Vannesa Elvia

Vannesa Elvia
Mansion


__ADS_3

Saat ini di kediaman Bigantara terlihat tidak baik-baik saja,banyak bodyguard yang berjaga di sekitaran mansion adapula yang berkeliling,bahkan suasana mansion yang biasanya damai dan tenteram itu seketika berubah menjadi ramai dan panik.


Pasalnya beberapa jam yang lalu mereka mendapatkan telfon yang menyatakan bahwa Rio sedang ditahan oleh mereka kelompok pembunuh bayaran,tapi anehnya mereka tidak meminta uang tebusan sedikitpun,bahkan ketika mereka ditawari jumlah uang yang tidak sedikit terus saja menolak.


Seakan yang mereka inginkan bukanlah uang, melainkan hanya sekedar memberitahu niat buruk mereka saja. Gelisah,hanya kata itu yang sangat tepat digunakan untuk menggambarkan bagaimana kondisi penghuni rumah disana, Haris,Bryan,juga Reza selaku orang terdekat mereka pun turut merasa gelisah.


"Apa yang harus kita lakukan? Ini terlalu aneh menurutku." Ucap Dio sembari menatap ke empat orang laki-laki yang ada disana.


"Ya gimana lagi? Bahkan lokasinya nggak bisa di dapetin bang,mereka benar-benar kelewat waspada." Jawab Rian yang dibalas anggukan oleh Bryan.


Haris sendiri masih banyak diam,ia masih memikirkan siapa yang dengan berani menculik dan menahan bosnya itu. Setau dia Rio adalah orang sangat waspada dan selalu menaruh curiga terhadap orang asing,kecuali orang itu adalah orang terdekat mereka. Dan pemikiran itu membuat Haris memiliki sedikit celah.


"Pak Dio,dimana Cakra? Kenapa sejak berita menghilangnya pak Rio dia tidak pernah kesini. Setauku dia sangat dekat dengan beliau,bahkan lebih dekat dibandingkan denganku."


Deg!


Pertanyaan membuat semua pasang mata tertuju kepada Haris,mungkin mereka memikirkan hal yang sama saat ini. Cakra adalah orang yang menculik Rio!.


***


Di gelapnya malam terlihat dua motor sport yang melaju dengan kecepatan diatas rata-rata menembus dinginnya malam. Mereka seakan berlomba menuju ke sebuah tempat,mereka tidak perduli jika mereka harus mendahului pengendara yang lain dan menyebabkan mereka dimaki,toh itu sudah terbiasa mereka hadapi.


Memangnya ketika mereka membunuh dan menyiksa, orang-orang dibelakangnya akan diam saja? Jelas tidak,mereka pasti akan memaki bahkan menyumpah serapahi mereka.


15 menit waktu yang mereka tempuh untuk dapat menuju sebuah mansion besar dihadapan mereka saat ini. Normalnya mereka membutuhkan setidaknya 30 menit untuk sampai disana,tapi mereka tidak punya waktu sebanyak itu.


Kini kedua motor itu sudah berhenti tepat di depan gerbang mansion, terlihat banyaknya bodyguard yang menodongkan senjata kepada mereka berdua, seperti belati,pistol,bahkan pedang samurai entah dia mendapatkan benda itu darimana,namun Vannesa terus menatapnya dan tersenyum dibalik kain yang menutupi setengah wajahnya itu, Key yang menyadari hal itu hanya bisa memutar bola matanya malas,ia tau kalau Vannesa sangat menginginkan samurai itu.

__ADS_1


"Katakan siapa kalian! Dan apa tujuan kalian kemari!"


Suara berat nan tegas itu memecah keheningan diantara mereka semua, Vannesa dan Key mengalihkan atensi mereka kearah bodyguard yang bertubuh kekar,tinggi dan berkulit sawo matang itu. Garis wajahnya sangat tegas terlihat kalau dia adalah seorang yang serius.


Vannesa maju selangkah, meskipun dirinya masih diluar pintu gerbang namun semua bodyguard disana tetap mengacungkan senjatanya bahkan salah satu senjata sudah berada 2 cm di depan lehernya, sedikit saja bergerak sudah dipastikan belati itu akan menggores kulit putihnya.


Namun Vannesa tidak takut ataupun tegang,ia merasa itu bukanlah ancaman yang besar,ia tentunya sudah terbiasa dengan hal semacam itu.


"Bisa kami bertemu dengan penghuni mansion ini?" Tanya Vannesa tenang,tidak terdengar gemetar ataupun ragu dalam setiap kalimatnya,dan itu membuat bodyguard disana semakin siaga,mereka bisa merasakan kalau wanita itu bukanlah wanita yang sembarangan.


"Jawab pertanyaanku dulu!" Ucap bodyguard yang sebelumnya bertanya,kali ini ia terdengar lebih menekankan kata-katanya.


Vannesa menggeleng pelan "Takutnya ini justru menyita banyak waktu,aku khawatir terlalu lama aku disini akan berdampak buruk dengan keadaan tuan kalian.... Rio!"



Pandangan mereka tak lepas dari dua orang yang kini berdiri sedikit jauh dari mereka,dengan ditemani beberapa bodyguard disekitar mereka.


"Katakan!" Titah Dio tegas.


Vannesa tersenyum tipis,kini tidak ada Dio yang ia kenal sebelumnya. Dio yang ini sangat tegas,dan baru kali ini ia mengetahui fakta jika orang-orang disana berkaitan dengan Rio, membuat Vannesa sedikit pusing dibuatnya.


Key melirik Vannesa yang masih diam,ia menghela nafas pelan dan mulai mengangkat kepalanya menatap ke lima laki-laki tampan itu. Key enggan mengakui mereka tampan,tapi apa boleh buat mereka memang tampan 11 12 dengan dirinya.


"Sebelumnya,kami bukan musuh. Salah besar jika kalian menganggap kedatangan kami kemari untuk memperburuk keadaan." Ucapnya dengan sengaja,ia ingin menyindir para bodyguard sialan itu yang mengira mereka adalah perampok.


"Ck katakan intinya saja!" Ucap Reza tak sabaran.

__ADS_1


Key menyeringai melihat aura Reza yang sudah tidak sabaran dan sudah emosi,ia sedikit banyaknya tau mengenai tabiat Reza ini karena mereka rekan satu rumah sakit.


"Alihkan atensi kalian kepadaku,sudah jadi gadis sendiri masih dicueki." Ucap Vannesa sensi,mereka semua lantas menatap Vannesa dengan sedikit heran,begitu pula dengan Key yang mengangkat sebelah alisnya melihat kelakuan aneh Vannesa.


'Mereka hanya pengalih perhatian atau bagaimana sih? Aneh sekali.' Gumam Rian dalam hatinya.


"Katakanlah nona aku akan mendengarkan semua kata-katamu." Ucap Bryan dengan seulas senyuman di bibirnya dan itu membuat semua laki-laki diruangan itu menghela nafas,juga merasa jijik dengan kata-kata yang terlontar dari mulut Bryan.


Vannesa berdehem lalu menatap ke lima laki-laki tampan dihadapannya saat ini "Rio telah diculik,dan kedatanganku kemari ingin meminta kerja saka dari kalian semua." Ucap Vannesa to the point. Kata-kata itu disambut kekehan dari Dio yang menganggap kata-kata Vannesa hanyalah bualan semata.


Karena bagaimanapun juga saat ini seharusnya merekalah yang kehilangan Rio namun apa tadi? Justru gadis yang entah darimana asalnya itu menawarkan kerja sama? Memangnya penting bagi mereka untuk menyetujui hal ini?


Vannesa tersenyum miring dibalik kain hitam itu,ia melanjutkan kata-katanya lagi "Kerja sama,kalian tidak tau dimana tempat Rio ditahan bukan? Dan aku tau dimana itu. Aku akan memberitahu kepada kalian, asal kalian setuju denganku."


Mendengar itu semuanya saling melempar pandang, kecuali Dio yang masih menatap datar kearah Vannesa.


"Apa maumu?" Tanya Dio tegas.


Vannesa tersenyum penuh kemenangan "Asal kalian tau,hilangnya Rio ada kaitannya dengan aku,asalkan kalian datang kesana dan berkata kepada mereka semua bahwa gadis yang mereka targetkan selama ini masih hidup mereka mungkin akan lengah dan membuat penjagaan disekitar tempat itu menurun. Disaat yang bersamaan kami akan membebaskan Rio dari sana."


"Bagaimana bisa ada kaitannya dengan kau? Kau siapa hah!" Tanya Reza menggebu,tangannya mengepal menahan emosinya dengan kuat. Ia tidak mau dirinya sampai lepas kendali dan membuat keadaan semakin buruk.


Vannesa menatap kearah Haris yang sejak kedatangannya keruangan itu terus diam dan juga sesekali menunduk "Dia pasti tau mengenai aku."


Kini semuanya beralih menatap Haris,dan membuat Haris sedikit terkejut.


Ia menghela nafas sebelum berbicara "Pak Rio mengenal perempuan ini, sebelumnya ia pernah bertemu dengannya namun aku tidak tau mereka membahas tentang apa,aku sendiri melihat mereka bertemu beberapa kali di tempat yang berbeda." Jawabnya jujur.

__ADS_1


Mendengar itu semuanya tak percaya,biasanya Rio tidak bisa dekat dengan perempuan kecuali Vannesa tapi mendengar cerita dari Haris membuat mereka berfikir kalau perempuan didepannya adalah Vannesa. Tapi dengan cepat pula semua itu ditepis mengingat Vannesa sudah tiada dan itu membuat pikiran mereka menjadi kacau.


__ADS_2