
Brak!
"Rista hentikan! Mau apa kamu hah!" Teriak seorang gadis berambut pendek yang baru saja masuk ke dalam ruangan kecil nan gelap itu.
Orang yang dipanggil itu segera menoleh dengan cepat tanpa melepaskan tangannya dari kerah baju seseorang yang ia tarik.
"Kenapa hah! Kenapa kamu masih aja perduli sama dia? Dia udah seharusnya mati dari lama woy! Kamu mau berhianat gitu!" Teriak Rista tak kalah keras.
Ia melepaskan cengkeraman tangannya,dan membuat orang yang ia pegang kerahnya sedikit terbanting. Gadis yang baru saja datang itu ingin mendekatinya namun ia menolak dan mengatakan 'aku baik-baik saja.' dengan gerakan bibir dan tanpa berbicara.
Gadis yang tak lain adalah Silya itu mengangguk,dan kembali menatap tajam kearah Rista.
"Vannesa pasti akan kecewa sama kamu Rista karena kamu sudah berhianat!"
Rista tersenyum remeh mendengar celetukan Silya "Siapa yang berhianat hah! Justru kamu Silya! Ups atau aku seharusnya memanggilmu Hera?" Seringai Rista.
Silya tercekat mendengar itu, penyamarannya selama ini ternyata diketahui oleh Rista. Namun ia berusaha untuk tenang dalam kondisi itu,ia tidak mau membuat Rista merasa dirinya sudah menang.
"Memangnya kenapa kalau aku Hera? Setidaknya aku tidak seperti dirimu yang munafik Rista! Katakan padaku kalau kau yang menggagalkan tugas kalian terakhir itu! Tugas itu adalah tugas yang diberikan untuk Vannesa namun kamu membunuh orang itu terlebih dahulu,iya kan?" Tebakan Silya tidak sepenuhnya salah,semua yang Silya katakan adalah kebenaran. Silya bisa mengetahui siasat itu ketika ia tidak sengaja mendengar dirinya merencanakannya,ia menggandakan tugas itu untuk dirinya,ia lakukan itu untuk membuat kedua rekan timnya mempercayai dirinya.
Rista tadinya sempat sedikit syock namun ia menyeringai dan mendekat kearah Silya dengan tatapan arogannya.
"Kenapa hah? Kau tidak suka? Asal kau tau Silya, Vannesa sudah terlalu lama berada diatas! Aku hanya membuatnya sedikit bersantai saja,memangnya salah? Sebenarnya aku sedikit kecewa karena hukuman Vannesa tidak terlalu berat itu karena pencapaiannya selama ini. Tapi setidaknya itu sudah cukup membuat aku bahagia." Ucap Rista dengan senyuman manisnya.
Silya hanya bisa menggelengkan kepalanya mendengar ucapan Rista,bahkan melihat senyumannya saja membuat dirinya muak. Ia sangat ingin melenyapkan Rista secepatnya.
__ADS_1
"Silya, sebaiknya kau waspada saja. Mereka ini akan segera mati,lebih baik kau ucapkan selamat tinggal kepada mereka sebelum terlambat." Tambah Rista sambil berjalan keluar dari dalam ruangan pengap itu.
Silya menunduk ia menatap lantai tempatnya berpijak saat ini,benar sekali apa yang dikatakan oleh Rista. Temannya akan mati,dan ia sama sekali tidak bisa melakukan apapun.
Silya tersadar dari lamunannya saat merasakan rengkuhan dari sisi kanannya, Silya mengelus lengan yang memeluknya saat ini.
"Aku minta maaf padamu Laksmi, aku.. aku.." Air matanya sudah lebih dulu mengalir,seakan tidak mempersilahkan Silya untuk berbicara lagi.
Laksmi yang tadinya memeluk Silya beringsut dan berhadapan dengan Silya,ia mengangkat dagu Silya dan tersenyum hangat.
"Tidak begitu,kau sudah melakukan semuanya dengan baik Silya. Atau bisa aku panggil dirimu Hera?" Ucap Laksmi dengan sesungging senyum.
Silya yang mendengar itu seketika tangisnya pecah dan segera memeluk Laksmi dengan erat. Hera adalah nama resminya yang tertulis di akta kelahiran juga kartu keluarga miliknya, sedangkan Silya adalah nama pemberian dari ibunya,entah kenapa ia menyematkan nama itu pada diri Hera,namun Hera sangat menyukai nama itu bahkan saat ini rekan mafianya memanggilnya dengan nama Silya.
Sebuah nama yang melekat padanya sejak beberapa tahun yang lalu. Dan sampai saat ini tidak ada seorangpun yang tau bahwa Silya adalah Hera karena ia sengaja mengubah penampilannya. Namun hari ini Rista justru mengetahuinya,ia tidak pernah tau kapan rahasianya terbongkar. Namun kalau memang harus terbongkar ia hanya bisa pasrah saja menerimanya.
Bigantara mansion
"APA! KENAPA BISA TIDAK KETEMU! KALIAN INI TIDAK BECUS ATAU MEMANG MALAS HAH!" Murka Alkar kepala keluarga Bigantara.
Setelah mendengar berita bahwa Rio menghilang dengan perkiraan bahwa dirinya telah diculik membuat Alkar yang sedang berada diluar kota segera pulang ke kediamannya dan mengutus semua anak buahnya untuk mencarinya.
Namun nihil,hampir semua tempat sudah didatangi tapi Rio sama sekali tidak ditemukan,dan itu membuat Alkar sangat marah.
"BAGAIMANA INI BISA TERJADI!" Teriak Alkar di dalam ruang keluarganya.
__ADS_1
Sedari tadi Reny istrinya hanya bisa menangis di dalam kamarnya dengan ditemani oleh anak perempuannya Kalia. Kabar mengenai hilangnya Rio juga membuat anak perempuan satu-satunya itu pulang kerumah setelah beberapa tahun tak pulang,rupanya kehilangan Rio membuatnya panik juga.
"Pah, sepertinya ini ada kaitannya dengan Desta." Ucap Dio yang duduk di salah satu kursi.
"Desta? Kenapa dengannya?" Tanya sang ayah tidak sabaran.
"Kan hanya perkiraan saja ya. Konflik sebelumnya juga berasal dari dia bukan? Tapi aku sedikit curiga dengan penculikan ini pa. Karena seharusnya di kantor hanya ada beberapa pekerja saja yang lembur,itu artinya yang menculik Rio adalah orang kita sendiri."
Rian yang mendengar itu mengerutkan dahinya "Apa maksud kakak? Ada yang berhianat kepada kita?" Tanya Rian memastikan. Pasalnya ia cukup mengenal lingkungan kantor mereka yang semuanya terlihat biasa-biasa saja.
"Ya,lalu bagaimana lagi menurutmu? Yang jelas ia tau kapan kantor sepi dan hanya menyisakan sang bos." Dio menghentikan bicaranya dan melirik kearah ayah dan adiknya yang masih menunggu kelanjutan dugaannya.
"Kalau dia adalah orang luar,mungkin saja ia harus menyabotase seluruh kamera cctv yang ada. Namun dari handle pintu ruangan Rio aku hanya menemukan sidik jari miliknya dan dan Cakra saja. Tidak ada yang lain." Tambahnya lagi.
Mendengar itu Alkar sedikit terbuka pikirannya, mendengar nama Cakra membuatnya sedikit curiga terhadap orang itu. Pasalnya memang hanya dialah yang sangat dekat dan mengetahui semua pekerjaan dari Rio selain Haris. Namun dari 5 hari yang lalu Haris berada di kantor cabang untuk meninjau pekerjaan staff disana,jadi Alkar tentunya tidak memasukkan Haris dalam catatannya.
"Itu masuk akal,tapi apa motif Cakra melakukan itu? Karena setauku dia adalah karyawan yang sangat baik dan begitu berprestasi selama ini." Tanya Rian kepada Dio.
"Mereka berdua bekerja sama? Untuk menuju tujuan masing-masing." Ucap Dio sembari meminum kopi di cangkir yang sudah tersaji disana sejak beberapa saat yang lalu,bahkan kopinya sudah tidak panas lagi saat ini.
Alkar terlihat berfikir,ia tidak mau kehilangan Rio untuk yang kedua kalinya lagi. Ia akan melakukan apapun untuk mendapatkan kembali anaknya itu.
Alkar memberi kode supaya anak buahnya mendekat kearahnya "Cari tau informasi mengenai Cakra,ikuti dia dan pastikan untuk memberikan aku kabar gembira!" Ucapan Alkar yang terdengar seperti sebuah perintah mutlak yang tidak boleh dilanggar.
"Baik tuan."
__ADS_1
Setelah itu mereka semua pergi dengan mengemban tugas yang baru lagi. Alkar, Dio dan Rian berharap mereka bisa menemukan Rio secepatnya.