Vannesa Elvia

Vannesa Elvia
Misi gagal


__ADS_3

Deg!


"Kenapa aku? Aneh sekali,rasanya tidak enak." Gumam Vannesa ketika ia merasa tidak nyaman dengan hatinya,ia merasa sedikit gelisah oleh entah apa.


Padahal kini Vannesa tengah menjalankan misi,ia tidak mau kalau sampai aksinya kali ini gagal,hanya karena perasaannya yang tidak enak.


"Tidak salah lagi,disini tempatnya." Gumam Vannesa ketika dirinya sampai di gedung apartemen korbannya.


Vannesa tersenyum ketika melihat penampilannya yang berbeda dengan seragam seorang kurir pengantar makanan. 16 menit yang lalu Vannesa mendapatkan informasi kalau korbannya memesan makanan di salah satu restoran,dan Vannesa menyelinap ke dalam restoran, memakai seragamnya dan mengajukan diri untuk mengantar makanannya.


Lalu disinilah dia sekarang,berdiri di lobby apartemen dengan membawa bingkisan makanan cepat saji,bersiap menuju lantai teratas apartemen.


"Ada yang bisa saya bantu?" Tanya seorang resepsionis ketika melihat Vannesa.


Vannesa tersenyum "Ya,saya ingin mengantar pesanan ini kepada penghuni apartemen dilantai paling atas." Jawab Vannesa seadanya.


"Baik tunggu sebentar."


Resepsionis itu terlihat menekan tombol telepon, menghubungi penghuni lantai teratas apartemen.


Vannesa melirik ke arah arloji di pergelangan tangannya 'Ck lama sekali.' Gumam Vannesa dalam hati.


"Saya sudah tanyakan,silahkan Anda naik keatas kak. Pesanan sudah ditunggu." Ucap resepsionis itu dengan ramah.


"Terima kasih." Ucap Vannesa singkat.


Setelah itu Vannesa tersenyum kearah resepsionis dan berjalan menuju lift. Ia menekan tombol menuju lantai paling atas apartemen.


Ting!


Vannesa keluar dari lift dan berjalan dengan santai menuju ke ruang kamar sang korban.


Tok


Tok


Tok


Vannesa menunggu didepan pintu kamar dengan sabar. Sambil menunggu ia sesekali melirik kearah arloji ditangannya kembali,5 menit tanpa jawaban ataupun tanda-tanda pintu dibuka ia merasa sedikit curiga.


"Apakah aku salah lantai? Kurasa memang benar." Gumam Vannesa pelan.


Vannesa memutuskan mengetuk kembali pintu kamar namun ia tidak mendapatkan respon apapun dari sang pemilik. "Apa ini? Apa sebaiknya aku menghubungi resepsionis tadi? Sebaiknya begitu!"


Akhirnya Vannesa kembali turun menuju lobby dan menghubungi resepsionis kembali.


"Permisi?" Tanya Vannesa sambil menaruh bungkusan makanan yang tadinya ia bawa di meja resepsionis.

__ADS_1


Resepsionis itu melihat kearah Vannesa,ia mengernyit karena melihat Vannesa kembali dengan makanan yang sebelumnya ia bawa.


"Ada apa ya kak?" Tanya resepsionis itu bingung.


"Tadi bukankah Anda menghubungi kamar di lantai paling atas? Kenapa ketika saya sampai disana tidak ada yang membuka pintu? Bahkan saya sudah mengetuk pintu itu berulang kali tapi hasilnya sama saja." Tanya Vannesa kepada resepsionis.


Resepsionis itu terlihat sedikit terkejut mendengar pertanyaan dari kurir pengantar makanan didepannya saat ini. Ia kembali menekan beberapa angka di telepon.


Vannesa dapat melihat dengan jelas wajah resepsionis yang khawatir itu. Dan ia juga yakin orang yang dihubungi saat ini adalah orang yang akan ia temui.


"Eh kenapa tidak bisa?" Ucap resepsi itu. Ia kembali menekan nomor yang sama dengan yang sebelumnya, namun tetap saja panggilan darinya tidak diterima.


Ia sudah mencobanya 3 kali namun panggilan tetap tidak diangkat, membuat resepsionis juga Vannesa merasa sedikit khawatir.


'Bagaimana kalau dia sudah mati? Tapi bagaimana bisa?' pikir Vannesa dalam hati.


"Kak bagaimana ini? Jelas-jelas tadi teleponnya diangkat,tapi sekarang tidak. Aku khawatir terjadi sesuatu padanya." Ucap resepsionis itu panik, Vannesa yang juga sama paniknya tidak tau harus berbuat apa lagi saat ini.


"Hubungi bosmu, sebaiknya kita cek cctv dilantai itu dan kita juga harus menuju keatas dan ke kamar orang itu." Ucap Vannesa spontan. Ia bukannya memperdulikan tentang kecemasan resepsionis itu,namun mencemaskan tentang tugasnya sendiri untuk membunuh bandar narkoba itu.


"Iya kak baik." Resepsionis itu dengan tangan gemetar menghubungi bosnya dan mengatakan semua situasi yang ada,juga mengecek kamera cctv yang berada di lantai paling atas gedung apartemen tersebut.


10 menit berlalu dan Vannesa masih berdiri menemani resepsionis dimejanya, tentunya resepsionis itu tidak menaruh kecurigaan terhadap Vannesa. Ia mengira kalau Vannesa tentu masih punya tanggungan dengan pesanan makanan yang ia bawa saat ini.


"Kak,aku sudah periksa rekaman cctv nya. Tapi tidak ada keanehan sama sekali,tidak ada siapapun yang masuk kekamar orang itu daritadi. Hanya ada staff hotel dan Anda yang bahkan juga tidak sampai masuk kedalam ruangan. Apakah dia tertidur?"


Meskipun resepsi itu mencoba berfikiran positif namun Vannesa tau kalau sebenarnya ia sedang panik dan takut, Vannesa hanya mampu menggelengkan kepala.


Pernyataan yang Vannesa berikan membuat resepsionis itu semakin takut,ia takut hal yang buruk terjadi disana.


Beberapa saat kemudian manager hotel bersama seorang security datang dengan sedikit berlari menuju kearah keduanya.


"Ada apa ini? Apa yang terjadi?" Tanya manager hotel tersebut.


"Begini pak,kakak ini ingin mengantar pesanan makanan kepada tamu dilantai atas hotel, sebelumnya saya sudah menelepon dia dan bilang supaya pesanannya diantarkan keatas,tapi ketika kakak ini sampai didepan kamar tamu pintu tidak kunjung dibuka, bahkan ia sudah lama berada disana dan mengetuk kembali pintu itu namun hasilnya nihil pak. Dan saya telpon dia namun hasilnya sama,tidak ada jawaban darinya. Saya khawatir kalau..." Resepsionis itu menjelaskan dengan rinci kejadian yang terjadi padanya dan ia enggan meneruskan kalimatnya yang terakhir.


"Sudahlah mungkin hanya tertidur saja,ayo kita keatas. Oiya kau yang mau mengantar makanan itu?" Manager hotel menoleh kearah Vannesa. Menyadari itu Vannesa tersenyum dan mengangguk sopan.


"Baiklah kau juga ikut bagaimanapun kamu juga harus memberikan makanan padanya,Della kau juga ya. Meja resepsionis akan ditunggu oleh seseorang."


"Baik pak." Jawab resepsionis yang disebut Della itu.


Mereka ber empat berjalan cepat memasuki lift dan menuju ke lantai paling atas, Vannesa bersikap biasa saja tidak seperti Della yang terlihat panik disana.


"Aneh kenapa Della sangat panik?" Gumam Vannesa dalam hati.


Ting

__ADS_1


Pintu lift terbuka dan dengan cepat mereka keluar dari dalamnya menuju ke satu-satunya pintu kamar di apartemen itu. Di setiap lantai apartemen itu memang hanya ada 1 kamar.


Tok


Tok


Tok


Ketukan di pintu kamar itu kembali terdengar lagi,namun saat ini yang mengetuk bukanlah Vannesa tapi sang manager sendiri.


Setelah beberapa kali ketukan bahkan panggilannya tidak mendapatkan respon akhirnya ia memutuskan untuk menyuruh Della membuka pintu tersebut menggunakan kunci cadangan.


"Della,kau bawa kunci cadangannya kan? Bukalah Del!" Titahnya kepada Della,dan langsung dituruti olehnya.


Ceklek.


Pintu terbuka,dan dengan gemetar Della membuka pintu perlahan. Cahaya dikamar itu hanya remang-remang membuat siapa saja yang datang tidak langsung melihat kondisi didalamnya.


Dan ketika sang manager akan melangkah masuk,netra Vannesa melihat sesuatu yang janggal.


"Hentikan!" Titah Vannesa kepada manager yang kakinya sudah akan melangkah kedalam,dan dengan cepat ia kembali menarik satu kakinya itu.


"Ada apa?" Tanya sang manager dengan tatapan menyelidik.


"Lihat dengan jelas pak, diruangan ini terdapat banyak sekali bercak darah,dan lihat korban yang tergeletak dilantai itu. Mohon jangan gegabah!"


Semua pasang mata segera melihat kedalam ruangan itu,dan benar saja di lantai ruangan itu terdapat banyak sekali bercak darah dan korban yang tergeletak dengan darah yang sudah membanjiri tubuhnya.


"Astaga!" Della yang melihat itu beringsut mundur,tubuhnya menegang dan wajahnya pucat pasi. Della memegang tangan Vannesa dengan erat, seakan takut melihat kearah ruangan itu.


"Apa ini! Kenapa bisa terjadi! Cepat hubungi pihak berwajib sekarang!" Titah manager itu kepada security dan langsung dilaksanakannya.


'Bagaimana mungkin ini terjadi? Siapa pembunuhnya? Apakah dia memiliki banyak musuh? Aku bahkan belum melihat dia seperti apa.' Gumam Vannesa sambil melihat kedalam ruangan.


"Pak? Bagaimana ini?" Tanya Della kepada managernya.


Manager itu menghela nafas berat lalu melihat kearah Della dan Vannesa "Mau bagaimana lagi,kita tidak bisa berbuat apa-apa Del. Kita tunggu pihak berwajib." Ucapnya dengan nada yang lemah.


"Baik pak." Jawab Della sambil tetap memegang lengan Vannesa, ia jelas merasakan kalau Della gemetar saking takutnya. Vannesa juga tidak mau melepaskan pegangan Della padanya,ia akan tetap begitu sampai Della kembali tenang.


"Maaf sebelumnya,tapi bisakah kau juga tetap tinggal disini. Bukannya aku mencurigaimu tapi polisi pasti juga akan membutuhkan kamu nanti." Ucap manager kepada Vannesa.


Vannesa tersenyum "Tentu saja,aku tidak keberatan. Tapi ijinkan aku menghubungi restoran tempatku bekerja sekarang kalau pesanan ini tidak bisa diantarkan."


"Ya kau bisa,Della lepaskan dia dulu."


"Baik pak." Della segera melepaskan pegangan tangannya dari Vannesa,dan Vannesa berjalan kearah dekat jendela di lorong itu untuk memberi kabar. Tapi bukan memberi kabar kepada restoran namun kepada markasnya.

__ADS_1


Laporan misi •Status : Gagal. Korban telah dibunuh oleh seseorang terlebih dahulu sebelum aku datang.


Vannesa menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan,ia menggigit bibir bawahnya, pikirannya terus memikirkan siapa dalang dibalik pembunuhan itu.


__ADS_2