Vannesa Elvia

Vannesa Elvia
Dunia tipu-tipu


__ADS_3

Rian melihat kearah Zana yang terlihat kecewa,dia tersenyum sekilas kepada Zana.


"Kapan-kapan kita masak bersama Zana,kau mau?" Zana yang mendengar itu segera mengangguk dengan antusias. Rian tertawa melihatnya.


Vannesa menyuapi kue untuk Rio,dan Rio terlihat sangat menikmati kue itu. Sedangkan Desta dia mengepalkan tangannya,dia tidak menyukai kedekatan antara Vannesa dan Rio. Itu karena Desta menyukai Vannesa,tapi malah dia terjebak bersama Maya saat ini.


Rio akhirnya menghabiskan 1 potong kue dengan ukuran sedang itu,dan Vannesa menaruh piringnya di meja dekat ranjang Rio.


"Ekhem,pak Rio kalau begitu saya pamit undur diri dulu. Sekarang sudah hampir malam." Ucap Desta sambil berdiri,disusul oleh Maya dan Syerly.


"Iya baiklah, terimakasih sudah menjengukku. Aku mengundangmu besok pak Desta, undangan akan dikirim besok pagi ke kantormu, semoga Anda mau datang." Ucap Rio sambil menatap Desta.


"Tentu saja aku datang pak, terimakasih sebelumnya. Saya permisi." Desta pergi diikuti oleh Maya dan Syerly,setelah mereka pergi, Rian mengembuskan napas lega. Cakra dan Zana yang melihatnya bertanya-tanya tentang apa yang terjadi kepada Rian.


"Cakra, Zana aku minta maaf kepada kalian. Sebenarnya bos kalian tidaklah sakit,kami hanya berpura-pura saja." Cakra dan Zana yang mendengar itu sangat terkejut. Banyak sekali pertanyaan yang ingin diajukan oleh mereka.


"Aku akan ceritakan pada kalian,tenang saja." Vannesa mendekat kearah kursi tempat dia sebelumnya duduk. Dia menjelaskan dari awal kejadian yang menimpa Rio, Didi dan dirinya sendiri. Cakra dan Zana mendengar setiap cerita dengan serius,mereka merasa sangat marah dengan apa yang dilakukan oleh Desta dan pacarnya.


"Apakah dia tidak malu? Bahkan melakukan hal yang tidak bermoral seperti ini?" Cakra memukul kursi sedikit keras saking emosinya.


"Iya, pantas saja mereka tadi datang. Dan dari cara bicaranya juga terdengar aneh." Zana menambahkan.


"Sudahlah semua sudah berakhir,kita pulang dulu saja,sudah jam segini."


Vannesa melihat jam di pergelangan tangannya,dan Cakra juga Zana menurut. Mereka bertiga berpamitan lalu pulang.


"Baiklah kalian hati-hati ya, terimakasih atas kerja sama kalian." Rio mengantarkan mereka bertiga sampai di pintu masuk mansion,dari sana mereka bertiga segera menuju mobil dan pulang.

__ADS_1


Vannesa diantarkan lebih dulu karena jaraknya yang lumayan dekat,setelah itu Cakra mengantar Zana pulang.


Vannesa akhirnya sampai di apartemennya,dia segera duduk disofa dan merebahkan tubuhnya. Dia merasa sangat nyaman disana.


"Ini nyaman sekali,setelah melewati hari yang melelahkan, merebahkan tubuh tidaklah buruk." Vannesa memejamkan matanya,dan setelah beberapa menit dia membuka mata dan duduk.


Vannesa berjalan menuju dapur untuk minum, lalu setelah itu menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah Vannesa selesai mandi dia kembali ke dapur dan memanggang roti tawar dengan diberi selai strawberry kesukaannya.


"Ya mau bagaimana lagi? Aku lapar tapi sudah jam segini,lebih baik makan roti saja."


Vannesa berbicara sendiri,dia hanya membuat satu porsi roti,itu adalah 2 roti yang digabung jadi satu.


Vannesa memakannya dengan tenang,dia menghabiskan roti itu dengan sekejap. Setelah rotinya habis Vannesa melihat kearah jendela kaca. Dia melihat pemandangan kota diwaktu malam hari.


"Kau sangat indah,tapi sayang sekali banyak yang tidak bisa menikmati indahnya dirimu. Karena mereka terlalu banyak beban di hidup mereka." Vannesa berkata kepada malam,berharap malam tau apa isi hati Vannesa. Vannesa akhirnya memutuskan untuk tidur lebih awal karena dirinya merasa sangat lelah.


Threenity Headquarters


"Tolong,aku mohon bantulah aku." Lisa berhenti,dia mendengar ada suara perempuan yang memanggilnya dari ruang karantina. Akhirnya dia memutuskan untuk masuk kesana.


Didalam hanya ada beberapa ruangan saja yang terpakai, Lisa melihat sekeliling lalu pandangan lisa tertuju pada perempuan yang saat itu ditemukan oleh Key dan Hans. Lisa melihat kondisi gadis itu sudah membaik namun terlihat takut. Lisa mendekat kearahnya.


"Kau mau minta bantuan apa?"


"Aku aku hanya mau minum." Gadis itu memang terlihat sangat lemah, Lisa yang membawa botol minum dan roti saat itu akhirnya memberikan kepada gadis tersebut.


"Ini untukmu,kau tidak usah khawatir ini tidak beracun." Lisa menyerahkan roti dan botol itu kepada gadis kecil tadi.

__ADS_1


Gadis itu segera minum dan memakan rotinya dengan lahap,entah karena lapar atau memang dia suka dengan rotinya Lisa tidak terlalu faham. Lisa mengamati gadis itu dengan serius,terlihat kalau dia merupakan seorang anak dari keluarga kaya. Namun entah bagaimana ceritanya dia sampai di tengah hutan bambu yang jauh dari kota.


"Kalau boleh aku tau,kau sebenarnya siapa?" Lisa bertanya kepada gadis tersebut. Dan gadis tersebut melihat kearah Lisa.


"Maafkan aku,aku tidak bisa memberitahu identitasku begitu saja." Gadis itu benar-benar merahasiakan identitasnya,entah apa yang dia sembunyikan.


"Kakak tenang saja,karena kau sudah membantuku maka aku bisa memperhitungkannya kelak." Ucap gadis tersebut dengan sombong. Lisa menjadi semakin penasaran dengan gadis itu.


"Kalau begitu,berapa usiamu?" Lisa tetap bertanya sekali lagi padanya,dan gadis itu tersenyum.


"Aku berusia 18 tahun,itu sudah cukup bukan? Kak kau harus segera pergi dari sini, sebentar lagi akan ada masalah." Ucap gadis itu memperingati Lisa.


Ting


Tablet Lisa berbunyi,dia segera melihatnya,dan benar saja ada tugas untuknya. Lalu dia melihat sekali lagi gadis didepannya itu,dia tersenyum kepadanya. Lisa yang tak mau membuang-buang waktu segera pergi dari ruang karantina itu.


"Belum saatnya kau tau mengenai identitasku Lisa,kau harus bersabar." Ucap gadis itu sambil memainkan pisau lipat di jarinya.


Kriet


Gadis itu menoleh kearah pintu yang terbuka,disana terlihat perempuan yang lebih tua darinya. Dia berjalan mendekat kearah gadis itu,wajahnya terlihat samar karena cahaya lampu sangat minim.


"Wah,kau memainkan peran dengan sangat bagus. Kenapa kau tidak mengatakan siapa kau sebenarnya? Bukankah kau akan segera menang dariku."


Gadis yang mendengar kata-kata itu tersenyum pahit.


"Biar aku perjelas,aku selalu memiliki caraku sendiri. Kau tidak perlu mengurusiku." Perempuan itu tertawa dengan sangat nyaring,namun gadis itu tidak memperdulikannya,dia justru merebahkan tubuhnya dan bersiap untuk tidur.

__ADS_1


"Baiklah,aku akan lihat bagaimana caramu bermain. Hanya perlu kau ingat,disini mereka adalah bawahanku dan tidak ada yang bisa menentangku." Setelah mengatakan hal itu, perempuan itu pergi dari hadapan gadis itu.


"Hmm,kau sangat baik makanya kau tidak tau siapa dari bawahanmu yang memberontak." Gadis itu tersenyum dan terlelap.


__ADS_2