
Dingin dan gelapnya malam tidak menyurutkan semangat sepasang muda mudi yang saat ini tengah mengebut dijalanan bak pemilik jalan disana.
Dua motor sport melaju dengan kecepatan diatas rata-rata membelah dinginnya udara malam itu,aksi mereka membuat beberapa pengguna jalan lain terganggu dan menyumah serapahi mereka berdua,tapi mereka seakan tuli tidak mau mendengar dan tidak mau memikirkan semua kata orang.
Tujuan mereka saat ini hanya satu,menuju bangunan tua tempat Desta menyekap orang-orang yang penting untuk Vannesa. Ya,siapa lagi yang melaju dengan gila saat ini jika bukan Vannesa dan Key adanya.
Ckitt
Motor yang mereka naiki kini berhenti di bawah pohon cemara yang terbilang besar dan rindang, perlahan mereka menuruni motor mereka masing-masing dan melepas helm full face yang mereka kenakan.
Pandangan Vannesa segera tertuju pada sebuah bangunan tua yang terletak sedikit jauh dari tempatnya berdiri saat ini.
Mereka memang sengaja memarkirkan motornya sedikit jauh supaya tidak terlihat oleh musuh mereka.
"Vann,apa kau yakin dengan rencana kali ini? Kita sedang menjalani hukuman,dan kita hanya bergerak berdua saja." Ucap Key memecah keheningan malam.
Vannesa melirik kearah Key yang saat ini juga tengah menatapnya, tersirat sebuah rasa takut di mata pemuda yang notabene adalah adik dari bos pembunuh bayaran yang saat ini akan mereka hadapi.
Vannesa tau itu, Key merasa takut karena sebelumnya ia belum pernah terlibat dalam pertarungan seperti saat ini. Mengingat tugas Key adalah seorang mata-mata bukan sebagai petarung seperti Vannesa dan yang lainnya.
Vannesa menghela nafas, ia mulai melangkahkan kaki mendekat kearah bangunan tua didepan sana,tepat di tengah-tengah pepohonan nan rimbun.
Key yang melihat pergerakan Vannesa hanya bisa mengikutinya dari belakang, pandangannya sesekali melirik kanan dan kiri,takut jika musuh berada disekitar mereka dan melakukan penyerangan secara tiba-tiba.
***
"Siapa kalian! Katakan apa urusan kalian disini!"
Suara berat dari laki-laki berbadan gempal itu menyita perhatian beberapa orang disekitarnya,bahkan beberapa dari mereka memilih untuk mendekat untuk melihat perihal yang terjadi.
"Kami datang dengan damai." Jawab seorang pemuda sembari menunjukkan jari telunjuk dan jari tengahnya.
Melihat itu mereka semua spontan menodongkan senjata kepada 3 pemuda tampan yang tak lain adalah Dio, Rian dan juga Bryan. Mereka yang melihat itu mengangkat kedua tangannya,seraya memejamkan mata guna menetralkan detak jantung mereka yang sudah tak beraturan.
__ADS_1
"Katakan!"
Dio yang ditatap mengangguk pelan "Kami kemari ingin memberi tahu kepada kalian semua. Gadis yang bos kalian anggap sudah mati sebenarnya masih hidup,dan dialah alasan kami kemari." Dio sengaja menjeda ucapannya sehingga membuat mereka yang ada disana menunggu dengan penuh rasa penasaran dan juga was-was.
"Dia yang memberi tahu kepada kami jika kalian membawa adik saya kemari,jadi saya ingin memberitahu kepada kalian jika dia sebentar lagi akan datang dan mengobrak-abrik markas kalian." Sambung Dio dengan sedikit penekanan.
Mendengar penuturan Dio pertahanan dari pembunuh bayaran itu kian melemah, bahkan mereka sudah menurunkan senjata tajam yang tadinya sempat ditodongkan kearah 3 pria tampan itu.
Bisik-bisik mulai terdengar dari mereka semua,bahkan pria berbadan gempal yang tadinya berwajah garang berubah menjadi pucat mendengar jika buronan sang bos masih hidup.
Mungkin ia berfikir jika hidupnya akan terancam, mengingat sang bos tidak segan membunuh anak buahnya yang tidak becus ketika melaksanakan tugas.
'Sial! Apakah mereka berkata yang sebenarnya? Jika berbohong jelas mereka tidak akan sampai disini bukan? Juga siapa gadis yabg bos incar itu sebenarnya? Kenapa dia mengetahui lokasi kami? Astaga sial!'
Semakin memikirkan itu membuat semua orang disana nampak khawatir, bingung dan takut,bahkan mereka sampai tidak sadar jika saat ini disana sudah berdiri 2 sosok berseragam hitam berdiri dengan angkuhnya menatap kebodohan mereka semua yang ada disana.
"Payah! Sudah selesai belum pusingnya? Kita capek pengen langsung tidur tau!" Seloroh salah satu dari sosok hitam itu yang tak lain adalah Key.
Mendengar itu semua menatap kearah 2 sosok itu dengan pandangan terkejut, melihat ekspresi para pembunuh bayaran itu membuat Bryan menahan tawanya,ia memiliki humor yang sangat rendah sehingga membuat dirinya mudah tertawa melihat sesuatu yang menurutnya lucu.
Vannesa mengangkat sebelah alisnya melihat gelagat dari pria itu,ia maju satu langkah dan menyilangkan kedua tangannya didadanya.
"Caramu berdiri saja sudah salah, kuda-kudamu itu sangat buruk! Caramu memegang pisau pun salah,itu bisa melukai dirimu sendiri. Dan lagi pisau itu bukanlah senjata yang cocok untukmu, mengingat tubuhmu yang gempal itu. Seharusnya pertarungan dengan pisau memerlukan gerakan yang lincah juga harus dekat dengan lawan,dan melihat dirimu aku yakin kau bukan petarung terbaik disini." Ucap Vannesa panjang lebar.
Hal itu sontak membuat pria yang dimaksud melebarkan matanya tak percaya, pasalnya semua yang dikatakan adalah kebenaran. Selama ini dia sangatlah kesulitan dalam berkelahi bahkan dia sering terluka karena pisaunya.
'Bagaimana dia bisa tau? Dia bahkan belum bertarung denganku.' Gumamnya dalam hati.
"Tentu saja aku tau,kalau aku lemah tidak mungkin aku bisa membunuh seluruh saudara kalian yang ditugaskan untuk membunuhku tempo waktu lalu."
Deg!
Jawaban yang mengejutkan,semua orang terkejut mendengar pengakuan itu, terutama 3 pria tampan yang sedari tadi hanya ikut menyimak saja.
__ADS_1
'Sebenarnya dia siapa? Kenapa dia akan dibunuh? Masalah apa yang sudah dia timbulkan?' Gumam Rian dalam hatinya,ia menatap penuh tanya kepada Vannesa yang kini masih berdiri ditempatnya sama seperti sebelumnya.
Begitupun dengan sekelompok pembunuh bayaran yang kini sudah menatap ngeri sosok Vannesa. Mereka bergidik ngeri ketika membayangkan bagaimana rasanya dihabisi oleh seorang gadis itu.
"Omong kosong! Kau hanyalah perempuan yang di sewa mereka bertiga bukan? Kau disuruh untuk menyamar saja. Kau tidak mungkin bisa membunuh seluruh saudara kami!"
Key yang mendengarkan kata-kata bualan itu berdecak,ia menatap mereka dengan tatapan malas. Ia sangat ingin mencoba memukul dan mematahkan tulang-tulang mereka saat ini,tapi itu semua ia tahan saat melihat Vannesa masih ingin bersenang-senang dahulu.
Vannesa masih dengan posisinya yang sama,namun kali ini tangannya bergerak mengambilnya belati kesayangannya dari sarungnya. Lalu ia memainkan belati itu dengan lihai,semua pandangan tertuju pada sebilah pisau itu yang dengan indahnya dimainkan tanpa melukai tangan pemainnya.
'Gadis cantik,dia adalah jelmaan malaikat maut. Aku suka diam' Gumam Bryan pelan,namun Rian masih dapat mendengar itu. Ia hanya mampu mencebikkan bibirnya,ia tidak mau berdebat dengan pria yang ada disampingnya itu.
Kembali kepada Vannesa yang kini memutuskan untuk duduk di salah satu kursi kayu yang ada didepan bangunan tua itu,kursi yang sebelumnya digunakan untuk mereka semua duduk sembari menunggu para tawanan mereka.
"Well,kalau aku dibayar bagaimana mungkin bisa kegiatan kalian dalam membunuh seorang gadis itu bisa ter ekspos? Kalaupun bisa,mereka semua tidak akan tau kalau kelompok kalianlah pembunuhnya,right?" Vannesa tersenyum simpul, meskipun mereka tidak ada yang melihatnya.
"Atau kelompok kalian sangat buruk dalam menjaga privasi sehingga membongkar rahasia kalian selama ini? Sekarang jawab kalau saudara kalian tidak mati dimana mereka sekarang? Beritahu aku dimana?"
Mendengar itu mereka semua tidak bisa menjawab,mereka dibuat bungkam oleh satu lagi kenyataan yang pahit yang sialnya memang sebuah kebenaran.
Pria berbadan gempal itu merasa muak,ia menggeram dan mengepalkan tangannya,ia mendesis dan menatap nyalang kearah Vannesa yang masih duduk santai menatap kearah lain.
"KAU HARUS MATI!" Ia setengah berlari menghampiri Vannesa yang belum menyadari sepenuhnya keadaan yang terjadi.
Semua orang yang melihat itu membelalak tak percaya, bahkan Key dan ketiga pria tampan itu sudah berteriak ketika melihat pisau tersebut hampir mengenai tubuh Vannesa.
"AWAASSSS!" Teriak mereka bersama memecah keheningan malam saat itu.
Jleb!
"Akkhhh... Huekk!"
Mereka yang melihat itu segera memalingkan wajahnya,mereka tidak tahan melihatnya. Melihat kondisinya yang kini berlumuran darah dari bekas tusukan hingga muntahannya yang berupa darah.
__ADS_1
Key sendiri sudah mengepalkan tangannya erat, tubuhnya merasa sangat tegang ia tidak percaya melihat adegan didepannya saat ini.