Vannesa Elvia

Vannesa Elvia
Keanehan yang nyata


__ADS_3

Vannesa merebahkan tubuhnya dikasur,rambutnya yang masih basah dibalutnya dengan handuk supaya cepat kering.


Vannesa tersenyum melihat notif yang muncul di ponselnya,ia segera bersiap-siap lalu duduk di ruang utama.


Tok tok tok


Vannesa membuka pintu memperlihatkan Key yang sudah siap disana.


***


"Ada apa Vann? Kau terlihat sedih?" Key bertanya tanpa menoleh ke arah Vannesa.


"Aku tidak tau,aku tidak paham dengan diriku sendiri."


"Emm, ceritalah. Tapi kalau tidak mau aku tidak memaksa."


"Aku ingin mengundurkan diri dari Bigantara Grub dan fokus berlatih di markas."


Key tersentak,ia menghentikan mobilnya dan menatap Vannesa dengan serius.


"Apa maksudmu Vann? Apakah kau akan menjauh dari Rio? Kau tau kan kalau Rio suka padamu?"


"Aku tidak tau. Aku hanya tidak ingin Rio jadi incaran seperti Laksmi dulu Key. Lagipula aku juga ingin cepat menemukan Laksmi Key."


Key menghela nafas dilihatnya Vannesa yang terlihat sedih, tentu Key tau jika Vannesa sedang tidak baik-baik saja,tanpa buang-buang waktu ia melajukan mobilnya lagi.


Threenity Headquarters


"Hans,kau sendiri? Dimana yang lain?"


"Yang lain sedang ada misi."


"Misi? Kenapa sekarang kalau ada misi tidak mengajak kita bertiga?"


Hans menatap Vannesa dan juga Key bergantian,ia mendekat dan berbicara secara perlahan.


"Aku tidak tau kenapa. Tapi ini semua perintah komandan, aku yang dari tadi disini saja tidak diperintahkan."


"Eh? Kenapa sekarang sangat aneh begini."

__ADS_1


Vannesa selalu ingat kalau mereka terpencar dan ada tugas yang harus dikerjakan maka akan dihubungi oleh komandan atau rekan tim. Tapi saat ini tidak, entah ada masalah apa.


"Haloo,kalian sudah lama menunggu kami?" Semuanya menoleh kearah pintu,terlihat Rista, Rendi dan Galang masuk. Mereka terlihat sangat kelelahan.


"Kalian lama sekali, apakah lancar?"


"Lancar sih lancar bro. Tapi memakan waktu lama,entah kenapa komandan melarang kami bersama dengan kalian."


Galang menggeleng dan merebahkan tubuhnya.


"Apakah ada masalah dengan komandan sampai kita tidak dibolehkan ikut?"


"Mungkin komandan hanya mengetes mental kami bertiga,selama ini kalian kan hebat."


Key dan Vannesa saling pandang mendengar jawaban dari Rista,karena Key lah yang seharusnya diuji dan diberi misi karena dia orang baru.


"Tidak setuju, bagaimanapun juga aku anak baru disini. Seharusnya aku yang diuji bukan kalian."


"Key benar. Mungkin ada alasan lain komandan memberikan tugas ini pada kami." Galang ikut berfikir dengan mereka,tetapi Rista hanya mengendikkan bahu dan memilih pergi.


"Apakah kalian ada merasa curiga dengan Rista? Daritadi sepertinya aneh." Kini Vannesa sependapat dengan Rendi barusan, Rista tidak seperti biasanya.


Vannesa bangkit dari duduknya dan keluar hendak mengikuti Rista. Ketika keluar dari ruangan, Vannesa melihat Rista pergi ke arah kanan,ia mengikutinya terus sampai pada akhirnya Rista pergi ke ruangan obat dan ketika Vannesa ingin mendekat ia bertemu dengan Silya.


"Yo,kau ada disini? Sepertinya kau sedang mengikuti seseorang ya. Mengendap-endap seperti maling."


Vannesa menepuk jidatnya karena Silya tidak bisa menjaga omongannya sama sekali.


"Silya kenapa aku selalu bertemu denganmu,dasar payah."


"Ck sudahlah kau yang payah."


Silya pergi menuju ke ruang obat,setelah beberapa saat Silya sudah keluar sedangkan Rista tidak kunjung keluar.


"Kau sebenarnya mau apa sih? Siapa yang kau tunggu?"


"Diamlah bukan urusanmu."


Karena Vannesa merasa jengkel akhirnya ia memutuskan untuk kembali keruangannya bergabung dengan teman-temannya. Sesampainya di ruangan Vannesa terkejut melihat Rista yang sudah ada disana, Vannesa mengernyit heran bagaimana cara Rista keluar dari sana tanpa sepengetahuan Vannesa. Setaunya pintu keluarnya hanya ada satu.

__ADS_1


"Vannesa kenapa melamun? Ini aku punya air minum,minumlah." Rista memberikan gelas berisi air putih itu kepada Vannesa.


"Terimakasih." Vannesa segera meminumnya sampai habis,ia lalu menatap Hans yang sibuk dengan laptopnya.


"Hans kau sedang mengerjakan apa?"


"Huh,aku ini agak bingung dengan perusahaan kakaknya Key. Terlihat membingungkan." Key yang merasa namanya dipanggil segera mendekat kesamping Hans dan melihat ke laptopnya.


"Heh memang otak kakakku itu ada yang aneh Hans, makanya laporannya jadi aneh begini hahaha." Key justru menertawakan perusahaan keluarganya sendiri saat ini. Mungkin yang aneh adalah Key karena malah menertawakan perusahaan keluarganya sendiri.


Galang menggeleng, mendengar respons Key "Key sekecewa itukah kau sampai perusahaan keluarganya sendiri ada masalah tapi justru ditertawakan?"


"Iya aku kecewa,aku tidak dianggap ada oleh keluargaku bahkan mereka saja tidak ada yang tau pekerjaanku saat ini apa. Galang apakah kau tau? Semua aset yang aku pakai adalah kebaikan keluarga Bigantara padaku,dan juga hasil kerja kerasku,bukan dari orang tuaku." Fakta itu yang membuat Vannesa tercengang. Tidak hanya Vannesa tapi yang lainnya pun juga kaget mendengar pengakuan Key tadi.


"Ck sudahlah,kalian tidak mengerti." Key tersenyum pahit,dan bahunya ditepuk pelan oleh Hans.


Vannesa merasa sedikit pusing, bahkan pandangannya sedikit buram waktu itu. Key yang menyadari kondisi Vannesa segera mendekati Vannesa, setelah itu gelap. Vannesa tidak bisa melihat apapun.


***


Vannesa membuka matanya, tercium aroma obat-obatan yang begitu menyeruak. Dapat Vannesa tebak kalau dirinya berada di ruang pemulihan.


"Vann,kau sudah bangun?" Suara Key membuat Vannesa segera menoleh kearahnya, Vannesa tersenyum dan mengangguk kepala.


"Syukurlah kalau begitu,tenanglah kau tidak apa-apa,kau hanya harus bertambah kuat maka semua akan baik-baik saja."


Vannesa sedikit bingung dengan ucapan Key, ucapan itu terasa menyimpan sebuah rahasia didalamnya. Ungkapan yang aneh.


"Dimana yang lainnya?" Vannesa melihat sekeliling dan tidak menemukan teman-temannya sama sekali,hanya ada Key.


"Hans tadi disini,tapi ditelfon ayahnya dan segera pulang,Galang dan Rendi mereka hanya melihat kondisimu tadi,lalu kembali keruangan."


"Rista? Dimana dia?"


Vannesa melihat Key yang sedikit ragu untuk mengatakannya kepada Vannesa. Dan entah ada rahasia apa.


"Rista dicari oleh komandan."


Vannesa mengernyit,kenapa Rista dicari oleh komandan? Biasanya tidak. Keanehan hari ini cukup nyata bagi Vannesa.

__ADS_1


__ADS_2