
"KAU HARUS MATI!"
"AWAASSSS!" Teriak mereka bersamaan dengan menancapnya sebuah belati ke perut.
Jleb!
"Akkhhh... Huekk!"
Mereka yang melihat itu segera memalingkan wajahnya,mereka tidak tahan melihatnya. Melihat kondisinya yang kini berlumuran darah dari bekas tusukan hingga muntahannya yang berupa darah.
"K kauu.."
"Ya,kenapa? Kau masih meragukan kemampuanku? Sudah kubilang kalau kau tidak ahli dalam menggunakan belati,kenapa masih nekat?" Ucap Vannesa sembari menatap tajam kearah pria berbadan gempal yang sudah bersimbah darah didepannya.
Dengan kemampuan yang Vannesa miliki,ia dapat dengan mudah membalikkan serangan yang sebelumnya ditujukan kepadanya, menggunakan pisau kesayangannya ia menghunuskan belati itu kearah perut sang korban hingga membuatnya muntah darah dan saat ini sudah tergeletak dilantai,dengan darah yang masih mengalir dari luka tusukan di perutnya.
Meskipun kesadarannya masih tersisa,ia sudah tidak bisa lagi berkata-kata bahkan untuk menggerakkan tangannya pun rasanya sudah sangat menyiksa.
Vannesa tersenyum penuh kemenangan melihat hal itu,lain halnya dengan Key yang saat ini sudah menatap nyalang kearah anak buah kakaknya yang saat ini berdiri penuh rasa takut.
"Emm nona, bisakah kita segera masuk? Aku tidak tahan melihat darahnya itu." Ucap Bryan sembari menutup mulutnya menahan muntah.
Vannesa tersenyum miring melihat kelakuan sang desainer muda itu,ia mengangguk pelan sembari berjongkok disebelah tubuh korbannya.
Set!
"ARGGHH!!"
Teriakan itu sekaligus mengakhiri hidupnya bersamaan dengan belati yang tercabut meninggalkan bekas tusukan yang kini mengeluarkan darah lebih banyak dari sebelumnya.
"Ya Tuhan,aku terlalu polos dan lugu untuk melihat semua ini." Ucap Bryan sembari memegang perutnya yang terasa mual,bahkan kini wajah pemuda tampan itu berubah menjadi pucat pasi.
Rian dan Dio pun mengamini kata-kata Bryan kali ini,mereka merasa sangat takut sekarang hanya untuk berhadapan dengan gadis yang mereka bentak sebelumnya.
__ADS_1
"Kalian mau main-main dulu atau menyerah?" Ucap Key yang saat ini tengah menatap satu per satu anak buah kakaknya itu.
Prang.. Prang..
Bruk!
Tanpa banyak bicara mereka menjatuhkan senjata tajam yang sebelumnya mereka pegang,dan menjatuhkan tubuh mereka. Key yang melihat itu tersenyum penuh kemenangan,ia berjalan mendekati mereka yang saat ini sudah ketakutan.
"Ikut kami ke dalam, dan bebaskan tahanan kalian atau aku akan menghabisi kalian semua."
Glek!
Susah payah mereka menelan salivanya,dengan tubuh yang gemetar mereka mengangguk faham dan berdiri mendahului sekelompok pemuda yang saat ini dicap sebagai tamu tak diundang itu.
***
"Kau yakin jalannya lewat sini?" Tanya seorang pemuda yang sedari tadi terus mengedarkan pandangannya menatap pepohonan yang menurutnya semua sama.
"Kalau bukan lalu dimana lagi?" Jawab Haris apa adanya.
Haris memutar bola matanya jengah,sudah lebih dari 3 kali Reza mengatakan hal yang sama setiap kalinya. Ia memang harus menyiapkan kesabaran yang banyak supaya bisa menghadapi pemuda yang memiliki kesabaran setipis tisu seperti Reza saat ini.
Namun tidak dapat ia pungkiri,memang sedari tadi ia merasa hanya berputar-putar saja, terlebih lagi hutan yang mereka susuri ini sangatlah asing baginya,semua pohon dan medannya sama dan tentunya akan membuat orang awam seperti mereka akan kebingungan mencari jalan, kecuali orang itu adalah psikopat.
Malam semakin larut,dinginnya udara semakin terasa menusuk hingga ke tulang. Suara binatang malam semakin membuat mereka merasa ketakutan,belum lagi mereka harus terus berjalan dalam keremangan cahaya rembulan. Karena perintah dari Vannesa yang melarang mereka menggunakan penerangan mereka terpaksa melihat dengan bermodalkan cahaya rembulan saja dan itu semakin membuat mereka kesusahan.
Bukan tanpa alasan Vannesa melakukan itu,itu karena ia tidak ingin pergerakan dua orang itu menarik perhatian orang lain terutama musuh mereka,dan cahaya itu juga akan menarik perhatian hewan buas di dalam hutan tersebut. Meskipun Vannesa sendiri meragukan kalau disana ada hewan buas,karena hutan itu adalah hutan cagar alam yang memang selalu dipantau oleh pihak pemerintah.
Langkah kaki mereka terasa berat,mereka akhirnya memutuskan untuk istirahat di bawah pohon jambu yang lumayan besar dan rindang,mereka duduk di bawah sana tanpa berfikir apakah ada hewan seperti ular atau yang lainnya,mereka cukup lelah hanya untuk memikirkan hal itu.
"Duh,kita ini seperti sedang mencari harta karun tanpa peta ya. Susah,dan bagaimana kalau kita justru tersesat, seharusnya tadi Rian saja yang ikut denganmu!" Gerutu Reza sembari mengusap peluh di dahinya.
Haris yang mendengar itu hanya mencebikkan bibirnya,ia malas menanggapi ocehan dari rekan perjalanannya itu. Berdebat dengan Reza sama saja dengan berdebat bersama perempuan akan selalu kalah! Itulah moto Haris,ia tidak suka berdebat.
__ADS_1
Klik!
Perhatian mereka berdua tersita ketika mendengar suara tersebut,dengan cepat mereka menoleh kearah datangnya suara.
Deg!
Jantung mereka seakan mau lepas saja,kini dihadapan mereka teracung sebuah pistol. Tidak cukup satu melainkan 3 buah pistol sekaligus.
Mereka meringis menahan ngilu membayangkan bagaimana jika peluru panas tersebut bersarang ditubuh mereka. Tanpa dikomando mereka mengangkat kedua tangannya.
'Sumpah lebih baik aku tadi memang tidak ikut Haris,Tuhan berilah aku kesempatan, kasihan pasien yang masih menungguku di rumah sakit.' Batin Reza menangis,wajahnya yang tadi merasa lelah sekarang tidak terlihat lagi hanya wajah pucat karena ketakutan yang terlihat.
'Mereka siapa? Apakah orang dimaksud gadis tadi adalah mereka?' Gumam Haris sembari melirik ketiga orang asing di hadapannya. Dan jangan lupakan pistol di tangan mereka,salah gerak sedikit saja bisa dipastikan peluru itu akan melesat menembus daging mereka berdua.
"SIAPA KALIAN!" Suara bariton itu membuat Haris dan Reza memalingkan wajahnya kearah sebaliknya tempat suara tersebut berasal.
Samar-samar mereka dapat melihat siapa sosok di kegelapan tersebut,karena minimnya cahaya mereka hanya dapat melihat perawakannya yang terlihat sangat gagah meskipun tidak terlihat wajahnya namun mereka berasumsi kalau orang tersebut adalah pemimpin mereka.
"Ka kami hanya num pang lewat saja haha,anu kami tersesat pak." Jawab Reza nyeleneh, ia tidak tahu saja kini di sekitar mereka telah tersebar banyak sekali orang yang siap memusnahkan mereka.
"DIAM! AKU TAU KALIAN BERBOHONG, KATAKAN ATAU AKU AKAN MENGOBRAK ABRIK ISI PERUT KALIAN!" Tegas laki-laki itu.
Sontak itu membuat Reza gelagapan,ia tidak mau mati konyol hanya karena ucapannya yang salah.
Haris meringis mendengar ancaman itu,dan ia tau kalau itu bukanlah sekedar ancaman belaka.
"Tim eagle benar? Kami kemari untuk bertemu kalian semua." Jawab Haris tegas,ia bahkan kini sudah menurunkan kedua tangannya dan menatap satu persatu diantara mereka, mengesampingkan rasa takutnya. Dia sempat terkejut ketika melihat banyaknya orang yang kini sudah mengelilingi mereka,namun ia segera mengubah ekspresi wajahnya menjadi biasa.
Mendengar jawaban dari pemuda itu sontak saja membuat mereka semua terkejut,bahkan mereka tidak merasa kenal dengan laki-laki itu. Juga kondisi sangatlah gelap,mereka bertanya-tanya bagaimana mereka tahu kalau mereka adalah eagle sedangkan identitas di seragam mereka tidak terlihat karena malam hari.
Berbeda dengan Reza yang saat ini sudah melotot mendengar kata-kata itu yang diucapkan oleh Haris,ia tidak seharusnya mengucapkan kalimat itu sebelum bertemu dengan kelompok yang mereka cari,ia takut kalau mereka justru bertemu musuh saat ini.
'Mulutmu Haris! Tidak banyak bicara,sekali bicara malah membongkar rahasia.' Gumam Reza dalam hati.
__ADS_1
"Siapa kalian!" Tanya pria itu lagi,namun kali ini nada bicaranya lebih terdengar bersahabat dari sebelumnya.
Haris tersenyum simpul "Tim eagle? Jadi kalian memang benar mereka ya? Kami disini membawa pesan untuk kalian dari gadis berdarah dingin, black shadow."