
Mansion Bigantara
"Aduh,bisakah pelan sedikit? Kau sepertinya tidak pandai."
"Ck,kalau aku tidak pandai kenapa kau jadikan aku sebagai dokter pribadi keluargamu?"
"Hmm."
"Bagaimana kronologinya? Kenapa bisa kau luka sampai seperti ini?"
"Ceritanya panjang."
"Humm terserah."
Saat ini Key memenuhi panggilan Rio untuk datang ke mansion Bigantara untuk mengobati luka Rio,awalnya Key terkejut mendengar itu, namun ia tidak banyak tanya dan segera pergi melesat menuju kediaman Bigantara.
"Ini semua karena Desta."
Key menghentikan aktivitasnya yang sedang membereskan obat-obat yang ia bawa. Ia menatap wajah Rio lekat.
"Apa maksudmu? Kakakku? Apa yang dia lakukan padamu?"
"Bukan kakakmu,dia adalah Desta. Aku dipukuli oleh anak buahnya tadi."
"Kenapa bisa?"
Rio diam tidak menjawab, sedangkan Key dia tidak berani bertanya lagi kalau Rio sudah diam seperti itu.
"Kau tau dimana Vannesa?" Pertanyaan Rio membuat Key sedikit bingung. 'apa hubungan Desta dan Vannesa?'
"Aku tidak tau,ada apa?"
Rio membuang nafasnya kasar,ia menengadahkan kepalanya, melihat itu Key merasa jika pertengkaran Rio dan Desta ada hubungannya dengan Vannesa.
"Desta bilang Vannesa sudah meninggal."
Key benar-benar terhenyak mendengar itu, bagaimana mungkin Vannesa bisa mati? Sedangkan Vannesa tidak bisa disentuh barang sedikitpun.
"Apa maksudmu meninggal Rio? Apa kau sudah gila?."
Rio menatap Key sendu,ia menceritakan awal mula ia bertemu dengan Desta tadi dan sampai akhirnya dia ditolong oleh seorang gadis bercadar.
Key menyadari sesuatu,gadis itu adalah Vannesa dalam penyamaran, sedangkan kakaknya yang bodoh mengira Vannesa sudah mati karena ulahnya.
"Key?" Key menoleh "Vannesa masih hidup bukan? Aku yakin dia masih hidup." Rio meneteskan air mata. Key yang melihat itu tersenyum simpul.
"Kau tenang saja, Vannesa tidak semudah itu untuk bisa mati. Aku pamit, lekas lah sembuh." Key menepuk pundak Rio dan bangkit dari kursinya. Setelah beberapa langkah Key berhenti dan kembali menoleh kebelakang.
"Wanita tadi,dia akan kembali ke TKP nanti malam,kalau kau mau mencari informasi tentang Vannesa kau bisa percaya padanya."
Setelah mengatakan itu Key benar-benar pergi, Rio bingung dengan maksud Key barusan,ia bangkit dan berjalan mendekat kearah pintu kamarnya.
"Bagaimana kau bisa yakin?" Teriaknya kepada Key.
"Aku percaya pada naluri ku." Ucapnya sembari menunjuk kepalanya sendiri.
__ADS_1
Rio menatap kepergian Key,ia bingung apakah benar yang dikatakan Key? Jika ingin tau benar tidaknya maka harus mengeceknya kembali.
***
BRAK!
Vannesa tersenyum melihat Key yang membuka paksa pintu ruangannya dengan sangat keras,tidak bisa dipungkiri lagi jika Key sudah mengetahui tentang masalahnya dan kakaknya, Vannesa bisa menyimpulkannya itu dari jas dokter yang masih melekat pada badan Key. Pastinya dia baru saja pulang mengobati luka Rio tadi.
"Ada masalah apa?"
"Katakan Vann,apa yang dilakukan kakakku padamu." Key memegang kedua lengan Vannesa kini mereka berdua bersitatap.
Vannesa menyunggingkan senyum "Kau datang dengan membuka paksa pintuku sekarang menuduh,itu tidak baik."
"Menuduh? Kalau begitu katakan kau dari mana saja tadi?"
Vannesa menepis tangan Key yang tadi memegangnya "Apakah penting bagimu?"
"Vann,aku tau kau tidak mau mengatakan masalahmu dengan Desta padaku karena aku adiknya. Tapi Desta juga bukan kakak yang baik untukku,kalau kau terluka gara-gara dia,aku tidak akan tinggal diam."
"Vannesa ini seorang mafia Key, tidak mungkin jika tidak ada masalah. Lupakan saja." Vannesa berjalan meninggalkan Key yang masih diam mencerna kata-kata Vannesa.
"Kau akan pergi ke lokasi tadi kan?"
Vannesa menghentikan langkahnya ketika mendengar ucapan Key.
"Aku ikut." Vannesa ingin menolak tapi belum sempat ia bicara Key sudah mendahuluinya "Jika kau tidak mau mengatakan masalahmu aku akan mencari tau sendiri,tapi kali ini aku ikut. Hanya untuk memastikan kau baik-baik saja."
Vannesa menghela nafas ia tidak bisa menolak keinginan Key saat ini, akhirnya ia mengijinkan Key ikut dengannya.
"Kenapa kau mengikat rambutmu?"
"Supaya punya ciri khas. Ayo berangkat."
Vannesa menggaruk tengkuknya yang tidak gatal,ia heran dengan Key yang bersikap tidak seperti biasanya.
***
Vannesa melihat sekeliling,ia sudah tidak melihat mayat-mayat manusia yang ia bunuh tadi,serta bercak darah juga sudah tidak ada bahkan aromanya sudah tidak tercium lagi. Key saat ini duduk diatas pohon mengamati gadis cantik itu dari atas.
"Kau? Mau apa kau kemari?"
Key mengernyit ketika melihat Vannesa berbicara dengan seseorang,ia mengikuti arah pandang Vannesa. Benar saja dia adalah Rio, Key menggeleng melihat Rio benar-benar datang kali ini.
Disaat Key melempar pandangan kepada Vannesa ia mendapat tatapan sinis darinya, membuat Key sedikit panik dan hanya bisa mengendikkan bahu tanda tak tau.
'Pantas saja dia bersikeras mau ikut,bahkan mengikat rambutnya.' Pikir Vannesa.
"Aku hanya ingin bantuan darimu." Dengan perlahan Rio mendekat kearah Vannesa,namun melihat pisau tajam yang sudah siap menggores lehernya membuat Rio berhenti.
"Katakan apa maksudmu dengan bantuan? Atau pisau ini benar-benar akan memutus nadimu."
Rio menoleh ke kanan dia melihat sosok laki-laki yang memakai topeng menutupi mata dan setengah wajahnya sedang memegang pisau yang sudah ada di depan lehernya.
"Aku,aku hanya ingin minta tolong mencarikan keberadaan seseorang untukku. Berapapun biayanya aku akan bayar."
__ADS_1
Tatapan Vannesa yang tadinya melihat Rio berpindah kearah Key, memberikan sinyal supaya menarik kembali belati itu.
Mengerti apa yang dimaksud oleh Vannesa Key menarik kembali belati dan menyimpannya.
"Katakan." Kini Vannesa mendekat kearah Rio berdiri.
"Vannesa Elvia,aku ingin kau mencari tau keberadaannya saat ini."
DEG!
Tidak ada angin tidak ada hujan,jantungnya seperti berhenti berdetak saat itu. Dia tidak menyangka Rio akan kebingungan mencari dirinya. Meskipun sudah mendengar kabar bahwa Vannesa sudah mati namun Rio masih tidak percaya.
Key menatap Vannesa dengan tatapan yang aneh, membuat Vannesa menjadi semakin jengkel terhadapnya.
"Apa untungnya untukku?" Tentu saja Vannesa bisa dengan mudah mencari kebohongan itu,namun ia adalah mafia yang tidak mungkin baginya jika langsung mengiyakan tawaran Rio.
"Kau bisa menjadi orang terkaya disini,aku bersedia memberikan setengah asetku padamu."
Key tersedak mendengar itu, begitu pula dengan Vannesa,ia tidak menyangka Rio dengan mudahnya memberikan asetnya kepada orang lain demi dirinya.
Vannesa segera merubah keterkejutannya dan menyeringai "Bagaimana jika memberikan dirimu padaku?"
'Gila ya? Memang Vannesa ini sangat menakutkan, meskipun dia bicara dengan orang yang dia suka tapi cara bicaranya masih seperti mafia sejati.' Gumam Key yang saat ini sudah berada di dekat pohon menyandarkan tubuhnya disana.
"Bagaimana?" Vannesa membuyarkan lamunan Rio saat itu. Dia semakin menyukai Rio yang berhasil dia uji saat ini.
Dilain pihak Rio merasa bimbang,jika memang dirinya diberikan pada mafia ini maka dia tidak akan bisa memiliki Vannesa sebagai istrinya.
"Ck lama sekali mikirnya."
"Aku tidak bisa menyerahkan diriku."
Vannesa menatap tajam Rio, membuat Rio sedikit terkejut dengan tatapan itu.
"Huh,orang yang sedang jatuh cinta memang aneh, didepannya ada gadis juga tidak mau menerima malah mau cari orang yang tidak jelas." Vannesa menggeleng "Ya kalau yang dicari mau menerimamu."
"Apa maksudmu?" Rio membentak Vannesa,ia terlihat sangat marah dengan kata-kata Vannesa ini.
"Kalau dia mau,tidak mungkin lari darimu. Benar tidak?"
Rio menunduk,yang dikatakan oleh gadis mafia alias Vannesa ini benar adanya,namun ia tetap harus berjuang, setidaknya kalau Vannesa tidak mau dengannya,ia ingin mendengarnya dari Vannesa sendiri.
"Sudahlah,akan aku bantu 2 hari lagi pada jam yang sama datanglah kemari. Aku berjanji akan membawakan jawaban untukmu."
Rio mendongak,ia melihat gadis itu berjalan pergi "Kau yakin?"
"Ck,kau meragukan aku?"
"Tidak pernah."
"Kembalilah,urus lukamu."
Vannesa melompat keatas bangunan dan pergi meninggalkan Rio sendiri. Namun Key masih disana dan ikut pergi menyusul Vannesa.
Rio tersenyum samar, bagaimanapun ia harus menemukan Vannesa, setidaknya mendapatkan kabar tentang Vannesa.
__ADS_1