
Pagi ini Vannesa datang lebih pagi ke kantor,dia ingin membereskan ruangannya supaya terlihat lebih rapi dan membuat dirinya betah bekerja disana.
Ketika Vannesa melewati pintu masuk,banyak karyawan lain yang menyapa dirinya. Sebenarnya Vannesa belum memiliki teman baik disini,tapi menurut Vannesa itu bukanlah hal besar,dia hanya ingin fokus bekerja saja.
"Kau Vannesa ya? Kenalin aku Zana."
Vannesa tertegun melihat wanita yang terlihat seumuran dengannya,wanita itu tiba-tiba datang menyapa Vannesa dan mengulurkan tangannya untuk bersalaman. Akhirnya Vannesa meraih uluran tangan Zana.
"Iya aku Vannesa,senang bertemu denganmu Zana." Ucap Vannesa sambil tersenyum.
"Hahaha tidak usah sungkan begitu, kedepannya kita akan berteman baik oke? Oh iya sepertinya kau dekat dengan pak Rio ya?"
Vannesa tersenyum remeh,benar saja wanita ini mendekati Vannesa karena Rio. Sama seperti di novel-novel yang Vannesa pernah baca.
"Kau ini kenapa? Aku kan hanya menggantikan Cakra menjadi sekretaris. Oh iya tapi kau benar juga menjadi sekretaris memang harus dekat dengan ceo nya,kalau tidak dekat bagaimana akan memberikan informasi dan yang lainnya nanti. Aku duluan ya,masih ada pekerjaan yang menungguku."
Vannesa tersenyum sekilas lalu berlalu melewati Zana yang masih berdiri mematung ditempatnya.
Zana mengepalkan tangannya dia tidak percaya dengan perlakuan Vannesa barusan.
"Sia-sia aku baik padanya,ternyata dia lebih licik dari dugaanku. Sepertinya kalau mau mendekati pak Rio memang harus meminjam tangan Vannesa."
Zana tersenyum licik,dia berjalan menuju ke ruangannya setelah itu.
"Hachuu"
Vannesa bersin ketika sampai di ruangannya itu karena suhu ac dilantai itu sangat dingin hari ini,bahkan ada karyawan lain yang mengenakan syal supaya terasa hangat.
"Apakah hari ini Rio ingin membuat semua karyawan yang ada di lantai ini mati beku?"
Vannesa berjalan kearah meja kerjanya. Dia meletakkan tas dimeja lalu merapikan ruangannya
Tok tok tok
Aktivitas Vannesa terhenti karena mendengar suara pintu ruangannya diketuk oleh seseorang. Lalu Vannesa membukakan pintu.
"Eh emm Rian ya?"
Vannesa bertanya dengan hati-hati dan dengan suara pelan,dia takut salah menyebutkan nama.
"Iya Vannesa ini aku Rian, sesuai kesepakatan kemarin Rio istirahat dirumahnya dan aku yang menggantikan dia hari ini."
Rian tersenyum kepada Vannesa,dan hanya diangguki olehnya.
"Kalau begitu masuklah,aku sedang membereskan ruangan ini."
Vannesa memberi jalan kepada Rian,tapi Rian menggeleng.
"Aku hanya mampir saja Vannesa tidak usah repot, sebenarnya Rio tadi sedikit tidak rela aku menggantikannya hahaha dia tadi lucu sekali."
Rian tertawa sangat garing dan Vannesa yang mendengar tawa Rian menahan tawanya sendiri.
"Emm bagaimana suhu ruangan ini? Bukankah sejuk?"
Sejuk? Vannesa melotot mendengar kata-kata yang diucapkan oleh Rian barusan,suhu ruangan yang sangat dingin bahkan bisa membuat darah membeku ini justru disebut sejuk oleh Rian.
"Jadi kau yang membuat ruangan diluar sangat dingin? Apakah kau beruang kutub Rian? Dan apakah kau ini tidak takut kalau karyawan adikmu mati membeku?"
Rian menelan ludah dengan susah payah,dia merasa Vannesa ingin membunuh dirinya. Kata-kata yang keluar dari mulut Vannesa membuat Rian merasakan hawa menjadi aneh.
"Oh itu haha,aku akan memperbesar suhu ruang lantai ini,akan aku buat ruangan ku saja yang dingin. Hahaha aku pergi dulu ya."
__ADS_1
Rian segera pergi dari hadapan Vannesa, sedangkan Vannesa tertawa geli dengan tingkah Rian barusan. Setelah itu Vannesa masuk kedalam ruangannya dan mengerjakan pekerjaannya,karena jam masuk kerja sudah dimulai 5 menit yang lalu.
Vannesa mulai bekerja,dia melihat berkas-berkas dan menyalin kedalam komputer,serta membenarkan beberapa yang salah.
Tidak terasa waktu istirahat sudah tiba, Vannesa berniat pergi ke kantin untuk membeli makan siang.
"Hai Vann,kau mau ke kantin atau kemana?"
Cakra yang kebetulan lewat di depan ruangan Vannesa akhirnya berjalan bersama dengan Vannesa.
"Aku mau ke kantin Cakra."
"Kalau begitu kita searah."
Cakra dan Vannesa berjalan bersama menuju kantin untuk makan. Ketika mereka turun menggunakan lift di dalam sudah ada Zana. Vannesa mengernyit ketika melihat Zana ada didalam lift.
"Hai Vannesa,kau mau ke kantin bukan? Ayo bersama denganku."
Zana menggandeng tangan Vannesa,tapi Vannesa malah merasa jijik dengan itu.
"Wah bagaimana kau bisa tau aku berada di lift di menit ini?"
"Itu mudah,aku sudah menunggu didalam sini selama beberapa menit."
Vannesa tidak percaya dengan yang dikatakan Zana barusan, sedangkan Cakra dia menahan tawanya karena itu.
Ting
Lift sudah berhenti dan terbuka,mereka sampai di tempat tujuan mereka. Cakra menuju tempat duduk yang kosong dengan di ikuti Vannesa dan Zana.
"Kalian berdua mau makan apa? Aku akan pesankan."
"Aku ingin bakso saja dan es teh. Mohon bantuannya ya."
"Baiklah Vannesa. Kalau kau mau apa?"
Cakra melihat kearah Zana yang terlihat sedang berpikir.
"Nasi goreng dan jus jeruk."
Cakra mengangguk lalu berlalu untuk memesan makanan.
Vannesa dan Zana saling diam. Vannesa memilih untuk main game di hpnya. Sedangkan Zana melihat kondisi sekitar kantin.
"Eh itu? Vannesa bukankah itu bos?"
Zana menunjuk seseorang yang berjalan menuju kearah meja di dekat jendela. Vannesa memperhatikan orang itu dengan teliti.
"Bukan itu saudara kembarnya."
Perhatian Vannesa kembali kepada hpnya. Sedangkan Zana jadi penasaran.
"Apa maksudmu saudara kembarnya?"
Vannesa menghembuskan nafas kasar,dia mematikan hpnya dan melihat kearah Zana yang terlihat bingung.
"Kau bekerja disini sudah berapa lama? Pak Rio memiliki seorang saudara kembar yang bernama Rian,tapi sifat Rian berbeda 180° dengan pak Rio. Saat ini pak Rio sedang sakit makanya Rian yang menggantikan dirinya."
Vannesa menjelaskan panjang lebar kepada Zana,dan Zana terlihat lebih terkejut.
"Wahhh kalau begitu aku tidak bisa mendapatkan pak Rio,bisa mendapatkan Rian dong."
__ADS_1
Zana tertawa senang sedangkan Vannesa hanya menggelengkan kepalanya.
"Aku sudah memesan makanan,kalian tunggu saja ya."
Cakra kembali dan duduk di kursinya.
"Emm sekretaris Cakra?" Cakra menoleh kearah Zana.
"Itu,apakah yang ada disana benar saudara kembarnya pak Rio?"
Zana menunjuk kearah Rian,lalu Cakra melihat orang yang ditunjuk oleh Zana.
"Eh bagaimana kau bisa yakin itu adalah pak Rian?"
"Hah? Vannesa yang bilang padaku."
Cakra dan Zana melihat kearah Vannesa yang sedang mengelap mukanya dengan tisu.
"Ada apa? Apakah kalian ini tidak bisa membedakannya bos kalian sendiri?" Zana dan Cakra menggeleng bersama.
"Aduh dasar. Pak Rio kan sedang sakit jadi yang menggantikan dirinya adalah pak Rian."
Cakra mengernyit,dia memang mendengar kabar itu. Tapi melihat bosnya datang hari ini dia merasa rumor itu salah,ternyata memang dia yang tidak bisa membedakannya dengan kembarannya.
"Jadi dia benar adalah pak Rian? Pantas saja dia sedikit berbeda dengan biasanya. Bahkan aroma pengharum ruangan miliknya juga berbeda hari ini,bahkan suhu ruangannya juga."
Cakra terlihat sangat energik,berbeda dengan Zana yang masih terlihat bingung dan penasaran.
"Kalau pak Rio sakit,kita nanti sebaiknya menjenguk dia. Dengan mobilku saja, pulangnya aku antar."
Vannesa dan Zana setuju dengan usulan Cakra. Setelah beberapa menit akhirnya pesanan mereka datang,mereka segera memakannya.
Adinata Grup
Tok tok
Syerly mengetuk pintu ruangan Desta,dia ingin memberitahu Desta sesuatu.
"Masuk." Ucap Desta dari ruangannya. Syerly yang mendengar itu segera masuk.
"Ada apa? Apakah ada masalah dalam pekerjaan?"
Desta berbicara tanpa melihat kearah Syerly.
"Tidak pak,semuanya baik-baik saja. Ini tentang rekan kerja kita pak,saya mendengar kabar jika pak Rio sakit karena terjadi sesuatu hal di perjalanan sepulang dari perusahaan kita."
Desta menghentikan pekerjaannya dan menoleh kearah Syerly, Desta menyeringai mendengar itu.
"Lalu bagaimana keadaannya? Dirawat dimana dia sekarang?"
"Pak Rio dirawat rumahnya pak,saya dengar beliau terluka dan tidak bisa pergi ke kantor."
"Tentu saja sebagai rekan kerja sama kita tidak boleh abai. Kau ikut denganku,kita menjenguk pak Rio dirumahnya,jangan lupa minta cleaning servis membelikan parcel buah sekarang."
"Baik pak, saya akan lakukan. Saya permisi."
Syerly segera keluar dari ruangan Desta,menuju ke tempat cleaning servis.
"Wah ternyata para preman itu bekerja dengan baik juga. Aku pikir mereka berbohong padaku."
Desta tersenyum dengan penuh kemenangan,dia sangat puas dengan hasil yang dia dapatkan sekarang.
__ADS_1