Vannesa Elvia

Vannesa Elvia
Panggung sandiwara


__ADS_3

"Kau! Kau disini?"


Vanessa sedikit berteriak ketika melihat wajah dokter itu. Vannesa benar-benar mengenal dokter itu.


"Hai Vannesa."


Key berjalan mendekati Vannesa sambil tersenyum manis. Yap benar sekali,dokter itu adalah Key Van.


"Hais kau ini ya, pantas aku melihat mobilmu diluar tadi."


Key mengacak rambut Vannesa karena gemas,dia mengambil posisi duduk di samping Vannesa.


Rio yang melihat pemandangan itu merasa sangat marah,entah kenapa melihat Vannesa dekat dengan Key hati Rio merasa sakit.


"Em kau kenal dengan dokter ini Vann?" Zana bertanya kepada Vannesa. Lalu Vannesa mengangguk.


"Iya dia itu temanku,tapi aku tidak tau kalau dia adalah seorang dokter hahaha."


Semua yang ada diruangan itu tertawa kecuali Rio. Rio akhirnya memilih untuk merebahkan tubuhnya.


"Haii,apakah kalian sudah lama disini?" Semua orang melihat kearah pintu, Rian datang dengan diikuti maid yang membawa minuman serta camilan untuk mereka.


"Tidak pak,kami belum terlalu lama." Zana segera menjawab pertanyaan Rian membuat Vannesa dan Cakra menahan tawa mereka.


"Baiklah,silahkan dinikmati hidangan dari mansion kami. Semoga kalian suka ya." Rian mengatakannya sambil tersenyum membuat Zana terpukau melihatnya.


"Permisi tuan muda,saya minta maaf sudah mengganggu waktu Anda sekalian." Seorang maid masuk ke dalam ruang kamar Rio.


"Ada apa?" Rio terbangun mendengar suara maid itu.


"Diluar ada tamu yang ingin menjenguk tuan,mereka ada 3 orang. Namun mereka bukan berasal dari Bigantara Grub maka dari itu kami tidak berani menyuruh mereka masuk."


"Mungkin itu adalah kakakku Rio." Key berdiri lalu mengemas peralatan medisnya tadi.


"Kebetulan sekali,kau mau kemana Key? Kenapa kau mengemas barangmu?" Rian yang melihat Key membereskan peralatannya itu segera menghentikannya.


"Aku hanya malas berdebat dengan kakakku."


Key melepas kacamata yang sebelumnya ia pakai,dia menoleh kearah Vannesa dan tersenyum miris.


"Key,kau harus membuktikan kepada kakakmu kalau kau itu bisa berdiri sendiri. Bahkan kau bisa menjadi dokter juga tanpa dukungan keluargamu. Jadi kau tidak bisa kabur sekarang ini."


Vannesa berdiri lalu mendekati Key,dia menepuk pelan lengannya. Key tersenyum lalu mengangguk kepada Vannesa. Lalu Key mengambil posisi duduk disebelah Rio yang sedang berpura-pura sakit.


Rio memejamkan matanya,Zana dan Cakra yang tidak tau tentang akting itu merasa kasihan kepada bosnya itu.


Tok tok


Pintu diketuk oleh maid Rio,lalu pintu itu terbuka dan terlihatlah 3 orang yang sebelumnya dibicarakan. Mereka adalah Desta, Syerly dan Maya. Terlihat Maya menggandeng lengan Desta, seperti tidak mau melepaskan Desta sedikitpun. Vannesa yang melihatnya merasa jijik.


"Wah lihatlah siapa ini. Masuklah kalian." Rian mempersilahkan mereka bertiga masuk ke dalam panggung sandiwara saat ini.


"Terima kasih atas sambutannya. Kami membawakan buah untuk pak Rio semoga lekas sembuh."


Ucap Desta sambil berjalan mendekat kearah kursi tempat Vannesa dan yang lainnya berada. Ketika mereka bertiga duduk, Maya melihat kearah Vannesa yang sedang berbincang dengan Cakra dan Zana.

__ADS_1


"Wah lihat siapa ini? Kenapa kau ada disini? Apakah kau tidak terluka? Ini aneh sekali.


Vannesa yang merasa bahwa kata-kata pujian itu ditujukan untuknya maka dia langsung tersenyum dan menjawab.


"Maaf seharusnya saya yang bertanya kepada Anda,siapa Anda? Kenapa ada disini? Bukankah ini aneh." Ucap Vannesa dengan nada yang menyindir.


"Apa maksudmu tentu saja aku adalah pacarnya Desta,dan datang kemari ingin menjenguk pak Rio."


"Begitukah? Kalau begitu aku adalah Vannesa karyawan pak Rio dan juga aku kemari tentu saja untuk menjenguk bos yang sedang sakit. Jadi tidak aneh kalau karyawan seperti aku datang kemari."


Vannesa sengaja menekankan kata-katanya,jawaban dari Vannesa membuat Maya tidak bisa berkutik,karena memang dialah yang aneh disini,karena tidak ada hubungan apapun dengan Rio. Maya merasa sangat marah kali ini,dia ingin mengatai Vannesa namun lirikan Desta yang tajam membuat Maya tidak jadi melakukannya.


"Hahaha sudahlah,itu tidak penting. Kalian minum dan makanlah dulu." Rian mempersilahkan Desta, Syerly, Maya untuk minum,lalu mereka segera minum.


"Dokter bagaimana keadaan adikku?" Rian mendekat kearah ranjang tempat dimana Rio berbaring dan juga Key memeriksa.


"Kondisinya stabil,hanya saja dia ada sedikit memar. Besok juga sudah pulih."


"Syukurlah kalau begitu,dokter makan saja dulu." Rian merasa lega atas ucapan dokter Key barusan.


Desta memicingkan matanya kearah dokter itu,dia merasa kalau suaranya sama dengan suara Key. Desta terkejut ketika Key menoleh kearahnya,dan berjalan menuju kursinya tadi didekat Vannesa


"Key? Kau bagaimana bisa?" Desta melihat Key dari bawah keatas, memastikan kalau itu benar-benar Key.


"Ada apa kak? Tidak usah terkejut begitu." Ucap Key sambil makan buah jeruk yang dihidangkan.


"Tapi bagaimana mungkin kau seorang dokter?" Desta merasa sedikit syock dengan hal ini. Dia bahkan berkeringat dingin karenanya.


"Bagaimana Anda ini pak? Kalau tidak salah dengar barusan dokter ini memangil Anda dengan sebutan 'kak' bukan? Kenapa bisa Anda sangat terkejut jika dia seorang dokter? Apakah hubungan kalian seburuk itu,sampai tidak tau kalau adiknya adalah seorang dokter?"


"Eh itu aku hanya terkejut saja. Kenapa dia bisa memeriksa keadaan pak Rio." Desta asal menjawab pertanyaan itu,dan perkataan Desta dapat dijawab dengan mudah oleh Key.


"Kau itu bicara apa kak? Aku adalah teman baik Rio dan Rian,aku juga sudah menjadi salah satu dokter pribadi mereka. Jadi tidak masalah kalau aku yang memeriksa keadaanya."


Lagi-lagi jawaban itu membuat Desta terdiam,bahkan Maya tidak mau terlibat masalah itu,dia memilih untuk memakan pie buah.


"Berisik sekali." Rio membuka matanya dan duduk. Semua orang diruangan itu melihat ke arah Rio.


"Bagaimana keadaanmu?" Rian mendekat dan duduk di tepi ranjang Rio.


"Hanya sedikit pusing. Aku lapar." Tatapan Rio tertuju pada kue strawberry yang ada dimeja.


"Oh kau mau kue? Aku suruh maidmu membelahnya dulu." Rian memanggil maid Rio. Maid yang ada disamping Rio adalah 3 laki-laki dan 1 perempuan paruh baya. Bahkan maid perempuan itu juga jarang sekali disuruh oleh Rio.


"Pak Rio bagaimana lukamu? Apakah Anda sudah mendingan?" Desta inisiatif bertanya pada Rio,dan Rio terlihat tidak suka dengan itu.


"Kau bisa melihatnya sendiri." Ucapnya dengan nada dingin.


"Pak apakah besok tetap akan diadakan pesta? Mengingat kondisi Anda masih sakit." Cakra giliran bertanya kepada Rio,dan Rio melihat kearah Key,memberi kode supaya pertanyaan itu dijawab olehnya.


"Itu tidak masalah,karena kondisi Rio sudah mulai membaik. Dia hanya perlu istirahat dengan cukup saja,dan lukanya juga sudah diurus dengan baik."


"Hey adik ipar,kenapa kau menjawab pertanyaan yang diajukan untuk pak Rio? Bukankah itu tidak baik." Maya berbicara dengan suara lembut tapi kata-katanya sama sekali tidak enak didengar.


"Siapa yang memberimu kesempatan untuk berbicara!" Rio membentak Maya, sedangkan Maya terlihat kaget.

__ADS_1


"Aku maaf pak, tidak bermaksud begitu. Aku hanya memberi tau adikku ini."


"Benarkah? Kalau begitu terimakasih. Tugas ku sudah selesai,aku izin untuk pamit." Key mengambil tas yang berisi peralatannya dan berniat pergi.


"Kau mau kemanaaa? Jangan pergi!" Rian yang tiba-tiba muncul dari pintu kamar itu segera merebut tas Key.


"Rian,aku harus pergi. Masih banyak pasien yang menunggu." Ucapnya sembari mengambil tas di tangan Rian.


"Huh,baiklah kalau begitu. Terimakasih ya."


Rian menepuk bahu Key pelan,Key melihat kearah Vannesa yang juga melihat kearahnya.


"Aku pamit duluan, jaga dirimu baik-baik Vann."


"Iya tentu saja. Kau hati-hatilah dijalan."


Vannesa tersenyum kepada Key dan Key mengangguk lalu berlalu meninggalkan kamar Rio.


"Apakah dia pacarmu Vannesa?" Syerly yang sejak tadi diam kini akhirnya membuka suara. Vannesa melihat Syerly dengan tatapan yang sulit diartikan. Lalu dia tersenyum kearah Syerly.


"Apakah setiap orang yang dekat denganku bisa diartikan sebagai pacarku? Apakah sesempit itukah pengetahuanmu? Hingga tidak tau kalau ada hubungan pertemanan?"


Vannesa menjawabnya dengan suara yang lembut namun terdengar tidak enak ditelinga Syerly.


"Itu hahaha,aku hanya bertanya." Jawaban Syerly membuat Zana dan Cakra saling pandang,mereka jelas-jelas tau maksud sebenarnya dari Syerly bukanlah itu.


"Tuan ini kue yang tuan mau." Maid itu memberikan piring kecil berisi potongan kue kepada tuannya.


"Aku tidak bisa makan lenganku sakit. Bisakah aku disuapi?" Rio menatap tangannya yang pura-pura sakit itu, sedangkan Rian menggeleng melihat tingkah laku Rio.


"Akting ini berlebihan kan? Dia selama ini tidak manja seperti ini." Rian berbicara dalam hatinya.


"Tuan mau saya suapi?" Ucap maid itu,merasa sedikit aneh dengan usulannya sendiri. Rio menoleh kearah maidnya yang saat ini berkeringat dingin karena takut.


"Ma maaf tuan saya tidak bermaksud begitu." Maid itu merasa takut dengan tatapan Rio yang sangat dingin. Membuat siapapun yang melihatnya pasti akan ketakutan,tapi berbeda dengan Vannesa. Dia dengan santainya malah berjalan mendekati maid itu yang masih menunduk takut.


"Tidak masalah kau bisa pergi sekarang,aku saja yang menyuapinya." Ucap Vannesa kepada maid itu.


Semua yang mendengar kata-kata Vannesa terkejut. Terutama Desta,dia sampai terbatuk saking kagetnya,dia tersedak air minumnya sendiri. Rian yang melihat Desta terbatuk tertawa pelan.


"Ada apa? Kenapa kau tidak segera pergi? Apakah kau lupa kepada nonamu ?" Ucap Rio kepada maid itu,dan maid tersebut menuruti keinginan tuannya,dia memberikan piring tersebut kepada Vannesa.


"Tidak segera minta maaf?" Rio membentak maidnya,dan maid itu membungkuk kepada Vannesa.


"Maafkan saya nona,saya tidak bermaksud seperti itu kepada nona." Vannesa tersenyum dan mengangguk.


"Tidak masalah,kau pergilah." Maid itu segera pergi setelah mendapatkan perintah dari Vannesa. Dan Vannesa mendekat ke arah ranjang Rio dan duduk disana.


"Vannesa apakah pak Rio memerintahmu untuk duduk disana?" Desta berbicara dengan nada yang sinis,sedangkan Vannesa hanya diam saja tidak perduli dengan Desta.


"Ada masalah apa pak Desta? Vannesa adalah gadisku,dia tidak memerlukan perintah dariku untuk mendekatiku." Ucap Rio kepada Desta,sedangkan Zana dan juga Cakra rang mendengarnya terkejut.


"Apakah benar Vannesa sudah berpacaran dengan pak Rio? Kenapa dia tidak bilang?" Zana berbicara di dalam hatinya. Dan Rian yang melihat ekspresi kaget dari Cakra dan Zana segera mendekati mereka.


"Hey kalian jangan diam saja,makanlah itu. Kalian belum makan kan? Apakah perlu aku memasakkan untuk kalian?" Tawar Rian kepada Cakra dan Zana.

__ADS_1


"Wah tidak usah pak,kami tidak lapar." Ucap Cakra sambil tersenyum, sedangkan Zana terlihat kecewa dengan jawaban Cakra. Dalam hati Zana,dia sangat ingin makan masakan Rian.


__ADS_2