
Vannesa melihat kearah rumah besar itu,tentu saja ia ingin segera menyelamatkan orang tuanya meskipun ia sudah tidak diharapkan lagi sejak kecil.
Vannesa memakai cadarnya dan berlari ia memanjat pagar tembok mengelilingi rumah itu. Hans yang melihat Vannesa sangat nekat hanya bisa meringis,mau tidak mau ia harus membantunya, sebisa mungkin.
Vannesa dari atas tembok itu dapat melihat dengan jelas laki-laki berbadan cukup besar itu menarik tangan 2 orang paruh baya yang ia yakini sebagai orang tuanya. Netra Vannesa membelalak ketika melihat kehadiran Maya disana,kedua tangannya diikat kebelakang dan di apit oleh 2 orang laki-laki.
'Ternyata Maya memang anak angkat orang tuaku?' Gumam Vannesa dalam hati. Hans yang sudah berdiri disamping Vannesa menepuk bahu Vannesa pelan berharap Vannesa bisa menerima kenyataan itu.
Vannesa tersenyum getir dibalik cadarnya "Hei lepaskan mereka!" Teriaknya dari atas tembok itu.
Semua orang yang mendengar menoleh serentak kearah Vannesa termasuk Desta yang berada didalam mobil.
Dalang dibalik penyerangan itu melepaskan kacamatanya dan memicingkan matanya kearah Vannesa "Sial! Wanita itu lagi! Kembali,aku tidak mau berurusan dengan dia!" Titahnya kepada supir yang mengemudikan mobilnya.
"Baik bos." Supir itu menyalakan mesin dan melaju menjauhi tempat kejadian.
"Sial! Tinggal sedikit lagi!" Ia marah dan memukul kursi kosong disampingnya dengan keras. Rencananya tidak berjalan dengan baik karena selalu diganggu oleh Vannesa terus menerus.
Vannesa menatap mobil yang pergi itu dengan tatapan dinginnya,ia tidak perduli siapa bos yang ada dibalik penyerangannya. Yang lebih penting baginya saat ini adalah orang tuanya.
Salah seorang dari penjahat itu berteriak kepada Vannesa sambil menunjuk kearahnya "Siapa kamu! Tidak usah ikut campur urusan kami!"
Vannesa tersenyum remeh,ia lompat kebawah dengan pendaratan yang sempurna. Lalu ia berjalan perlahan mendekati orang-orang itu.
Mereka mengacungkan pistol kearah Vannesa, berjaga-jaga kalau Vannesa menyerang mereka.
"Ck,kau masih tanya aku siapa? Apakah kalian tidak melihat kalau bos kalian sendiri takut denganku? Artinya kemampuanku berada diatas kalian."
Mendengar jawaban Vannesa Hans menggelengkan kepalanya,cukup sombong ternyata temannya ini. Tapi kesombongannya memang sepadan dengan kemampuan Vannesa.
"Alah,bos kami itu tidak mau punya urusan sama orang lemah kaya kamu! Makanya pilih pergi." Ujar penjahat itu tak mau kalah.
Vannesa hanya tersenyum remeh dibalik cadarnya. Sesekali ia melirik orang tuanya yang kini didudukan di teras rumah bersama Maya dengan kedua tangan terikat.
"Mau tanding? Ayok!" Tantang Vannesa kepada orang-orang itu.
__ADS_1
Semula mereka saling tatap,bimbang antara menghadapi Vannesa atau tidak. Tapi karena memang tidak ada jalan lain akhirnya mereka terpaksa meladeni Vannesa.
"Oke kalau begitu."
Mendengar itu Vannesa tersenyum puas,ia memasang sikap kuda-kuda dengan kuat. Vannesa melirik Hans yang masih nyaman bertengger diatas pohon jambu sembari menikmati buah jambunya. Hans hanya akan membantu Vannesa ketika ia sudah bosan melihat pertunjukannya. Meskipun dapat dipastikan pertunjukan yang Vannesa berikan tidak pernah gagal membuatnya terkesan.
'Ck Hans payah.' Gumam Vannesa dalam hati.
Vannesa menyambut 2 orang laki-laki dengan badan lebih besar dan tinggi dibanding dengannya.
Vannesa memang tidak menggunakan senjata apapun karena lawannya kali ini hanya dengan tangan kosong.
"Wah ternyata kau sangat lihai. Siapa namamu?" Tanya salah seorang lawan Vannesa.
Vannesa tersenyum tipis ia memelintir tangan lawan yang menggodanya itu dan membantingnya dengan keras ke tanah.
Bruk!
"Kau tidak pantas mengetahui identitas diriku."
"AAKHH!"
Vannesa mematahkan tangan pria itu lantas tersenyum,ia bangkit dari posisinya dan kembali menangkis serangan dari yang lainnya.
"Kurang ajar kau!" Teriak seorang kepada Vannesa. Vannesa tidak perduli dengan itu,ia tetap bertahan, menangkis semua serangan dari 5 orang sekaligus.
Vannesa bernafas dengan sedikit terengah-engah mendapatkan serangan bertubi-tubi dari lawannya. "Sudah cukup bermainnya!" Teriak Vannesa lantang.
Vannesa menatap tajam kearah semua lawannya, Vannesa merasakan seseorang akan menyerangnya dari belakang. Dengan gesit Vannesa menghindarinya, sehingga serangan itu meleset.
Merasa tak terima ia kembali melayangkan pukulannya lagi kearah Vannesa,kini yang lainnya ikut melawannya. Vannesa masih dapat mengelak dari beberapa serangan itu. Hingga saat Vannesa lengah satu serangan berhasil membobol pertahanan Vannesa.
Bukh!
"Shhh." Vannesa mendesis menahan rasa sakit di sudut bibirnya, Vannesa merasakan asin dan amis. Vannesa perlahan mengusapnya, terlihat cairan merah itu mengenai jarinya.
__ADS_1
"Hahaha,makanya jangan sok jagoan!" Ejek salah satu lawannya dan disusul gelak tawa lainnya.
"Ck,anggap ini permulaan."
Tidak mau terus mengalah akhirnya Vannesa mengeluarkan belatinya,dengan santai ia berjalan mendekat kearah lawan yang beberapa diantaranya masih tertawa.
"Hahaha dia mau menyerang. Lihat itu!" Ucapnya kepada temannya.
Jleb!
"Akhh!"
"APA! Bagaimana bisa?" Seseorang terlihat bingung melihat salah seorang temannya yang kini sudah terkapar karena luka tusukan di perutnya.
Mereka semua spontan melirik kearah Vannesa yang masih diam ditempatnya. "Ada apa? Kalian mau ini?" Tanya Vannesa santai sambil menunjukkan belati yang masih utuh ditangannya.
"Lalu siapa?" Akhirnya mereka terlihat bingung karena tusukan itu bukan berasal dari Vannesa.
"Ahahahaha! Dasar payah!" Vannesa kembali melangkah mendekati mereka lagi. "Mau bertemu temanku? Ck,kalian pasti akan menyukainya."
Vannesa tersenyum dan melanjutkan langkahnya,namun ia tidak mendekati penjahat itu namun menuju ke teras tempat orang tuanya berada.
Sedangkan dibelakang Vannesa terlihat Hans yang lengkap dengan topengnya dengan memegang dua belati panjang ditangannya.
"Halo! Kalian akan lebih menyukai caraku bermain dibandingkan dengan cara saudariku tadi."
"Kurang ajar!" Teriak lawannya tak mau kalah.
Sang lawan berlari menuju ke arah Hans yang masih tenang diposisinya. Sampai akhirnya Hans melayani semua perlawanan itu.
•
"Kau siapa? Tolong jangan apa-apa kan kami."
Wanita paruh baya itu ketakutan ketika melihat Vannesa mendekat kearah mereka.
__ADS_1