
Zana menunggu Vannesa dan Cakra di lobby,dia ingin sekali ke lantai atas untuk menemui mereka,hanya saja lantai atas bukanlah tempat yang bisa dengan mudah dikunjungi.
"Karyawan lantai atas ini benar-benar lama sekali,selain tempatnya berada diatas,pulang pun harus terakhir. Merepotkan sekali."
Zana mendengus sebal,dia sudah menunggu selama 5 menit namun yang ditunggu belum keluar. Zana memutuskan untuk bermain hpnya. Saking fokusnya dia tidak melihat ada seseorang yang mendekatinya.
"Ada apa? Kenapa kau belum pulang?"
Zana terkejut sampai hpnya jatuh,dia mengambil hpnya lalu segera melihat orang yang mengajaknya bicara. Setelah tau kalau itu adalah atasannya dia segera berdiri.
"Astaga pak Rio eh anu maksudku pak Rian saya itu sedang menunggu sekretaris Cakra dan Vannesa,kami akan menjenguk pak Rio begitu pak."
Zana merasa sangat gugup,karena saudara kembar Rio ini benar-benar persis dengannya,hanya saja dia lebih ramah.
"Benar yang dikatakan Vannesa,dibanding pak Rio,jelas sekali kalau pak Rian lebih friendly."
Zana berbicara dalam hati.
"Kalau begitu tunggu mereka sebentar lagi,karena mereka sedang membuat laporan. Aku duluan ya,aku ingin pergi meninjau kinerja anak buahku."
"Baik pak hati-hati dijalan."
Rian tersenyum kepada Zana lalu berlalu meninggalkan Zana. Zana terpaku melihat Rian dari belakang,bukan hanya parasnya yang tampan tapi sifat dan sikapnya juga baik.
"Lebih baik kalau aku dengan pak Rian sepertinya ya? Ah tadi pak Rian bilang mengurus anak buahnya? Memangnya dia bekerja sebagai apa?"
Zana menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Dia kembali duduk dan menunggu kedua rekannya.
"Permisi,dengan Zana ya?"
Zana menoleh kearah cleaning servis yang mengajaknya bicara.
"Iya aku Zana,ada apa ya?"
"Saya ditugaskan untuk membeli parcel buah dan juga kue ini,ini dipesan oleh sekretaris Cakra,dia bilang untuk memberikannya pada Anda. Nanti akan dibawa sebagai buah tangan."
"Begitu ya,baiklah kalau begitu."
Cleaning servis itu menyerahkan parcel dan juga kuenya kepada Zana,dan Zana menerimanya.
"Kalau begitu saya permisi."
Zana mengangguk dan cleaning servis itu pergi. Di lobby masih ada beberapa orang termasuk Zana,mereka ada yang sengaja tinggal lebih lama dan ada juga yang menunggu rekannya sama seperti Zana.
Tapi tetap saja Zana merasa sepi,karena Zana tidak mengenal mereka.
"Hai sudah menunggu lama?"
Zana segera menoleh kearah datangnya suara,benar saja dia adalah Vannesa. Zana segera memeluk Vannesa, Zana merasa bahagia melihat Vannesa saat ini.
"Heh kau seperti anak kecil Zana."
Vannesa merapikan bajunya, sedangkan Zana tertawa melihat Vannesa yang sebal.
"Hahaha,ayo kita pergi,lebih cepat lebih baik. Oh iya parcelnya sudah diantar?"
Cakra menoleh kearah Zana.
__ADS_1
"Iya sudah,dimeja itu. Aku akan bawa."
"Aku bantu."
Zana membawa parcelnya sedangkan Vannesa membantu membawa kue strawberry. Cakra tersenyum melihat keakraban mereka berdua,Cakra berdoa semoga Zana tidak lagi seperti yang diceritakan Vannesa diruang kerja tadi.
*Flashback on
Cakra sengaja pulang sedikit terlambat,karena ada beberapa berkas yang harus dia selesaikan saat itu juga.
Cakra memanggil Vannesa keruangannya untuk membantunya. Cukup merepotkan jika harus mengerjakan pekerjaan itu sendiri. Mengingat Vannesa juga merupakan sekretaris jadi tidak ada salahnya kan meminta bantuannya?
"Vannesa,aku butuh bantuanmu. Beberapa berkas ini sangat merepotkan, apakah kau bisa membantuku?"
"Iya tenang saja,pak Rio bilang tugasmu juga adalah tugasku."
Cakra tersenyum senang,dia berjalan kembali ke ruang kerjanya di ikuti oleh Vannesa. Begitu Vannesa masuk,dia terkejut karena ada 2 meja kerja disana.
"Cakra sejak kapan ini ada disini? Seingatku kemarin belum ada."
Meja itu masih baru,dan sepertinya peralatannya juga baru.
"Meja itu baru datang hari ini,pak Rio yang menyuruh petugas gudang untuk menambahkan satu meja kerja,dan meja ini untukmu. Ini dia Vannesa berkas-berkasnya,kau tinggal meneliti saja,aku akan merevisi sebagian itu."
Cakra memberikan beberapa maps berisi dokumen kepada Vannesa, lalu Vannesa mengangguk dan menerimanya.
Vannesa duduk di meja baru yang menurut penjelasan Cakra adalah meja untuknya. Dia mulai meneliti dengan cermat,tidak ada percakapan diantara mereka. Hanya ada suara kertas yang dibalik halamannya,serta suara stempel.
10 menit kemudian Vannesa selesai dengan kerjaannya,dia merasa bosan karena Cakra belum selesai.
"Apakah kau bosan? Ceritalah,aku akan mendengarkanmu sambil bekerja."
"Tidak usah khawatir. Haris sering melakukan itu padaku,dia bercerita ketika aku bekerja,awalnya sulit tapi lama-lama biasa saja."
Vannesa terlihat berpikir,akhirnya dia menyetujui Cakra,dia mau mengetes seberapa besar konsentrasi Cakra.
"Cerita apa ya? Oh iya kau ingat perempuan tadi kan? Dia namanya Zana. Dia tiba-tiba mendekati aku waktu aku masuk ke kantor pagi tadi,dan ujung-ujungnya hanya bertanya tentang pak Rio padaku. Sudah kuduga pasti dia hanya ingin mendekati pak Rio lewat aku."
Vannesa bercerita dengan nada yang terdengar sebal, Cakra tertawa ringan mendengar ocehan Vannesa.
"Tapi semoga saja tebakanmu salah. Pak Rio itu tidak bisa sembarang dekat dengan wanita,banyak orang yang ingin dekat dengannya tapi sama sekali tidak bisa. Makanya ketika pak Rio menjadikanmu sebagai sekretaris,banyak karyawan wanita di gedung ini yang merasa iri,atau bahkan menjadi sangat hormat padamu. Bisa dibilang kau sekretaris wanita pertama pak Rio."
Dok
Cakra membubuhkan stempel pada dokumen,dan itu yang terakhir. Pekerjaan siang itu sudah selesai.
"Cakra kalau boleh tau memangnya dulu setelah perusahaan ini diturunkan pada pak Rio sekretarisnya kemana?"
"Sekretarisnya bernama Keke kalau tidak salah, pertama kali pak Rio menjabat dia langsung memberhentikan Keke lalu dia disuruh bekerja di perusahaan kakaknya yang berada sedikit jauh dari sini. Tapi Keke terima saja karena Keke ini tau pak Rio tidak suka perempuan. Mulai hari itu sekretaris pak Rio adalah laki-laki,awalnya bernama Raka tapi dia resign,ketiga aku lupa siapa,dan ke empat barulah aku."
"Begitu ya,ya sudah ayo kita turun."
Vannesa lebih dulu masuk kedalam lift dan diikuti oleh Cakra.
*Flashback off
Mobil Cakra melaju diantara padatnya pengguna jalan waktu itu. Vannesa dan Zana duduk dikursi belakang,mereka melihat kearah jendela.
__ADS_1
Zana teringat sesuatu,dia segera menanyakannya pada Vannesa.
"Vannesa,tadi pak Rian bilang dia ingin mengurus anak buahnya. Apakah kau tau pekerjaan pak Rian yang sebenarnya?"
Vannesa melihat kearah Zana yang juga sedang menghadap ke arah Vannesa.
"Iya,dia memiliki cafe dan juga restoran."
"Eh bukankah semua anggota keluarga Bigantara tidak ada yang pebisnis?"
"Emm,mungkin itu dulu tapi memang pak Rian itu punya cafe sendiri. Bukan aset keluarganya."
"Ternyata begitu,hebat sekali ya dia."
Zana tersenyum-senyum sendiri mendengar penjelasan Vannesa. Sedangkan Vannesa hanya menggeleng melihat tingkah laku Zana itu.
Setelah kurang lebih 30 menit akhirnya mereka sampai di kediaman keluarga Bigantara. Mansion itu terlihat besar dan mewah sekali. Membuat Vannesa dan Zana terbelalak.
Di depan gerbang ada 2 satpam dan 2 bodyguard yang berjaga,mereka mengecek isi mobil Cakra,setelah dirasa aman mereka dipersilahkan untuk masuk.
Setelah memarkir mobil,Vannesa melihat ada mobil yang tidak asing untuknya yang terparkir di samping mobil Cakra.
"Vannesa ayo masuk,kau tidak akan berdiri disana saja kan?"
Cakra dan Zana menunggu Vannesa yang masih didekat mobilnya.
"Oh iya aku menyusul."
Lalu Vannesa mendekat kearah keduanya dan mereka berjalan melewati taman bunga. Vannesa bisa dengan jelas melihat mansion itu lebih dekat,terlihat ada 2 tangga di kiri kanan mansion itu, bangunannya memanjang kebelakang. Terlihat sangat indah apalagi diwaktu sore hari ini.
"Maaf tuan dan nona ada yang bisa saya bantu?"
Tanya seorang maid yang ada di depan pintu masuk.
"Iya,kami karyawan pak Rio,kami datang ingin menjenguk beliau mohon bimbingannya."
Cakra berbicara dengan sopan kepada maid itu,dan maid tersebut tersenyum lalu menunjukan jalan pada mereka bertiga.
Vannesa melihat sekeliling bangunan itu sangat luas, arsitekturnya terkesan klasik dan ada beberapa ornamen modern disana.
Kamar Rio terdapat dilantai 2 mansion ini,setelah beberapa menit akhirnya mereka sampai dikamar Rio. Setelah tugas maid itu selesai segera dia pamit pergi.
Cakra membuka pintu kamarnya,disana ada dua orang pria,satunya adalah Rio yang sedang duduk di kasurnya, sedangkan yang satunya diketahui adalah seorang dokter.
"Pak Rio, bagaimana kondisi Anda saat ini?"
Cakra mendekat kearah Rio berada.
"Aku baik,kau datang dengan siapa?"
"Aku membawa Vannesa dan Zana."
Rio mengangguk,lalu Cakra duduk dikursi disusul oleh Vannesa dan Zana. Ketika Vannesa melihat kearah dokter dia terkejut,dia benar-benar tidak asing lagi bagi Vannesa.
"Kau! Kau disini?"
__ADS_1
Vannesa sedikit berteriak,dan dokter itu hanya tersenyum kearah Vannesa. Sedangkan yang lainnya tidak faham dengan hubungan keduanya.