
"Bos mereka semua sudah disini."
Laki-laki yang dipanggil bos itu menyeringai dan melihat kearah orang-orang yang kini tidak sadarkan diri,dalam hatinya ia merasa sangat puas karena rencananya berhasil.
"Bagus sekali! Kalian jaga mereka diluar jangan biarkan mereka keluar dari sini."
"Baik bos."
Percakapan itu usai,sehingga ruangan kecil dan kotor itu kembali senyap mengingat semua yang ada disana dalam keadaan tak sadarkan diri.
"Bukannya itu kedua orang tuamu? Lalu siapa yang dua lagi?" Tanya Lisa kepada Vannesa sambil mengintip dari celah-celah dinding kayu yang berlubang.
Vannesa mencoba mengingat-ingat siapa sekiranya yang masuk akal untuk ditawan disana "Maya,dia anak angkat orang tuaku." Desis Vannesa pelan namun masih dapat di dengar dengan jelas oleh Lisa yang berdiri tak jauh darinya.
"Yang satunya?"
Vannesa menggeleng,ia tidak bisa memastikan siapa yang terletak paling jauh diantara ketiganya, apalagi pencahayaan di ruangan itu kurang,hanya remang-remang.
Dan dilihat dari kondisi ruangannya saat ini dapat dipastikan bahwa ruangan itu adalah sebuah gudang dulunya,karena tumpukan barang-barang didalamnya sangat banyak dan juga seperti tidak pernah dijamah.
__ADS_1
"Kita mau bagaimana?" Tanya Lisa kembali.
Vannesa memang sangat menghawatirkan kondisi orang tuanya,ia juga bisa dengan mudah menyelamatkan nyawa keduanya. Tapi masalahnya disini adalah Vannesa tidak bisa menggunakan identitasnya sebagai mafia hanya untuk menyelamatkan kedua orang tuanya,itu diluar kendalinya.
"Vann?" Tanya Lisa lagi.
"Kita tunggu saja dulu,mereka mau apa kita tidak tau Lis. Sebaiknya kita juga segera pergi dari sini sebelum mereka mengetahui kita."
Lisa mengangguk,kalau dipikir-pikir apa yang dikatakan oleh Vannesa ada benarnya juga, selain itu mereka juga harus segera kembali ke markas.
Diperbatasan hutan bambu Vannesa dan Lisa berpisah, Vannesa memutuskan untuk jalan-jalan keliling kota sedangkan Lisa memutuskan untuk kembali ke markas.
Ketika Vannesa duduk dibawah pohon yang cukup rindang ia dikejutkan oleh kedatangan seorang laki-laki yang ia kenal.
Mendengar itu Vannesa tersentak,pasalnya ia juga di rumorkan sudah meninggal bisa bahaya kalau sampai ia ketahuan saat ini,tapi ia sudah tidak bisa lari lagi dari sana. Akhirnya Vannesa terpaksa menoleh kebelakang.
"Aku sudah mencarimu kemanapun Vann astaga,aku fikir aku tidak akan bertemu lagi denganmu." Tuturnya panjang lebar.
Vannesa sedikit lega ketika melihat siapa yang menyapanya,ia adalah Rian "Ada apa memangnya?" Tanya Vannesa sambil berdiri menyejajarkan dirinya dengan Rian.
__ADS_1
"Kau tau? Rio menghilang,kami sedang mencarinya kemana-mana tapi tidak kunjung ketemu."
Deg
Jantung Vannesa seperti berhenti berdetak,ia merasa sangat bersalah akan hilangnya Rio saat ini, pikirannya melanglang buana tatkala mendengar Rio hilang.
"Bagaimana bisa? Apa kalian sudah lapor polisi?" Tanya Vannesa panik, Rian tersenyum samar dan memalingkan wajahnya kearah lain.
"Sudah Vann,tapi sayangnya belum ada perkembangan. Rio tidak ketemu."
Vannesa mengepalkan tangannya erat,lalu ingatannya kembali ke bangunan kecil yang gelap yang sebelumnya sempat ia dan Lisa datangi.
'Apa jangan-jangan yang satunya tadi Rio? Tapi kenapa bisa Rio?' Gumam Vannesa dalam hati.
Rian yang melihat Vannesa melamun menepuk pelan bahu Vannesa "Kau jangan banyak berfikir Vann,kami akan segera menemukan Rio." Ucap Rian mencoba menguatkan Vannesa,namun mau bagaimana pun juga sebenarnya Rian juga sangat khawatir akan kondisi Rio saat ini.
"Aku tidak apa-apa,justru aku minta maaf kepadamu karena aku tidak bisa membantu." Ucap Vannesa pelan.
"Tidak,bukan salahmu Vann. Mau pulang? Ini sudah malam,aku antarkan." Tawar Rian kepada Vannesa yang langsung dijawab gelengan olehnya.
__ADS_1
"Aku bisa pulang sendiri."
Setelah itu Vannesa kembali berjalan menjauhi Rian yang masih merenung dibawah pohon yang sama sebelumnya, memikirkan bagaimana nasib sang adik.