
Dio masuk keruangan Vannesa dirawat,dengan tangan membawa obat yang direbusnya dari apotik tadi.
"Hai Vannesa, maafkan aku lama." Ucap Dio sembari mendudukkan dirinya dikursi dekat dengan Vannesa.
"Tidak apa Dio. Berapa harga obatnya aku akan mengganti uangmu."
Dio menggeleng kuat mendengar Vannesa,ia berniat tulus menolongnya. Bukan karena dia adalah calon adik iparnya tapi memang sejak awal sebelum dia tau tentang hubungannya dengan Rio dia sudah berniat membantu.
"Tapi Dio,aku-"
"Sudahlah,kau tidak boleh menolak rezeki ya. Aku membantumu,kau juga harus membantuku untuk mendapatkan pahala, terimalah bantuanku maka aku dapat pahala. Jadi bantu aku ya?" Jelas Dio panjang lebar itu membuat Vannesa tertawa pelan. Akhirnya Vannesa mengangguk samar,ia menatap Dio yang tersenyum kearah Vannesa.
"Kau sudah makan? Mau aku suapi?"
Vannesa menggeleng "Aku bisa sendiri,tolong ambilkan buburnya."
Dio segera mengambil mangkuk berisi bubur di nakas samping brankar tempat Vannesa saat ini duduk,lalu ia memberikannya kepada Vannesa.
"Terimakasih Dio."
"Tidak masalah,oh iya obatnya aku taruh disini ya,aku akan keluar dulu mencari angin."
"Iya Dio terimakasih."
Dio menaruh obat milik Vannesa itu di nakas dan berlalu dari hadapan Vannesa, Dio berjalan menuju taman di rumah sakit itu. Netranya melihat kursi yang kosong dan segera ia mendaratkan diri disana.
Sebenarnya alasan Dio keluar bukanlah hanya untuk mencari udara segar namun ia ingin menghubungi anak buahnya.
Dio terlihat mencari-cari nama orang yang akan dia hubungi,setelah tersambung Dio segera bicara tanpa basa-basi lagi.
'Halo bos?'
"Aku ingin kalian mencari sesuatu untukku."
__ADS_1
'Apa bos katakan saja?'
"Aku kirim ke kalian, setelah itu kalau sudah dapat informasi beritahu padaku."
'Oke bos kami mengerti.'
Setelah itu Dio mematikan panggilannya sepihak. Dan seketika Dio melihat notifikasi chat yang baru saja masuk ke ponselnya.
Bunda Negara : [Dio kamu dimana? Apa nggak pulang?]
Dio : [Dio ada perlu mah,mama ga perlu khawatir sama Dio.]
[Oh ya mah, Dio minta tolong sama mama boleh?]
Dio menatap ponselnya yang masih didalam chat mamanya, dua centang biru namun lama sekali sebelum ada tulisan Typing dibawah nama ibunya. Mungkin ibunya sedang berfikir tentang bantuan yang akan diminta oleh Dio. Pasalnya dari 4 anaknya hanya Dio yang suka ngelantur kalau minta sesuatu.
Dio tersenyum melihat ibunya mulai mengetik,ia menunggu balasan ibunya dengan mata berbinar seperti anak kecil yang sangat berharap kepada orang tuanya untuk diberikan permen.
Bunda Negara : [Iya apa?]
Kan bener pikiraan ibunya pasti bener, di rumah sana ibunya pasti sudah menggeleng melihat jawaban aneh dari anak sulungnya ini.
Bunda Negara : [Nggak janji Dio,mama males bawa kalkun segede itu. Biarin aja di meja dapur. Kalau mau ngerjain pulang cepat.]
Dio memutar bola matanya jengah,ia sudah menduga meminta bantuan namanya juga tidak akan kelar. Apalagi Rian anak kesayangan ibunya.
Dio : [Yasudah lah mah, intinya Dio gabisa pulang dulu.]
Setelah itu Dio mematikan ponselnya,ia merebahkan tubuhnya di sandaran kursi taman yang keras karena terbuat dari kayu. Ia memejamkan mata menikmati suara desiran angin.
Sementara Vannesa didalam ruangannya menatap ponselnya yang sedari tadi berbunyi. Vannesa menatap jengah ponselnya yang isinya hanya tugas dan tugas setiap kali ia membukanya.
Vannesa memang mengganti nomor teleponnya disaat dia memutuskan resign dari perusahaan waktu itu. Vannesa hanga tidak mau dihubungi oleh siapapun,dia ingin memulai latihan yang serius.
__ADS_1
Tapi sepertinya semesta berkata lain,ia justru ditemukan lagi dengan Rio. Meskipun dalam identitasnya yang lain dan tidak diketahui Rio tapi tetap saja Vannesa harus waspada.
"Astagaa iya besok aku ada janji bertemu Rio. Kalau begitu besok pagi aku harus bisa keluar dari sini." Ucapnya pelan sembari menatap tanggal di ponsel yang ada digenggamannya.
Vannesa merebahkan tubuhnya perlahan,memang rasa sakitnya sudah mulai berkurang namun Vannesa tetap saja merasa sedikit lemas. Vannesa menatap plafon berwarna putih dengan sarang laba-laba di sisi sudutnya.
Tapi itu sama sekali bukan hal yang ingin Vannesa lihat saat ini. Vannesa hanya ingin melihat dan merasakan kebahagiaan dan kedamaian. Jujur saja selama Vannesa kecil hingga saat ini ia benar-benar belum pernah merasakan kedua hal itu.
Ingatan Vannesa kembali ke waktu saat Vannesa kecil,ia memiliki orang tua namun tidak dengan hati mereka. Setelah itu di panti Vannesa mendapatkan hati orang-orang namun tidak dengan orang tuanya. Bahkan saat ini Vannesa tidak punya keduanya. Seakan semesta tidak mengijinkan Vannesa bahagia.
Setelah lelah memikirkan hal itu Vannesa menguap dan akhirnya terlelap,mungkin karena efek obat yang baru saja diminumnya tadi.
Pintu ruangan berderit pelan, memperlihatkan sosok laki-laki yang tinggi dengan badan altelis yang dibalut dengan pakaian casualnya berjalan santai kearah Vannesa. Siapa lagi kalau bukan Dio? Tentunya bukan Key,karena Key memakai jas dokter tadi.
Dio tersenyum melihat wajah Vannesa dengan mata terpejam,dan tidak terlihat tersiksa seperti tadi. Dio mendekat dan menempelkan punggung tangannya ke jidat Vannesa,mengecek apakah Vannesa masih panas atau tidak.
"Syukurlah kalau kau sudah membaik." Dio beringsut menarik lagi tangannya lalu duduk di sofa yang disiapkan di ruangan itu.
"Andai aku bertemu denganmu lebih awal pasti sudah jadi milikku. Namun sepertinya semesta tidak mengijinkan aku memilikimu. Hmm yasudah tidak masalah."
Dio tersenyum tipis, melihat Vannesa yang sangat cantik tentunya membuat siapapun akan menyukainya dan berebut mendapatkan hatinya,tapi berbeda dengan musuh Vannesa yang memilih menjauh dari paras cantik Vannesa itu,atau kalau tidak pastinya sudah jadi orang yang jiwanya dikirim untuk Tuhan.
Drt
Drt
Dio menatap ponselnya yang bergetar menandakan sebuah chat masuk ke ponselnya,ia segera mengambilnya dan melihat notifikasi. Tertera nama seseorang disana.
Reza : [Bro,ada dimana?]
Dio : Share location
Reza : [Oke aku kesana.]
__ADS_1
Dio meletakkan kembali ponselnya disofa, melirik arlojinya dan merebahkan tubuhnya disofa, mengistirahatkan badannya yang pegal-pegal.