
Setelah aksi berlomba-lomba dijalan raya akhirnya mobil hitam itu kini telah memasuki area rumah sakit. Para perawat terlihat berlari sembari mendorong brankar rumah sakit untuk menjemput pasien yang datang.
Dio menggendong Vannesa dan menidurkannya di brankar itu dengan perlahan,setelah dipastikan posisinya sudah benar perawat kembali mendorong brankar itu menuju ruang ICU untuk diperiksa secara intensif.
"Kamu tunggu saja diluar,ini tugas kami." Tukas seorang dokter kepada Dio yang ingin masuk kedalam.
"Oh God! Kenapa tiba-tiba dia sakit? Dia harus baik-baik saja." Gumamnya pelan sembari mendudukkan dirinya dikursi tunggu, Dio mengacak rambutnya terlihat bahwa ia sangat frustasi dengan itu.
Setelah beberapa saat kemudian seseorang keluar dari sana, membuat Dio segera berdiri mendekat.
"Bagaimana keadaannya?" Terdengar kepanikan dari laki-laki ini,yang jelas terdengar dari suaranya ketika bertanya.
"Ikut aku keruanganku."
Dio mengekor dengan patuh dibelakang dokter,itu membuat Dio sedikit takut, bagaimana jika sakitnya sangat parah dan tidak bisa disembuhkan? Bagaimana caranya dia akan menjelaskan kepada orang tuanya? Dan masih banyak lagi hal yang berkecamuk dalam pikirannya.
Setelah memasuki sebuah ruangan, Dio melihat sekeliling dan terlihat banyak sekali hal yang berkaitan dengan ilmu medis. Itu jelas sekali karena saat ini mereka ada di rumah sakit,beda cerita kalau sekarang sedang di rumah makan.
Langkah keduanya menuju ke sebuah meja setelah dipersilahkan Dio duduk berhadapan dengan sang dokter yang tak lain adalah Key.
"Dimana kau bertemu dengannya?"
Pertanyaan yang pertama kali diajukan membuat Dio merasa dokter itu tidak beres,pasalnya hal ini tidaklah penting sekali sampai harus ditanyakan.
"Aduh Key,kau kan kau sendiri kalau aku sedang jalan-jalan dengannya tadi kau sendiri yang menjemput aku. Ya jelas ketemu dijalan."
Key mengacak rambutnya mendengar jawaban yang Dio berikan,ia menarik nafas dan menghembuskan dengan perlahan.
"Begini Dio,kau tau siapa dia?"
"Ya dia Vannesa Elvia,kami tadi berkenalan."
"Tahukan kamu dia itu orang yang selama ini dicari oleh adikmu?"
"Eh? Dicari adikku maksudmu?"
Key merasa dirinya saat ini sangat sial dengan bertemu Dio. Dio merupakan anak pertama dari keluarga Bigantara yang artinya dia merupakan kakak dari Rian dan Rio. Selama ini Dio bekerja diluar kota mengurus cabang perusahaan keluarganya yang ada disana,dan dia pulang karena merindukan kedua adik kembarnya.
"Ya, Seharusnya kau sudah tau."
"Tidak tau kalau yang dicari itu diaa."
Key menghela nafas, akhirnya ia menceritakan keseluruhan ceritanya,dan mewanti-wanti agar Dio tidak mengatakan apapun mengenai Vannesa kepada Rio,dan juga tidak mengatakan kepada Vannesa kalau dia berasal dari keluarga Bigantara.
"Oh begitu baiklah baik. Lalu dia sakit apa?"
Key terlihat berfikir sebelum akhirnya menjawab pertanyaan Dio "Dia hanya kelelahan saja."
"Benarkah?" Dio memicingkan matanya,ia merasa tidak puas dengan jawaban yang diberikan oleh Key kepadanya.
"Iyaa, sudahlah ayo keluar. Kau tidak mau disini sendiri kan? Aku ada pasien lain." Ucap Key dan berjalan melewati Dio yang masih duduk dikursi.
"Iya tunggu astaga." Dio kembali mengekor dibelakang Key,namun ia berbelok menuju ruang ICU tempat Vannesa berada,ia ingin menemani someone special milik adik bungsunya itu.
Dio mendudukkan dirinya dikursi samping brankar Vannesa,ia memandang paras Vannesa yang kini sudah tidak memakai masker. Dio tersenyum kearah Vannesa mengagumi kecantikan Vannesa saat ini.
"Rio,kau beruntung jodohmu secantik dan sekuat dirinya. Lihatlah dia yang terlihat lemah ini,dia mengalami masalah yang entah seberat apa." Gumamnya pelan sembari memegang tangan Vannesa yang masih belum sadarkan diri.
Sementara ditempat lain, Rio sedang berada di perusahaannya dengan Haris dan juga Cakra. Namun Rio memiliki firasat yang sangat buruk,dan itu tentunya berkaitan dengan keadaan Vannesa saat ini.
"Bos kau kenapa? Apakah ada masalah?"
"Tidak ada."
__ADS_1
Haris dan Cakra saling pandang mereka memang merasa bosnya saat ini sedang bingung,namun Rio sama sekali tidak mengakuinya.
"Apakah kau yakin?" Cakra kembali bertanya dengan nada yang pelan,bahkan lebih pelan dari sebelumnya.
"Iya. Sudahlah aku mau keluar,kalian lanjutkan."
"Baik bos." Jawab mereka serempak. Rio segera meninggalkan keduanya di dalam ruangannya.
Rio kini bingung ingin kemana, akhirnya dia memutuskan menelfon kakaknya.
Drtt
Drt
"Eh apa ini? Apakah insting anak bungsu itu sangat peka? Kenapa tiba-tiba menelfon aku?" Gumam Dio pelan. Ia segera menjauh dari Vannesa untuk menerima panggilan tersebut.
"Halo Rio,ada apa?"
"Kak,apa kau baik-baik saja?"
"Heh kau bercanda? Aku bisa berbicara sebaik ini kau kira aku kenapa? Kau berharap aku kenapa memangnya?"
Terdengar hembusan nafas dari seberang sana sebelum akhirnya Rio kembali berbicara.
"Tidak,aku merasakan firasat yang tidak baik. Aku pikir kau dalam masalah."
"Lupakan bungsu aku baik-baik saja. Ngomong-ngomong kau tidak bekerja?"
"Bekerja,hanya saja mendapat firasat itu aku menghubungimu. Kalau begitu yasudah aku matikan."
"Ya silahkan."
Tut
Tut
•
Vannesa mulai membuka matanya perlahan ia mengerjapkan matanya supaya pandangannya berangsur normal. Tercium aroma obat-obatan yang sangat pekat,juga terlihat dari langit-langit ruangan itu jika dia memang sedang ada rumah sakit.
"Kau sudah sadar? Bagaimana perasaanmu?"
Vannesa menoleh kearah datangnya suara, terlihat Dio yang duduk sambil menatap kearah Vannesa.
"Aku merasa sudah membaik, terimakasih sudah menolongku."
"Tidak masalah. Aku akan memanggil dokter dulu ya."
Mendengar itu Vannesa hanya mengangguk,ia memegang kepalanya yang terasa sedikit berdenyut. Tubuhnya juga masih terasa lemas,entah ada apa dengan dirinya saat ini. Padahal Vannesa yakin ia tidak punya penyakit vertigo atau lainnya.
Ceklek
Vannesa menoleh kearah pintu yang mulai terbuka perlahan, menampakkan sosok Dio dan juga dokter yang sangat Vannesa kenal,dia adalah Key.
"Haloo Vannesaku bagaimana kabarmu?"
Senyum Vannesa merekah mendengar sapaan hangat dari Key. Vannesa mengangguk "Aku rasa aku membaik. Aku sakit apa?" Tanyanya tanpa basa-basi.
"Hahaha kau memang selalu seperti ini,aku akan memeriksamu lagi."
Sejurus kemudian Key memeriksa kondisi Vannesa lagi untuk memastikan. Sedangkan Dio seperti akan memiliki pertanyaan kepada Key yang enggan dia katakan. Key yang menyadari itu melepaskanmu stetoskop dari telinganya dan menatap Dio.
"Kau mau tanya apa?"
__ADS_1
"Eh? Aku cuma mau tanya. Kau dekat dengan Vannesa?" Dio bertanya dengan hati-hati takut kalau ia salah bertanya. Namun respon yang ia dapatkan justru berbeda, Vannesa dan Key justru tertawa mendengarnya.
"Heh kenapa kalian tertawa?"
"Vannesa ini temanku tentu saja kami dekat."
"Tunggu dulu Key,kau dan Dio kenal?" Vannesa yang terlihat bingung menatap Key dan Dio bergantian,membuat Dio juga gelagapan mendengar itu. Terpaksa Key yang menjawab pertanyaan Vannesa.
"Iya kami kenal, Dio itu temanku dari kecil jadi kami sangat dekat sampai dia pergi keluar kota mengakibatkan hubungan kami sedikit jauh."
"Iya itu benar."
Vannesa yang mendengarnya hanya mengangguk,ia juga tidak merasa aneh sama sekali.
"Penyakitku apa Key?"
"Oh iya,kau baik-baik Vannesa hanya kau harus mengurangi aktivitas yang terlalu berat kau hanya kecapekan saja." Kelas Key lalu mengelus kepalanya pelan.
"Oh iyakah? Baiklah."
"Memang aktivitasmu apa selama ini?"
Vannesa menatap Dio yang terlihat penasaran, Vannesa tersenyum "Bekerja,apa lagi?"
Dio ingin kembali bertanya namun Key segera mendahuluinya sebelum Dio memberi pertanyaan yang aneh-aneh.
"Emm Dio,aku akan beri kau resep obat lalu bisakah kau tebus ini di apotik? Mengingat kondisi Vannesa yang sudah siuman obat harus segera diberikan." Key segera menuliskan resep obat pada kertas dan diberikan kepada Dio.
"Oh tentu tidak masalah,aku akan pergi sekarang."
"Dio, apakah kau tidak keberatan?" Tanya Vannesa ketika Dio mulai melangkah menjauh.
"Tidak Vannesa,kau tidak perlu khawatir kesehatanmu sangat penting." 'Apalagi kau adalah calon adik iparku.' Tentu saja Dio tidak mengatakannya secara langsung hanya bergumam pelan sampai tidak didengar oleh Vannesa maupun Key.
"Terimakasih." Ucap Vannesa disaat Dio sudah diluar ruang Vannesa.
Kini hanya tersisa Vannesa dan Key diruangan itu, Vannesa segera mendongak menatap Key yang berdiri disampingnya memeriksa cairan infus.
"Key?"
"Ada apa Vannesa? Kau ingin menjelaskan bagaimana kau bisa bertemu dengan Dio?" Tanya Key sembari mendudukkan dirinya dikursi samping Vannesa.
"Iya kalau kau mau dengar. Aku berniat jalan-jalan tadinya dan malah bertemu dengan Dio,lalu kami jalan-jalan bersama tapi aku tidak tau kenapa tiba-tiba kepalaku sakit dan perlahan kesadaranku menghilang begitu saja." Jelas Vannesa.
Key terlihat berfikir "Kau belum sarapan?"
"Sudah."
"Dengan apa?"
"Dengan bubur ayam dan juga air putih sebagai minumannya."
Mendengar itu Key berfikir keras, Vannesa yang melihat perubahan ekspresi Key jadi penasaran.
"Apa ada masalah Key?"
"Ah tidak,aku pikir tadi kau belum sarapan saja. Yasudah kau istirahatlah dulu ya. Aku akan memeriksa pasien lainnya."
"Baiklah Key."
Key mengelus surai Vannesa lalu beranjak dari ruangan itu. Diluar ruangan Vannesa Key menyandarkan tubuhnya ditembok dan meneteskan air mata yang segera diusap olehnya. Setelah itu Key melenggang pergi sebelum dirinya dilihat oleh seseorang.
Namun Key tidak menyadari bahwa Dio sudah mengetahui kalau Key menangis,itu membuat Dio merasa ada yang tidak beres dengan kondisi Vannesa saat ini.
__ADS_1