
"Hey bro! Ups." Reza segera menutup mulut ketika melihat seorang pasien wanita terbaring di brankar.
Netranya menerawang dan tertuju kepada Dio yang mulai bangun dari acara rebahannya. Dio menatap tajam kearah Reza yang meringis memperlihatkan deretan gigi putihnya sambil berjalan mendekat kearahnya.
"Kau gila? Masuk pun tidak mengetuk dulu." Dio yang merasa agak emosi itu menjitak pelan kepala Reza.
"Aww,iya bro soryy. Tadi gw kan dideket taman rencana mau kerumah lo,eh malah ngirim lokasi disini ya gw ngiranya lo sakitlah." Ucapnya sembari mengelus kepalanya yang sedikit sakit akibat ulah Dio tadi.
"Ck bukan."
"Dia siapa? Pacarmu?"
"Bukan."
Reza melirik kearah Dio yang sibuk dengan ponselnya, akhirnya Reza mendekat kearah Vannesa untuk melihatnya sendiri.
"Astaga!"
"Ada apa?"
Dio yang panik karena mendengar Reza memekik itu mendekat,dan ikut melihat kondisi Vannesa yang sebenarnya baik-baik saja,masih tidur dengan nyenyak dan tidak kurang suatu apapun.
"Kenapa sih ngagetin aja! Orangnya juga gapapa." Ucap Dio sambil menepuk pundak Reza.
"Gila sih lo bro,pacar adik sendiri lo embat. Nggak habis pikir gw." Reza menggeleng berkali-kali sambil melihat Dio yang masih tidak percaya dengan ucapan teman baiknya ini.
"Apaan sih lo Za!"
"Eh gini-gini gw kenal ya sama nih cewek,dia sebelumnya juga udah dirawat inap disini. Dia temennya Key kan? Nah waktu itu gw juga sempet meriksa keadaan dia. Jadi ya gw kenal lah." Reza memasukkan kedua tangannya kedalam kantong celananya dan berjalan menuju sofa.
"Dan gw bakal aduin lo ke adik lo,karena udah macarin tuh cewek."
Dio melotot mendengar kata-kata Reza yang terdengar menyebalkan. Dio berjalan cepat mendekati Reza.
"He gw jelasin ya,jangan pernah lo bilang ke dia kalau gw kakaknya Rio!"
"Eh maksud lo? Lo beneran suka sama tuh calon adik ipar lo sendiri? Astaga bro,baru balik dari luar kota kok gini sih otak lo!"
Reza menutup wajahnya dengan kedua tangannya dan berpura-pura menangis. Membuat Dio memutar bola mata jengah.
"Ck lo dengerin dulu penjelasan gw. Ini perintah dari Key,dan fyi ya gw nggak ngrebut tuh cewek dari adik gw. Ntar lo tanya sendiri deh kalo udah bangun dianya."
Mendengar itu Reza segera menegakkan badannya dan menatap Dio dengan tatapan menyelidik.
"Serius lo?"
"Iya gw serius."
__ADS_1
"Ok yaudah,btw mana obatnya pengen liat gw dia tu sakit apa."
"Bentar."
Dio bangkit dari duduknya dan mengambil obat di nakas yang sudah berkurang 1 karena tadi diminum oleh Vannesa. Dio memberikannya kepada Reza dan segera dilihat dengan seksama oleh Reza.
Deg!
Melihat salah satu obat membuat Reza seperti kehilangan nafasnya, tenggorokannya terasa kering. Dio yang menyadari perubahan pada diri Reza segera bertanya padanya.
"Za ada apa? Apa ada masalah?"
"Ini... Apa yang dikatakan oleh Key mengenai penyakit Vannesa?"
Dio terlihat berfikir "Dia hanya bilang Vannesa kelelahan saja. Ada apa memangnya?"
Reza mengacak rambutnya yang sedikit panjang, terlihat bingung seraya menatap Vannesa yang masih tidur dengan nyenyak.
"Ck,ikut aku saja."
Dio mengernyit mendengar Reza, sebelum Dio menolak Reza sudah menarik tangan Dio terlebih dahulu.
"Mau kemana sih!"
"Keruanganku." Jawabnya tanpa melepaskan tangannya.
***
"Ck buat apa gw bohong? Kalau gw terbukti bohong,gw bersedia keluar dari rumah sakit ini sekarang juga. Tanyain aja tuh obat sama dokter lain atau bawa aja ke lab biar lo tau bener enggaknya."
Dio mengigit bibir bawahnya,entah mau percaya atau tidak dengan fakta barusan. Entah Key ataukah Reza yang berbohong,kedua sama-sama seorang dokter dan juga teman baiknya selama ini. Ataukah mungkin Key salah memberikan obat?
"Huft!" Dio membuang nafas kasar, lagi-lagi pikirannya kembali memikirkan tentang hubungannya dengan Vannesa dan juga Rio kedepannya.
"Za?"
"Hmm."
"Efek sampingnya?" Tanya Dio dengan perlahan, Reza tersenyum mendengar suara Dio yang sedikit bergetar.
"Tenang saja,asal obat itu habis tidak akan ada efeknya,tidak akan berpengaruh kepada keturunan."
"Ck,lo malah mikir kaya gitu."
"Yakan siapa tau sebentar lagi lo bisa jadi seorang paman hahahaha."
Dio hanya menggelengkan kepalanya mendengar ucapan Reza yang sedikit nglantur. Tapi jujur saja Dio merasa sedikit tenang karena tidak memiliki efek lainnya.
__ADS_1
"Za,gw mohon jangan bilang masalah ini ke Key maupun Vannesa."
Reza yang mengusap matanya berair karena tertawa itu segera memicingkan mata menatap Dio.
"Kenapa?"
"Gw gatau masalah mereka berdua apa,tapi asalkan ada lo gw yakin kalau Vannesa baik-baik aja. Mungkin Key nggak mau kasih tau kita karena dia takut buat Vannesa panik dan justru kesehatannya menurun."
Reza mengangguk,dia membenarkan ucapan Dio barusan. Namun ia masih berfikir kenapa Key tega melakukan itu kepada temannya sendiri.
***
"Hoaamm..." Vannesa menguap,ia terbangun dari tidurnya dan merasakan tubuhnya yang sudah membaik.
Netranya sibuk mencari kehadiran Dio yang tadinya menunggunya,namun setelah menelisik ruangan itu Dio tidak terlihat.
"Apa masih diluar? Hmm sudahlah."
Vannesa duduk dan meraih gelas berisi air putih, meneguknya setengah dan mengembalikan gelasnya.
Ceklek
Vannesa menoleh kearah pintu yang terbuka secara perlahan,ia memicingkan mata melihat sosok yang tidak asing baginya namun itu bukanlah Key ataupun Dio.
"Halo Vannesa? Masih ingat denganku?" Sapanya ramah.
"Dokter Reza?" Vannesa tersenyum hangat melihat kehadiran dokter yang pernah beberapa kali memeriksa keadaannya dulu.
"Kau masih ingat ya?"
"Tentu saja. Kenapa dokter ada disini? Apakah Key yang menyuruhnya?"
"Oh tidak kok,aku tadi sebenarnya mau bertemu dengan Dio,dia mengirim lokasi disini. Aku kira dia sakit,ternyata kamu."
"Eh dokter kenal Dio?"
"Yap,dia temanku."
Vannesa mengangguk samar,lalu netranya beralih menatap pintu yang kembali terbuka oleh kehadiran Dio.
"Sudah lebih baik?"
"Baik Dio, terimakasih."
"Makanlah Vannesa,supaya bisa makan obat lagi."
"Iya baik."
__ADS_1
Vannesa segera mengambil mangkuk bubur dan memakannya. Melihat Vannesa sangat patuh membuat Reza dan Dio saling pandang. Bagaimana tidak? Bubur rumah sakit itu tidak enak,banyak yang tidak suka bahkan butuh usaha ekstra membuat mereka mau memakannya tapi Vannesa dengan semangat segera memakannya.
'Benar-benar patuh,pantas saja Rio sangat menyayanginya.' Begitulah kira-kira isi pikiran kedua manusia disana.