Vannesa Elvia

Vannesa Elvia
Double Date


__ADS_3

Mobil Mercedes Benz menembus ramainya jalan saat ini. Berlomba-lomba satu sama lain menuju tujuan mereka,ditengah panasnya terik matahari dan padatnya lalu lintas membuat pemilik mobil jengah.


Vannesa yang menyadari akan hal itu segera menenangkan dirinya. "Sudahlah tidak usah begitu,perlahan saja nyetirnya. Nanti juga sampai." Rio mengabaikan nasehat Vannesa,namun Vannesa tidak menyerah menasehati Rio.


"Apa kau tau? Mereka semua juga punya tujuan mereka sendiri-sendiri,kalau mereka egois seperti dirimu mereka selalu menginginkan jalanan ini longgar pasti dunia ini sudah tidak ada orang baik lagi."


"Apa maksudmu?" Rio kini memelankan laju mobilnya.


"Pikirkan saja, seandainya mereka ingin jalanan ini longgar. Apa yang akan mereka lakukan? Menyabotase seluruh pengguna jalan lain? Atau membeli jalanan ini? Hahaha sudah dipastikan mereka adalah orang tamak dan egois,bukannya baik."


Rio mendengarkan kata-kata Vannesa dengan serius, seperti mendengarkan ibunya sendiri.


"Bagaimanapun manusia memiliki ambisi. Bahkan monster juga punya ambisi yang kuat untuk mencari makanan. Apa kau tidak?"


Ucapan Rio membuat Vannesa tercekat,benar jika manusia memang selalu punya ambisi bahkan ambisinya sendiri lebih menakutkan dibandingkan ambisi Rio.


"Kau diam,apakah tau salah?" Tambah Rio.


"Aku hanya memikirkan manusia dengan segala ambisi mereka. Aku punya ambisi,kau benar semua punya ambisi."


Jawaban itu mengakhiri percakapan mereka didalam mobil saat ini. Mereka bermonolog dipikiran masing-masing, berdebat dan menyangkal hal-hal yang mereka asumsikan sendiri.


Sebagian besar orang tidak bisa diajak bercanda bahkan hanya memikirkan sesuatu yang terasa real di dunia ini. Dan sebagian besar juga terdiri dari sekumpulan orang yang suka bercanda,menganggap kehidupan di dunia hanyalah sebuah panggung sandiwara. Vannesa tersenyum pahit memikirkan kata kehidupan,dan ambisi.


Mercedes Benz itu sudah terparkir rapi di parkiran mobil dekat dengan mobil sport milik Key. Sedang pemiliknya sudah pergi meninggalkan mobilnya disana.


"Perjalanan tadi melelahkan, sebaiknya kita segera ke lokasi menikmati sunset disana." Key sedikit berjinjit untuk melemaskan otot kakinya yang terasa pegal.


"Iya kau benar." Hera berjalan beriringan dengan Key, diikuti Vannesa dan Rio yang juga berjalan beriringan.


Ekor mata Vannesa melirik sebuah toko kecil yang berjualan manik-manik yang terlihat indah. Rio yang menyadari hal itu segera mengajak Vannesa kesana.


"Kalian duluan saja,aku akan pergi sebentar."


"Oh baiklah,kami akan tunggu didekat pohon ketapang itu." Ucap Key sembari menunjuk salah satu pohon ketapang.


Rio menggiring Vannesa menuju toko aksesoris yang tadinya Vannesa lirik.


"Rio kita mau kemana?"


"Ikut saja."


Vannesa menghela nafas, sepertinya mafia yang satu ini tidak bisa menolak bahkan membantah perkataan Rio sama sekali.


Mereka berhenti didepan toko aksesoris, sedangkan Vannesa melihat Rio bingung.


"Apa yang-"


"Pilihlah sesukamu,aku bisa menunggu."


Mendengar itu Vannesa mengangguk ia melihat manik-manik yang berjejer disana dengan rapi. Pandangan Vannesa tertuju pada sepasang gelang yang terlihat sangat indah baginya. Terdapat pahatan kayu kecil dengan pola love dikedua gelang jika digabungkan jadi satu, ditambah beberapa batu dengan warna senada membuat gelang itu terlihat sangat indah.


Rio melihat Vannesa yang memperhatikan gelang itu dengan sangat teliti,menyadari itu Vannesa mendongak menatap wajah Rio yang memang lebih tinggi darinya.


"Kau suka? Kalau suka ambil lah. Aku akan membayarnya."

__ADS_1


Vannesa akan menolak,tapi Rio tetap bersikeras membelikan Vannesa. Akhirnya Vannesa menyerah terhadap Rio.


"Terimakasih sudah membeli gelang ini,gelang itu hanya dibuat satu pasang setiap serinya,tidak ada yang menyamai setiap motif yang ada pada mereka. Kalian adalah sepasang kekasih yang sangat beruntung." Ucap penjual tua itu ramah.


Vannesa dan Rio saling tatap, mereka bukanlah sepasang kekasih. Apakah mereka terlihat seperti sepasang kekasih sehingga memunculkan dugaan seperti itu pada orang lain yang melihat mereka?.


Menyadari kemungkinan yang sama mereka segera menjauh menciptakan jarak yang cukup jauh. Mereka berjalan beriringan masih dengan jarak yang mereka ciptakan.


Hembusan angin yang cukup kuat membuat rambut Vannesa yang terurai menjadi berantakan, disaat yang sama Rio mendekat untuk merapikan surai rambut Vannesa yang menutupi wajah cantiknya.


Pandangan mereka bertemu,membuat jarak yang mereka ciptakan terkikis. Rio terpesona melihat paras Vannesa yang sangat cantik dari dekat. Sedang Vannesa melihat Rio yang sangat tenang dan juga sangat berkharisma,tak ayal banyak wanita yang menyukai sosok Rio ini.


"Wooyyyy"


Teriakan itu membuat Rio dan Vannesa tersadar dari lamunan mereka,mereka segera menjauh dan berjalan kembali menuju tujuan awal mereka.


"Kalian lama sekali,dari mana sih?" Key menyilangkan tangan di dada dengan tatapan kesal.


"Kau begitu kepo kepada urusan orang lain. Lihat yang penting kita sudah disini." Ketus Vannesa,ia berjalan melewati Key dan dengan sengaja menyenggol tubuh Key.


"Aduh aduh,baiklah terserahhhh." Key menyerah,dia lebih baik tidak berdebat dengan wanita saat ini.


"Vann lihat matahari itu sangat indah." Hera menunjuk matahari yang mulai terbenam menuju singgasana miliknya.


"Terlihat indah sekali."


"Sepertimu." Ucap Rio pelan, Vannesa mendengarnya namun ia ragu apakah pujian itu ditunjukkan padanya atau bukan.


Hari semakin malam ditambah lagi suasana disana terasa sangat dingin. Ke empat orang itu memutuskan untuk makan malam terlebih dahulu sebelum pulang.


"Restoran ini tempatnya bagus,kenapa tidak banyak orang yang datang?" Key menatap keadaan sekitar,juga tidak ditemukan sesuatu yang janggal.


"Saingan bisnis." Jawab Rio singkat.


"Apa?"


"Disekitar sini banyak resto dan cafe, orang-orang menjadi bingung memilih tempat yang akan mereka kunjungi."


"Benar juga ya."


Vannesa sedari tadi menatap layar ponselnya,dan itu membuat Rio merasa terganggu.


"Apakah dia benar-benar penting bagimu?"


"Apa? Oh,aku baru saja menatapnya. Apakah salah?"


"Kau tidak salah dalam imajinasimu sendiri."


Vannesa mendongak,ia menatap jauh kedepan,ia tidak menjawab kata-kata Rio. Dingin,itulah yang Hera dan Key rasakan saat ini, seketika atmosfer ruangan yang tadinya hangat berubah drastis.


Hidangan yang mereka pesan kini telah datang,mereka menyantapnya dengan lahap. Tidak ada obrolan diantara mereka. Sampai ketika mereka menyelesaikan makan.


"Aku akan membayar." Rio segera berdiri dan pergi menuju kasir.


"Tunggu aku ikut,aku ingin ke kamar mandi." Key berjalan sedikit cepat berusaha menjajarkan langkahnya dengan Rio.

__ADS_1


Hera melihat Vannesa dan bersiap ingin mengajukan pertanyaan.


"Tidak usah. Aku tau yang akan kau katakan." Vannesa memotong cepat sebelum Hera bertanya. Hera ingin bertanya lagi namun kejadian yang sama terulang kembali.


"Tentu saja aku tau. Huft,aku tidak ada hubungan dengan Rio sungguh. Dan tadi dia menemani aku membeli sebuah manik-manik,tidak lebih."


Hera tersenyum mendengar itu,ia menaik turunkan alisnya berkali-kali.


"Kau ini mau bicara apa? Kau pikir aku bisa membaca pikiranmu ha?"


"Wahh kau payahh,barusan kau bisa tau apa yang akan aku bicarakan,sekarang tidak bisa? Apakah ilmumu sudah hilang begitu saja?"


"Ilmu apaan ih,tidak jelas."


Vannesa menempelkan wajahnya kemeja,dengan dua tangan yang dilipat sebagai penyangganya.


Hera tertawa puas melihat Vannesa yang terlihat sangat lucu ketika sebal.


Setelah 10 menit dua laki-laki yang tadi pergi akhirnya kembali,dan juga dalam waktu yang bersamaan,membuat Hera heran.


"Key habis ngapain sih kok bisa barengan gitu datangnya?"


"Udah dibilang dari kamar mandi,terus habis dari kasir tadi dia juga ikut kesana." Jelasnya kepada Hera, sedangkan Hera hanya ber oh ria.


"Kalau sudah kita pulang." Ajak Rio kepada ketiganya,hanya saja tidak terdengar sautan dari Vannesa. Rio sedikit cemas dengan keadaan Vannesa.


"Aduh jangan bilang ni anak pingsan." Key segera memeriksa tekanan darah Vannesa dan berusaha mengangkat kepala Vannesa.


"Aih Rio,dia tertidur." Ucap Key sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Ah bagaimana bisa? Aku akan bangunkan dia." Hera mendekat kearah Vannesa berniat ingin membangunkan Vannesa.


"Tidak perlu,aku akan menggendongnya." Hera dan Key terkejut mendengar pernyataan dari Rio ini,mereka khawatir jika Rio justru akan ngamuk ataupun takut nantinya karena penyakitnya.


Rio juga terlihat ragu ketika akan menggendong Vannesa,namun ia membulatkan tekadnya. Hera dan Key melihatnya dengan tatapan horor sekaligus was-was.


Rio menggendong Vannesa dengan bridal style, dan mulai berjalan keluar dari restoran itu. Hera dan Key saling pandang sebelum akhirnya mengikuti keduanya.


"Bagaimana keadaanmu Rio,kau baik?" Entah sudah berapa kali Key menanyakan pertanyaan yang sama kepada Rio,dan juga kesekian kalinya Rio menjawab bahwa ia baik-baik saja.


"Tidak usah khawatir, kau antar Hera untuk pulang,aku akan membawanya." Ucapan Rio tidak terlalu dipahami oleh Key,yang ia pikirkan adalah Vannesa akan sampai dirumah dengan aman.


Key membukakan pintu mobil untuk Rio,dan Rio meletakan Vannesa dengan perlahan dikursi. Setelah itu mereka bertiga masuk kedalam mobil masing-masing dan melaju ke tujuan masing-masing.


***


Seorang wanita paruh baya sibuk mondar mandir didepan rumahnya,sudah larut malam dan putranya belum juga sampai dikediaman.


Seorang maid wanita yang juga terlihat seumuran mendekat kearahnya "Nyonya,ini sudah larut dan Anda tidak istirahat? Saya temani Anda ke dalam nyonya." Bujuknya


"Tidak,aku akan menunggu anakku. Ponselnya tidak bisa dihubungi, padahal sudah sam segini."


Terlihat sebuah lampu mobil mendekat kearah gerbang mansion,ketika gerbang dibuka dapat terlihat dengan jelas jika itu adalah mobil milik Rio yang selama ini ia tunggu.


Terlihat senyuman yang hangat menghiasi wajahnya yang mulai berkerut,mobil Rio mendekat kearah tangga mansion,membuat ibu dan maidnya merasa sedikit heran. Rio turun dari mobil dan membuka pintu.

__ADS_1


"Rio ini?"


__ADS_2