Vannesa Elvia

Vannesa Elvia
Pekerjaan baru


__ADS_3

Keesokan harinya


"Vannesa,yuhuuu kau bangunlahh." Suara teriakan itu seakan membuat gendang telinga Vannesa pecah.


Vannesa segera membuka pintu,dia ingin tau siapa manusia yang mengganggunya pagi-pagi sekali.


"Key Van!,kau berani sekali berteriak-teriak didepan pintu kostku!" Teriak Vannesa yang masih membawa boneka ditangannya.


"Ah itu,hahaha aku hanya ingin membangunkan mu itu supaya kau tidak datang terlambat untuk bekerja di tempat yang baru. Eheheh iya begitu." Jawab Key dengan gugup.


"Kau ini payah sekali ya,kau tidak memikirkan perasaan penghuni kost yang lain?"


"Tentu tidak,untuk apa? Mereka sudah bangun dari tadi,wleekk." Key menjulurkan lidahnya, sedangkan Vannesa merasa sangat kesal dengan Key.


"Key! Menjauhlah dari pandanganku. Atau aku bisa membunuhmu disini saat ini juga!" Ucap Vannesa sambil menahan emosinya.


"Iya kapten siappp,kau mandilah dulu yaaa." Key berlari menuju mobilnya yang diparkir di pinggir jalan dekat gerbang kost Vannesa.


"Huh dasar Key!" Vannesa segera masuk ke dalam kostnya untuk mengambil peralatan mandi miliknya.


"Bagaimana? Sekarang kau tau rasanya mengganggu macan tidur?" Tanya Hans yang berada di mobil Key.


"Iya hehehe,ternyata benar dia bisa se galak itu." Ucap Key sambil menyeka keringat di dahinya.


"Vannesa sudah mandi,kau benar akan mengantar dia ke tempat kerja barunya?"


"Tentu saja Hans,aku ingin tau dia bekerja dimana. Aku juga ingin mencarikan tempat tinggal baru dekat tempat kerjanya itu."


Hans menggeleng mendengar semua yang dikatakan oleh Key. Vannesa adalah orang yang keras kepala,dia bukannya orang penurut yang akan menuruti kemauan orang lain.


"Ayo Hans kita turun,kita lihat Vannesa sudah siap belum. Dia sudah didalam kost nya cukup lama." Key segera turun dari mobilnya.


"Terserah apa maumu." Hans hanya menurut saja kali ini.


Vannesa membuka pintu kost nya,dan melihat Key juga Hans sudah berdiri didepan pintunya.


"Ya ampun! Apa yang kalian lakukan disini? Kalian membuat aku terkejut." Vanessa terkejut dengan kehadiran mereka berdua.


"Aku hanya menuruti kemauan Key saja."


"Heh hanya aku? Iya baiklah,aku ingin mengantarmu ke tempat kerja baru dan mencarikan tempat tinggal baru untukmu." Key tersenyum manis kearah Vannesa bermaksud supaya Vannesa mau dibantu olehnya.


"Oh ya? Atas dasar apa aku harus menurutimu?" Vannesa mengunci pintu lalu berlalu meninggalkan mereka berdua.


"Apa? Hey kau kenapa tidak mau? Harusnya mau kan? Seperti awal kita bertemu kau juga mau."


Key mengejar langkah kaki Vannesa, sedangkan Hans dia duduk di kursi depan kost Vannesa. Melihat pertunjukan yang menarik baginya.


"Itu kan dulu. Sekarang kau tidak punya alasan apapun untuk membujukku Key. Sudahlah aku mau naik bus saja."

__ADS_1


"Vannesa Elvia aku mohon,ikutlahhh!" Key menarik tangan Vannesa seperti anak kecil. Hans yang melihat tingkah mereka tertawa sambil berjalan kearah mereka.


"Vann,ikutlah dengan kami,kau tidak kasihan terhadap Key?" Hans yang terdiam cukup lama akhirnya bersuara.


"Ya ya ya,yaaa kumohoonnn." Key menangkupkan kedua tangannya dan memohon kepada Vannesa.


"Huft,baiklah iya terserah kalian saja." Vannesa akhirnya menyerah dan kembali ke arah mobil Key terparkir.


"Nah begitu dong." Key berlari kecil mendahului Vannesa dan membukakan pintu depan mobil yang dekat dengan kursi pengemudi.


"Oh iya Hans kau.." Key melihat kearah Hans.


"Iya aku akan duduk dibelakang, lagipula hari ini kau juga akan mengantar aku ke kantorku."


Akhirnya mereka bertiga pergi ke tempat kerja Vannesa yang baru. Vanessa mengatakan harus pergi ke jalan yang mana.


"Key itu di depan, berhenti tepat di perusahaan itu."


"Hmm?" Key melihat kearah perusahaan yang dimaksud Vannesa.


"Sudah ya Key dan Hans,aku pergi bekerja dulu. Kalian hati-hatilah."


Vannesa turun dari mobil, sedangkan Key dan Hans ikut turun. Mereka terkejut dengan sebuah papan nama yang mereka lihat di perusahaan itu.


"Apa ini hanya aku yang salah lihat Hans?" Tanya Key tanpa menoleh pada Hans.


"Jadi maksud Vannesa tempat kerja baru adalah Bigantara Grub? Apakah dia gila! Banyak yang tidak bisa masuk dan dia? Dia sangat mudah masuk. Hebat sekali. Hey Vann nanti pulang aku jemput!" Key berteriak kearah Vannesa.


Vannesa yang sudah sedikit jauh,hanya mengangguk.


"Hey kau cepatlah,aku juga harus ke kantor." Ucap Hans dingin.


"Oh iya baiklah kita ke kantor." Key segera masuk ke dalam mobil lalu melajukan mobilnya.



Vannesa berjalan kearah lobby dia bertanya beberapa hal disana dan akhirnya disuruh untuk menunggu di kursi tamu.


Vannesa merasa suasana disini berbeda dengan suasana Adinata Grup,para karyawan disini kebanyakan adalah laki-laki dan perempuan yang bekerja juga tidak se heboh di perusahaan dia dulu. Mereka semua terlihat sangat profesional.


"Selamat pagi pak." Vannesa melihat kearah datangnya suara,itu adalah sapaan dari karyawan untuk ceo yang baru datang. Tunggu itu bukan Rio,tapi Rian. Vannesa melihat kearahnya dan dia menuju kemari.


"Hay Vannesa,kau sudah lama?" Rian menyapa Vannesa.


"Emm Rian? Tidak terlalu lama juga."


Rian ikut duduk di sebelah Vannesa.


"Iya aku Rian,aku sengaja datang kemari untuk melihatmu." Jawab Rian sambil melihat ke wajah Vannesa.

__ADS_1


"Oh begitu ya." Vannesa merasa canggung saat itu.


"Ehem,sudah mengobrolnya? Kita keruanganku sekarang." Rio yang datangnya tiba-tiba membuat Vannesa terkejut. Akhirnya Vannesa dan Rian mengikuti Rio dari belakang


"Tidak usah takut,dia tidak makan manusia." Rian menenangkan Vannesa. Tapi Vannesa tidak takut hanya merasa kesal saja.


Mereka naik lift menuju ke lantai paling atas,itu adalah ruangan Rio. Sesampainya disana hanya ada 5 karyawan,mereka adalah sekretaris dan juga beberapa karyawan dari divisi bagian penting. Merekapun masuk ke ruangan Rio.


"Kau benar-benar datang,itu artinya kau setuju untuk bergabung dengan perusahaan ini."


Vannesa duduk berhadapan dengan Rio saat ini, sedangkan Rian duduk di sofa.


"Iya saya setuju."


"Kau tau posisimu? Kau akan menjadi kepala bagian administrasi umum 2. Tapi perlu kau garis bawahi itu hanya identitas sementara,ketika ada meeting kau akan ikut dan bertugas menjadi sekretarisku."


Rian yang mendengar kata-kata Rio menahan tawanya. Tidak disangka selama bertahun-tahun akhirnya secara tidak langsung Rio mengangkat sekretaris perempuan.


"Apa sekretaris? Tapi itu bukannya berlebihan?" Vannesa memang akan kewalahan nantinya dalam posisi itu.


"Sekali lagi saya tekankan. Saya tidak suka penolakan,lagipula jurusan kuliahmu sesuai dengan posisi ini. Baiklah ruang kerjamu ada di sebelahku,silahkan pergi." Rio langsung melihat ke arah dokumen yang ada dimeja kerjanya. Dan mengabaikan kedua orang yang ada di ruangannya saat ini.


"Baik pak,saya undur diri." Vannesa menahan emosinya,rasanya dia ingin sekali menancapkan belati kesayangannya ke jantung atasan barunya ini.


Vannesa keluar dari ruangan Rio dan pergi ke sebelah menuju ruangannya sendiri.


"Wah Rio langkah pendekatan yang bagus." Ucap Rian sambil minum air putih yang tersedia.


"Ck bukan urusanmu. Kalau tidak ada hal lain pergilah,aku masih ada urusan."


Rio memang sangat suka mengusir Rian dari ruangannya. Rian hanya menurut saja keluar dari sana.


Vannesa bergumam didalam ruangan kerjanya,ruang itu memang dekat dengan ruangan milik Rio, disebelahnya memang diberi sekat kaca yang membatasi dia dengan kepala adminstrasi umum satunya.


"Apa-apaan itu? Sama saja kau menjadikan aku sekretaris ya pak CEO. Orang-orang akan mengira demikian." Saking fokusnya Vannesa membereskan meja dia tidak sadar akan kedatangan Rian.


"Halo Vanny perlu bantuan?" Ucap Rian kepada Vannesa.


"Ha? Rian tidak perlu,aku bisa sendiri."


"Aku tau,kau akan terbiasa disini Vann,ruangan ini luas dan rapi juga kedap suara,kalau kau kurang nyaman dengan sekat kaca kau bisa meminta Rio menukarnya dengan yang lain." Rian duduk dikursi yang ada disana.


"Tidak Rian, ini sudah cukup bagiku." Vannesa tersenyum padanya.


"Umm baiklah,aku akan pamit pergi Vanny. Cafe ku menungguku, semoga kamu betah disini ya."


"Terimakasih Rian, hati-hati dijalan."


Rian meninggalkan ruangan Vannesa,sebelum pergi Rian tersenyum sekilas. Vannesa cukup beruntung kali ini bekerja di kantor yang 80% privasinya aman,20% sisanya bisa ditebak kaca itu tembus pandang tentunya bisa melihat hal apa yang dilakukan. Tapi setidaknya kedap suara,artinya tidak bisa di dengar kan?

__ADS_1


__ADS_2