Vannesa Elvia

Vannesa Elvia
Patah


__ADS_3

Vannesa duduk bersama Rio dilantai 3 mansion. Mereka menatap pemandangan dari atas sana, Vannesa tidak henti-hentinya tersenyum melihat bangunan yang terlihat kecil ketika dilihatnya dari atas.


"Kau suka?"


"Iya,aku suka."


"Kalau begitu kau bisa kemari kapanpun kamu mau." Rio tetap menatap kedepan tanpa menoleh kepada Vannesa.


Vannesa menghela nafas,ia melihat kearah Rio, dalam hatinya mungkin saat ini sudah dipenuhi oleh manusia yang ada didepannya ini. Tapi Vannesa tidak mau mengakuinya.


"Rio,aku akan pulang." Vannesa diam sejenak "Sendirian."


Rio menatap Vannesa tajam, Vannesa tersenyum,ia segera berdiri dan tetap kukuh pada keinginannya untuk pulang sendiri.


"Vannesa aku akan mengantar."


"Tidak,kau tetaplah dirumah."


Entah kenapa Rio seperti dejavu,ia tidak bisa bergerak. Seakan ada yang menahannya disana. Vannesa keluar dari mansion tanpa ada gangguan,semua justru menundukkan kepalanya ketika Vannesa melewati mereka.


***


"Kau payah."


"Kau? Bagaimana kau bisa ada disini?"


"Apa... Tidak boleh? Aku hanya berjalan-jalan dan dengan tidak sengaja melihatmu disini."


"Ck,lalu ada masalah apa?" Vannesa mengambil ranting di dekatnya lalu memainkannya.


"Kau menjauh darinya? Itu bukan sebuah akhir dari semua ini. Pikirkan Vannesa,mungkin dia akan menjadi titik lemahmu nantinya,tapi kau berniat menjauhi dirinya? Heh,itu malah kau terlihat sangat tidak berperasaan. Sama seperti kau meninggalkan...." Kata katanya menggantung "Laksmi!"


Deg


Jantung Vannesa seperti berhenti berdetak, ditatapnya wajah cantik itu tajam. Didalam benaknya banyak sekali pertanyaan yang ingin dia ajukan.


"Silya bagaimana kau tau Laksmi? Katakan!"

__ADS_1


"Woww,tunggu dulu. Apakah kau pikir kau bisa bertemu dengannya meskipun dia saat ini masih hidup? Dia pasti sangat marah padamu saat ini. Jadi berhentilah meninggalkan orang yang sudah membantumu mendapatkan hidup yang indah seperti saat ini."


Silya tersenyum,dan segera meninggalkan Vannesa di bangunan tua pinggiran kota sendirian.


"Apa yang aku lakukan?" Vannesa menitikkan air matanya. Menengadahkan kepalanya ke langit sore yang saat ini terasa seperti ikut menghakimi dirinya.


***


Vannesa menatap ponselnya yang sejak tadi berbunyi, menunjukkan satu nama 'Alrio'. Mungkin keputusannya kali ini sudah benar? Dia hanya takut orang yang ia sayangi menjadi sasaran orang lain lagi.


Pikirannya hanyut memikirkan perkataan Silya sore tadi. Vannesa tersenyum pahit,dirinya seperti tidak pantas bahagia,bahkan ketika ia menemukan sebuah keluarga yang hangat maka itu akan direnggut darinya.


"Vannesa kau sudah pulang?" Hans tiba-tiba muncul dari pintu depan Vannesa yang tidak ia kunci.


"Hans?"


"Vannesa kau tau? Aku khawatir padamu." Hans menghambur memeluk Vannesa.


"Aku tidak apa-apa Hans,tenanglah." Vannesa menepuk-nepuk punggung Hans lembut. Hans melepaskan pelukannya dan menatap Vannesa lekat-lekat.


"Kau pergi kemana saja?"


"Heh aku sudah tahu,ternyata Rio benar menyukaimu Vann." Terlihat Hans menyembunyikan rasa kecewanya terhadap Vannesa.


"Hans,aku ingin menjauh dari Rio."


"Kenapa? Kau suka Rio kan? Itu benar kan?"


"Aku aku tidak tau." Vannesa menghela nafas "Hanya tidak ingin mereka yang membenciku mengincar Rio. Itu saja."


Seharusnya Hans faham tujuan Vannesa menjauhi Rio adalah demi melindunginya. Jelas sekali jika Vannesa sangat menyayangi Rio. Hans tersenyum simpul.


"Tapi menurutku itu hanya akan melukai hatimu Vannesa. Sebaiknya kau tidur terlebih dulu,besok kau harus bekerja. Aku akan pulang, selamat malam."


Vannesa masih mematung,ia merasa setiap kata-kata uang terlontar dari mulut Hans berisi sebuah kekecewaan yang sangat besar.


Lagi-lagi Vannesa kehilangan satu orang yang dia sayangi, Vannesa meringkuk diatas sofa. Merasakan perih pada hatinya.

__ADS_1


Vannesa akhirnya tertidur dengan sendirinya. Ketika ia terbangun hari sudah pagi, Vannesa merasa sangat malas bekerja hari ini.


Vannesa tidak melihat tanda-tanda kehadiran Rio, jujur saja setelah kemarin ia meninggalkannya bahkan tidak menerima telfon darinya Vannesa merasa sedikit rindu.


Dibukanya pintu ruang kerja miliknya, Vannesa menghela nafas ketika melihat tumpukan maps berisi dokumen yang harus ia kerjakan hari ini.


Vannesa sangat serius dalam mengerjakan pekerjaan miliknya,hingga tak sadar seseorang masuk kedalam ruangannya.


"Vanny apa kau marah padaku?"


"Rio? Em maksudku pak Rio. Tidak aku tidak marah." Vanessa berusaha tersenyum,padahal itu hanyalah senyum palsu yang jelek.


"Kalau kau tidak mau tersenyum tidak usah dipaksa,itu mengurangi profesionalitasmu."


Vannesa menatap Rio tajam,padahal baru tadi ia merasa rindu pada Rio. Tapi setelah mendengar kata-katanya,rasa rindu itu sirna dan tergantikan menjadi kesal.


"Ada perlu apa bapak kemari."


"Ck gadis payah,sudah kubilang panggil Rio saja."


"Huh iya baiklah terserah apa maumu."


"Kau tidak mengangkat telfon dariku,bahkan responmu tiba-tiba menjadi aneh,apa ada masalah?"


"Masalah? Bahkan jika ada memang kenapa? Kalau tidak ya kenapa? Lagipula kita juga tidak ada hubungan apapun,maka tidak penting semua itu untukmu."


Rio tercengang,ia merasakan sakit yang bertubi-tubi pada hatinya. Benar bila mereka tidak ada hubungan apapun,tapi Rio juga belum berani mengungkapkan kalau dia menyukai Vannesa.


"Aku hanya ingin bilang,aku ada proyek diluar negeri selama 1 bulan. Dan selama itu kita tidak akan bertemu. Apakah itu membuatmu senang? Oh iya 20 menit lagi aku akan berangkat,jadi aku kemari hanya untuk pamitan denganmu saja." Rio segera meninggalkan ruangan Vannesa setelah mengatakan itu.


Vannesa terkejut mendengar kata-kata Rio barusan,bahkan ketika ia ingin mengejar Rio sekarang rasanya sangat berat. Benar-benar seperti posisi yang dialami oleh Rio sebelumnya.


Vannesa menitikkan air mata,merasakan patah yang kedua kalinya,dan entah kenapa hatinya rasanya tidak enak. Vannesa diam tak berkutik ditemani dinginnya suhu ruangan, Vannesa melihat gelang yang ia pegang. Seharusnya gelang itu ada dipergelangan Rio saat ini,tapi waktu tidak mengijinkan Vannesa memberikan gelang itu pada Rio.


***


Sore ini hujan turun membasahi bumi, Vannesa lupa tidak membawa payung sedangkan ia pulang terlambat akibat lembur. Vannesa berlari menuju halte bus didekat perusahaan,disana hanya ada dirinya sendiri.

__ADS_1


Vannesa teringat akan perjumpaan keduanya dengan Rio waktu itu juga sama dengan saat ini. Vannesa memutuskan untuk berjalan kaki menuju apartemennya. Tanpa disadari Vannesa sudah menangis. Pada hujan hanya ingin Vannesa sampaikan supaya tetap turun untuk menutupi wajahnya yang saat ini berlinang air mata. Rasanya penuh sesak didalam dadanya, melepaskan adalah hal yang sangat sulit dilakukan oleh Vannesa.


__ADS_2