Vannesa Elvia

Vannesa Elvia
Keluar


__ADS_3

Kini Vannesa berada di ruang pasien seorang diri, Reza karena ada pasien yang harus di periksa pun pergi sedangkan Dio disuruh ibunya untuk pulang.


Vannesa menatap lekat pintu ruangannya,sejak memberikan resep obat Key sama sekali tidak kembali memeriksa Vannesa ataupun mengunjunginya. Vannesa teringat akan janjinya besok dengan Rio jadi ia harus bisa keluar dari rumah sakit sebelum sore tiba.


***


"Halo Vann kau sudah bangun?"


"Iya Key,aku sudah bangun."


"Maafkan aku kemarin sangat sibuk,ada orang yang sakit kanker dan tidak bisa aku tinggal."


Vannesa hanya mengangguk,ia tersenyum sambil memperhatikan Key yang mulai memeriksa kondisinya.


"Kondisimu sudah bagus,mungkin besok pagi kau bisa kembali."


"Tidak Key!"


Key mengernyit mendengar Vannesa, akhirnya Key memutuskan untuk duduk disebelah Vannesa dan mengesampingkan pekerjaannya.


"Kenapa?"


"Kau bilang aku sudah sembuh kan,aku bisa minum obat di markas Key. Kau lupa nanti sore aku ada janji dengan Rio,aku tidak bisa mengingkarinya Key."


Key tersenyum, Key mulai mengenal gadis cantik berdarah dingin itu. Meskipun ia belum lama mengenalnya dibandingkan dengan Hans tapi Key cukup faham dengan sifat-sifat Vannesa.


"Baiklah,tapi ya kau akan pulang setelah infusmu ini habis. Untuk biaya kemarin Dio sudah membayarnya lunas. Jadi kau tidak perlu khawatir nanti."

__ADS_1


"Eh benarkah?"


"Ya Vann,aku tidak pernah bohong tau." Key menyentuh jidat Vannesa dan mendorongnya pelan.


Vannesa hanya terkekeh mendapat perlakuan itu dari Key.


"Kalau nanti kau bertemu dengannya, sampaikan terimakasihku Key."


"Tentu saja."


Setelah setengah jam berbincang, Key pamit kepada Vannesa untuk kembali bekerja memeriksa kondisi pasien yang lain. Dan Vannesa akhirnya hanya tidur dan mungkin bergumam tidak jelas sampai beberapa jam kemudian.


Sesuai instruksi dari Key,pukul 1 siang akhirnya Vannesa diperbolehkan pulang. Ia dibantu oleh 2 orang suster melepaskan selang infusnya.


"Terimakasih banyak sudah membantu."


"Terimakasih."


Vannesa duduk di tepi brankar,ia memandangi punggung kedua perawat itu yang saat ini sudah menghilang dibalik pintu.


Vannesa tersenyum tipis lalu pergi ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya,lalu mengambil tasnya dan keluar ruangan. Tentunya tanpa mengabari Dio, Vannesa tidak kesulitan untuk keluar pasalnya ia tidak membawa baju ganti toh Key juga tidak membawakan baju ganti untuknya.


Vannesa berdiri didepan gerbang rumah sakit menunggu bus atau taksi lewat. Setelah beberapa menit terlihat sebuah taksi dan Vannesa memutuskan untuk menaiki itu,menuju ke daerah hutan bambu tentunya.


45 menit waktu yang dibutuhkan untuk menuju ke pinggir hutan, setelah Vannesa membayar ia segera berlari melewati segerombolan bambu yang sangat banyak, sampai akhirnya Vannesa sampai di markas.


Ceklek

__ADS_1


Brukk


"Astaga Vannesa kau mengagetkan aku! Dari mana kau semalaman?"


Vannesa yang tengkurap di kasur lantai yang ada diruangan tim black shadow itu enggan membuka matanya.


"Vannesa!"


"Astaga Galang iya! Aku ke apartemennya Key." Vannesa tidak mau mengatakan yang sebenarnya,bukannya ia takut dipandang lemah tapi ia hanya malas menjawab pertanyaan Galang nantinya, pastinya dia akan bertanya dengan rentetan pertanyaan yang banyak.


"Alah kebiasaan!" Galang menyentil kepala Enlfleda yang memang hanya terlihat rambut belakangnya itu.


"Aduh,sakit Lang!"


Vannesa mengelus kepalanya yang terasa sedikit sakit itu. Akhirnya ia bangun dari tempatnya.


"Dimana Rista?"


"Rista pergi,tidak tau kemana." Galang melanjutkan acara makannya yang sempat tertunda gara-gara Vannesa.


"Aku mau ke kamar ya."


"Terserah Vann,aku mana perduli."


"Hiss." Vannesa menoyor kepala Galang gemas.


"Aduh,sakit payah!"

__ADS_1


"Hahaha wleekk." Vannesa segera berlari kedalam kamarnya menghindari buku yang dilayangkan oleh Galang untuknya. Akhirnya buku itu hanya mengenai udara kosong.


__ADS_2