
Malam kini berganti pagi, Vannesa sudah selesai bersiap untuk bekerja. Namun hari ini Vannesa terlihat bersedih,tidak seperti hari-hari biasanya. Vannesa menatap kertas diatas meja riasnya lekat-lekat,ia menghela nafas kasar.
'Ini keputusanmu,kau harus kuat.' Gumamnya pelan. Ia segera pergi ke halte bus dan berangkat bekerja
***
Di kantor Vannesa terlihat murung,ia akan segera mengundurkan diri dari sana. Mungkin keputusannya kali ini adalah suatu kesalahan tapi bagaimanapun dia tidak ingin Rio menjadi korban selanjutnya.
"Haloo Vannesaku, kenapa kamu sedih begitu? Kangen ya sama pak Rio." Ejek Zana yang juga berjalan menuju lobby.
"Enggak,aku mau resign."
Zana tersentak mendengar kata-kata Vannesa,ia merasa Vannesa hanya membohongi dirinya.
"Eh apaan nih? Bohongnya yang logis dong,jangan kaya gitu."
"Bener Zan aku mau resign,aku minta maaf kalau selama aku bekerja disini ada salah sama kamu."
"Eh Vann,kamu seriusan?"
"Iya,kapan aku bohong?" Vannesa tersenyum kearah Zana,ia segera berlalu meninggalkan Zana.
"Kenapa seperti ini? Ada masalah apa?" Zana tercekat mendengar kata-kata Vannesa,ia mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang.
'Ada masalah apa?' Suara dari seberang sana.
"Begini,aku ingin bertemu."
Zana menelepon sambil berjalan menuju keruangan kerjanya.
***
Vannesa masuk kedalam ruangan kerja milik Rio,dilihatnya ruangan itu masih sama seperti terakhir kali ia melihat, netranya menangkap sebuah bingkai foto di meja kerja Rio.
"Rio dan Rian kecil." Gumamnya disertai dengan senyuman manis Vannesa.
"Nona Vannesa? Apa ada masalah?"
Vannesa tersentak mendengar suara yang berasal dari belakangnya,tepatnya di depan pintu.
"Haris,aku.." Vannesa menghela nafas,entah kenapa sangat berat mengatakan bahwa dirinya ingin resign dari sana.
__ADS_1
"Iya apa?" Haris berjalan mendekati Vannesa,membuat Vannesa semakin berdebar.
"Haris,aku.. Aku ingin resign,dan ini surat pengunduran diriku. Terimakasih." Ucapnya sembari meletakkan selembar kertas diatas meja kerja Rio.
Haris terbelalak,ia tentunya tidak faham bagaimana harus memperlakukan Vannesa karena Rio memberikan amanat jika permintaan Vannesa harus dilaksanakan. Tapi bagaimana sekarang? Gadis bosnya itu meminta resign apakah akan dituruti oleh Haris?
Terlalu banyak berpikir membuat Haris kehilangan Vannesa, Vannesa yang tadinya ada dihadapannya kini sudah berjalan mendekat kearah pintu.
"Eh ehh tunggu dulu. Bagaimana Anda bisa resign? Disini tidak ada pak Rio." Haris menghalangi Vannesa didepan pintu.
"Aku harus resign,bukankah tugas Rio saat ini kau ambil alih?"
"Tidak bisa. Bagaimana kalau pak Rio marah?"
Vannesa tersenyum samar "Itu urusanmu,kenapa tanya aku?"
"Nona ayolah,jangan gegabah. Bagaimana aku menjelaskan ini kepada pak bos?"
Vannesa menghembuskan nafas "Jelaskan saja kalau kau tidak bisa mengehentikan aku."
Vannesa mendorong tubuh Haris menjauh dari pintu dan ia segera keluar dari sana.
"Haiss memang dia tidak bercanda. Bisa mati aku." Haris panik ia menggigit bibir bawahnya.
Vannesa hari ini tidak bekerja disana karena isi suratnya adalah hari ini dia resign. Ia mengunjungi semua karyawan yang ada dilantai atas,ia berpamitan kepada mereka. Kecuali Cakra,saat ini Cakra sedang tidak ada ditempat. Mungkin ada sebuah urusan yang membuatnya tidak datang ke kantor.
Setelah ia selesai berpamitan, Vannesa berjalan kearah halte bus untuk menunggu bus lewat.
Vannesa naik bus namun saat ini ia tidak menuju ke apartemennya. Melainkan hutan bambu. Benar sekali,Vannesa akan pergi ke markasnya.
"Yoo kau disini? Apakah kau tidak bekerja?"
Vannesa menengok ke samping "Lisa? Tidak aku resign."
"Apa? Astaga Bigantara Grub sayang! Perusahaan yang ternama." Ucap Lisa dengan nada tinggi.
"I don't care! Bagiku sama saja. Sudahlah aku akan masuk."
"Humm yasudah kalau begitu."
Vannesa berjalan melalui lorong, sedangkan Lisa masih berada diposisi semula berdiri diantara pohon bambu.
__ADS_1
Vannesa memasuki aula,ia segera pergi ke ruangannya. Disana hanya ada dia sendiri.
"Dimana Rista? Biasanya ia disini." Gumamnya.
"Vann? Kau disini?"
"Galang? Iya aku disini. Dimana Rista?"
"Tidak tau,aku baru saja sampai Vann. Biasanya dia memang selalu ada di markas."
Galang ikut duduk disebelah Vannesa,ia membuka kaleng soda yang tadi ia bawa.
"Apa kau tidak bekerja?"
"Tidak,aku resign."
Galang tersedak sodanya karena terkejut dengan ucapan Vannesa "Resign? Kenapa begitu?"
"Hmm,aku ingin serius berlatih disini dan menemukan Laksmi."
Galang terlihat menganggukkan kepalanya berulang kali,ia menatap wajah Vannesa.
"Aku tidak tau ini betul atau tidak,tapi Vann mungkin Laksmi ada sekitar sini,hanya saja jangan bicarakan hal ini dengan siapapun. Termasuk Hans dan Key,karena semuanya harus dicurigai."
Vannesa menatap manik Galang "Apa maksudmu? Lalu kau sendiri bagaimana? Kau juga orang lain. Tau darimana kamu?"
"Kau lupa? Ayahku menitipkan kau padaku,tidak mungkin aku menghianati dirimu Vann. Kalau aku menghianatimu aku akan ditembak jantung dan otakku sekaligus." Ucap Galang sembari meminum sodanya. Yang dikatakan oleh Galang adalah kebenaran,ayah Galang adalah orang yang membawaku Vannesa bergabung ke tim,dan Galang diberi amanah untuk menjaga Vannesa. Namun karena Vannesa orang baru dia menjalani latihan yang berbeda dengan Galang yang sudah terbilang lama disana. Akhirnya Vannesa bertemu Hans yang sampai kini sangat dekat dengannya,sampai lupa jika Galang dulu adalah anak penyelamatnya.
"Kau tau dari mana?"
"Aku tidak tau pasti,tapi ini hanya perkiraan Vann. Bagaimana cara pelaku menyembunyikan Laksmi dengan waktu yang terbilang sedikit? Dan kalaupun dia bisa membawanya keluar pasti akan tertangkap kamera cctv. Tapi saat ini tidak ada laporan orang yang keluar masuk secara bebas, kecuali pelaku berasal dari dalam."
Ucapan Galang membuatnya menyadari sesuatu yang janggal, seharusnya Vannesa mengetahui hal ini sejak awal. Namun karena dia panik jadi melupakan petunjuk yang sangat jelas.
"Benar katamu Galang."
"Kau jangan sampai memberitahu siapapun Vann,saat ini semua adalah musuh bagimu."
Vannesa menatap Galang,ia setuju dengan kata-katanya. Saat ini siapapun bisa jadi pelakunya termasuk Galang sendiri.
Langkah selanjutnya adalah berlatih dan menjadikan diri Vannesa lebih kuat dari sebelumnya. Keputusan resign saat ini mungkin juga suatu jalan yang benar.
__ADS_1