
Vannesa kini terus berlatih demi memperkuat dirinya,ia ingin segera menemukan sahabat masa kecilnya. Ia juga memilih tinggal di markas,ia tidak ingin diganggu oleh teman-temannya jika ia berada di apartemen miliknya. Alhasil apartemen itu ditempati oleh Hans kadang kala,hanya supaya tidak menganggur saja.
Menit menjadi jam,hari juga silih berganti sampai tidak terasa kini Vannesa berlatih keras selama 1 bulan lamanya,dan saat ini tepat hari dimana Rio kembali dari luar negeri.
Vannesa tersenyum tatkala melihat tanda lingkaran merah yang ia buat di kalender. Ia memang sengaja membuatnya supaya ia ingat kapan Rio kembali dari luar negeri.
"Eh liat apa Vann?" Rista datang dengan membawa 2 gelas air putih ditangannya.
"Lihat kalender Ris." Jawabnya singkat.
"Loh? Tanda apa? Seingatku hari ini ga ada event penting." Rista terlihat berfikir "Oh kamu ultah apa ya? Seingatku bukan bulan ini deh."
"Hahaha,enggak ada kok. Udah ih gausah dibahas."
"Ih apaan coba,main rahasia-rahasiaan. Yaudah deh kalau gamau kasih tau,nih minum buat kamu." Rista menyodorkan segelas air putih untuk Vannesa,dan diterima oleh Vannesa.
"Terimakasih ya Ris,baik deh." Ucapnya sambil meminum air itu.
"Iye sama-sama. Kamu sekarang latihan terus kaya ga ada capeknya aja."
Vannesa meneguk habis air didalam gelas itu lalu menaruh gelasnya dimeja.
"Capek sih, apalagi kadang sering banget pusing gatau kenapa."
"Yee,itu mah kecapekan kalik Vann. Makanya kalau latihan jangan full dong,2 hari sekali kan bisa."
"Kayaknya iya sih,aku mau istirahat hari ini capek." Vannesa segera pergi ke ruangannya ia berniat untuk tidur.
"Latihan berat kek gini masih aja nekat." Gumam Rista sesaat setelah Vannesa lenyap dari pandangannya.
***
__ADS_1
Bigantara Grub
Rio sampai di bandara pada pukul 1 malam,dan hari ini ia sengaja datang lebih pagi. Alasannya hanya untuk menemui Vannesa, Rio terlihat sangat senang kali ini mengingat akan bertemu dengan pujaan hatinya,entah dari kapan rasa itu muncul tapi Rio menerimanya dengan senang hati.
Rio masuk kedalam ruangannya,ia melihat beberapa berkas dan terlihat mengangguk merasa puas dengan apa yang dilihatnya,setelah itu ia membuka laci,ia mengernyit ketika melihat sebuah surat pengunduran diri disana. Dibacanya dengan teliti.
DEG!
Jantung Rio terasa berhenti berdetak ketika melihat nama Vannesa tercetak jelas disana. Ia mengundurkan diri tepat setelah 2 hari kepergiannya keluar negeri. Ia merasa kecewa,bersalah,dan marah bercampur menjadi satu tidak tau harus berbuat apa ia akhirnya menelfon Haris untuk masuk keruangannya.
BRAK!
Rio menaruh surat itu sambil memukul keras mejanya,ia meminta penjelasan dari Haris tentang itu.
"Apa ini! Bagaimana bisa Vannesa mengundurkan diri? Dan kenapa kamu tidak memberi tau aku? Katakan!" Gertak Rio, Haris sangat faham dengan bosnya. Ketika marah ia akan terlihat sangat menakutkan, bahkan tatapan matanya terlihat sangat mengintimidasi sama seperti saat ini.
"Saya... Saya minta maaf bos. Saya tidak bisa mengehentikan nona Vannesa dan saya tidak berani bilang kepada bos,takut kalau pekerjaan disana jadi berantakan." Jawab Haris sembari menundukkan kepalanya,ia tidak berani menatap wajah Rio secara langsung.
"Seharusnya kamu bilang! Ah gimana sih!." Rio mengacak rambutnya frustasi,ia bingung akan bicara apa lagi, sementara hatinya sudah terasa tidak karuan saat ini.
"Pergi! Sebelum aku menghukummu."
"Baik bos,sekali lagi saya minta maaf." Haris menundukkan kepalanya dan segera keluar dari ruangan bosnya.
"Astaga,aku bisa mati kalau begini. Untung bos sedang baik." Gumamnya sembari mengelus dadanya,suara jantungnya yang berdetak cepat masih terasa sampai sekarang.
Rio mencoba menghubungi ponsel Vannesa,namun tidak diangkat. Sebenarnya Rio selama di luar negeri tidak pernah menghubungi Vannesa,begitu pula Vannesa. Saking sibuknya mereka dengan urusan masing-masing jadi tidak punya waktu intuk bermain benda pipih itu.
"Vanny kau dimana?" Rio mulai resah,ia menghubungi Vannesa berulang kali tapi tak kunjung mendapat jawaban.
Ia akhirnya mengingat apartemen Vannesa,ia berniat pergi kesana untuk bertemu dengannya.
__ADS_1
Tak mau membuang waktu Rio segera meninggalkan kantor dan masuk kedalam mobil,ia menyerahkan tugasnya hari ini kepada Haris. Sebenarnya hari ini Rio dilarang masuk kerja oleh mamanya, tapi karena keinginan Rio yang sangat kuat untuk bertemu Vannesa akhirnya mamanya mengizinkan dirinya untuk bekerja. Hanya tidak disangka Vannesa sudah resign dari perusahaannya.
Setelah menempuh perjalanan yang cukup lama ia akhirnya sampai di apartemen Vannesa. Sebenarnya apartemen Vannesa tidak begitu jauh dari kantornya,tapi karena jalanan saat ini sangat padat mobil Rio ikut terjebak macet.
Rio segera naik menggunakan lift,ia merasa semakin berdebar ketika melihat ia akan segera sampai di apartemen Vannesa.
TING!
Pintu lift terbuka, Rio segera keluar dan menuju pintu apartemen Vannesa.
Tok tok tok
Rio mengetuk pintu itu beberapa kali,namun pemiliknya tidak kunjung membukakan pintu.
"Apa Vannesa marah padaku? Tapi karena apa?" Pikirnya.
Setelah cukup lama tidak mendapatkan jawaban ia memilih turun menuju ke resepsionis,ia memutuskan untuk bertanya tentang Vannesa.
"Selamat pagi tuan, ada yang bisa kami bantu?" Sapa resepsionis dengan ramah.
Jujur saja Rio merasa tidak nyaman dengan wanita itu,bisa-bisa penyakitnya kambuh. "Saya mencari seseorang atas nama Vannesa Elvia."
"Sebentar tuan akan saya carikan." Resepsionis itu mulai mengetik sebuah nama dan mencarinya dengan teliti.
"Maaf tuan,tapi nona Vannesa Elvia sudah tidak datang kemari sejak 1 bulan yang lalu."
"Begitu? Baiklah."
Rio segera meninggalkan meja resepsionis,bahkan ia mengabaikan kata-kata yang diucapkan oleh resepsionis ketika ia beranjak pergi. Jantungnya tidak karuan rasanya ia seperti kehilangan sesuatu yang sangat berharga.
Rio menuju parkiran,ia masuk kedalam mobilnya. Menatap nanar kursi sebelahnya manakala mengingat Vannesa pernah duduk disana. Memang orang yang sedang jatuh cinta akan merasa sangat kesepian dan kehilangan jika tidak bisa bertemu dengan orang terkasih. Dan kini Rio mengalaminya,ia tersenyum pahit dan bingung mau apa.
__ADS_1
"Vannesa kau dimana?" Gumamnya pelan,air mata Rio bergulir,ia membiarkan air mata itu menetes tanpa mau mengusapnya.
Rio masih diam di dalam mobil,tanpa sadar ada sepasang mata yang sedari tadi memperhatikan dirinya.