
BRAK!
Suara meja yang dipukul itu menggema di seluruh ruangan, ruangan dengan cahaya remang-remang itu hanya ditempati oleh 8 orang saja.
Melihat wajah setiap orang yang hadir terlihat jelas salah satu diantara mereka sangat marah, sedangkan yang lainnya harap-harap cemas dengan keadaan saat ini.
"KAU PIKIRKAN INI BAIK-BAIK VANNESA! KARENA KAU MISI KALI INI GAGAL! Bagaimana mungkin ini bisa terjadi?" Lagi-lagi suara keras itu memenuhi ruangan,dan tersangka kali ini adalah Vannesa.
Vannesa telah gagal menjalankan tugas sebelumnya,dan komandan yang mendapat informasi kekalahan Vannesa menjadi sangat marah dan memanggil seluruh anggota tim black shadow ke ruangannya.
Sebenarnya ini kegagalan pertama bagi Vannesa selama ia bergabung di organisasi itu. Dan benar kata orang-orang jika satu kesalahan dapat menghapus semua kebaikan ataupun jasa yang pernah mereka perbuat. Dan kini Vannesa mengalaminya.
Meskipun Vannesa ingin dan bisa saja berontak,tapi ia tidak melakukannya karena ia sangat menghormati atasannya,pun jika mereka harus dihukum maka Hans dan Key lah yang harus melaksanakan hukuman ini,karena mereka tidak ikut bertugas.
1 jam telah berlalu,karena kesalahan Hans Key itu mereka berdua harus dihukum, sedangkan Vannesa di nonaktifkan selama 1 minggu. Tanpa tugas,tanpa latihan dan itu membuat Vannesa sangat frustasi.
Mereka ber enam keluar dari ruang komandan dengan ekspresi yang tidak bisa diartikan,hanya Vannesa lah yang menurut sebagian orang masih ber ekspresi normal. Tanpa senyuman dan datar seperti biasanya.
"Vannesa,aku minta maaf karena aku tidak bersama denganmu jadi kamu gagal di misi ini." Ucap Rendi penuh penyesalan pada saat mereka sampai di ruangan mereka.
"Ya Vann,kami juga minta maaf. Tapi setidaknya kau bisa hubungi kami lebih dulu kan sebelum bertindak?" Ucap Key sembari menatap Vannesa.
Melihat Vannesa yang tidak menjawab mereka, membuat mereka semakin merasa bersalah kepada Vannesa.
Hans akhirnya memutuskan untuk memegang bahu Vannesa "Vannesa?"
__ADS_1
"Kalian tidak bersalah,aku yang ceroboh. Aku permisi." Setelah mengatakan itu Vannesa berlalu keluar dari ruangan. Ketika Key ingin menyusul langkah Vannesa, Rista mencegahnya dan menggeleng.
Semua tau kalau pikiran Vannesa kacau saat ini,beruntung semua anggota threenity tidak tau tentang kegagalan Vannesa. Meskipun mereka tau itupun bukan masalah yang besar bagi Vannesa, kesalahan pertama setelah bergabung dengan tim selama 11 tahun merupakan sesuatu yang langka,bahkan tidak ada yang bisa memecahkan rekor Vannesa saat ini.
Vannesa berjalan dengan santai melewati lorong demi lorong di markas itu,tetap mengangguk ketika beberapa orang bertegur sapa dengannya. Vannesa berjalan keluar dari markas dan menuju ke hutan bambu yang sering ia kunjungi. Disana meskipun hanya ditemani oleh cahaya rembulan yang remang-remang namun menurut Vannesa itu sudah lebih dari cukup.
Tempat dimana jauh dari keramaian dan hingar-bingar kota,serta jauh dari markas. Disinilah ia bisa mendapat ketenangan, merenung dan berpikir dengan jernih.
Srek
Srek
Vannesa memutar bola dan mengambil pistol yang terus bertengger di pinggang ramping kanannya, mengacungkan kearah suara tersebut berasal.
Vannesa mengenal siapa pemilik suara itu,ia menarik salah satu sudut bibirnya dan menurunkan pistol juga menaruhnya ke tempatnya lagi.
"Ada apa?" Tanya Vannesa singkat.
"Nih,jus strawberry. Apa ada masalah lagi?" Tanya gadis yang tak lain adalah Lisa. Ia memberikan gelas plastik berisi jus strawberry kepada Vannesa,dan dengan cepat Vannesa mengambil jus itu dari tangan Lisa.
"Thanks Lis." Vannesa meminum jus itu dengan sedotan dan melihat kearah Lisa yang mengangguk, Lisa meminum kopi disebelahnya.
"Misi ku gagal." Mendengar pengakuan Vannesa, Lisa melotot ia terkejut dengan apa yang barusan ia dengar.
"Apa maksudmu gagal Vann?" Tanya Lisa dengan suara sedikit meninggi.
__ADS_1
"Ck biasa saja! Suaramu membuat gendang telinga sakit!" Mendengar itu Lisa menggaruk kepalanya dan meringis.
"Maaf Vann,aku terkejut mendengar itu."
"Ya tidak masalah. Pengedar narkoba itu ketika aku sampai di kamarnya ia sudah tewas dan ruangannya penuh dengan bercak darah. Entah kenapa dia,siapa yang membunuhnya." Jelas Vannesa kepada Lisa.
Lisa yang mendengar itu, terlihat berfikir. Baru kali ini ia mendengar kasus yang janggal seperti itu,biasanya sebelum tugas diberikan maka mereka akan memeriksa semua hal yang berkaitan dengan mangsanya,namun kali ini berbeda. Seperti telah direncanakan seseorang.
"Aku merasa ini sudah direncanakan sebelumnya Lisa. Kalau tebakan ku benar untuk tugas berikutnya aku akan dijebak lagi, kemungkinan komandan memberikan 1 tugas kepada 2 tim yang berbeda." Ucap Vannesa sembari meminum kembali jus strawberry miliknya.
Lisa menatap wajah Vannesa yang tidak terlalu jelas karena keterbatasan cahaya disana "Darimana kau bisa menyimpulkan itu?" Tanya Lisa kepada Vannesa.
"Karena aku,hanya menebak saja." Jawab Vannesa asal.
Lisa berdecak mendengar jawaban Vannesa yang sangat ambigu itu. Ia fikir Vannesa serius dengan apa yang ia katakan,tapi nyatanya Vannesa hanya menebak saja.
"Vannesa, Lisa?"
Vannesa dan Lisa yang mendengar namanya dipanggil menoleh kebelakang. Mereka melihat bayangan seorang gadis berjalan mendekat kearah mereka,dan Vannesa sudah bisa menebak siapa dia.
"Silya!"
"Ikut aku kalian berdua." Ucap Silya dan segera berjalan tanpa menunggu persetujuan dari Lisa dan Vannesa.
Lisa dan Vannesa hanya saling pandang dan dengan sedikit terpaksa mereka berjalan mengekor dibelakang Silya.
__ADS_1