
Sampai di apartemennya Vannesa segera mengistirahatkan tubuh,dia langsung duduk di sofa yang ada diruang tamu. Vannesa merasa sangat lelah,setelah pertarungan itu dia masih harus bekerja mengerjakan pekerjaan sekretaris milik Cakra yang sangat banyak,membuatnya cukup pusing.
"Aku tidak mau mandi,aku mau duduk disini dulu saja." Vannesa bergumam pelan.
Tok tok tok
Baru saja Vannesa memejamkan matanya,dia mendengar suara ketukan pintu.
"Siapa yang datang?" Vannesa berjalan kearah pintu dan membukakan pintu.
"Vann,aku bawa bubur mutiara untukmu."
"Key,ya ampun kau ini repot-repot datang demi mengantar bubur, ayo masuk."
Key masuk lalu Vannesa menutup pintunya.
"Tidak juga,aku hanya kebetulan lewat gang 1 yang kebetulan ada penjual bubur jadi aku beli dan mampir kesini."
"Kau ini seharusnya tidak usah."
Key dan Vannesa menuju dapur, Vannesa menuangkan bubur ke mangkuk dan Key duduk di kursi meja makan.
Key melihat ada perban di lengan Vannesa,membuat Key penasaran.
"Vann,lenganmu kenapa?"
"Ini ulah dari Desta,tapi aku tidak apa-apa hanya luka ringan."
Key terkejut,dalam hatinya bertanya-tanya apakah yang dilakukan oleh kakaknya itu.
"Vann,apa yang dilakukan oleh Desta itu."
"Aku tidak tau masalah dia kepadaku apa. Kau ingat dengan kerja sama antara Adinata dan Bigantara?" Key mengangguk dan mendengarkan kata-kata Vannesa dengan cermat.
"Tadi aku dan Rio pergi ke perusahaan Adinata,setelah pulang kami dihentikan oleh sekelompok preman, beruntung mereka tidak terlalu banyak hanya 5 orang saja. Aku berhasil melumpuhkan mereka dan membuat mereka mengakui siapa yang membayar mereka,lalu mereka bilang Desta dan Maya yang memberi mereka uang."
Key mendengar cerita Vannesa menjadi sangat emosi,tidak menyangka kakaknya akan berbuat hal seperti itu.
"Desta kenapa berbuat hal seperti itu? Apakah gara-gara kau keluar dari perusahaan Adinata dan menjauhi dia? Aku akan memberi perhitungan pada kakakku."
Key terlihat sangat marah pada saat itu. Vannesa bisa melihatnya dengan jelas.
"Tidak perlu Key,kau masih harus melatih kemampuanmu bahkan kau belum fasih bertarung. Ini makan bubur dulu."
Vannesa menyodorkan semangkuk bubur kepada Key.
"Baiklah Vannesa aku memang masih harus berlatih." Key menyuap sesendok bubur ke mulutnya dengan lesu. Vannesa yang melihat itu tertawa.
"Key tadi aku melawan para preman itu,mereka terlihat handal tapi untungnya aku tidak mengeluarkan 100% kemampuanku. Aku curiga mereka bukan preman biasa."
Key menatap Vannesa yang terlihat berfikir.
"Apa kau berfikir mereka adalah sekelompok pembunuh bayaran?"
Vannesa mengehentikan makannya,lalu melihat kearah Key.
"Apa maksudmu? Aku tidak berfikir seperti itu,hanya berfikir mereka memiliki pelatihan yang bagus saja."
__ADS_1
"Itu masuk akal,demi menjadi preman profesional mereka berlatih. Tapi belakangan ini tim eagle berhasil menangkap pasukan pembunuh bayaran."
"Apa maksudmu Key?"
"Belakangan ini tim eagle berhasil menangkap pembunuh bayaran itu,menurut penjelasan,mereka akan membunuh orang yang ditargetkan dan mendapatkan bayaran,bahkan terkadang orang yang memberi mereka perintah juga akan dibunuh."
"Wahh hebat sekali."
"Vannesa,aku pikir definisi hebat yang kau katakan barusan itu sedikit tidak benar."
Key ngeri melihat ekspresi wajah Vannesa yang seperti ingin menelan hidup-hidup dirinya.
"Ya kau benar,sebagian orang memang akan melakukan hal apa saja demi melindungi identitas diri mereka. Contohnya pembunuh bayaran itu,mungkin saja mereka tidak butuh seorang bos dan khawatir hal tentang mereka disebar luaskan,makanya mereka memilih untuk membunuh orang yang sudah membayar mereka."
Vannesa berdiri dan mengambil air minum dari kulkas.
"Kau benar,tapi sepertinya untuk preman itu mungkin memang bukan pembunuh yang aku maksud."
"Iya kau benar."
Vannesa kembali duduk dan meminum air putihnya. Key melihat Vannesa lalu kembali memakan bubur itu.
"Rencana apa yang kau buat untuk Desta?"
"Apa? Aku tidak punya rencana untuk membalasnya,hanya mau berpura-pura sakit saja. Membuat dia merasa kalau rencana dia itu berjalan dengan lancar."
"Hahaha,tidak menyangka gadis pembunuh ini ternyata adalah seorang ratu akting."
"Key,kita semua adalah mafia merupakan seorang aktor dan aktris. Jika kita tidak berakting maka semuanya akan sia-sia saja. Mungkin aku dari dulu sudah mati ditangan para polisi."
Key mengangguk,dia lupa kalau dia juga sedang berakting saat ini.
"Vann,kau istirahatlah aku akan pulang,maaf sudah mengganggu waktumu ya."
Key bangkit dari tempat duduknya berniat untuk pulang.
"Tidak masalah Key,aku juga berterima kasih,kau sudah membelikan bubur itu untukku."
Vannesa tersenyum kepada Key,dan dibalas dengan anggukan olehnya. Vannesa mengantar Key sampai kedepan pintu,lalu Key pergi masuk kedalam lift.
"Hari yang melelahkan,sebaiknya aku mandi dulu."
Jam dinding menunjukkan pukul setengah enam sore, Vannesa pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Vannesa membutuhkan waktu sekitar 12 menit untuk mandi,lalu dia keluar dan sudah mengenakan pakaian lengkap.
Drt drt
"Siapa yang mengirimkan aku pesan?"
Vannesa melihat ponselnya yang bergetar,tanda ada pesan singkat yabg masuk.
"Aku Rio,besok lusa pastikan untuk membeli pakaian dengan dress code warna hitam,akan ada pesta di hotel Bigantara jam 7 malam,kau akan dijemput oleh Haris."
"Apa? Astaga dia sepertinya sudah gila,pesta itu masih diadakan lusa tapi sekarang sudah memberitahu aku."
Vannesa merebahkan tubuhnya ke kasur,dia juga meletakkan ponselnya di sampingnya.
"Hans,kau dimana? Sepertinya aku sudah lama tidak bertemu denganmu."
__ADS_1
Vannesa bergumam sendiri,semenjak tugas mencuri batu dia tidak bertemu dengan Hans. Akhirnya Vannesa memutuskan untuk ke markas mencari Hans.
Kediaman Adinata
Key sampai dirumahnya,dia memarkir mobil di garasi lalu berjalan masuk.
Pranggg
Suara pecahan piring terdengar sangat nyaring,Key segera lari menuju dapur. Disana Key melihat Ibunya sedang marah kepada Desta, Key hanya melihat mereka dari kejauhan dan tidak mendekat.
"Desta kau ini memang tidak bisa diandalkan ya! Apakah ini balasanmu setelah aku merawatmu selama ini? Mengorbankan Key anak kandungku untuk mengalah padamu selama ini! Apakah ini balasanmu kepada keluarga yang merawatmu?"
"Ma, Desta tidak sengaja apakah karena satu kesalahan Desta mama jadi membenci Desta?"
"Satu kesalahan kau bilang? Kau benar,seharusnya yang meneruskan perusahaan itu bukannya kau tapi Key,jika karena bukan aku menghargai ibumu maka aku juga tidak mau merawatmu dan menempatkan namamu dibawah namaku sebagai anak pertama."
Dinda melihat dengan tatapan kosong,dia memikirkan nasib anak kandungnya yang selama ini kurang kasih sayang darinya.,
"Desta mana berniat merusak kerja sama kita dengan perusahaan milik Alexander ma?"
"Kau hanya perlu menyalahkan Key begitukan? Ayahmu sangat menyayangimu maka dari itu kau selalu melimpahkan segala kesalahanmu kepada Key,padahal yang salah adalah aku. Kenapa aku mau membesarkan kamu!"
Key merasa geram mendengar pembicaraan itu,selama ini ketika Desta meminta tolong padanya ternyata hanyalah jebakan semata. Key segera pergi dari sana,dia berpapasan dengan ayahnya tapi tidak menghiraukannya lalu Key pergi dengan mobilnya.
"Apa-apaan Key ini? Apakah dia memiliki masalah dengan ibunya lagi?"
Rendra segera berjalan menuju dapur,disana dia melihat istrinya sedang menangis sedangkan Desta terlihat meminta maaf kepada ibunya.
"Apa yang terjadi? Kenapa Key tiba-tiba pergi begitu saja,dan kalian ini kenapa? Apakah Key membuat masalah" Rendra mendekat kearah istri dan anaknya.
"Key? Dimana dia? Apakah dia barusan mendengar perdebatan kami?"
Dinda terlihat sedikit panik, sedangkan Desta terlihat sangat takut jika ibunya menceritakan semuanya.
"Apa yang kau katakan? Berdebat? Ada masalah apa?"
"Apakah kau tau? Kerja sama dengan perusahaan Alexander gagal gara-gara Desta anak kesayanganmu ini mabuk? Dia mengacau tadi siang dan berkata hal tidak jelas. Dan ya Key Van ini tidak ada sangkut pautnya dengan masalah kali ini."
Dinda bercerita sambil sesenggukan khas orang yang menangis.
"Apa! Berani sekali kau Desta?"
Rendra marah dengan Desta lalu menamparnya dengan sangat keras hingga tertinggal bekas merah dipipinya.
Plakkk
"Akh! Papa aku minta maaf,aku tidak sengaja dengan itu." Desta segera bersimpuh memohon maaf kepada Rendra.
"Kau pikir ini hanya hal sepele Desta! Kau tidak sengaja? Minum-minum hingga mabuk itu apakah juga tidak sengaja?"
"Sudahlah,besok kau perbaiki hasil kerjamu itu,aku ingin hasilnya saja ingat itu!"
"Baik pa."
Rendra mengajak Dinda pergi dari dapur meninggalkan Desta yang masih bersimpuh dilantai.
"Cih,aku tidak mau hidup seperti ini. Bagaimanapun aku adalah pemegang perusahaan mulai sekarang."
__ADS_1
Desta mengepalkan tangannya dan mulai berdiri dan pergi ke kamarnya.
*to be continued...