
Pagi hari
Vannesa bersiap untuk pergi ke kantornya,dan mungkin untuk yang terakhir kalinya. Kali ini perusahaan dipimpin oleh Haris, karena Rian juga masih diluar kota dan Rio ada tugas di luar negeri. Vannesa menarik nafas dalam sebelum melangkah keluar kamarnya.
***
Untuk saat ini kantor adalah hal yang horor bagi Vannesa,bahkan ia tidak pernah mendapat misi akhir-akhir ini, membuatnya merasa kehilangan daya hidupnya.
"Selamat pagi nona manis,mari ikut aku ke atas." Vannesa mengernyit mendengar suara perempuan yang sengaja dibesar-besarkan menyerupai suara laki-laki itu.
"Holaaa,kau kaget ya. Kaget kan? Hahahah pasti tidak hmm."
Vannesa tertawa mendengar pertanyaan yang dijawab sendiri oleh Zana itu. Seperti biasa Zanalah orang yang bisa membuatnya tertawa selain Key.
"Kau ada-ada saja Zana."
"Heheheh,kau sih berdiri bagaikan patung maskot disini. Ayo masuk." Zana menarik secara paksa Vannesa.
Mereka membicarakan banyak hal didalam lift,semua karyawan yang ada disana sudah terbiasa dengan mereka berdua. Apalagi Zana dan Vannesa adalah orang kesayangan bos mereka,kalau mereka sampai mengusik ketenangan Vannesa dan Zana takutnya bos mereka akan memecat mereka secara langsung.
"Sudah ya aku keluar lebih dulu,kau yang semangat." Ucap Zana sambil melangkah keluar lift. Vannesa mengangguk, setelah pintu lift tertutup Vannesa kembali murung.
Ting
Pintu lift terbuka, Vannesa melangkah keluar dari sana. Ia segera masuk ke ruangannya, seperti biasa Vannesa segera mengerjakan pekerjaannya dengan serius.
Ketika waktu istirahat hampir tiba dan Cakra masuk ke ruangan Vannesa.
"Hai Vann sudah selesai?"
"Tinggal sedikit lagi Cakra."
"Vannesa kau terlihat malas sekali,ada masalah?" Cakra duduk dikursi yang berhadapan langsung dengan kursi Vannesa.
"Tidak Cakra,hanya lelah saja."
__ADS_1
"Kau yakin?"
"Iya aku yakin." Vannesa menarik sebuah dokumen dari tasnya,dan sebuah benda terjatuh dari tasnya.
"Vann,barangmu jatuh. Eh ini.." Cakra mengamati kalung yang baru saja ia ambil dengan teliti.
"Oh terimakasih sudah mengambilnya." Dengan sigap Vannesa merebutnya dan memasukkan kalungnya kedalam tas lagi.
"Kalau boleh tau, dapat darimana kalung itu?"
"Ini tadi? Itu kalung yang aku buat dengan teman masa kecilku dulu. Kami membuat 2 pasang,dan masing-masing membawa satu. Hanya saja aku tidak bisa bertemu dengan dirinya lagi saat ini." Vannesa menatap buku didepannya dengan tatapan kosong.
"Kalung yang satunya seperti ini?"
Vannesa tertegun melihat kalung yang dipegang oleh Cakra,kalung itu adalah kalung yang sama seperti yang terakhir kali Vannesa ingat. Tangannya terulur menyentuh kalung itu, Vannesa mendongak menatap Cakra.
"Jadi kau adalah Cakra? Yang dulunya adalah seorang anak berbadan gempal yang suka menangis itu?"
"Iya aku adalah Cakramu yang selalu menangis ketika melihatmu sakit,bahkan tidak bisa menemanimu saat kita beranjak remaja."
"Bagaimana kau ini,kau tidak pernah mengunjungi ku seperti janjimu sebelum pergi." Vannesa memukul bahu Cakra.
"Aku tidak bisa,maafkan aku Vann. Aku dilarang kembali lagi ke desa." Cakra memeluk Vannesa menumpahkan semua rasa rindu mereka selama ini.
"Kau baik-baik saja bukan? Sepertinya kau juga memiliki sederet penggemar laki-laki."
"Seperti yang kau lihat. Apakah kau sedang mencemooh diriku hah?"
Cakra dan Vannesa terkekeh,mereka akhirnya istirahat bersama. Vannesa dan Cakra sangat asik menceritakan semua hal yang selama ini sudah mereka lalui, mulai dari masalah sampai hal-hal sepele yang tidak penting.
Di kantin perusahaan cakra memesankan makanan kesukaan Vannesa yaitu sesuatu yang berkaitan erat dengan strawberry. Zana kali ini tidak bersama dengan Vannesa, Zana mengambil waktu istirahat kedua karena banyak sekali pekerjaan yang harus selesai siang nanti.
"Aku sudah memesan makanan kesukaanmu Vann." Ucap Cakra sembari duduk berhadapan dengan Vannesa.
"Terimakasih Cakra. Ngomong-ngomong kau sudah ada pacar?"
__ADS_1
"Pacar? Hahaha belum ada Vann,aku tidak minat memiliki pacar."
"Why not?"
"Emm karena aku sejujurnya menunggumu Vann hehehe." Cakra terkekeh pelan "Tapi sudahlah,aku melihat pak Rio denganmu sangat cocok,lagipula aku bukan tandingan pak Rio."
Ucapan Cakra membuat Vannesa mengingat Rio kembali,ia ingin melupakan rasa sukanya kepada Rio itu saja.
"Vann kenapa melamun?"
"Ah tidak kok hahaha."
Cakra tersenyum simpul, Cakra hafal betul watak Vannesa. Saat ini ia sedang ada masalah tapi enggan menceritakannya,sama seperti dulu kala.
Pesanan mereka sudah diantar,namun di piring kue Vannesa ada sepucuk surat kecil. Ia mengedarkan pandangannya mencari siapa orang yang kira-kira menaruhnya. Terlihat sekelebat bayangan seseorang yang mengenakan topi keluar melalui pintu menuju tangga.
Tanpa sepengetahuan Cakra ia membuka suratnya perlahan.
"Kalau kau benar-benar berani,datang ke bangunan tua pinggir kota jam 7 malam."
Setelah Vannesa membaca suratnya ia segera meremas kertasnya sampai tidak berbentuk. Cakra sempat melirik Vannesa,tapi tidak sepenuhnya menyadari apa yang Vannesa lakukan.
"Kenapa tidak dimakan? Apa tidak suka?"
"Emm iya aku suka,aku akan makan."
Vannesa tersenyum dan bergegas memakan kuenya. Pikirannya melayang memikirkan siapa yang mengirimkan suratnya,dan untuk apa menyuruh Vannesa pergi kesana.
Vannesa dan Cakra kembali ke ruangannya masing-masing setelah selesai istirahat, Vannesa mengunci pintu ruangannya,ia tidak ingin orang lain masuk keruangannya secara tiba-tiba dan mengetahui apa yang ia lakukan.
Pertama-tama Vannesa masuk ke sistem cctv perusahaan,ia menyadap cctv dan mengganti arah kamera diruangannya. Itu dilakukan supaya petugas tidak tau Vannesa sedang melakukan hal lain diluar pekerjaannya.
Vannesa mengeluarkan tablet transparannya ia memasukan beberapa kata sandi,dan mulai mengakses informasi melaluinya. Vannesa segera melakukan scanning terhadap kertasnya tadi,diretasnya tulisan yang ada pada kertas tadi. Setelah beberapa saat Vannesa tersenyum puas melihat hasilnya.
"Ternyata kau? Tidak kapok ya?." Ucap Vannesa sembari mengembalikan tablet ke tasnya dan mengembalikan letak cctv pada posisinya semula.
__ADS_1