
Vannesa mengerjapkan matanya beberapa kali,ia menggeliat sebelum akhirnya duduk dan mengumpulkan nyawanya yang masih berceceran dimana-mana.
Vannesa menguap, seketika ia mengingat peristiwa malam hari sebelum ia tertidur."Hans? Apakah dia tau tentang informasi mengenai keluargaku?" Dengan tergesa-gesa Vannesa berlari menuju laptopnya dan memeriksanya.
"Sudah dipastikan dia tau." Ucapnya sembari menatap ke layar laptopnya yang menyala.
Vannesa tidak bisa menyalahkan Hans yang melihat data itu, lagipula Hans juga pastinya tidak sengaja melihat judulnya makanya segera membaca endingnya.
"Huft,lebih baik aku mandi."
Setelah Vannesa mandi ia segera keluar dari ruangannya dan mendapati Rista yang duduk sambil menonton film di tab miliknya.
"Oh kau sudah bangun? Ini bubur untukmu."
Sudah biasa bagi Rista dan Vannesa setiap paginya bergiliran memasak sarapan. Apabila Vannesa yang lebih dulu bangun ialah yang memasak begitupun sebaliknya,dan itu membuat hubungan mereka semakin baik.
"Terimakasih Rista. Ngomong-ngomong apa yang kau lihat?" Vannesa mengambil mangkuk berisi bubur itu dan mengintip sedikit apa yang dilihat oleh Rista.
"Hahaha,tidak ada hanya film anak tertukar saja. Hanya aku heran,kenapa bisa-bisanya anak tertukar ya."
Vannesa tertegun mendengar kata-kata Rista barusan,ia mengingat dimana dirinya disia-siakan dan orang tuanya memilih untuk mengadopsi seorang anak. Vannesa tersenyum pahit dan memakan bubur yang ada ditangannya.
"Itu siasat,mungkin ada hal lain dibaliknya." Jawab Vannesa sekenanya,dan diangguki oleh Rista yang masih setia menonton setiap adegan filmya.
Keheningan merajai suasana saat ini. Vannesa fokus menghabiskan buburnya sedangkan Rista yang juga sangat tumakninah menonton film itu yang terkadang dibuat emosi dengan sifat dan watak karakternya membuat Vannesa tertawa.
"Rista aku sudah selesai,aku akan mencuci mangkuknya."
"Ehh minum dulu air putihnya." Rista memberikan segelas air putih yang sudah sedari tadi ada dimeja tanpa Vannesa sentuh.
"Eh aku kira ini milikmu."
"Bukan,aku minum soda. Ini lihatlah." Vannesa menatap kaleng soda yang ada didepan Rista sembari mengangguk faham. Setelah itu Vannesa meminum air putih di gelas sampai tandas.
Vannesa beranjak dari kursinya dan membawa serta mangkuk dan gelas untuk dicuci. Selesai mencucinya Vannesa berniat untuk jalan-jalan keluar,namun tentunya ia tidak lupa mengenakan masker supaya tidak ada yang mengenalnya, apalagi dirinya dinyatakan mati oleh Desta yang tidak jelas itu.
"Rista,aku pamit akan jalan-jalan."
"Oke."
Vannesa segera keluar dari ruangan dan berjalan melewati lorong-lorong dan keluar dari hutan bambu dan rimbun itu.
Setelah sampai dijalan raya ia melihat sekeliling yang terlihat banyak sekali orang yang berlalu lalang dan sibuk dengan urusan mereka masing-masing.
__ADS_1
Vannesa memutuskan duduk dikursi taman yang terlihat senggang,ia melihat keramaian kota dipagi hari yang sangat padat. Belum lagi para karyawan yang berlalu lalang berjalan maupun bergerak dengan mobilnya,saling berlomba menuju tempat mereka bekerja.
"Permisi, bolehkah aku duduk disamping Anda?"
Mendengar itu Vannesa refleks menoleh dan mendapati seorang laki-laki yang masih muda yang mungkin usianya di atasnya sedang berdiri di dekat Vannesa sembari membawa koran dan segelas kopi ditangannya.
"Oh iya,duduk saja."
"Terimakasih."
Vannesa tersenyum, laki-laki itu juga langsung duduk disampingnya dan membuka-buka koran yang ia bawa sebelumnya. Vannesa yang tidak sengaja menatap salah satu judul di koran itu semakin memicingkan matanya.
"Eh maaf,bolehkah aku meminjam sebentar koranmu? Ada sesuatu yang menarik perhatianku." Ucap Vannesa kepada laki-laki itu.
"Oh iya ini silahkan." Vannesa menerima koran itu dengan seutas senyuman,yang dipastikan orang itu tidak melihatnya karena masker yang ia pakai.
Deg!
Bryan,salah seorang ceo muda di bidang mode mencari seorang gadis yang sampai saat ini tidak ditemukan. Menolak semua model cantik sampai mendapat kritik dari beberapa warganet!
Membaca artikel itu membuat pikiran Vannesa teringat janjinya yang menyetujui kerja samanya dengan Bryan bulan lalu. Bahkan Vannesa tidak menyangka dirinya akan dicari sampai seperti ini sekarang.
Laki-laki disamping Vannesa melihat Vannesa yang sedang melihat artikel itupun ikut membaca apa yang dibacanya.
"Hahaha,tidak usah terkejut begitu aku hanya bercanda. Dia memang sangat terkenal bahkan semua wanita juga sangat mendambakan dirinya,semua produk yang ia buat sangat laku dipasaran." Vannesa menatap wajah laki-laki itu menunggu dia melanjutkan ceritanya.
"Belakangan ini namanya semakin terkenal disini setelah dia mengumumkan akan menetap dikota ini. Produk yang pertama ia buat disini adalah dress mafia looks yang diklaim terinspirasi oleh seorang gadis yang sampai saat ini tidak diketahui siapa namanya. Dan produk itu sempat menjadi sorotan media,tapi dia tidak akan mengedarkannya sampai menemukan gadis itu,bahkan sudah banyak model yang mengajukan diri untuk mengenakan baju itu untuk iklan tapi dia tolak."
"Kenapa begitu?" Vannesa yang penasaran tidak bisa menyembunyikannya sehingga memaksanya untuk bertanya lagi.
"Tidak tau,mungkin gadis itu sangat istimewa baginya? Ya aku juga penasaran seperti apa rupanya sampai dia tidak memberikan kesempatan bagi yang lain." Laki-laki itu meminum kopinya,dan Vannesa mengangguk tanda mengerti,ia menatap kembali tulisan artikel yang tercetak tebak itu,dan segera mengembalikannya.
"Ah ini milikmu, terimakasih sudah meminjamkannya."
"Hahaha hanya koran,untukmu saja."
"Tidak usah,aku tidak terlalu suka membaca. Tadi aku pinjam karena tertarik dengan judulnya." Dusta Vannesa kepada laki-laki itu. Sebenarnya Vannesa suka membaca namun ia tidak enak harus menerima pemberian dari orang lain, lagipula bukannya dia tidak punya uang untuk membeli.
"Baiklah kalau begitu. Ngomong-ngomong namamu siapa?"
Vannesa menatap laki-laki itu yang juga sedang memperhatikan dirinya. "Aku Vannesa. Vannesa Elvia,kau sendiri?"
"Aku Dio,semoga saja kita bisa bertemu lain kali ya." Ramahnya sembari bersalaman dengan Vannesa.
__ADS_1
Vannesa terpaku beberapa saat ketika melihat senyuman Dio yang sangat mirip dengan seseorang. Namun ia segera tersadar dan menarik tangannya.
"Ah iya semoga. Aku ingin pergi duluan ya." Ucap Vannesa sembari berdiri dari kursinya.
"Tunggu dulu,maukah kau jalan-jalan denganku? Aku baru saja datang kemari 1 minggu yang lalu dan aku sudah lama tidak kemari membuat aku sedikit lupa jalanan disini."
Vannesa terlihat berpikir,ia menimbang tawaran yang diberikan oleh orang asing yang baru ia temui ini 'Sudahlah tidak masalah, lagian dia juga tidak kenal aku.' Pikirnya.
"Baiklah ayo,kau mau kemana?" Tanya Vannesa sambil menatap Dio yang berjalan kesampingnya.
"Terserah kau saja,aku akan ikut."
Akhirnya Vannesa memutuskan untuk mengajak Dio menyusuri jalanan yang ia lalui kini,dia juga sempat bercerita beberapa hal yang menurutnya menarik begitupun dengan Dio yang juga menceritakan tentang perjalanannya dan kegiatannya selama diluar kota selama ini.
Sampai ketika Vannesa merasakan pusing yang tidak biasa pada kepalanya,yang membuatnya berhenti berjalan dan memegangi kepalanya.
"Eh kamu kenapa? Apa kau sakit?" Tanya Dio kepada Vannesa.
"Tidak hanya pusing saja." Vannesa kembali berjalan namun naas pandangannya mejadi kabur dan perlahan kesadarannya juga menghilang, sampai ia kehilangan kesadarannya saat itu juga.
"Heh Vannesa kau kenapa? Astaga badannya panas sekali padahal tadi tidak."
Dengan cekatan ia menghubungi salah satu nomer diponselnya.
"Halo? Aku butuh bantuanmu segera,bawakan mobil dan jemput disini. Aku akan kirim lokasinya." Setelah itu Dio mengirim lokasi tempatnya berada kepada lawan bicaranya tadi.
Dio bersyukur Vannesa berbadan kecil dan sangat mudah menggendongnya kekursi taman yang panjang yang ada di sampingnya.
"Bertahan ya Vannesa,aku tidak tau itu kenapa." Ucap Dio cemas,ia menggosok-gosokkan tangannya pada punggung tangan Vannesa,berharap Vannesa akan bertahan dengan itu. Padahal entah itu efektif atau tidak,yang penting sudah berusaha.
Setelah 10 menit berlalu terlihat mobil berwarna hitam berhenti dipinggir jalan tempat Dio dan Vannesa berada, terlihat seseorang bergegas turun dari mobil dan menghampiri Dio.
"Ada masalah apa?"
"Dia pingsan,aku tidak tau kenapa dia bisa begini,ayo bawa ke rumah sakit."
Orang itu mengalihkan perhatiannya kepada sosok gadis yang ada di rengkuhan Dio,ia sedikit terkejut. Namun Dio segera menyadarkannya.
"Tunggu apa lagi? Ayo buka pintu mobilmu!"
"Oh iya iya."
Pria itu segera membuka pintu mobilnya dan Dio segera masuk dengan menggendong Vannesa ala bridal ke kursi belakang, Vannesa ditidurkan dengan paha Dio sebagai bantalnya.
__ADS_1
Pria itu segera pergi ke kursi pengemudi dan langsung melajukan mobilnya ke jalan raya dengan kecepatan yang lumayan tinggi, ikut berlomba dengan mobil-mobil yang lainnya.