Vannesa Elvia

Vannesa Elvia
Bertemu dengan Rio


__ADS_3

Kini Vannesa sudah siap dengan pakaiannya yang serba hitam,serta rambut yang tergerai tak lupa ia mengenakan cadar berwarna senada untuk menutupi wajahnya.


Vannesa juga membawa belati kesayangannya dan juga pistol untuk berjaga-jaga dari hal-hal yang mungkin terjadi diluar rencananya.


Vannesa meninggalkan markas,ia mengendarai sepeda motor milik Galang. Vannesa teramat malas untuk jalan kaki ataupun menggunakan jaket dan naik bus. Cukup menyita waktunya.


Butuh waktu kurang lebih 25 menit bagi Vannesa untuk sampai dilokasi,ia memarkirkan sepeda motornya disalah satu bangunan tua yang masih terlihat kokoh. Melirik jam dan berjalan-jalan ke sembarang arah.


"Rio belum datang? Tumben sekali." Gumamnya pelan.


***


Setelah 10 menit kedatangan Vannesa, akhirnya Rio sampai di lokasi dengan mobilnya. Memarkirkan mobil itu dan segera berjalan dengan sedikit cepat mencari keberadaan gadis yang sebelumnya telah membuat janji dengannya.


"Dimana dia? Apakah belum sampai?." Gumam Rio sembari melihat kondisi sekeliling.


Pluk!


Rio menoleh kebawah, terlihat sebuah biji pohon yang entah apa namanya menggelinding. Biji itu yang sebelumnya dilemparkan oleh seseorang kepadanya.


Rio menerawang tepat diantara pepohonan yang rindang, terlihat bayangan hitam yang berada di atas pohon, tertutup dedaunan pohon yang sangat lebat. Karena penasaran Rio akhirnya mendekati pohon itu.


Srekk... Srek


Suara gesekan dedaunan dipohon itu membuat Rio semakin penasaran, akhirnya ia sampai dibawah pohon yang ia tuju. Rio memicingkan matanya berharap bisa melihat dengan lebih jelas bayangan hitam itu.


Bruk!


Bayangan yang sebelumnya Rio lihat itu sudah lebih dulu turun,namun Rio belum bisa melihatnya dengan jelas karena cahaya lampu yang sangat terbatas, mengingat tempat itu sudah lama tidak berpenghuni.

__ADS_1


"Ku kira kau tidak ada nyali."


Rio mengenali suara perempuan yang saat ini mulai mendekat kearahnya. Rio melangkah kedepan untuk memastikan bahwa yang dipikirkan dirinya benar.


"Tidak mengenaliku?" Vannesa keluar dari tempat gelap,dan mendekat ke hadapan Rio dengan sedikit cahaya lampu disana terlihat lebih jelas.


"Aku minta maaf." Ucap Rio singkat.


Vannesa tersenyum miring mendengar suara yang sudah lama ia tunggu-tunggu. Vannesa berjalan menuju salah satu bangunan yang terlihat masih utuh dan diikuti oleh Rio dibelakangnya.


"Apakah kau sudah menemukan Vannesa? Dimana dia?"


"Tenang dulu,aku mau duduk disini. Kau tidak bisa ya lebih rileks?" Tanya Vannesa sembari mendudukkan dirinya dikursi kayu yang sedikit kotor.


"Apa kau tidak tau tentang Vannesa? Kau hanya mengulur waktu?"


Suara Rio terdengar sangat khawatir, Vannesa hanya bisa menghela nafas 'Bagaimana kalau kau tau jika Vannesa adalah aku?' Gumamnya dalam hati.


"Ck baiklah,ikuti aku."


Vannesa menyerah, akhirnya ia naik keatas motornya begitu pula dengan Rio yang segera masuk kedalam mobilnya. Keduanya meninggalkan tempat itu dan menuju ke bangunan tua pinggir kota. Tempat dimana ia dikeroyok orang bayaran Desta.


Motor dan mobil keduanya telah sampai di pinggir hutan tempat bangunan tua itu,mereka memarkirkannya disana dan berjalan menuju bangunan.


Rio menyimpan banyak sekali pertanyaan di benaknya,tapi rasa khawatirnya lebih besar daripada pertanyaannya ini.


"Sudah sampai." Ucap Vannesa kepada Rio ketika mereka sampai diarea bangunan tua itu.


"Sudah sampai? Dimana Vannesa?" Rio menerka-nerka apakah benar Vannesa dikuburkan disini atau yang lainnya. Tapi pikiran buruk Rio segera ia tepis,ia tidak mau berfikir yang buruk dengan Vannesa.

__ADS_1


"Aku akan ceritakan,apa kau siap?" Vannesa memutar tubuh hingga saat ini berhadapan dengan Rio. Dengan yakin Rio mengangguk cepat,ia ingin segera tau informasi mengenai Vannesa.


"Ck dasar. Vannesa malam itu pergi ke hutan ini,tepatnya di bangunan tua yang sudah mulai rusak ini. Disini ia dikeroyok oleh segerombol orang-orang bayaran yang dibayar oleh Desta. Disini juga ada Desta yang sebelumnya sudah membuat penawaran untuk Vannesa,supaya dia menikah denganmu. Tapi Vannesa menolak karena dia.... Mencintaimu."


"Setelah mendengar penolakan itu, Desta pergi dan menyuruh anak buahnya untuk menghabisi Vannesa. Setelahnya kabar mengenai ini semua tidak berlanjut,bahkan polisi juga tidak tau tentang tragedi malam itu."


Badan Rio melemas,ia luruh ketanah yang terdapat banyak sekali daun kering disana. Menatap dengan tatapan kosong, seakan tidak memiliki sesuatu lagi yang bisa ia perjuangkan.


Vannesa tentunya tau,ia faham dengan kondisi Rio. Ia faham kalau Rio memang sangat mencintainya. Vannesa tersenyum tipis dan mendongak menatap angkasa yang penuh dengan bintang.


"Tapi kau tidak perlu khawatir,mungkin saja Vannesa masih hidup. Aku tidak tau siapa yang membersihkan tkp ini tapi yang pasti menurut informasi yang aku dapat tidak ada mayat perempuan diantaranya."


Rio mendongak menatap wajah Vannesa yang terhalang oleh cadar,ada sedikit kelegaan dihatinya.


"Lalu dia dimana?"


"Huft,aku tidak tau. Adapun kalau dia masih selamat mungkin ingin mengurung diri dulu."


Rio tersenyum getir,mungkin Vannesa sedikit kecewa terhadapnya jadi ia menghilang.


"Tugasku sudah selesai aku akan pergi."


Baru saja Vannesa akan melangkah pergi, Rio memanggilnya lagi.


"Tunggu!"


Vannesa berhenti mendengar suara itu.


"Apa imbalan yang kau inginkan?"

__ADS_1


Vannesa tersenyum samar ia tetap melanjutkan langkahnya "Buatlah karma baik untuk dirimu,jangan seperti aku. Aku tidak butuh uangmu."


Rio tertegun mendengar jawaban yang terlontar dari mulut gadis yang kini mulai hilang di kegelapan malam itu. Berfikir tentang maksud yang ingin ia sampaikan.


__ADS_2