Vannesa Elvia

Vannesa Elvia
Nona baru mansion Bigantara


__ADS_3

Vannesa mengerjapkan matanya beberapa kali,pandangannya masih sedikit kabur ketika ia duduk. Vannesa menguap,ia tercengang melihat ruangan itu,ia bukan berada dikamarnya sendiri melainkan dikamar entah siapa. Kontan Vannesa berteriak.


"AAAA!!


Rio dan Reny yang mendengar teriakan itu sontak segera bergegas ke lantai atas menuju kamar yang ditempati Vannesa.


Vannesa sedang berada di balkon kamar ketika Rio sampai disana. Bersiap untuk melompat dan Rio segera memeluknya dari belakang untuk menghentikannya.


"He kau siapa! Kau-" Vannesa bungkam ketika melihat orang yang berada dibelakang.


"Kau mau kemana? Apakah kau akan lompat dari tempat yang tinggi seperti ini? Apakah kau sudah tidak normal lagi? Tidak sayang nyawamu ha?"


Vannesa terbelalak mendengar ocehan dari Rio, baru kali ini ia mendengar pangeran es itu berbicara panjang lebar.


"Aku mau-"


"Kau baik-baik saja nak? Kenapa kau berteriak?"


Suara lembut nan terdengar sangat hangat itu menyita perhatian Vannesa. Ia melongok ke belakang Rio, dilihatnya seorang wanita paruh baya dengan piyama berwarna krem menuju kearahnya.


"Aku.. Aku baik-baik saja." Jawab Vannesa sedikit gamang.


Wanita ini memeluknya lembut,ia merasakan hal yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya. Pelukan tulus seorang ibu. Vannesa membalas pelukan itu,dan Rio tersenyum samar melihat adegan itu.


"Duduklah,kau pasti terkejut bukan? Kau ada di rumah kami, Rio yang membawamu kemari. Ia bilang kau tertidur tadi sewaktu makan,dan Rio tidak bisa menemukan kunci apartemenmu jadi membawamu kerumah ini." Jelas ibu Rio kepada Vannesa, Vannesa masih sedikit bingung dengan apa yang terjadi padanya,ia mencoba mengingat kejadian tadi.


"Astaga iya,maafkan saya. Saya tadi tiba-tiba merasa ngantuk jadi tertidur. Maaf sudah merepotkan Anda dan pak Rio." Vannesa terlihat panik, Rio bisa melihat dengan jelas air muka Vannesa itu.


"Tidak repot, dan tidak usah sungkan aku ini ibu dari Rian dan Rio, panggil saja ibu. Aku sangat senang kau datang kemari,terlebih Rio sendiri yang menggendongmu kemari. Dan ini adalah kamar milik Rio,dia tidak mau jika kau tidur di kamar tamu."


Terlihat semburat merah dipipi Rio,Rio sangat malu dengan apa yang dikatakan oleh mamanya itu,sebuah kenyataan yang seharusnya tidak perlu dibicarakan.


"Ah aku benar-benar berterima kasih sekali,kalau begitu aku akan pulang saja."


"Siapa yang mengijinkanmu pulang? Apa kau tidak lihat sekarang pukul berapa?"


Vannesa melirik jam dinding yang tergantung disana,tertera pukul 11 malam, benar-benar sudah malam. Vannesa melihat kearah ibu Rio dengan tatapan memelas,berharap ia dapat membantu.


"Ibu tidak bisa melakukan apapun nak, perintah Rio adalah mutlak. Istirahatlah, lagipula besok masih hari libur. Ibu akan meninggalkan kalian berdua."


Reny tersenyum dan segera keluar dari kamar Rio, menyisakan hening antara Rio dan Vannesa.


"Terimakasih." Ucap Vannesa spontan.


"Apa? Aku tidak dengar."


Rio semakin mendekat kearah Vannesa, Vannesa gelagapan dan ia segera pergi ke kasur dan pura-pura tidur. Rio melihat Vannesa seperti halnya anak kucing yang sedang mencari perhatian tuannya.


Rio mendekat dan menyelimuti tubuh Vannesa, setelah itu ia keluar dari kamarnya sendiri. Vannesa membuka matanya perlahan melihat apakah Rio sudah pergi atau belum.


"Ya Tuhan,apakah dosaku kepada Rio? Kenapa dia sangat menakutkan bagiku." Bisiknya sambil mendekap bantal.


Rio menuju ruang keluarga disana sudah ada ibunya yang menunggu.


"Dia sangat cantik, sepertinya dia adalah anak baik."


"Apakah mama berniat menjadikan dia penggantiku?"

__ADS_1


"Hahaha,lucu sekali sayang. Kalau saja kamu bisa dekat dengan mama sudah mama cium kamu sejak lama." Rio bergidik mendengar kata cium ini,ia tidak bisa menahan diri untuk tidak marah,tapi ia segera minum air es untuk meredam amarahnya.


"Apa kau baik?" Tanya mamanya terlihat panik.


"Aku baik,hanya penyakit sedikit kambuh." Jawab Rio sambil memukul-mukul dadanya pelan.


"Maafkan mama Rio,bukannya mama sengaja." Kini Reny terlihat sedih,ia bahkan hampir menangis karenanya.


"Mama tolong,jangan buat aku merasa bersalah. Jangan menangis. Aku sungguh baik-baik saja."


"Iya sayang,mama tau. Tapi mama senang sekali,kini anak mama bisa dekat dengan wanita ini. Kedepannya kamu harus menjaga dia ya."


Setelah mengatakan hal itu mamanya melenggang pergi,kini hanya ada Rio sendiri dan semilir angin malam yang masih setia di ruang keluarga.


Rio tidur di ruang keluarga sendirian,bahkan ia menolak untuk tidur di kamar tamu, ataupun kamar Rian. Saat ini memang hanya ada Rio dan mamanya dirumah serta maid dan bodyguard tentunya.


Karena Rian memutuskan menemani ayahnya untuk bertugas ke luar kota,ditambah ia ingin mencari lokasi yang strategis untuk membuka cabang baru untuk cafe miliknya.


***


Matahari sudah mulai merangkak naik, meninggalkan singgasana miliknya. Vanessa terbangun dan segera membersihkan diri,ia ingat bahwa kemarin ia belum sempat mandi.


Pagi-pagi sekali maid datang ke kamarnya mengantarkan sepasang dress pendek beserta pakaian dalam untuk Vannesa. Dan anehnya ukurannya sesuai dengan ukuran Vannesa.


Vannesa keluar dari kamar Rio,ia melihat banyak sekali maid yang mengurus rumah,mulai dari menyapu, membersihkan debu hingga ada yang memasak. Semua kegiatan mereka terlihat dari lantai atas, kecuali beberapa sisi yang terletak di bawah tangga.


Vannesa turun melewati tangga,ia sedikit ingat dengan rumah ini,ia menuju ruang keluarga yang letaknya ada di sayap kanan rumah ini,dilihatnya beberapa maid wanita berkumpul seperti sedang melihat sesuatu,atau lebih tepatnya seseorang.


"Kalian kenapa berkumpul disini?" Tanya Vannesa kepada salah satu maid.


"Eh itu nona. Tuan muda terlihat sedang takut atau apa kami tidak tau."


"Apa ada masalah?"


Bukan jawaban yang dapatkan tapi sebuah tangan yang memegang pisau dapur menuju kearahnya. Semua maid yang menyaksikan menjerit karena takut,namun berbeda dengan Vannesa,ia dengan tenang menangkap tangan itu dan mencoba merebut pisau darinya.


"Rio lihatlah siapa aku!" Titahnya dengan suara dingin. Rio menoleh perlahan kearah Vannesa,dan segera berhambur memeluk Vannesa kuat,bahkan Vannesa merasa pundaknya basah karena air mata Rio.


Vannesa masih tercengang,tangannya tergerak mengelus pelan punggung Rio. Perlahan Rio mulai terasa tenang.


Maid wanita yang ada disana terlihat cukup kaget,pasalnya tuan mudanya yang satu ini sangat anti terhadap perempuan,bahkan ibunya sendiri juga tidak bisa mendekatkan dirinya. Bahkan ketakutan barusan terjadi hanya karena ia melihat foto artis yang ada pada sampul majalah. Namun hari ini mereka secara langsung melihat sisi lain Rio,yang sangat lemah,dan itu hanya berlaku kepada Vannesa.


"Apakah kau marah?" Tanya Rio disela-sela tangisnya.


"Apa? Aku tidak marah. Kau duduklah,dan berhenti menangis." Vannesa yang awalnya marah menjadi luluh mendengar suara Rio yang bergetar karena takut.


"Tidak! Kalau aku melepaskan pelukanku kau akan pergi."


"Tidak,aku akan menemanimu."


Vannesa mendengar isak tangis Rio yang berusaha ia kendalikan. Vannesa merasa aneh, pasalnya Rio yang sedingin es mempunyai sisi yang sangat rapuh,yakni ketika ia takut.


Rio melepaskan pelukannya dan duduk disamping Vannesa,ia tidak berani mengangkat wajahnya entah kenapa.


"Kau malu?"


"Tidak!"

__ADS_1


"Kau pasti malu."


"Tidakk,sudah kubilang aku tidak malu Vanny."


Para maid tertawa pelan,mereka membubarkan diri setelah melihat kondisi tuannya baik-baik saja,bahkan kelewat baik.


Ibu Rio yang melihat tingkah laku anaknya menangis haru, belum pernah anaknya seperti itu sebelumnya. Bahkan mendapat ketenangan ketika penyakitnya kambuh,karena biasanya mereka akan membiarkan Rio sendiri ketika kambuh. Karena tidak ada yang bisa membuatnya tenang. Kini Reny merasa tenang,ada Vannesa yang bisa menenangkan Rio. Ia memutuskan berjalan mendekat dan duduk di salah satu kursi.


"Eh nyonya aku-"


"Eit,ibu! Sudah kubilang panggil ibu." Ucapnya lembut, Vannesa tersenyum dan mengangguk.


"Eh Vannesa kau terluka. Maidd! Ambilkan kotak P3K sekarang!!" Rio berteriak hingga membuat seluruh maid yang mendengarnya panik mencari kotak obat itu.


"Rio hey,aku tidak apa-apa ini hanya luka ringan." Vannesa memang terluka di pergelangan akibat merebut pisau dapur tadi.


"Astaga bagaimana bisa terluka?" Reni merangsek mendekat kesamping Vannesa melihat luka Vannesa.


"Gara-gara aku,tadi aku mengarahkan pisau kepadanya dan menggores pergelangannya." Lagi-lagi Vannesa melihat Rio menangis,dan Vannesa memegang tangan Rio.


"Aku tidak apa-apa,sungguh." Vannesa meyakinkan Rio,tangannya terulur mengelap air mata Rio yang keluar, Reny yang melihatnya tersenyum senang.


"Tuan,ini kotaknya." Maid itu menaruhnya dimeja,dan berlalu pergi.


"Akan aku obati lukamu." Ucap Rio sambil mengelap air matanya.


Vannesa tersenyum,namun seketika senyuman itu memudar,mengingat bahwa cara pengobatan Rio sangatlah sakit. Dan kini Rio sudah siap dengan obat yang berwarna hijau ditangannya.


"Tidak Rio! Menjauh! Jangan mendekatt!" Ucap Vannesa dengan suara lantang,membuat para maid penasaran dan melongok melihat apa yang terjadi.


"Aku berjanji untuk perlahan,ini tidak akan sakit."


Ucapan Rio membuat Reny tertawa terbahak-bahak,karena sepertinya akan ada keributan maka Reny memutuskan untuk pergi dari sana.


"Tidak! Aku bilang tidak ya tidak! Pergi sama!" Vannesa berlari menuju ke halaman depan tentunya masih dengan pergelangan yang penuh dengan darah. Rio segera mengejar Vannesa dengan obat hijau ditangannya.


"Vanny kau seperti anak kecil, kemarikan tanganmu!"


"Tidak akan!"


"Mandekatlah Vannesa!"


"Jangan bermimpi Rio!"


Maid, tukang kebun,bodyguard bahkan security disana melihat peristiwa yang menurut mereka langka. Mereka tersenyum bahkan tertawa melihat tingkah laku pangeran es mereka yang berubah seketika saat bertemu dengan seorang putri yang sangat cantik.


"Rio,ku peringatkan jangan mendekat!"


Posisi Vannesa tidak aman,ia berasa di taman belakang dan sisi-sisinya tidak bisa dilewati. Jalan buntu.


"AAAA..." Vannesa berteriak ketika obat itu menyentuh kulitnya,bahkan ketika darah dilukanya sudah mengering masih terasa sakit.


Setelah beberapa menit rasa sakit itu tergantikan dengan rasa dingin. Dan pada saat bersamaan Vannesa dan Rio sudah akur,mereka memetik buah di halaman belakang. Hanya mereka berdua! Rio menyuruh seluruh maid dan tukang kebun untuk meninggalkan kebun buah itu segera,karena kepentingan pribadinya.


Mereka tiba-tiba menjadi pengangguran dan duduk di halaman samping rumah seperti perintah Rio.


"Eh kalian sedang apa?"

__ADS_1


"Maaf nyonya Reny,tuan muda Rio menyuruh kami meninggalkan kebun dan kami disuruh berdiam disini tanpa ada yang boleh pergi, sebelum beliau memberikan perintah lagi."


Reny menahan tawanya,ternyata Rio juga bisa membuat ulah bahkan lebih parah daripada ulah yang dibuat Rian.Ia memerintahkan kepada maid dapur untuk memberikan beberapa camilan untuk mereka supaya tidak bosan duduk disana.


__ADS_2