
Vannesa berada di balkon apartemen,terlihat banyak sekali layar LED dengan cahaya lampu berkedip sepanjang malam tanpa merasa lelah. Vannesa melihat kebawah terlihat kendaraan yang tidak henti-hentinya membuat kebisingan,membuat suasana malam yang gelap menjadi berwarna.
Tapi sayang sekali,diantara warna itu Vannesa hanya bisa melihat warna hitam. Menurutnya semuanya kelam, seperti hidupnya yang dia gunakan untuk menghabisi nyawa orang-orang yang sebelumnya tidak Vannesa kenal.
Semakin lama Vannesa menjadi semakin candu melihat keindahan langit malam,tanpa dia sadari hujan turun membasahi bumi, Vannesa masih belum beranjak dari tempatnya. Senantiasa berdiri sambil memejamkan mata menikmati percikan air yang mulai membasahi dirinya.
Vannesa tersenyum,dia memutuskan untuk meninggalkan balkon. Dan tanpa disadari,sejak tadi Vannesa diperhatikan oleh seseorang.
Vannesa merebahkannya tubuhnya,bersiap untuk tidur. Berharap Vannesa mendapatkan hari-hari baik kedepannya.
...****************...
Mansion Bigantara
Rio menatap langit-langit kamarnya. Dia mengingat kembali kejadian sebelum dirinya kembali ke rumah itu. Dilihatnya boneka yang dia beli dengan uang hasil kerja kerasnya dulu. Boneka itu masih tersimpan baik di dalam etalase kaca miliknya.
Pintu kamar Rio berderit pelan, memunculkan sosok wanita paruh baya yang membawa sebuah nampan berisi jus strawberry kesukaan Rio.
"Sayang,mama bawa jus kesukaanmu." Wanita paruh baya itu tersenyum, meskipun usinya yang tidak lagi muda namun tidak membuat kecantikannya luntur.
"Terimakasih,taruh di meja saja ma." Meskipun Rio ingin memeluk ibunya tapi dia urung,bahkan ibunya sendiri tidak bisa dekat dengan Rio. Ibunya menghembuskan nafas,jelas terlihat dari air mukanya yang kecewa,namun ia tetap tersenyum.
"Ada masalah?"
"Apakah Rio bisa jatuh cinta?"
Pertanyaan yang keluar dari mulut Rio sontak membuat ibunya terkejut.
"Bisa kok,gimana rasanya? Apa udah ada yang Rio suka?"
"Tidak tau. Apa rasanya jatuh cinta ma?"
"Rasanya ya? Mungkin kamu ngerasa dia berbeda dengan yang lain,terus sering mikirin dia,kalau liat dia dekat cowok lain Rio cemburu. Udah ada?"
"Kayaknya gitu." Rio tersenyum manis,ibu Rio yang melihat anaknya tersenyum ikut bahagia, pertama kalinya bagi sang ibu melihat anak bungsunya tersenyum padanya.
"Kenapa nggak dikenalin mama? Bawa pulang dong mama kan pengen kenalan."
"Sayangnya bukan pacar Rio."
"Yaudah,tidur dulu nak. Besok kan hari libur,main kerumahnya deketin dia ya."
Ibunya keluar membawa nampan yang tadi ia bawa. Ia tersenyum dibalik pintu,merasa senang akhirnya anak bungsunya bisa menyukai seorang wanita.
***
Vannesa bangun cukup pagi untuk membuat makanan ringan,itu dilakukan karena Hera akan datang main.
Vannesa membuat macaron,salad buah dan juga jus jeruk. Vannesa tersenyum melihat hasil kerja kerasnya sendiri. Setelah semuanya selesai ia mandi.
Tok tok tok
__ADS_1
Terdengar suara ketukan pintu, Vannesa yang sudah selesai mandi membukakan pintu. Terlihat Hera didepan pintu apartemennya.
"Waahhh Vannesa ku sayang." Hera terlihat sangat bersemangat melihat Vannesa. Mereka masuk dan berbicara didalam.
"Huh tidak ku sangka kau sekarang tinggal di tempat orang kayaa." Hera mengambil satu bantal sofa dan memeluknya.
"Hais bicara apa kau ini. Bagaimana kabarmu?"
"Hahaha,aku baik. Sangaatt baik."
Vannesa tersenyum,dia meletakkan minuman dan makanan yang tadi ia buat.
"Wahh kau ternyata pintar masak,aku cobain ya."
"Coba saja."
Hera mengambil macaron dan memakannya. Lalu meminum jus jeruk yang dia tuang sendiri ke gelasnya.
"Ini enak Vann,ternyata benar kau pintar masak."
"Sudahlah kau berbicara seperti itu saja makanan ini tidak akan segera habis."
"Hahaha kau benar. Em kau berjanji akan menceritakan kisahmu dengan pak CEO."
Hera menyenggol bahu Vannesa, sedangkan Vannesa memilih diam dan menikmati makanannya.
"Ayolaahhhh." Desak Hera.
"Yaudah iya,intinya aku tidak tau kenapa pak Rio bisa dekat dengan aku,tapi masih sama saja tidak bisa dekat dengan wanita lain. Dan soal dia bilang aku adalah gadisnya itu juga tidak benar. Kami ada sandiwara waktu itu di mall jadi hanya meneruskan saja."
Sejurus kemudian Vannesa hanya mendengarkan ocehan Hera yang tidak ada henti-hentinya,mulai dari soal kerjaan sampai membahas hal yang tidak jelas sama sekali.
"Hera kau tidak lapar? Aku masakkan makanan untukmu ya." Tawar Vannesa kepada Hera.
"Oh tidak tidak,yang benar kau harus mengajak aku. Ayo kita masak." Hera berjalan menuju dapur mendahului Vannesa.
"Kita mau masak apa Vann?"
"Bagaimana kalau ayam pedas manis dan juga tempe tahu goreng?"
Hera melongo mendengar masakan yang akan mereka masak saat ini.
"Wahh kau memang masih memegang teguh makanan kampung ya sob, baiklah ayo kita masak. Aku sudah lama tidak makan tahu dan tempe ini."
"Bagaimana pun aku berasal dari desa Hera,jadi makan ya hanya sederhana."
Hera tertawa kecil ia mencuci ayam yang akan dimasak. Sedangkan Vannesa menyiapkan bumbunya.
20 menit kemudian makanan mereka sudah matang,mereka meletakkan piring di meja makan dan bersiap untuk makan.
Tok tok tok
__ADS_1
"Aduh mengganggu waktu makan siang kita. Vann siapa tamu mu kali ini?" Hera bersungut-sungut karena mereka menunda waktu makannya.
"Aku tidak tau,mungkin temanku." Vannesa membuka pintunya.
"Haloo Vannesa,lihat aku datang dengan siapa?" Itu Key,dan dia datang bersama dengan Rio.
"Oh Key dan Rio? Ayo masuk kebetulan kami baru akan makan siang."
Rio dan Key saling pandang,pasalnya Vannesa mengucapkan kata kami. Itu artinya didalam ada orang lain selain Vannesa.
"Kau bilang 'kami'? Dengan siapa kau didalam?"
"Heh makanya ayo masuukk." Key dan Rio terlihat penasarannya dengan tamu Vannesa.
"Eh kamu?" Key memicingkan matanya terlihat sedang mengingat orang itu.
"Eh pak Key,pak Rio? Iya aku adalah Hera hehehe teman Vannesa." Hera sedikit tergagap karena terkejut atas kedatangan mereka yang tiba-tiba dan ia tanpa ada persiapan.
"Oh iya kau Hera,aku sempat lupa. Tidak usah sungkan,aku bukan bosmu." Key sengaja menekankan kata bos pada Hera.
"Sudahlah ayo kita makan,keburu dingin." Vannesa menuju ke meja makan diikuti yang lainnya.
Mading-masing mengambil nasi dan lauk,dan mulai makan dengan khidmat.
"Emm ini siapa yang masak?" Key melihat Vannesa dan Hera bergantian.
"Aku dan Vannesa,tapi bumbunya Vannesa yang buat." Saut Hera sambil minum.
"Ini enak,aku ingin ambil lagi."
"Ambil saja Key,yang banyak." Vannesa tertawa renyah,mereka bersenda gurau dan memuji masakan itu. Tapi tidak Rio,dia makan dalam diam,hanya suara garpu dan sendok yang terdengar.
"Rio apakah tidak enak?" Vannesa melihat kearah Rio yang sedari tadi diam.
"Ini enak." Jawabnya dingin, Vannesa tersenyum mendengar jawaban Rio.
"Kalian berdua akan kemana setelah makan?"
"Emm tidak tau."
"Kita ke tepi laut? Disana ketika sore sangat indah."
"Aku setujuuu! Ups maaf." Hera nyengir,saking semangatnya ia sampai histeris.
"Aku akan ikut kalian saja."
"Baiklah kita kesana." Key mengangkat gelas ditangannya dan meminumnya.
"Eh bagaimana dengan pak Rio?" Hera cemas, bagaimana kalau ia tidak setuju.
Belum sempat Rio menjawab, pertanyaan itu sudah dijawab oleh Key duluan. "Dia setujulahh,tapi ya karena kami sama-sama membawa mobil jadi aku akan satu mobil dengan Hera dan Rio akan satu mobil dengan Vannesa bagaimana?"
__ADS_1
Rio tersedak air minum yang baru saja masuk ke tenggorokannya. Sedangkan Hera merasa takut kalau ia akan marah karena itu.
"Aku menurut saja." Hera terkejut dengan jawaban Rio. 'Eh? Dia setuju? Astaga benar-benar membuat nyaliku ciut.' Gumam Hera dalam hatinya. Hera melirik Vannesa dalam diam,ia terlihat tidak terkejut sama sekali dengan jawaban Rio,sehingga Hera menyimpulkan bahwa Vannesa memang sudah kebal terhadap Rio ini.