yang sudah mengetahui identitasku berhak mendapatkan hadiah berupa mati ditanganku."
DOR!
Vannesa menembak tepat dikepala laki-laki itu yang langsung terkapar tak bernyawa. Vannesa tersenyum tipis,ia segera pergi meninggalkan lokasi.
__ADS_1