
"Ahh! Pelan sedikit Vann,kau mau membunuhku?" Hans meringis merasakan perih pada lengannya yang terluka dan diobati oleh Vannesa.
Vannesa terkekeh melihat Hans yang justru merasa sakit ketika diobati,namun tidak merasa sakit saat senjata tajam menggores tubuhnya.
"Kenapa kau tertawa? Memang apa yang lucu?" Sentak Hans kepada Vannesa. Namun bagi Vannesa itu hanyalah sebuah ucapan biasa,dan tidak membuatnya takut.
Vannesa menghentikan aktivitasnya mengobati Hans dan membereskan kapas, alkohol,obat merah dan lain sebagainya. Lalu meletakan kembali ke dalam kotak P3K dan menyimpannya.
"Aku hanya tertawa sedikit,tidak apa-apa kan?"
"Ck,sedikit katamu."
Vannesa tertawa dan melenggang pergi ke dapur untuk mengambil air putih. Ia mengambil 2 gelas air lalu memberikannya kepada Hans dan untuk ia sendiri.
"Vann?" Hans menoleh kearah Vannesa yang sedang meneguk minumannya sampai tandas,dan setelah minuman habis barulah Vannesa menjawab pertanyaan Hans.
"Aku tidak tau Hans,aku tidak faham dengan apa yang terjadi. Silya bilang mobil yang pergi tadi itu bosnya dan kita sama sekali tidak melihat wajahnya sedikit pun." Vannesa menghela nafas kasar "Dan untuk orang tuaku,mereka sudah memiliki kehidupan yang lebih baik yang memang mereka inginkan sejak dulu Hans. Jadi aku harus apa? Bagiku melihat mereka masih hidup saja sudah kebahagiaan bagiku."
Hans menatap Vannesa dengan tatapan yang teduh,ia tau benar rasanya diposisi Vannesa. Hans mengelus pucuk kepala Vannesa lembut, membuat sang empu menoleh kearah Hans.
__ADS_1
"Kau pasti akan menemukan jalannya Vann,aku percaya itu." Ucap Hans dengan senyuman manisnya yang mampu membuat siapa saja yang melihatnya terpesona, termasuk Vannesa sekalipun.
Vannesa mengangguk dan tersenyum tak kalah manis dari Hans,ia menyandarkan kepalanya di pundak Hans yang sangat nyaman baginya,dan Hans tetap mengelus surai Vannesa dengan lembut dan penuh kasih sayang.
Hans dan Vannesa kini berada di apartemen miliknya sendiri yang sebelumnya ia tinggalkan dan ditempati oleh Hans beberapa waktu lalu. Mereka tidak mau kembali ke markas dalam kondisi yang babak belur dan penuh bercak darah akibat pertarungan mereka tadi. Bisa kena masalah mereka nanti kalau sampai orang-orang tau.
****
Brakk!
Prang!
Ruangan gelap di sebuah villa saat ini benar-benar memancarkan sebuah aura yang menakutkan. Seorang bos pembunuh bayaran yang mendapatkan informasi bahwa anak buahnya yang diutus untuk membunuh sebuah keluarga dan berakhir dengan kekalahan itu membuatnya benar-benar naik pitam.
"Haaaa! Kurang ajar dua orang itu!" Teriaknya sambil mengacak rambutnya yang berantakan menjadi lebih berantakan lagi.
Kedua anak buahnya yang menyampaikan informasi hanya bisa diam di sudut pintu ruangan itu, menunduk tak mau melihat rupa bos mereka yang sedang diambang kemarahan. Benar-benar nasib sial bagi mereka hari ini karena bos mereka marah,dan mereka yang hanya penyampai pesan itu jadi korbannya.
"Mana informasi yang aku minta dari mereka!" Bentak bos itu kepada anak buahnya. Anak buahnya yang merasa sedang di tatap hanya bisa menunduk,ia menelan salivanya dengan sangat sulit akibat ketakutan.
__ADS_1
"An anu bos,kami minta maaf. In informasi tentang mereka ti tidak ada bos." Jawabnya dengan suara yang terbata dan gemetar. Sudah terlihat kalau orang itu benar-benar merasa takut,bulir keringat dingin mulai menetes dari kulitnya. Membuat cuaca dingin malam ini menjadi sangat panas diruangan itu.
"APAA! Bagaimana mungkin ini terjadi! Siapa dia sebenarnya!" Teriak bos itu dengan frustasi.
Buk!
Ia menendang kursi yang teronggok tepat didepannya,bahkan semua barang sudah hancur namun tetap saja tidak bisa memadamkan api yang membakar dirinya saat ini.
"Bo bos maaf, seper sepertinya ga gadis itu sa sama dengan yang waktu kita mengepung tu tuan Bigantara b bos." Ucap anak buah yang satunya dengan gemetar.
Bos yang tadinya marah itu, memutar tubuhnya menghadap anak buahnya yang bicara lalu mendekat kearahnya secara perlahan. Ia tersenyum dengan sangat menyeramkan membuat mereka berdua semakin ketakutan.
"Hahaha ya aku tau,aku tau caranya mengalahkan dia!" Bos itu menepuk bahu anak buahnya dan membuat ia tersentak kaget "Aku akan menculik keluarga itu dan juga Rio,kita lihat apakah gadis itu akan datang?" Ucapnya sembari terus tersenyum.
Bos itu mendekat kearah jendela dan merogoh sakunya untuk mengambil ponselnya dan mengetikkan beberapa nomor disana.
"Aku punya tugas untukmu! Bawa Rio ke lokasi yang aku kirim,dan ikat dia jangan sampai lepas!" Setelah mengatakan itu tanpa menunggu jawaban dari lawannya ia memutuskan telfonnya sepihak dan menyeringai.
"Kalian boleh pergi!" Titahnya kepada anak buahnya.
__ADS_1
"Baik bos,kami permisi." Mereka dengan cepat meninggalkan ruangan bosnya. Mereka cukup bersyukur atas kemurahan hati Tuhan kepada mereka saat ini. Berkat Tuhan mereka bisa terbebas tanpa di siksa ataupun dibunuh karena kemarahan bos mereka itu.
Sedangkan didalam ruangan yang gelap dan berantakan itu seorang laki-laki tersenyum senang membayangkan bagaimana rencananya yang akan berjalan dengan lancar. Bos sebuah organisasi pembunuh bayaran itu memang haus darah,bahkan mereka sering kali terlibat konflik dengan partner kejahatan yang lainnya contohnya mafia seperti organisasi yang diikuti oleh Vannesa saat ini.