Vannesa Elvia

Vannesa Elvia
Cukup terbantu


__ADS_3

Vannesa merebahkan tubuhnya dikasur miliknya, menerawang dan memejamkan mata memikirkan Rio,hanya kurang beberapa jam lagi ia dan Rio akan bertemu. Membahas dirinya sendiri yang menghilang.


Drt


Drt


Suara ponsel Vannesa memecah suasana hening yang sudah tercipta,ia memeriksa ponselnya.


Key : [Dio mencarimu,aku sudah katakan kalau kau pulang. Apakah harus memberitahu tempatmu sekarang? Di apartemenku atau dimana?]


Vannesa tersenyum samar,ia segera membalas pesan Key sebelum Dio terlalu khawatir atau mungkin melakukan sesuatu yang nekat.


Vannesa : [Tidak,aku berada di markas. Katakan kalau aku mau istirahat supaya dia tidak keras kepala.]


Key : [Ok!]


Vannesa menaruh ponsel itu di meja,ia kembali menatap langit-langit kamarnya dan kembali terpejam.


Tok


Tok


Tok


Vannesa menatap tajam pintu kamarnya yang diketuk berulang kali, membuat Vannesa marah karena tidak mau diam. Akhirnya dengan terpaksa Vannesa membuka pintunya.


"Astaga Hans! Kau ini membuat aku tidak bisa tidur."


Hans yang mendapat tatapan tajam dari Vannesa hanya nyengir tidak jelas,ia mengangkat plastik putih berisi makanan dan menunjukkan kepada Vannesa.


"Aku bawa makanan,ayo makan denganku."


Vannesa menghela nafas,sejak kemarin dia hanya makan bubur dan tidak membuat dia kenyang.


"Baiklah cukup terbantu juga,masuk saja ya. Aku malas diluar."


"Siap."

__ADS_1


Hans mengekor dibelakang Vannesa,ia menutup pintunya dengan tidak sempurna, masih setengah terbuka.


"Galang dimana tadi? Kenapa tidak ada perasaan waktu aku ke kamar dia ada." Tanya Vannesa kepada Hans yang sedang mengeluarkan makanan yang ia bawa.


"Dia tadi keluar, dipanggil Rendi. Kalau Rista setauku sedang latihan."


Vannesa mengangguk, Hans membawa bakso dan juga air mineral biasa lalu memberikannya kepada Vannesa.


"Terimakasih Hans."


"Sama-sama Vann. Makanlah."


Vannesa dan Hans sama-sama diam mereka makan dengan lahap sampai 15 menit makanan mereka habis.


"Hans kau tidak sibuk?"


"Tidak,aku sedang istirahat Vann. Nanti aku kembali lagi." Jawab Hans sambil meneguk air mineralnya.


"Hans?"


"Hmm?"


"Ada masalah?"


"Kau pasti melihat informasi itu kan? Tentang orang tuaku."


"Iya aku membacanya,ada masalah?"


"Aku,tidak ada masalah hanya saja aku merasa sedikit lega melihat fakta kalau orang tuaku masih hidup."


Hans tersenyum dan mengelus surai Enlfleda "Kau masih berharap kepada mereka? Apakah kau lupa kalau mereka sudah membuangmu?"


"Aku tidak lupa, tapi bagaimanapun mereka adalah orang tua kandungku."


Hans menghela nafas,ia tersenyum kecut mendengar jawaban Vannesa. Selama ini Hans juga ditelantarkan oleh orang tuanya dan berakhir menjadi anak angkat keluarga Alexander. Dia mempunyai masalah yang hampir sama dengan Vannesa,dia bisa merasakan rasanya dicampakkan. Hanya saja ia tidak habis fikir Vannesa masih memikirkan orang tuanya yang sudah menyiksa dia.


"Hans?" Vannesa menggoyangkan lengan Hans yang terlihat sedang berpikir.

__ADS_1


"Oh iya?"


"Kau kenapa?"


"Tidak kenapa-kenapa." Hans melirik arloji dipergelangan tangannya. "Vann,aku minta maaf aku harus segera kembali. Sebentar lagi waktu istirahat akan berakhir."


Vannesa tersenyum simpul ia menatap Hans yang mulai berdiri, Vannesa ikut berdiri dan ikut melangkah keluar.


"Nanti aku akan pergi kesini setelah pulang bekerja." Vannesa hanya mengangguk menanggapi itu. Lalu Hans mulai melangkah menjauh dari Vannesa.


"Hans terima kasih atas hubungan pertemanan kita selama ini. Mungkin aku akan menyukaimu kalau kau bukan saudaraku disini."


Vannesa menatap ubin kayu yang ia pijak,bulir bening kembali menetes membasahi ubin. Vannesa segera menyeka air matanya dan kembali kedalam ruangan.


Diruangan itu Vannesa sendiri,ia tidak tau harus menuju kemana dan melakukan hal apa. Akhirnya ia memutuskan untuk tidur.


****


"Yuhuu, bangun! Astaga bandel!"


Samar-samar Vannesa mendengar suara yang terus memanggilnya, akhirnya dengan terpaksa ia membuka matanya perlahan.


Vannesa mengerjap dan menatap sosok manusia yang sudah menganggu dirinya.


"Rista,kau mengganggu aku!"


Vannesa meraih bantal dan menutupi telinganya,ia berniat melanjutkan tidurnya daripada berurusan dengan si cerewet Rista.


"Ya ampun Vann,ini udah jam 4 sore loh. Mau cosplay jadi mayat kamu?"


Vannesa terbelalak mendengar penuturan dari Rista,ia segera duduk dan melihat Rista dengan mata yang masih ingin terpejam.


"Serius?"


"Iyalah,liat tuh jam."


Rista menujuk sebuah jam yang tergantung di dinding ruangan, Vannesa mengikuti arah jari telunjuk Rista. Dan benar saja jam sudah menunjukan pukul 4 sore lebih 3 menit.

__ADS_1


Tanpa berkata apa-apa Vannesa bangkit dari duduknya dan berlari menuju kamarnya untuk mandi.


"Eh astaga tuh orang aneh." Gumam Rista melihat kelakuan Vannesa.


__ADS_2